
Tadi ketika aku sampai rumah dan menaiki tangga, aku mendengar suara pintu yang tertutup kencang. Itu Mama dan sepertinya hari ini dia tidak akan pulang karena dia meninggalkan rumah cukup larut. Aku sudah tidak mau ambil pusing soal itu dan memutuskan untuk segera mengambil kertas dan pulpen untuk merealisasikan rencana tentang pertumbuhan Aretta versi baru.
Planning to be new Aretta's
Tulisku di atas kertas dan aku terkikik karena tingkah konyolku. Planning ini akan menjadi perubahan terbesar dalam hidupku.
Keluar dari rumah.
Ini langkah pertama yang harus aku lakukan karena hanya dengan cara itu aku dapat merealisasikan semuanya.
Lakukan sesuatu atau menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia.
Menyelesaikan semua masalah.
Itu adalah tiga hal yang harus aku lakukan begitu kebebasan aku dapatkan. Tapi poin paling penting itu ada di nomer tiga. Aku harus mencari cara untuk membebaskan diri dari Pak Dewa, karena bagaimanapun pria itu sangat menjengkelkan. Dia yang bersalah tapi aku yang menderita, bukankah itu tidak adil.
Selesai menghias aku segera menempelkan kertas tersebut di balik headboard ranjang, itu tidak akan terlihat oleh siapapun tapi bisa terlihat olehku.
Aku sudah akan bersiap tidur ketika aku kembali mendengar suara pintu yang dibanting. Kali ini bukan Mama karena suara yang dihasilkan dari bantingan Mama sudah aku hafal di luar kepala. Suara selanjutnya adalah langkah kaki yang berderap cepat menaiki tangga.
"Aretta!" itu suara Gio yang berteriak hingga suaranya menggema. Untung saja Mama sudah pergi, jika dia masih ada di rumah sudah pasti aku akan mendapat amukan juga darinya.
"Iya," jawabku dan bertepatan dengan itu pintu kamarku terbuka dan aku melihat Gio yang datang dengan ekspresi wajah mengeras. Tapi ketika melihatku raut wajahnya berubah melembut. Aku tidak tahu jika dia sekhawatir ini padaku.
__ADS_1
"Lo dari mana aja?" tanyanya. Dia sudah bersiap untuk mengintrogasiku sambil berjalan dan duduk di kursi belajarku.
"Tadi ada sedikit problem pas mau pulang jadi aku harus jalan kaki, aku juga sempat nyasar makannya butuh waktu sampai lima jam buat sampai rumah," jelasku.
"Gue kira lo kenapa-napa karena pas gue jemput, gue nggak nemuin lo di sekolah. Kenapa lo berantakan banget sih," keluhnya, "gue bahkan juga nyariin lo toko buku sampai keliling kota."
Senyumku langsung merekah ketika aku tahu Gio berusaha mencariku. Ternyata dia memang tidak sekedar omong kosong belaka ketika mengatakan dia akan berubah dan aku mensyukuri itu. Tapi tampaknya ada sesuatu yang aku lupakan.
"Toko buku," desisku. Soal, aku bekerja di tempat itu.
"Lo nggak usah khawatir. Tadi pas gue mampir penjaga toko bilang kalau lo ada urusan dan emang nggak bisa kerja." Itu pasti Aidan. Aku merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk padanya tapi sekarang setelah pikiranku jernih aku baru sadar jika dia harus menggantikan Omanya menjaga toko saat aku tertahan di sana.
"Gio," panggilku pelan. Aku ingin memberitahunya soal pertemuanku dengan Papa. Dia sudah berubah dan dia patut dilibatkan soal pertemuan ini.
"Gue ketemu Papa," kataku. Menyembunyikan soal ini hanya akan berujung dengan perdebatan antara aku dan dia. Jadi memberitahunya lebih awal adalah pilihan bijak.
"Lo ngomong apa barusan?" serunya. Tampaknya dia tidak mempercayai kalimatku.
"Gue... udah ketemu sama Papa."
Akhirnya aku menceritakan semua kisah yang tadi Papa ceritakan. Tentang alasan apa yang membuatnya pergi dan juga tentang kenapa dia tidak pernah menampakkan dirinya di depan kami. Sepertinya aku sudah bisa menerima ketidakadilan itu karena kini aku bercerita seolah hal itu bukan masalah, namun ketika aku menoleh ke Gio, pria itu hanya diam di tempat bahkan sampai tidak mengeluarkan suaranya.
"Akhirnya..." ucapnya pada akhirnya. Mendengar jika Mama berselingkuh tidak membuat ekspresinya kecewa, tampaknya Gio sudah bisa memperkirakan itu.
"Lo bakal telepon Papa lagi kan? Lo mesti telepon dan kita harus ketemu Papa bareng-bareng. Dia utang banyak cerita sama kita," seru Gio teramat antusias.
__ADS_1
Aku mengangguk. Gio benar, Papa memang memiliki banyak utang penjelasan pada kami. Meskipun dia pergi karena kesalahan Mama tapi tetap saja tindakannya itu tidak bisa dibenarkan. Aku menyodorkan kartu nama yang Papa berikan pada Gio, pria itu langsung menyimpan nomernya ke ponsel pintar miliknya. Kini dia dapat tersenyum cerah dan tampaknya kali ini dia benar-benar merasa lega.
"Apa sekarang lo masih nggak percaya sama gue?" tanyanya dan itu benar-benar menghancurkan suasana mellow yang sudah tercipta.
"Please Gio, ini baru satu hari," sungutku, dia tertawa. Sepertinya dia benar-benar sudah berubah karena meski aku bertingkah menyebalkan dia tetap tidak marah seperti dulu.
"Oke. Gue masih punya banyak kekuatan buat tunjukkin ke lo kalau gue udah benar-benar berubah," katanya sambil tersenyum jahil dan juga melangkah pergi keluar dari kamarku.
Ternyata menjadi Aretta versi baru itu tidak semudah yang aju pikirkan. Ada banyak kebiasaan yang harus aku hilangkan seperti untuk selalu sarapan. Hal yang menurutku sangat sulit untuk aku lakukan karena selama ini aku selalu mengabaikan kebiasaan baik itu. Meski sejujurnya aku harus selalu menahan mual setiap kali makanan itu masuk ke mulut, tapi aku harus bisa menahannya karena ini merupakan langkah awal untuk berubah.
Kini aku duduk di meja yang sama dengan Gio dan kami juga tengah mengunyah sereal dan susu untuk sarapan pagi ini. Susu kedelai untukku dan susu biasa untuknya. Setelah dia tahu jika aku mati-matian menjaga bentuk tubuhku, Gio menjadi lebih perhatian dengan menyediakan makanan rendah kalori untukku.
Tidak ada percakapan yang tercipta diantara kami karena saat ini Mama juga ikut sarapan bersama.
"Selamat pagi sayang." Dia menyapa Gio dan terang-terangan mengabaikanku. Aku tidak merasa cemburu karena hal ini sudah sering terjadi tapi sepertinya hal seperti itu baru pertama kali dialami Gio dan dia tampak malas.
"Iya Ma," katanya. Dia tampak menahan emosi karena Mama tidak boleh tahu jika sekarang Gio bersekutu denganku.
Tapi begitu Mama meninggalkan rumah, hal pertama yang dia lakukan adalah mengomel tentang perlakuan tidak adil yang diberikan Mama padaku.
"Kenapa lo diam aja sih. Harusnya lo protes waktu lo diperlakukan tidak adil kayak barusan." semangkuk sereal hampir terbalik karena gerakannya yang liar, tapi aku dengan segera menenangkannya sebelum ada kekacauan yang berakhir dengan aku yang harus membersihkannya.
Pengabaian seperti ini bukan hanya sekali dua kali dan Mama memang sengaja melakukan itu untuk membuatku kesal. Aku tidak mau terpancing dengan aksi yang diberikan Mama jika ujung-ujungnya malah aku yang dimarahi.
__ADS_1