Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Hari Sial


__ADS_3

Ternyata dia memang sebodoh itu hingga tidak bisa memilih mana yang tulus dan mana yang tidak. Aku masih bertahan di tempatku sampai suara bel kembaki berbunyi. Saat itu Jess tiba-tiba terpekik tidak jelas.


"Ah... Guys lo bisa balik ke kelas buat bilang ke Miss Nisa kalau gue ambil barang dulu di loker, kan?"


Aku tidak mendengar apa yang meree


Aat bicarakan lagi, hanya bunyi suara langkah kaki yang semakin menjauh yang aku dengar. Dengan segera aku menurunkan kakiku dan membuka kunci pintu dengan hati-hati. Aku mengintip keluar dan melihat Jess tengah menata rambutnya di depan cermin. Dia beberapa kali memonyongkan bibir dan mengedipkan mata yang menbuatku menggeleng tidak paham dengan apa yang barusan dia lakukan.


Aku segera keluar dari bilik kamar mandi dan wanita itu terlihat terkejut menemukanku berada di sana.


Sebelum dia melakukan sesuatu aku segera maju.


"Pak Dewa itu nggak cinta sama lo." Dia tertegun mendengar kalimatku dan detik berikutnya raut wajahnya berubah masam, "Ngomong apa sih lo. Kalau lo nggak tahu apa yang terjadi sama gue dan Pak Dewa, mending lo diam aja," sentaknya, "lagian emang ada yang bakal percaya sama omongan lo. Lo itu cuma cewek gembrot yang mengharapkan Pak Dewa buat jadi punya lo kan? Sadar diri." Jess maju selangkah dan memojokanku ke dinding. Jika bukan karena kata keramat 'gembeot' aku pasti akan membalasnya, tapi mengetahui fakta jika dia tahu panggilan keramat itu, sontak membuatku terdiam. Kenangan dimana aku menjadi bahan gunjingan dan bullying langsung terputa di kepalaku. Aku tidak mau mendapat bullying lagi.


"Saran gue sih mending lo cabut aja dari sekolah ini. Nggak ada yang ngeharapin lo ada di sini Aretta gembrot." Dia mengatakan itu sambil mendorong bahuku ke belakang hingga membuatku kehilangan keseimbanganku dan otomatis tubuhku terhentak ke dinding dengan sangat keras.


Dengan aku yang tengah mengalami tulang rusuk yang yang patah, hal itu membuat rasa sakitnya semakin parah meski tidak separah sebelumnya, tapi rasa sakit itu berhasil membuatku jatuh tersungkur ke lantai, hingga membuat nafasku tersengal. Aku mencoba menstabilkan pernafasanku dan yang kudengar adalah suara langkah kaki yang semakin menjauh meninggalkanku sendiri di sini.

__ADS_1


Aku menarik tubuhku untuk bangkit dan menyenderkan diri ke dinding, lalu menunggu rasa sakit yang menyerang ku itu mereda. Memang membutuhkan waktu beberapa saat, tapi aku bersyukur karena hal itu terjadi ketika aku berada di dalam sini.


Ketika rasa sakitku perlahan mereda, aku memaksakan diri untuk bangkit dan berjalan keluar. Ini baru setengah hari aku melewati hari Senin, tapi aku sudah menangis, diancam, dan didorong oleh Jess.


Aku sengaja memperlama diriku di luar ruangan. Sekarang memang sudah waktunya masuk ke jam makan siang, hanya saja aku tidak ingin pergi ke kantin sendiri karena tatapan anak-anak lain padaku sangat tajam dan teramat memojokkanku. Aku lebih memilih menunggu pesan dari Rafa dan jikalau dia tidak menghubungiku, aku akan menunda makan siang ku.


Ponselku bergetar dan aku menemukan pesan dari Rafa. Dia menanyakan keberadaanku. Aku membalas pesannya jika aku tengah berada di taman belakang dan langsung menuju ke tempat dimana kami janjian sebelumnya. Aku mengajaknya untuk maakkan di tempat biasa dan sudah dapat dipastikan jika sampai nanti aku akan bertemu dengan Rendi dan Aidan. Aku memang belum menceritakan soal aku yang akan makan bersama dengan temna baruku di sini.


"Aretta!" Dia memekik dan langsung memelukku erat hingga membuatku sulit untuk bernafas. Tapi aku menikmati moment ini. Sensasi pelukan Rendi dan Aidan terasa sangat berbeda. Ketika Rendi yang memelukku rasanya tidak canggung.


Untuk beberapa detik di dalam pelukannya, aku tidak bisa bersuara ataupun menjawab. Faktor utama karena tulang rusukku yang terasa sakit karena pelukannya terlalu kencang. Aku hanya memegang lengannya dan tampaknya dia cukup peka, karena setelah itu Rendi langsung melepas pelukannya.


Aku mengangguk lemah sebelum membalas sapaan dari Rendi, "Hai... It's okay. Gue nggak pa-pa."


Dia menatap mataku seolah mencari kebohongan dari sana.


"Lo dari mana aja sih. Gue kira lo masih kejebak sama si Jess. Gue khawatir. Terus seharian ini juga lo diamin gue. Gue lihat lo di kelas Biologi tapi lo malah pergi sama yang lain. Siapa orang itu?" tuturnya menggebu-gebu. Jika aku tidak bertemu dengannya sudah pasti Aidan akan mendapat rentetan cerita ini juga.

__ADS_1


"Teman baru gue. Namanya Rafa, dia kerja di Daia kafe dan gue juga baru tahu kalau dia murid sekolah ini."


Ketika kami masih asyik berbicara, pintu taman terbuka dan Rafa muncul dengan raut wajah penuh kelegaan.


"Aretta. Lo dari mana aja sih? pertanyaan yang sama aku dapatkan juga dari Rafa.


"Dari toilet tadi," jawabku, tapi aku tidak menceritakan juga apa yang terjadi di dalam sana. Hening sesaat ketika Rafa sudah tiba dan yang terjadi selanjutnya adalah adegan saling pandang antara Rendi dan Rafa. Kedua orang itu terlihat canggung.


Aku terkekeh melihat keduanya yang tidak bertingkah seperti biasanya dan kemudian yang aku lakukan adalah meminta mereka untuk saling memperkenalkan diri. Keduanya langsung berkenalan dan mulai bercerita. Aku tersenyum, sepertinya akan ada cerita menarik yang telah menunggu mereka.


Aku menoleh ke tempat kami biasa duduk untuk makan bersama. Di sana sudah ada Aidan. Aku memutuskan untuk berjalan mendekat dan mengambil tempat di sampingnya dengan hati-hati. Di belakang kami ada kumpulan bunga mawar yang mengeluarkan aroma sedap yang sulit untuk ditolak. Meski begitu tetap saja aku tidak bisa mendekat karena tumbuhan itu memiliki duri yang tajam dan untuk menikmatinya aku harus menjaga jarak aman.


"Hai," sapaku padanya.


"Hum," jawabnya lembut. Kemudian dia berbicara kembali, "aku tahu kamu nggak berminat buat kuliah, tapi setelah aku pikir-pikir kuliah itu bakal bantu kamu di masa depan," lanjutnya.


"Iya. Aku tahu," jawabku.

__ADS_1


Dia tampak enggan melanjutkan dan aku langsung memberikan senyuman untuk menenangkan dia agar dia dapat berbicara sepuas biasanya. Untuk saat ini Aidan merupakan sosok yang akan aku dengar meski mungkin tidak semua yang dia bicarakan akan aku lakukan.


__ADS_2