
Weekend kala itu, Aidan tiba-tiba mengajakku untuk groceri shoping. Entah apa yang membuat pak suami sangat bersemangat karena kini dia sudah siap dengan kaos rumahan berwarna putih dipadu dengan celana pendek berwarna khaki. Ah, jangan lupakan juga topi yang bertengger manis di kepalanya.
Semenjak pindah ke tempat ini, biasanya Aidan sendiri yang akan berbelanja, dia juga mewanti-wanti agar aku keluar ketika bersama dengan dia. Pria itu sangat menjagaku agar aku tidak sendirian kemana pun aku pergi.
Empat tahun berumah tangga, kini kami sudah memiliki seorang putri dan malam ini ceritanya Gio dan Ana menginap dengan membawa serta putrinya.
Perjalanan menuju supermarket tidak memakan waktu lama, hanya saja cobaan itu baru akan dimulai ketika memasuki toko. Dea, putri kami yang baru berusia tiga tahun sangat antusias jika diajak berbelanja dan ternyata alasan pria itu membawa kami ke sini karena Gio dan Ana sedang menghadiri acara sambil membawa putri mereka. Demi menjaga keamanan dan kedamaian dunia, mengajak Dea berbelanja merupakan pilihan terbaik karena dia pasti tidak akan menanyakan keberadaan sepupunya itu.
Kami bertiga mulai memasuki supermarket dengan Dea yang berada di keranjang troli.
"Susunya si adek masih ada?" tanya Aidan.
Aku menoleh untuk menatapnya. Tumben, biasanya dia akan selalu mengambil sendiri barang-barang milik Dea yang sekiranya memang dibutuhkan.
"Masih," jawabku cepat.
Dalam satu bulan ini, Dea memang menghabiskan hingga 7 kg susu karena anak itu yang sangat susah untuk makan. Berbeda denganku dan papanya yang menikmati semua jenis makanan tanpa terkecuali. Dea itu hanya mau makan jika lauknya ayam. Selain itu jangan ditanya. Dia tidak mau meski hanya melirik.
Tapi biasanya aku mengakali ayamnya dengan membuat jamur crispy. Jika ada lauk itu ditambah sayur, Dea mau makan meski yang banyak dia habiskan adalah si jamur crispy.
Kami berjalan baru lima langkah tapi Dea tiba-tiba minta diturunkan dari troley. Bocah itu langsung melipir pergi begitu kakinya menginjak lantai. Aku dan Aidan saling menoleh dan menatap ke arah mana bocah itu berlari. Pantas saja papanya tidak langsung mengambil susu karena rak khusus susu sedang berdekatan dengan barang -barang promo yang isinya jajanan.
"Adek mau kemana?" Aku segera menahan tangannya ketika langkah kakinya semakin menjauh. Kenapa bisa anak ini seperti belut yang tidak bisa dilepaskan barang semenit.
"Mau jajan!"
"Izin dulu sama Papa."
"Kenapa?" Mata kecilnya menatapku dengan tatapan polos. Rasa hati ingin membelikan semua hal yang dia mau tapi sayang kami juga hatus mengajarkan tentang tidak semua hal bisa didapat dengan mudah.
"Kalau adek izin dan tanya sama Papa, kita kan jadi tahu Papa punya uang apa nggak buat beli. Kalau adek langsung ke sana terus Papanya nggak punya uang, adek kan jadi nggak bisa beli."
__ADS_1
"Tapinya mau jajan," rengeknya. Sudah mulai drama yang nantinya akan menguras kesabaran. Sebenarnya aku lebih suka berbelanja sendiri atau biasanya Aidan sendiribyang berbelanja karena toh, lebih cepat selesai dan tidak over budget.
"Boleh jajan tapi izin dulu sama Papa. Sana..."
Dean mendengus ke arahku lalu berjalan dengan cepat menuju papanya. Lihatlah manusia kecil itu, kenapa bisa dia tumbuh menjadi bocah yang menyebalkan.
"Papa jajan! Adek mau jajan!"
"Jajan apa?"
"Ayo sana!" Dia langsung menarik tangan Aidan menjauh dariku dan mendekati rak susu. Tempat yang sudah berhasil Aidan hindari tapi ternyata tetap tertangkap radar Dea. Aku melihat keduanya dari kejauhan. Entah apa yang mereka obrolkan tapi dari tempatku berdiri, aku bisa melihat jika keduanya sedang terlibat dalam perdebatan. Dea yang ngeyel dan Aidan yang tidak mengerti apa yang diinginkan putrinya itu menjadi kombo yang menarik. Hampir dua puluh menit keduanya hanya saling tarik urat sampai akhirnya bocah itu mendekatiku dengan wajah yang sudah memerah.
"Mama! Papa itu lho. Nakal. Adek mau jajan tapinya nggak boleh," adunya dengan semangat yang luar biasa. Bibirnya mengerucut dengan tangan bersedekap.
"Boleh jajan tapi kan harus milih. Kalau adek beli semua nanti nggak kemakan," ujar Aidan. Pria itu kesabarannya sangat luar biasa hingga kini. Dulu dia juga bersikap sama seperti ini saat aku berada di fase setengah normal dan tidak.
"Dimakan!" katanya sambil memelototkan matanya pada Aidan. Bocah ini tidak ada takut-takutnya memang dengan Aidan.
"Dimakan kok. Iya kan, Ma. Kemalin juga beli pentol adek makan. Sampai habis." Kini dia sedikit melunakkan nada bicaranya. Dea menyentuh tanganku yang bebas dan menggenggamnya erat. Mencoba mencari pendukung dengan tatapan melas andalannya.
"Adek mau beli apa emang?" tanyaku pelan sambil berdiri untuk menyamakan tinggi kami berdua.
"Mau ciki sama coki," putusnya langsung. Dea memang suka jajan. Dia tidak pernah beli jajan lebih dari dua jenis, hanya saja jumlah yang dia inginkan di luar batas wajar.
"Ya udah, ambil sana sama Papa." Dia tersenyum senang dan langsung meraih tangan papanya untuk diajaknya ke tempat jajanan. Kejadian tadi yang sempat membuatnya ngambek sudah dilupakan berkat persetujuan dariku.
Setelah memilih jajan dan coki yang dia mau, kami segera meluncur ke kasir. Hari ini Dea sedikit rewel karena memang sedang pilek. Begitu tiba dan membayar, mata Dea langsung menatap sekeliling. Dia berjingkat kecil ketika menemukan es cream.
"Mau itu???" Tangannya menunjuk dan itu langsung membuatku mengalihkan pandanganku. Biar papanya yang mengurus soal ini.
"Tadi katanya cuma jajan," seru Aidan. Bapak satu anak ini mengusap peluh yang menghiasi dahi Dea.
__ADS_1
"Satuuu aja," tawarnya.
Aidan menggeleng.
"Kenapa? Kan adek cuma mau satu," protesnya. Beginilah repotnya jika anak sudah dalam fase bisa memprotes.
"Adek lagi pilek."
"Ndak kok. Ini ndak," katanya, tapi suara tarikan napasnya yang sudah terdapat ingus mengatakan sebaliknya.
"Itu pilek," ucap Aidan. Pria itu menatapku sejenak lalu mengecup dahiku. "Aku ke sana duluan. Kamu bayar sendiri nggak apa-apa, kan?"
"Iya. Kamu ke sana aja biar Dea nggak rewel," kataku menyetujui.
Kepergian keduanya berhasil membuatku bernapas lega. Biarlah itu menjadi PR Aidan yang harus menengkan putrinya.
***
Perjalanan menuju rumah dipenuhi keheningan. Wajah Dea sudah dipenuhi dengan bekas air mata. Kini bahkan bocah itu hanya mau menatap ke luar jendela. Tidak ada interaksi antara dirinya dan Aidan. Hal yang sudah sering terjadi jika dia kalah dalam berdebat.
Suara sentrupan dari hidungnya semakin terdengar kencang. Dea langsung meraih bajuku dan mengelap ingusnya di sana. Dia melakukan itu tanpa rasa bersalah sambil menggunakan wajah polosnya.
"Adek! Kok jorok, sih!" protesku begitu tahu kelakuannya. Dea hanya menatapku lalu membuang muka tidak peduli. "Papa! Ini anaknya lihat," aduku pada Aidan dan reapon dari pria itu hanya terkekeh.
"Adek pilek kayak gini masih mau beli es cream?" tanyaku.
"Iya mau."
"Nanti kalau hidunga kesumbat adek nggak boleh nangis. Nggak boleh marah-marah apalagi nyalahi Papa sama Mama," tawarku. Bocah itu menatapku tidak setuju. Tentu saja dia tidak mau disalahkan. "Kalau adek janji, Mama bakal beliin."
"Ndak usah," gumamnya pelan. Dea menundukkan kepalanya terlihat sangat sedih. Air mata juga mulai membasahi pipi chubbynya yang semakin membuatku heran. Tidak dibelikan es cream saja rasanya seperti berdebat untuk membeli sesuatu yang mahal.
__ADS_1