Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Bimbo


__ADS_3

Tawaku berderai melihat tingkahnya. Aku yang tidak pandai bersosialisasi ternyata bisa berbincang santai dengan orang lain, dan itu ternyata dengan guruku sendiri, Pak Aidan. Bukankah itu sebuah kemajuan yang pesat. Langkah awal yang aku coba untuk bisa berinteraksi dengan teman lainnya. Semoga saja aku tidak kelewat gugup saat aku memulai membuka obrolan nanti.


"Bapak kita harus siap-siap. Bapak juga harus pergi ke sekolah karena Bapak punya murid yang harus Bapak ajar," kataku sebelum memasukkan barang-barangku. Setelah memastikan barangku telah masuk ke tempat yang semestinya, aku segera menutup resleting tasku dan menyampirkannya di bahu.


"Aidan," katanya, "panggil aja Aidan. Nggak usah pakai Bapak. Lagian aku juga ngajarnya di kelas kamu." Aku tersentak ketika mendengar dia berbicara santai padaku. Lebih mengejutkan lagi dia seakan-akan menghapus batas formalitas di antara kami.


"Oh iya," hanya itu balasanku dan setelahnya aku segera berlari meninggalkannya dan tidak melirik lagi ke belakang.


Aku masuk kelas Pak Aidan yang entah kenapa rasanya malah canggung. Padahal dia saja tidak meliriku sedikitpun, tidak seperti biasanya.


Aku menyukai situasi dimana tidak ada orang yang memperhatikanku. Hanya saja yang terjadi dengan Pak Aidan itu berbeda. Dia malah tampak seperti mengabaikanku. Atau ini hanya perasaanku saja. Sikap yang tiba-tiba berubah sangat mengganggu.


Setelah bel berbunyi aku segera membereskan barangku dan melipir cepat ke arah pintu, meninggalkan ruang kelasnya tanpa melirik ke arah Pak Aidan sama sekali. Dia yang pertama kali mengabaikanku dan aku hanya membalas apa yang dia lakukan kepadaku.


Aku berjalan cepat menuju kantin, memilih untuk membeli salad dan air putih sebagai menu brunchku kali ini. Hari ini aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan. Aku memang belum pernah ke perpustakaan dan aku juga belum tahu di mana letaknya. Hanya saja dari peta yang aku terima, letak perpustakaan itu tidak strategis dan pastinya tempat itu tidak sering dikunjungi oleh para murid.

__ADS_1


Pintu ruang perpustakaan sudah tampak di depan mata. Aku iseng melirik ke sekelilingku dan mengernyit saat menyaksikan seorang siswi yang baru saja keluar dari kelas Pak Dewa. Jika mendengar dari anak-anak memang banyak siswa yang melakukan Bimbo dengan Pak Dewa. Tapi aku tahu Bimbo macam apa yang mereka lakukan. Aku melihat dia membenarkan letak roknya yang miring, tidak seperti milik siswi yang lain, rok gadis itu tampak kusut dan juga ada bekas lipstik yang meleber di sekitar bibirnya. Sepertinya dia lupa untuk membersihkan bekas itu. Aku hanya menatap, tidak mau ikut campur urusan ini. Pak Dewa dan seorang siswi di dalam ruangan pasti sudah dapat ditebak apa yang mereka lakukan.


Aku tidak mau dipergoki jika aku melihat. Dengan cepat aku melangkah masuk ke ruang kelas terdekat dan mengunci handle pintunya sepelan mungkin. Aku mengintip dari celah kecil untuk melihat apakah gadis itu sudah melangkah menjauh atau belum.


Saat sedang mengintip aku merasakan hembusan nafas sangat di sekitar leherku dan itu membuatku terlonjak kaget. Salad dan air mineralku sampai jatuh ke bawah. Isinya berserakan yang membuatku meringis melihatnya.


"Ternyata kamu orangnya penasaran ya? Kenapa? Mau ikut bimbingan biologi juga sama saya?" kata suara itu.


Sindiran itu membuatku berbalik dengan cepat. Mataku tidak sengaja menatap sekilas ruangan itu. Sial, ternyata aku malah masuk ke ruangan Pak Dewa yang terhubung langsung dengan ruang kelasnya. Aku meruntuki kebodohanku. Harusnya aku menghindar dari Pak Dewa tapi yang terjadi malah aku dengan sukarela masuk ke kandangnya sendiri.


Aku mendongak, membalas tatapan pak Dewa yang tampak meremehkan ke arahku. Kenapa aku yang merasa dirugikan di sini padahal dia yang berbuat salah.


Aku sedikit meruntuki kebodohanku yang sudah berani lancang dan tidak tahu tempat. Ketika mengatakan hal itu berarti aku juga harus berani menerima konsekuensi langsung dari sosok di hadapanku. Karena sudah terlanjur aku tidak ada niatan untuk mundur. Dia harus sadar akan posisinya di sini.


Dan yang terjadi selanjutnya adalah, Pak Dewa mendorongku hingga aku terpojok ke dinding di samping pintu. Posisi yang sama seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Tapi bedanya kali ini dia tidak tersenyum, bahkan seringai jahil yang menjengkelkan pun tidak terlihat. Mata hitamnya menatapku tajam, hembusan nafasnya pun terdengar tidak beraturan. Dia teramat marah. Selama ini aku tidak pernah melihat seseorang yang begitu marahnya hanya karena kalimatku. Biasanya apa yang aku ucapkan hanya dianggap angin lalu, dan saat ini aku merasa sedikit puas ketika berhasil memancing emosi seseorang dan orang itu adalah Pak Dewa.

__ADS_1


"Maksud kamu apa bicara kayak gitu ke saya. Saya ini masih pengajar di sini dan kamu wajib menghormati saya. Asal kamu tahu, mereka sendiri yang datang dan menawarkan tubuh mereka ke saya. Saya pria normal dan tentu saja saya tidak akan menolak kesempatan ini," desisnya.


"Dan saya peringatin kamu sekali lagi. Kalau sampai kabarin ini terdengar sama pihak lain kamu bakalan langsung saya datangi. Saya akan buat kamu menderita," lanjutnya.


Aku terpojok dan aku mulai takut sekarang, apalagi saat dia berbicara air ludahnya berterbangan. Hal itu semakin membuatku waspada. Aku menajamkan telingaku mencoba mendengar apakah ada orang di luar sana. Dan jika aku berteriak akankah terdengar? Yang lebih pentingnya apakah mereka akan sudi untuk membantuku?


Aku tidak berkutik, tapi mataku masih sempat membaca sebuah kalimat yang ada di tato pergelangan tangannya. "Reyes" dalam bahasa Spanyol dan aku harus mencari tahu artinya setelah aku berhasil keluar dari sini. Aku melirik naas pada menu brunchku yang berserakan, sepertinya dia menyadari ekspresiku.


"Kamu jatuhin makananmu dan kayaknya kamu emang nggak perlu makan," katanya sambil menunjuk ke perutku. Dia menyindir aku karena aku gemuk, tapi tidak secara langsung.


Aku kira aku sudah sedikit berubah. Tapi mendengar sindiran itu membuatku kembali teringat masa kelam yang ingin aku lupakan. Caci maki dari teman-teman, panggilan yang mengerikan, pengucilan, dan juga siksaan dari mereka.


Pak Dewa mundur dan memberiku ruang. Aku sudah akan bergerak keluar sampai sebuah hantaman mendarat di perutku. Aku terhuyung dan tersungkur di lantai.


"Kamu harus sudah pergi begitu saya kembali ke ruangan saya. Dengar nggak?"

__ADS_1


Aku mengangguk dan ternyata bukan Itu jawaban yang dia cari.


"Dengar nggak?" bentaknya lagi, dan aku langsung menjawab "ya" dengan pelan. Setelah mendapat jawaban dariku dia langsung membuka pintu dan melangkahiku begitu saja untuk keluar dari kantornya tanpa peduli dengan keadaanku. Aku sudah biasa diabaikan, tapi dia yang notabennya adalah seorang guru benar-benar mengecewakan.


__ADS_2