
Aku dan Oma memasuki toko dan hampir saja aku kehilangannya karena Oma sangat menyukai sesuatu yang berbau pesta.
"Coba aja Oma nggak sakit, Oma pasti bakal keliling buat lihat-lihat. Grand openingnya bagus!" serunya dan mulai melangkah dengan pasti menggunakan tongkat. Oma benar-benar tampak bahagia.
"Itu dia!" tunjuknya pada Gio. Sebelum aku sempat melangkah mendekati Oma, dia sudah lebih dulu berjalan tertatih-tatih menuju ke arah Gio. Oma mulai mengajak mengobrol panjang lebar. Tampaknya atmosfir di antara mereka sangat baik.
Aku ditinggalkan sendiri untuk menikmati hasil kerja keras kami selama beberapa waktu terakhir ini. Aku mulai berkeliling untuk menghindari orang-orang yang ingin berbicara denganku. Tiba-tiba suasana tampak hening, di ujung sana tampak segerombolan pria melirik ke arah tangga tempat dimana keluarga Aretta turun dari lantai atas. Aku mengikuti pandangan mereka dan tersentak.
Aretta turun dengan dress berpotong sabrina. Dia adalah hal terindah yang ada di ruangan saat ini. Aku tidak seterkesima itu dengan perubahan toko tapi perubahan Aretta benar-benar terasa sangat luar biasa. Pakaian yang dia kenakan sekarang bukanlah pakaian yang pernah terlintas di pikiranku. Dia juga menggunakan make up dan lipstik. Saat itu aku tahu, apa yang diucapkan Oma tentang aku harus mendapatkan Aretta adalah hal yang benar. Saat ini yang ingin aku lakukan adalah memeluknya sambil memujinya, lalu aku tidak akan melepaskan dia kembali.
Aretta dengan wajah menunduk tetap berusaha menuruni tangga. Aku tahu, dia tidak nyaman dengan macam perhatian. Dengan langkah pelan, dia mencoba berbaur di dalam acada. Aku sendiri malah terpesona karena penampilannya. Meski jarak kami tidaklah jauh, tapi gadis itu tidak tahu jika aku tengah memperhatikannya di sudut ruangan. Entah sejak kapan, tiba-tiba Oma melintas di depanku. Dia mendekati Aretta dan memeluk erat gadis itu. Hal itu membuatku cemburu, aku snagat berharap aku juga dapat melakukan hal itu.
Oma bercerita tentang betapa luar biasanya toko yang telah dirombak. Oma juga mengucapkan terima kasih dan bersyukur atas kerja kerasnya. Sementara Oma asyik berbincang, aku masih berada di belakang mereka sambil masih terus menatap Aretta. Oma banyak mengatakan sesuatu tapi aku tidak mendengarnya.
"Cantik." Oma menekankan kalimatnya sambil memberi pandangan ke arahku seolah mengatakan, 'jangan disia-siakan.'
Aku merasa wajahku memerah.
"Kayaknya Oma harus pulang," kata Oma sambil menoleh padaku. Sebelum datang, kami sudah bersepakat, setelah bertemu Aretta Oma akan langsung pulang karena besok dia akan kontrol rutinan. Semenjak kondisi tubuhnya menurun, aku memang melarang Oma untuk beraktivitas lama di luar. Aku segera meraih le gan Oma dan membawanya keluar. Kali ini supir pribadi Oma yang menjemput. Sebelym aku membantu Oma keluar menuju mobil, aku melihat Aretta menoleh ke arahku.
__ADS_1
Jantungku berdegup kencang, seperti akan keluar dari dadaku karena debarannya yang sangat luar biasa. Aku melihat lagi ke dalam melalui jendela toko, kini aku melihat dia tengah mengobrol bersama Gio.
Bahkan dari sini saja aku masih sangat mengagumi senyumannya yang sudah lama tidak aku lihat.
Selesai dengan Oma, aku segera melangkah cepat ke dalam. Aku menghampiri Aretta tepat ketika dia tengah berbincang dengan Davim. Aku mendengar kalimat yang dia ucapkan, entah kenapa itu malah membuatku merasa ikutan sakit.
"Gue perlu bicara sama lo," pintaku, menyela pembicaraan mereka dan meraih lengannya, lalu membawanya kesudut toko. Aku mendudukan gadis itu di sofa dan saat itu aku refleks menundukan kepala sambil menggenggam erat jemariku.
"Aretta, aku minta maaf karena seminggu ini aku udah bersikap nggak baik ke kamu. Jujur, aku masih kecewa sama keputusan kamu, tapi ternyata aku nggak bisa diam-diaman terus sama kamu. Kamu mau nggak anggap aku teman kamu lagi? Aku dengar pecakapan kalian tadi, emang harusnya aku nggak bersikap kayak gitu ke kamu."
Aku tahu mumgkin kami tidak bisa secepat itu menganggap hal kemarin bukan apa-apa dan tentunya untuk kembali menjadi teman bukannlah hal yang mudah.
Tatapan matanya tiba-tiba sudah dipenuhi amarah, "Apa kamu suka sama aku? Lebih dari rasa suka ke seorang teman?"
Aku terkejut dengan kalimatnya dan itu malah membuatku semakin gugup. Aku membuka tutup mulutku untuk mencari kalimat. Aku bisa saja langsung menjawab, tapi ternyata itu malah membutuhkan banyak waktu. Dan ketika aku sadar, Aretta sudah berdiri dan berlari menerobos kerumunan orang-orang.
Aku mendesah kasar dan mendudukan diri di tempat Aretta tadi selama beberapa menit. Merasa sudah kembali mendapatkan kewarasanku, aku perlahan berdiri untuk mencari gadis itu. Aku melangkah lebih pelan karena ingin memberikan waktu untuknya.
Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku juga ingin menjadi sosok yang lebih dari seorang teman. Aku juga tidak mau melepaskannya. Dan kini aku hanya bisa berdoa dan berharap agar dia merasakan hal yang sama.
__ADS_1
Aku tiba di pintu dan mengintip keluar untuk mencari Aretta. Sulit menemukan sosok itu jika tidak keluar langsubg. Aku menyipitkan mata ketika menemukan dua sosok dengan salah satunya yang sangat aku kenal. Mereka berdua tampak sedang berdebat, dan ketika aku sudah keluar, aku melihat Aretta yang sudah berada di atas bahu sosok yang lebih besar. Gadis itu memukul pria itu sekuat tenaga dan yang terjadi selanjutnya adalah, Aretta dihempaskan ke tanah. Sosok tiu mencengkram lehernya sendiri tampak kesakitan.
Itu habya berlangsung sekejap karena setelahnya sosok itu mengangkat Aretta dan melemparkannya masuk ke bagasi. Pandangan kami bertemu. Aretta tanpa daya menatapku seolah meminta pertolongan.
Aku berlari mendekat, tapi langkahku kalah cepat karena mobil yang dikendarai sosok itu sudah berjalan menjauh. Untungnya aku mengingat pelat mobilnya.
B2402UI.
Aku mengulangi nomer itu lagi dan lagi karena jika aku sampai kehilangan Aretta, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan. Aku melihat sendiri bagaimana gadis itu dimasukan ke dalam bagasi dan dibawa pergi di depan mataku sendiri.
"Aretta!" Aku berteriak sekeras yang aku bisa sampai membuat tenggorokanku sakit, seolah akan hancur berkeping-keping. Aku berteriak lagi ketika mobil itu menghilang di depan sana.
B2402UI.
Orang-orang mulai berhambura ke luar. Gio sendiri berlari ke arahku.
"Ada apa?! Mana Aretta?" Tubuhku yang lemas langsung terhempas ke tanah. Aku berlutut sambil menangis, hanya sesaat karena setelah itu aku bangkit untuk mengejar sosok bajingan yang berani menculik Arettaku.
Aku bersumpah akan menemukan dia dan aku tidak akan pernah melepaskannya.
__ADS_1