
"Lo ada hubungan apa sama Pak Aidan."
Aku tidak terkejut saat dia menanyakan hal itu karena bagaimanapun kami memang sering terlihat bersama.
"Gue sama dia kerja di Green store, toko buku di ujung bangunan. Karena nggak mau canggung setiap kali ketemu, Pak Aidan suruh gue buat nganggap dia teman dan sekarang gue sama dia temanan," jelasku lugas. Aku tidak berbohong walaupun secara nyata dia tidak pernah mengatakan hal itu. Tapi semua tingkahnya membuatku harus melakukan itu.
"Ah gitu..." Dia tampak menganggukkan kepalanya tau terdengar tidak percaya dengan jawabanku. Seringai di wajahnya mengatakan jika dia sedang mempermainkanku.
"Beneran. Gue nggak ada apa-apa sama Pak Aidan. Gue cerita ke lo karena gue pikir lo bisa jadi teman gue, terus kalau emang ada apa-apa diantara gue sama Pak Aidan, lo bakal jadi orang pertama yang gue kasih tahu," desakku.
Dia tertawa, "Ternyata lo lucu juga. Oke kita temenan jadi sahabat juga boleh. Selama di sekolah nggak ada yang seru buat diajak ngobrol. Mereka aneh-aneh soalnya." Aku tersenyum karena dia tidak membuatku terpojok.
Kami tiba di parkiran sekolah. Setelah memastikan motornya terkunci aman, aku dan Rafa melangkah masuk dengan beriringan.
"Terima kasih buat tumpangannya."
__ADS_1
"Santai aja. Gue malah senang ada temannya," jawabnya ketika kami sedang dalam perjalanan menuju kelas Geografi.
Bel berbunyi begitu kami membuka pintu kelas dan kami juga sudah disambut oleh Aidan yang menatap datar ke arah kami. Pria itu tidak tampak ramah seperti tadi pagi.
Selang lima menit kemudian Aidan langsung memulai untuk memulai kelasnya. Dia memberi peraturan untuk tidak boleh terlambat lebih dari lima menit di kelasnya kecuali memiliki urusan dan izin terlebih dahulu padanya. Setelah memastikan semua murid bisa diam ketika dia berbicara, kemudian dia baru memulai kelasnya.
"Kalian tahu kan beberapa Minggu lagi kalian sudah akan ujian, sebelum memulai untuk mengerjakan soal ujian saya akan selalu memberikan ulangan sebagai pemanasan disetiap selesai materi yang saya ajarkan," ucapnya, sambil membagikan kertas ulangan pada kami. Ketika sampai di mejaku dia tampak berlama-lama berdiri di sana. Aku mengabaikannya karena toh dia juga sedang tidak bertanya sesuatu padaku.
"Ada pengumuman yang akan saya sampaikan sebelum saya lupa. Besok akan diadakan study tour disalah satu universitas khusus anak kelas sebelas dan menurut saya universitas yang akan kita datangi merupakan universitas terbaik di kota ini. Saya harap ketika kita pergi ke sana kalian bisa terpacu semangatnya untuk berkuliah setelah lulus dari sini." Aidan mengatakan itu sambil menatap tajam padaku seolah-olah dia mengatakan hal itu hanya untukku seorang, bukan untuk anak satu kelas. Aku menghela nafas pelan, dia berhasil membuatku terpojok. Padahal aku sudah menjelaskan jika aku tidak akan berkuliah karena tidak mampu dan tidak cukup pintar juga, tapi sepertinya dia benar-benar tidak mau aku menyia-nyiakan kesempatan ini.
Kelas berkahir dan kami segera membereskan tas dan barang bawaan yang lainnya. Aku masih tak habis pikir kenapa Rafa bisa mengambil kesimpulan jika aku dan Aidan memiliki sesuatu. Haruskah aku menceritakan soal Pak Dewa padanya? Dia kelewat peka dan rasanya tidak mungkin dia tidak tahu apa yang sudah terjadi di sekolah ini. Aku hanya tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang tersiksa karena harus menanggung rahasia Pak Dewa yang tidak menguntungkanku.
Kelas selanjutnya adalah kelas Biologi. Aku dan Rafa berjalan bersama menuju kelas tersebut. Lagi-lagi kami disambut oleh guru yang berbeda. Tapi sambutannya bukan sambutan yang seperti aku dan Rafa dapatkan dari Pak Aidan. Sambutan dari Pak Dewa tampak sangat terpaksa dan dingin. Pria itu bahkan mendesis penuh kebencian dan kedengkian.
"Pagi Pak," jawab Rafa tak kalah datarnya. Gadis itu tampak tidak terusik dengan tingkah Pak Dewa. Sikapnya yang seperti itu membuatku berharap jika dia bukan salah satu gadis yang juga tergila-gila dengan pesona Pak Dewa.
__ADS_1
Sudah pernah kujelaskan sebelumnya bukan, Pak Dewa merupakan guru favorit dan ketampanan itu berhasil membuat semua siswi jatuh cinta padanya. Hanya saja sikapnya yang sudah terlanjur buruk di mataku tidak bisa mengubah fakta jika dia hanyalah seorang bajingan yang bersembunyi dibalik tittle guru miliknya.
Padahal ini masih jam pelajaran kedua, tapi semua siswa tampak sudah tidak bersemangat. Beberapa memang masih sibuk menggoda Pak Dewa, beberapa lagi tampak lesu dan meletakkan kepalanya di atas meja karena mengantuk.
untuk membuat kami kembali semangat, Pak Dewa berinisiatif menyuruh kami keluar untuk berlari.
"Saya bakal tunggu kalian di sini!" ucapnya, "sampai kalian berhasil menghilangkan kantuk kalian tidak diizinkan masuk." Suara protesan kesal menggema di seluruh kelas dan itu berhasil membuat Pak Dewa terpancing emosinya.
"Ini masih jam kedua dan kalian udah ngantuk. Saya kasih opsi buat menghilangkan kantuk tapi kalian malah protes, lalu kalian mau saya suruh mendengarkan pelajaran saya sambil berdiri?" ancamnya.
Semuanya langsung berebutan untuk keluar karena tahu ancaman Pak Dewa tidak pernah main-main. Aku dan Rafa untuk terbawa arus yang membawa kami keluar kelas dan aku berjalan tepat di depan Jessica. Jangan ditanyakan bagaimana keadaan wanita itu karena sudah pasti dia tidak ikut keluar. Aku tahu ini hanya akal-akalan mereka saja. Pak Dewa meminta kami keluar karena dia perlu menyalurkan kebutuhan biologisnya, jika tidak kenapa Jessica tidak ikut keluar. Ditambah kami harus berlari di lapangan dan jarak untuk menuju ke sana mengharuskan kami untuk menuruni tangga dan menyebrang ke gedung sebrang.
Hanya tersisa aku dan Rafa. Kami berdua memutuskan untuk tidak berlari dan malah memilih menunggu di koridor dekat lemari tempat penyimpanan alat kebersihan. Setidaknya kehadiran kami dapat terhalang oleh lemari itu. Kami jongkok berdampingan. Aku mencoba untuk jongkok sepelan mungkin agar Rafa tidak sadar jika aku terluka dan jika aku ketahuan aku akan menjawab jika aku terjatuh dari tangga seperti yang kulakukan pada dokter di rumah sakit kemarin.
Rafa mengeluarkan ponselnya dan mulai menghidupkannya, "Berapa nomer lo?" Dia bertanya sambil menatap layar ponsel miliknya. Aku menyebutkannya dan sedetik kemudian terdengar deringan suara ponsel dari saku rokku.
__ADS_1
Aku mengeluarkan ponsel usang milikku dan mendapatkan pesan darinya bertuliskan 'Hei!!!' ditambah dengan emosi tersenyum.