
Jam menunjukkan pukul 12.00 dan saat itu sudah tidak ada pelanggan, Pak Aidan segera membalik tanda di pintu yang bertuliskan 'tutup'. Dia juga menambahkan catatan kecil dengan tulisan 'akan kembali satu jam lagi', setelahnya dia menoleh padaku dan tersenyum.
"Ayo makan." Pak Aidan mengajak seraya berjalan ke tempatku. Dia memegang lenganku dan menyeretku keluar dari toko, tidak lupa juga mengunci pintu sebelum benar-benar meninggalkan tempat. Pak Aidan sama sekali tidak melepaskan genggamannya, dia menyeretku hingga kami tiba di warung makan yang dia rekomendasikan tadi pagi. Tempat itu tidak bisa dibilang warung saat aku melihatnya langsung dengan kedua mataku. Bangunannya bertingkat dua dengan sistem self service.
"Ini mah bukan warung," ucapku.
Pak Aidan terkekeh, "Warung Aretta. Coba lihat pelang namanya," ujarnya seraya menunjuk pelang besar yang terpasang di pintu masuk.
Memang benar nama restonya 'Warung Makan' tapi sepertinya bukan warung yang aku ketahui. Kami berdua melangkah masuk. Di bagian kasir terdapat pria muda yang tengah membaca majalah. Begitu melihat kami dia langsung meletakkan majalahnya.
"Woi Dan! My bro! Lama nggak ketemu, gimana kabar lo?" Dia berdiri dan menepuk pundak Pak Aidan pelan.
"Baik gue. Lo tau sendiri gue sibuk ngapain." Pak Aidan meletakkan tangannya di pundakku dan menarikku mendekat.
"Kenalin ini Aretta. Dia karyawan baru di toko."
Pria itu menjulurkan tangannya dengan cara yang lebih formal. Dia berjabat tangan saat dia memperkenalkan diri.
"Hai Aretta. Gue Davin, teman kecilnya Aidan. Kita baru ketemu lagi di universitas," jelasnya. Aku mengangguk paham seraya tersenyum, "kalian berdua mau makan apa? Mau diambilin atau ambil sendiri?" tawar Davin.
"Ambil sendiri. Mending balik ke kasir deh lo," usir Pak Aidan.
__ADS_1
Pak Aidan akhirnya membawaku mendekat ke meja prasmanan. Dia memberikanku piring dan membantuku untuk mengambil nasi. Aku sudah cukup lama tidak memakan nasi karena diet dan kemarin itu merupakan pertama kalinya aku makan setelah hampir 2 tahun tidak menyentuh nasi sama sekali. Melihat tatapan tajam dari Pak Aidan aku menciut dan memutuskan untuk mengambil sedikit, aku tertahan karena dia menarik lenganku dan menambah nasi ke piringku.
"Tapi ini..." protesku.
"Udah. Sana jalan." Dia mendorong ke lembut dan kini kami tiba di tempat yang sudah diisi banyaknya lauk pauk. Mungkin karena sudah memasuki waktu makan siang semua hidangan di sini terlihat fresh. Aku bingung karena biasanya aku hanya makan sayur dan sepotong tahu. Melihat banyaknya lauk-pauk membuatku tidak bisa memilih dengan cepat.
Ketika aku ingin mengambil tahu, Pak Aidan sudah memasukkan sepotong ayam bakar di sana. Dia juga menambahkan oseng kangkung dan sambal. Untuk gorengan dia hanya meletakkan tempe dan tahu yang masing-masingnya berjumlah 2 biji. Isi piring yang penuh membuatku melongo dan menatapnya.
"Kebanyakan..."
"Udah kena nasi jadi nggak boleh dibalikin. Mau Aku tambahin lagi apa mau langsung cari tempat duduk?" ancamnya. Aku segera melangkah mendahuluinya agar tidak mendapatkan lagi tambahan makanan.
Sebelumnya kami singgah di kasir untuk membayar terlebih dahulu. Aku sudah mengeluarkan dompetku untuk membayar makanan kami tapi dihentikan oleh Pak Aidan. Tangannya menggenggam jariku yang akan mengeluarkan uang. Kehangatan dari genggamannya mengirim gelombang aneh ke seluruh tubuhku.
Pada akhirnya dia menyerah dan membiarkanku untuk membayar seperempatnya. Menurut dia jika aku membayar setengahnya itu terlalu banyak. Lagi pula posisinya di sini dia adalah seorang guru yang sudah bekerja sedangkan aku masih seorang murid.
Kami menyelesaikan makan kami dengan cepat. Entah kenapa waktu yang kuhabiskan dengan Pak Aidan tidak pernah terasa panjang.
Sedari tadi Pak Aidan memincingkan matanya untuk mengikuti pergerakanku. Dia sangat mengintimidasi karena aku benar-benar tidak menghabiskan makananku. Aku hanya sanggup memakan separuhnya. Separuh nasi, separuh ayam, menghabiskan seluruh sayurnya. Untuk lauk pauk yang tadi dia tambahkan tidak tersentuh sama sekali. Porsi yang ku makan saat ini sangat berbeda dengan porsi rice box yang pernah dia belikan sebelumnya.
"Nggak dihabisin?"
__ADS_1
"Udah kenyang. Perutnya udah nggak muat," kataku, sambil mendorong piringku ke tengah meja.
Pak Aidan menggangguk, syarat akan memaklumi. Dia pun segera mengambil piringku dan menghabiskan semua makanan yang masih tersisa di piring.
Kami menyelesaikan makan lebih cepat dari perkiraan. Setelahnya kami memutuskan untuk berjalan-jalan ringan agar makanan yang baru masuk ke dalam perut dapat tercerna dengan baik. Sebelum kembali ke toko, Pak Aidan mengajakku untuk mampir ke minimarket. Dia membeli beberapa camilan dan baru setelahnya membawaku kembali ke toko.
Sesampainya di toko dia langsung membawaku ke ruang belakang dan mengarahkanku ke pintu yang menghadap ke sebuah taman kecil. Area ini dipenuhi tanaman bunga, ada juga meja dan kursi serta ayunan yang digantung di antara dua tiang. Kami memilih duduk di kursi dan berjemur di bawah sinar matahari yang tidak terlalu terik di tempat ini.
Aku mulai mengerti jika berdebat soal makanan di depan Pak Aidan merupakan hal bodoh. Jadi saat dia menyodorkan camilannya aku segera mengambilnya dan memakannya sedikit-sedikit. Durasinya sangat lama tapi tidak masalah untukku. Yang terpenting aku benar-benar terlihat sedang makan.
Kami mulai berbincang soal toko sebelah yang tidak memiliki area belakang seperti ini.
"Kenapa toko di samping nggak ada tempat kayak gini?" tanyaku.
Dia menelan camilannya sebelum berbicara.
"Oma aku pindah ke sini sekitar 50 tahun yang lalu, jadi dia yang punya gedung ini dan memutuskan untuk menutup akses ke taman belakang kecuali dia sendiri," ceritanya, "saat itu Oma berusia 19 tahun dan beliau sudah dalam posisi menikah dengan Opa. Oma dan Opa bukan dari kalangan berada, tapi mereka menyukai buku. Pada tahun-tahun itu buku merupakan barang mahal yang gak semua rakyat mampu beli. Karena keduanya sama-sama antusias jika membicarakan soal buku mereka memutuskan untuk membangun perpustakaan pribadi. 4 bulan berada di sini keduanya punya pemikiran untuk menghasilkan uang lebih dari buku meskipun kedengarannya sangat mustahil." Pak Aidan mengunyah kembali camilannya sebelum melanjutkan.
"Saat mereka sudah memiliki uang yang cukup, mereka memutuskan untuk membeli kios ini. Dulu ini cuma kios kecil dengan kebun di bagian belakangnya. Semua orang di area sini penasaran dan berharap kios ini bakal jual sayur-sayuran seperti sebelumnya, tapi Oma dan Opa sudah terlanjur memiliki keputusan tersendiri dan mimpi mereka sendiri. Mereka memperbesar kios dan ngebuat toko buku di sini. Awalnya nggak berjalan lancar, karena menurut orang zaman dulu buku itu nggak penting. Meskipun mereka bisa membaca belum tentu masa depannya akan berakhir cerah. Saat itu benar-benar masa yang sangat sulit untuk keduanya.
"Beberapa tahun kemudian, Beberapa sekolah mulai didirikan, membaca pun juga sudah menjadi keharusan. Semenjak itu toko buku mulai banyak dicari dan didatangi. Meski Opa sudah nggak ada, toko buku impian mereka sudah berkembang pesat lebih dari yang mereka bayangkan."
__ADS_1
"Wow." Aku berdecak kagum.
"Kadang-kadang kita juga perlu untuk nggak memperdulikan pandangan orang lain terhadap cita-cita kita. Maju terus pantang mundur selama yakin. Dan jangan pernah terdistrak oleh sesuatu yang tidak membantumu mencapai apa yang kamu impikan."