
Aku tidak tahu harus merasa bagaimana. Saat ini perasaa ku bercampur aduk karena emosi besar yang menguasai batimki. Aku menangis dan berteriak histeris tapi tidak menghasilkan apa-apa. Begitu dia berkata, "Kamu harus di kasih pelajaran." saat itu aku langsung tahu persis bagaimana nasibku kedepannya.
Dewa menjepit lenganku di atas kepalaku dan kakiku ditahannya di bawah saat dia sedang berkutat dengan dressku. Pria itu menarik dressku ke atas, merobeknya dengan tanpa perasaan dan hanya meninggalkanku dengan menggunakan bra dan ****** *****. Aku mulai merengek karena sikap kurang ajarnya tapi dia malah menampar kembali wajahku dan menyuruhku untuk tetap diam.
Masih dengan tangan yang tertahan di atas, dia kembali meraba tangannya ke bawah untuk melepaskan sepatuku.
"Nggak boleh ada sepatu di tempat tidur!" Dia berseru cukul senang dengan nada mengejek.
Aku sendiri tidak mengatakan apa-apa karena aku tahu aku akan mendapatkan tamparan lagi jika aku berani membuka mulutku. Dia melepaskan kedua sepatuku dan membebaskan tanganku sekejap hanya untuk melemparkan sepatuku ke sudut ruangan bertumpukan dnegan dress milikku.
Aku menggunakan kesempatan itu untun menjauh hingga aku terpojok ke dashboard tempat tidur. Mata hitamnya menatapku senang, "Ah, kamu semangat juga ternyata," katanya sambil ikut menahanku sehingga aku berada kembali di bawah kungkungannya.
Aku tidak bisa bernapas di bawahnya karena berat badannya. Jantungku kembali berdegup kencang seperti saat aku dilemparkannya ke basemant, tapi aku kini hanya bisa berharap jantungku berdetak lebih kencang hingga pembuluh darahku pecah dan aku mati di tempat.
Aku berjuang untuk melawanya, mencoba untuk melepaskan cengkramannya yang sangat kencang yang malah membuatnya berpikir aku sedang merayunya.
Aku mencoba untuk meninju dia, tapi dia langsung meninjuku kembali. Aku berhasil mengenai ujung dagunya dengan tinju liarku dan dia juga melakukan hal yang sama kepadaku tapi lebih keras. Aku tertegun sesaat karena dampaknya berhasil membuatku pusing. Aku berjuang untuk melawan pusing, mengetahui jika pingsan sekarang maka sudah tidak ada jalan lagi untuk kembali. Aku akan dimanfaatkan dan dilempar kembali ke basemant di mana aku pasti akan dibiarkan telanjang di sana, sampai dia kembali memutuskan untuk menggunakanku sebagai pelampiasan nafsunya.
Saat aku merasa lemah dan pusing, dia menggunakan kesempatan itu untuk meraih ikat pinggangnya dan menarik celananya ke bawah, sambil meraba-raba bagian luar braku. Penglihatanku kembali berubah sedikit jernih. Aku mencoba mendorongnya menjauh dan membuat dia tidak bisa kembali meraba dadaku.
Aku mulai jijik saat dia mulai menggesek-gesekkan alat kelaminnya. Jika aku benar-benar dilecehkan, aku akan mati di basemant rumahnya dan akan terus tinggal di sini sampai dia juga mati.
"Kamu tahu? Kamu bahkan nggak termasuk gadis cantik yang aku mau." Pria itu banyak mengatakan omong kosong dan kesempatan itu aku gunakan untuk membebaskan diri yang nyatanya sangat sulit untuk dilakukan.
Aku memikirkan lagi soal sudah berapa banyak gadis yang dia setubuhi. Dan lagi soal darah di basemant, apa gadis itu juga menolak sama seperti yang aku lakukan.
"Please... Jangan." Aku memohon. Mata hitamnya menatapku lekat dan dia terkekeh.
__ADS_1
"Kamu bilang apa tadi? Kamu mau? Oke kalau gitu. Karena kamu udah nyerahin tubuh kamu ke aku, aku bakal dengan senang hati menikmati tubuh yang udah kamu serahin."
Aku langsung berteriak keras ketika dia berhasil membuka braku dan melemparkannya ke sembarang arah. Aku sekarang hanya bisa berharap ada seseorang di luar san ayang mendengar aku berteriak.
"Diam bidih!" hardiknya kasar. Saat itu aku mendengar samar suara mobil yang ditutul. Aku tidak mengindahkan perintahnya dan aku tetap terus berteriak. Aku berdoa semoga apa yang aku dengar barusan memang benar suara orang.
Tiba-tiba dia kembali memukulku. Aku membuka mataku karena terkejut dengan rasa sakit yang menyerang. Aku juga melihat tali pinggangnya yang sudah melilit di kepalan tinjunya.
Dia tidak lagi ragu-ragu untuk melakukan hal lain. Dia kembali memukulku. Ikat pinggang miliknya itu membuat rasa pukulannya terasa sangat dahsyat di kulitku dan rasanya seperti kulitku bisa saja terbelah. Berkali-kali
pukulan itu datang mengenai ke seluruh tubuhku. Perutku, kaki, dan punggungku juga sampai mengeluarkan bunyi mungkin retak karena menahan tinjuannya. Aku berteriak dengan tangisan yang luar biasa menyesakkan.
Akhirnya dia berhenti.
"Lihat! Kamu malah buat kekacauan!" Dia berteriak padaku dan menunjuk ke arah seprai. Bagian yang dia tunjuk itu sudah menggenang banyak darahku. Aku menunduk untuk melihat dan teriakanku semakin kencang saat aku melihat banyaknya darah yang keluar dari tubuhku karena tinjuan dan pukulan yang dilayangkannya ke seluruh tubuhku.
Aku menjadi sedikit pusing karena kehilangan darah tapi aku tetap bertekad untuk berjuang sampai aku tidak bisa lagi meronta.
"Kenapa kamu nyusahin banget!" Teriaknya. Aku menutup mataku saat dia menurunkan celana boxernya dan mendekatiku. Pikiranku semakin kalut bersamaan dengan darah yang mengalir keluar.
Aku tahu harusnya aku tidak boleh begini, tapi bintik-bintik hitam mulai memenuhi pengelihatanku. Semakin lama semakin besar dan hampir mengambil alih pengelihatanku bersamaan dengan seorang malaikat muncul dari balik pintu. Dia rupawan dan sat dia melihatku, sosok itu langsung menerjang Dewa. Pria yang hampir merenggut kesucianku itu langsung mengirimkan banyak pukulan dan tinjuan untuk Dewa. Aku belum sempat berterima kasih saat kesadaranku benar-benar menghilang seketika.
***
Aidan's Pov
Aku berhasil menemukan Aretta yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Bagaimana bisa manusia seperti itu hidup dan hadir di tengah-tengah kami. Bajingan kurang ajar yang membuat Aretta sekarat dan dipenuni luka.
__ADS_1
Aku bahkan sampai tidak mau melepaskan tangan kami yang saling bertautan. Bahkan saat aku menelepon Gio dan polisi, tangan kami juga masih berpegangan. Aku juga mengikutinya saat dia dibawa menggunakan ambulans. Aku sangat bersikeras untuk terus berada di sisinya. Jadi ketika para petugas medis bekerja, aku masih di sana. Mengamati bagaimana darah-darah itu mengalir keluar layaknya air keran.
Aku sudah melihat adegan paling buruk di dalam hidupku, tapi ternyata aku kembali melihat adegan itu di sosok gadis yang aku cintai. Aku melihat dengan mata kepalaku bagaimana dia mencoba bertahan hidup.
Mengingat kembali bagaimana kesetannya aku saat berlari tadi benar-benar menghasilkan penemuan. Aku sampai mendobrak pintu rumah Dewa dalam sekali percobaan karena aku sangat takut dengan suara teriakan itu. Aku sangat yakin itu suara Aretta. Langkahku semakin cepat saat aku mendengar suara itu berasal dari kamar dan aku juga hampir tidak mempercayai pengelihatanku ketika aku melihat dia berbaring di seprai yang berwarna merah dada tanpa penutup. Baru setelah beberapa saat aku mulai sadar jika itu bukan seprai tapi darah milik gadis itu yang sudah mengalir dan mulai merembes ke kasur.
Aku melihat Dewa yang berada di atasnya. Tanpa menunggu waktu lama aku langsung menghajarnya. Satu pukulan mengenai pelipisnya dan berhasil membuatnya jatuh ke lantai dengan keadaan telanjang. Tampaknya pukulanku sangat kencang karena pria itu langsung pingsan.
Aku mengabaikan keberadaan pria itu dan langsung berlari menuju Aretta, menggenggam tangannya dan menangis. Aku sempat mendengar dia mengucapkan terima kasih sebelum benar-benar menutup matanya. Aku mencoba memanggilnya setelah meminta ambulance datang. Aku bahkan sampai merasa waktu kedatangan ambulance kala itu terasangat sangat lama dan menyiksa.
"Aretta,"bisikku padanya, meski tahu dia tidak bisa mendengarku. "aku nggak akan pernah biarin kamu buat tinggalin aku lagi. Aku cinta sama kamu." Jika ini adegan film kalimatku tadi pasti sudah membuat Aretta membuka matanya. Sayangnya ini bukan film, ini nyata dan dia tetap tidak sadarkan diri. Dia mengalami pendarahan yang parah dan saat ambulance datang dja langsung dilarikan ke rumah sakit. Jantungnya sempat berhenti hingga meninggalkan bunyi bip yang menakutman di ambulance kecil ini. Aku banyak merapalkan doa dan juga banyak membisikan kalimat cinta, berharap agar ada keajaiban dan dia bangun kembali.
Hatiku perlahan menjadi lega saat petugas medis berhasil mengembalikan denyut nadinya, meski tetap lemah. Aretta dilarikan ke ICU dan membuatku harus melepaskan genggaman tangan kami.
Aku tidak bisa duduk di sana. Yang aku lakukan hanya mondar-mandir untuk menunggu. Gio datang beberapa menit kemudian. Pria itu menatapku, terdiam untuk sesaat. Dia bahkan tidak berani bertanya karena keadaanku dan juga karena keberadaan Aretta sekarang.
Setelah berjam-jam menunggu, kami diperbolehkan melihat Aretta yang kini sudah mendaoat penanganan dan dibawa ke bangasal rawat inap. Kami berdua masuk dan menatap tubuhnya yang tampak tak bernyawa. Semuanya tertutupi oleh kasa karena luka. Beberapa memar juga tampak bersarang di tubub kecilnya
Semua itu tampak lebih menyakitkan daripada saat aku melihatnya pertama kali mendapatkan memar juga karena tulang rusuknya yang patah.
"Aretta." Gio berbisik dan melangkah ke samping tempat tidurnya untuk memegang tangannya, "biar gue yang urus," katanya bersikeras meskipun dia tahu gadis itu belum sadarkan diri.
Aku tahu maksudnya mengurus formulir dan persyaratan hukum, karena polisi juga muncul setelah petugas medis dan menutupi tubuh Dewa yang telanjang. Mereka juga menyeretnya pria itu pergi dengan mobil polisi. Gio tidak mau tahu apa yang terjadi pada Aretta karena menurutnya dia pasti bisa melakukan hal yang lebih parah dan aku juga tidak menyalahkan dia.
"Jangan pernah biarin dia pergi lagi. Dia cinta sama lo." Wajahnya sangat tegas dan serius saat mengatakan itu. Aku mengangguk dan ikut melangkah mendekat temoat tidur Aretta.
"Lo bisa pergi buat kasih balasan ke bajingan itu," kataku padanya. Gio mengangguk dan pergi.
__ADS_1
Sedangkan aku masih di sini. Menunggunya dan tidak akan melepaskan dia lagi.