
Itu adalah kesalahan pertamaku. Menutup wajahku berarti aku tidak mematuhinya dan itu juga berarti aku tidak bisa melihat apa yang akan terjadi padaku. Benar saja sebuah tamparan mendarat di wajahku yang membuat bekasnya tercetak jelas di sisi wajahku. Meninggalkan bekas tangan merah cerah. Aku berteriak kesakitan sambil memegang pipiku menggunakan tanganku yang sehat. Aku menatapnya kaget lalu menatapnya tajam.
"Jangan abaikan aku sayang." Dia mendesis sambil mengangkat lengannya tanda mengancam. Aku kembali meringkuk menjauh darinya.
Pria itu terkekeh seolah hal itu permainan yanv sangat menyenangkan, "Bagus. Sekarang kamu tahu, kan. Kalau kamu nggak nurut sama kata-kataku, kamu bakal dapat hukuman kayak gini dari aku."
Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Pria ini benar-benar definisi orang gila yang sesungguhnya.
Dengan kecepatan kilat dia menjentikkan sebuah benda dari sakunya sambil melangkah mendatangiku. Dia bahkan tidak memberiku waktu untuk menjawab. Pada saat itu aku tidak tahu benda apa yang dia bawa, tapi ketika sesuatu terasa mengiris kulit lenganky, aku sadar jika dia membawa sebuah pisau.
Aku berteriak kesakitan karena rasa nyeri. Irisan itu juga mengeluarkan darah yang cukup banyak. Si Dewa sialan itu malah tertawa puas melihatku yang tidak bisa melakukan apa-apa. Aku menggenggam lenganku ketika darah perlahan mengalir keluar, aku bahkan mencoba menahan alirannya.
Aku sudah berada di sini untuk kurun waktu beberapa jam. Si sialan itu sudah memukulku, menggoreskan luka menggunakan pisau, bahkan menjambakku dengan sekuat tenaga. Dalam ketakutan yang menyerangku, aku sudah tidak bisa langi berpikiran jernih.
Apa iya aku harus berada di sini selamanya? Bahkan untuk melihat cahaya saja rasanya sangat sulit dan aku takut sudah tidak ada lagi kesempatan untukku hidup sebagai manusia normal.
Setelah puas menyiksaku, dia pergi. Pria itu mengatakan banyak omong kosong trntang kenapa aku bisa berada di sini. Di basemant rumahnya. Pria gila itu mengklaim bahwa aku adalah gadisnya dan dia akan membuatku jatuh cinta padanya. Hanya memikirkan jika hal itu benar-benar terjadi saja tampaknya sangat sulit. Aku tidak mau terjebak dengan manusia macam dia, karena jika aku benar-benar jatuh cinta padanya, semua kewarasanku pasti juga sudah menghilang.
Aku tidak akan pernah jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Sebelum dia pergi, pria itu megeluarkan snack bar dari sakunya dan melemparkannya ke kasur. Aku menoleh, di tengah kasur itu ada noda cokelat besar srolah-olah pernah digunakan untuk sesuatu tapi belum pernah dibershikan. Aku menolak untuk duduk di atasnya, apalagi harus berbaring di sana. Aku juga menolak snack bar yang dia berikan meski sejujurnya aku lapar. Aku lebih memilih untuk membuat perutku lapar karena dengan begitu, kematian akan lebih cepat datang padaku.
Aku kira dia sudah pergi, tapi ternyata pria bajingan itu masih ada di sini. Dia melangkah ke arahku. Tanpa peringatan, dia mendorong bahuku ke arah kasur.
"Kamu harus tidur," perintahnya, "karena kamu butuh banyak istirahat." Aku melihat niat jahat dari matanya, tapi apapun itu, aku tidak akan membiarkan niat yang disimpannya itu terjadi. Pria yang berpikiran sempit dengan menculikku dan ingin menguasaiku. Jika menurutnya aku akan tunduk, jawabannya adalah tidak. Bukan berarti dia bisa mendapatkan kesempatan untuk enikmati tubuhku, karena bagaimanapun juga, Dewa adalah orang yang menjijikan.
Aku bertekad untuk melawan meski harapan itu hanya sebutir debu. Dia mungkin bisa mencuri kekebasan dan kenyamananku, tapi dia tidak bisa merendahkanku begitu saja.
***
Malamnya, aku menolak melakukan apa yang dia perintahkan. Aku lebih memilih untuk berjongkok di atas beton dingin dengan mata yang tetap terbuka, karena jika saja aku tertidur dan lengah sesuatu yang buruk pasti akan menimpaku. Aku mengabaikan rasa sakit yang mulai menyerang otot. Beberapa kali aku memijat pergelangan tanganku untuk mengurangi rasa nyeri.
Di dalam keheningan malam itu, aku banyak berkhayal tentang bagaimana aku harus keluar dari ruangan ini. Apakah aku harus membunuh Pak Dewa? Atau tentang seseorang yang tiba-tiba datang untuk menolongku. Pikiran random itu membuatku tidak mengantuk sama sekali dan sepanjang malam itu otakku tidak berhenti untuk berpikir.
Lalu, dalam bayanganku itu dia mau main buku dan membawaku keluar dari tempat ini sambil menyatakan perasaannya kepadaku. Aku berdiri, jika hal itu benar-benar terjadi rasanya pasti sangat menggelikan. Aku memang menginginkan dia, tapi tidak jika harus berjalan sesuai khayalanku.
Aku menghilangkan kepala dan mencoba membuang khayalan-khayalan murahan yang ada di pikiranku. Hal itu tidak akan terjadi dan tidak boleh terjadi. Mungkin keberadaanku di sini akan menjadi selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bahkan bisa sampai bertahun-tahun.
Beberapa hari telah berlalu dan aku tampaknya memang akan sulit keluar dari sini. Malam itu aku mendengar suara langkah yang berdering namun samar. Aku asumsikan itu langka kaki yang. Setelah itu aku bisa mendengar suara helaan napas yang membuat jantungku berdegup kencang.
__ADS_1
Aku mengantuk karena beberapa alasan. Sejak dikurung aku memang mempertahankan diriku untuk tidak tertidur dan sejak saat itu Pak Dewa juga belum mendatangiku. Tapi kekuatan tubuhku tidak sehebat itu. Mataku sangat ingin terkejam tapi insting ku memintaku untuk tetap terjaga. Tampaknya Pak Dewa memang membiarkanku untuk bersikap waspada terlebih dahulu karena setelahnya aku akan berpikir dia tidak akan melakukan apa-apa. Saat itu dia pasti akan melancarkan rencananya.
Suara prestasi di lantai atas membuatku waspada. Aku bergerak menjauh dari tangga sambil menahan nafas untuk mempertajam pendengaranku. Pintu terbuka dan cahaya sekarang langsung memenuhi tangga hingga mengenai sekelilingku.
Sangat ironis. Melihat sinar matahari saja berubah menjadi baik seolah cahaya itu benar-benar bisa memberikan pertolongan meski sesungguhnya tidak. Dewa tersenyum mencemooh sambil menyapaku.
"Morning sayang." Dia menyapa dengan riang seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Aku sendiri tetap diam dan beringsut mundur.
" Morning sayang," desisnya lagi, masih berusaha mendapatkan jawaban dariku. Aku menggumamkan sesuatu yang bahkan tidak bisa disebut sebagai jawaban, tapi dia tetap menerimanya dan bergerak mendekatiku.
"Tidur jamu nyenyak? Bagus, bagus." Dia semakin mendekat sampai membuatku terpojok ke dinding. Aku menatap sekeliling dengan ketakutan mencoba mencari rute untuk keluar. Dan sesuai dugaan. Aku tidak menemukan jalan keluar di basement ini kecuali tangga usang satu-satunya yang menjadi tempat Dewa untuk masuk.
Aku menatap sekeliling ruangan dan kali ini pengelihatanku sudah bisa mencerna semuanya. Dinding yang digunakan di ruangan ini adalah batu besar yang strukturnya tidak rata dan juga hanya dicat putih. Aku merinding ketika punggungku menyentuh dinding.
Aku masih berusaha mencari sesuatu yang bisa membantuku, tapi yang aju temukan habya rak-rak yang menempel di dinding dan jendela. Jendela!!!!
Aku bersorak dalam hati, berarti masih ada kesempatan untuk keluar dari sini. Jendela itu audah dilapisi kertas hingga menahan sinar yang bisa masuk ke ruangan ini.
Perhatianku kembali dipaksa untuk melihat ke arah pria itu. Dia mengangkat tangannya untuk membelai telingaku dan merambat ke pangkal tenggorokan. Aku menelan ludah saat dia melakukan hal itu.
__ADS_1
Pikiranku hanya ingin segera pergi. Menjauh dari sotuasi ini dan kembali ke tempatku berasal. Tapi dimana orang-orang itu. Kenapa tidak ada satupun yang mencariku?