Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Ide dari Gio


__ADS_3

"Jangan marah soal itu. Gue emang brengsek makannya dia nggak mau kasih tahu ke kalian kalau dia punya kakak dan sekarang gue lagi dalam proses berubah menjadi lebih baik, makannya gue mau kenal siapa-siapa aja yang temanan sama adek gue," akunya. Dia tidak menceritakan keberengsekan macam apa yang dia lakukan padaku, tapi menurutku itu tidak penting untuk diketahui oleh orang lain.


Rafa mengangguk mengerti, tapi tatapannya masih berkata seolah aku masih harus menjelaskan soal ini padanya. Aku hanya mengangguk kecil dan dia pun permisi untuk bekerja kembali.


"Dia baik," ucap Gio sambil memakan gigitan terakhir dari burgernya. Aku mengakui itu karena meski tahu aku dijauhi dia tetap tidak bergeming dan masih mau bermain denganku. Aku kemudian melanjutkan menggigit burger milikku saat tiba-tiba Gio bertanya.


"Lo punya pacar?" pertanyaan yang sangat ti the point itu membuatku tersedak dan itu membuat Gio terkekeh senang, "reaksi lo udah bisa gue tebak. Berarti lo nggak punya pacar," ujarnya sambil mengangguk. Entah kenapa aku malah kesal melihatnya. Dia kembali bertanya. Pertanyaan yang tidak pernah aku pikirkan akan keluar dari mulutnya, "kenapa lo masih stay di rumah?" Wajahnya terlihat serius yang menandakan dia juga ingin mendengar jawaban yang serius dariku.


Aku benar-benar terkejut hingga sulit mengeluarkan suaraku hanya karena pertanyaan itu, "M-maksud lo?" Aku tahu apa yang dia maksudkan tapi aku hanya ingin tahu apa yang dia pikirkan.


"Gue tahu lo nggak suka di rumah dan lo juga tahu Mama nggak nganggap lo ada. Dia emang masih kasih lo uang tapi itu nggak sebanding sama apa yang lo terima dari dia. Jadi apa gunanya lo tinggal di sana?" jelasnya.


"Gue nggak tahu!" seruku frustasi. Aku memang ada niatan untuk pergi, hanya saja aku takut ketika aku di luar aku tlditipu karena aku masih di bawa umur. Jika hal itu terjadi hanya aku yang akan menderita karena sudah kehilangan tempat tinggal. Memang di luaran sana masih banyak orang baik tapi orang jahat juga ada. Aku hanya merasa takut yang berlebihan. Aku belum siap, "mungkin nanti," lirihku.


"Kenapa nggak secepatnya?" desaknya penuh harap, "Gue udah punya tabungan yang cukup dan gue udah mikir kalau gue bakal keluar dari rumah. Gue bakal beli rumah yang bisa gue buat usaha kalau-kalau karir gue di sepak bola nggak semulus yang gue inginkan." Dia melanjutkan.

__ADS_1


Aku sedikit terkejut dengan ide Gio, atau jangan-jangan itu sebuah sindiran untukku.


"Jadi maksud lo, lo mau gue keluar dari rumah?"


"Jangan salah paham. Gue tahu lo benci Mama dan Mama juga benci sama lo. Gue tahu lo nggak bodoh. Gue udah punya planning buat keluar dari rumah dan hidup bareng sama Ana di masa depan. Maksud gue kenapa kita nggak keluar bareng dan cari rumah buat kita tinggali berdua. Gue bisa ambil pinjaman dan uang itu bisa buat bantu kita buka usaha. Lo fokus pendidikan sama usaha rumahan buat bantu bayar pinjaman dan gue bakal fokus ke bola buat bayar pinjaman juga. Kita harus keluar kalai mau hidup sebagai orang normal."


"Gue nggak tahu," kataku pelan. Gio mengernyitkan dahinya tapi aku harus tetap mengatakan keberatanku agar tidak terjadi kesalahpahaman. Hubungan kami baru saja mulai membaik.


"Sejujurnya gue masih nggak percaya sama lo. Lo emang berubah tapi gue nggak tahu perubahan lo bakal permanen apa nggak." Aku akui ide Gio memang luar biasa hanya saja detailnya belum jelas. Dan lagi jika memang hal itu sudah dilakukan lalu ditengah jalan dia meninggalkanku, bagaimana caranya aku harus membayar pinjamannya. Otomatis uang yang akan dia pinjam bukan jumlah yang sedikit jika dia sampai berpikir akan mendirikan usaha rumahan.


"Gue ngerti apa yang lo maksud berarti gue sekarang harus lebih kuat buktiin ke lo kalau gue nggak main-main. Terus udah waktunya gue antar lo ke sekolah." Gio berdiri tiba-tiba saat dia sadar jika aku hampir saja terlambat untuk masuk kelas. Aku memintanya untuk menurunkanku di halte depan sekolah karena jam segini gerbang pasti dipenuhi kendaraan juga. Aku tidak mau dia terlambat.


"Ingat. Lo punya gue dan gue nggak bakal kemana-mana. Tapi gue mohon pikirin lagi apa yang gue jelasin tadi." Aku mengangguk sebelum benar-benar pergi meninggalkannya.


Hari ini merupakan outing class menuju universitas yang dibicarakan Aidan. Aku segera masuk ke dalam bus yang sudah berjejer dan untung saja rasa sakitku sudah membaik. Aku mengitari kepalaku untuk mencari tempat kosong bertepatan dengan seseorang yang memanggil namaku.

__ADS_1


Aku menemukan Aidan yang sudah duduk dengan guru lain, raut wajahnya tampak lega ketika menemukanku ada di sini.


"Saya kira kamu nggak bakal ikut," ucapnya dan itu membuatku meringis.


"Maaf Pak saya tadi sedikit terlambat."


"Kalau begitu silahkan cari tempat duduk yang kosong," ucap guru pendamping yang ada di sebelah Aidan. Aku menganggukkan kepalaku dan segera berjalan lebih masuk ke dalam bus.


"Aretta." Aku menoleh dan menemukan Rafa yang melambai padaku. Kupercepat langkahku untuk menuju ke tempatnya berada. Baru saja aku meletakkan pantatku ke kursi, cecaran pertanyaan sudah Rafa lemparkan padaku. Aku sadar dia tidak akan membiarkanku tenang setelah apa yang dia temukan tadi.


"Kakak? Kenapa gue nggak tahu lo punya kakak? Terus maksudnya brengsek tadi apaan?" serunya oenuh semangat. Dia ini sepertinya memiliki energi yang berlebih karena berbicara tanpa jeda yang membuatku hampir saja menyemburkan tawa.


"Iya gue bakal cerita. Tadi lo dengar sendiri kan kalau dia brengsek. Dulu kita emang dekat, tapi setelah bokap gue pergi disa sama nyokap nyalahin gue. Dia selalu ganggu gue dan kita benar-benar jadi renggang sejak saat itu. Tapi akhir-akhir ini dia berubah dan dia bilang kalau dia mau nebus semua kesalahan dia ke gue," jelasku. Aku sangat menyukai Gio yang sekarang, walaupun dia tidak bisa diandalkan itupun tidak masalah. Aku hanya ingin memiliki saudara yang bisa menjadi temoatku bersandar.


"Gue ada di sini kalau lo perlu teman cerita," ujar Rafa tiba-tiba dan itu membuatku tersentuh.

__ADS_1


"Tapi gue udah nggak kenapa-napa. Lagian Gio juga udah berubah. Dia nggak ganggu gue lagi." Kami berdua terkekeh. Aku bersyukur karena masih memiliki seseorang lagi yang bisa menjadi tempaku bersandar selain Aidan. Walaupun aku tidak terlalu bergantung padanya.


Pertama kali aku pindah ke sini, aku memang berpikiran untuk menghilangkan sebutan Aretta gembrot, tapi setelah aku masuk sekolah, pikiranku ikut terbuka ketika aku terjerat masalah dengan Pak Dewa. Kemanapun aku pergi pasti akan selalu ada orang yang tidak menyukaiku dan aku harus terima itu. Awalnya aku merasa sangat kesal karena hal itu tapi sekarang tidak. Biarlah mereka menbenciku karena hidupku tidak hanya terfokus untuk memikirkan tentang omongan buruk mereka.


__ADS_2