Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Aidan's Pov again


__ADS_3

Hari Minggu kembali datang dan itu bertepatan dengan hari kunjungan polisi, detektif, dan para pelanggan. Sulit rasanya untuk melacak semua orang yang datang dan pergi di akhir pekan yang ramai ini. Setelah aku tertidur di tempat tidur milik Aretta, aku mendapati diriku terbangun pada Minggu sore dengan selimut yang menutupi tubuhku secara sembarangan. Aroma milik Aretta memenuhi hidungku dan aku tersenyum saat merasakan aroma itu seolah membungkusku dalam dekapannya yang hangat.


Dan ketika aku benar-benar sadar, aku mulai menyadari jika gadis itu tidak ada di sini. Tubuhku sontak melompat dan berlari keluar dari kamar tidurnya. Aku langsung pergi mencari Gio yang kini tampak berjalan beriringan bersama dengan dua orang polisi. Ana sendiri kini tampak terduduk di sofa dengan wajah muram.


Langkahku terhenti, dan semua orang mulai melihat ke arahku. Rindu sejenak pandanganku hanya terfokus pada Gio yang tengah berusaha tegar. Pria itu bahkan bisa secara lugas menjelaskan kejadian tentang penculikan adiknya.


Kini fokus mereka sudah menghilang dari arahku dan mereka mulai melanjutkan percakapan yang sempat tertunda. Apa hingga saat ini masih belum ada petunjuk. Padahal dua hari telah berlalu.


Aku memijat kepalaku yang mulai terasa nyeri, "Gimana soal plat mobil yang saya beritahu kemarin? Plat kendaraan dengan nomor B2402UI. Apa sampai saat ini kalian belum bisa melacak siapa pemilik mobil tersebut?"


"Kami sudah meminta bantuan kepada departemen terkait tapi pemilik mobil tersebut belum mendaftarkan mobil miliknya. Kamu juga sudah berkeliling untuk mencari mobil tersebut tapi hingga sekarang memang belum membuahkan hasil."


Aku memaksa otakku untuk mencari berbagai solusi. Polisi masih terus berbicara, kali ini pada tujuannya pada Gio.


"Kalau hal ini masih berlanjut sampai beberapa hari ke depan, kesempatan kita untuk menemukan korban semakin menipis."


Kalimatnya berhasil membuatku berteriak, "Apa maksudnya itu. Kita percaya pihak kepolisian akan membantu menemukan korban, makannya sampai membuat laporan. Jika kinerja kalian seperti ini, itu sama saja kalian membiarkan korban hidup dalam ketakutan di luaran sana."


Kedua polisi itu saling menundukkan kepala dan tidak berbicara. Aku muak dan langsung bergegas pergi menuju anak tangga menuju keluar. Amarah yang menguasai diriku memaksaku untuk berlari demi menstabilkan emosi. Jika mereka tidak mau melakukannya. Aku sendiri yang akan bergerak.


Keadaan rumahku masih sama persis seperti saat kutinggalkan. Kamarku juga masih tampak berantakan karena habis bersiap-siap di Sabtu kemarin aku belum sempat membereskannya. Malam itu, aku sangat antusias untuk memilih outfit yang aku gunakan dalam acara grand opening. Karena aku akan bertemu Aretta dan aku tidak mau membuat penampilanku tidak menarik.


Dan sekarang aku kembali bersiap-siap di tempat yang sama dengan tujuan berbeda. Sebelum membuat rencana, aku memutuskan untuk membereskan kamarku terlebih dahulu. Semua kemeja dan kaos yang berserakan di luar segera aku kumpulkan aku kembalikan ke tempat asalnya. Aku juga harus membersihkan semua ruangan yang ada di dalam rumah, dan sepertinya misi untuk menemukan Aretta kali ini akan memakan waktu yang lumayan lama dan fokusku juga akan teralihkan sepenuhnya dalam pencarian gadis itu.


Selesai dengan rumah aku kembali mencari sesuatu.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang aku butuhkan, barang-barang tersebut langsung kubawa ke ruang kerja . Aku mencoba melupakan jejak terakhir pertemuan antara aku dan gadis itu di sini. Aku hanya harus fokus untuk menemukannya.


Aku membuang semua benda-benda tidak penting yang ada di atas meja kerja. Lalu menulis di atas papan tulis sambil membuat rencana.


Aku banyak menggambar sesuatu, menuliskan sesuatu sampai matahari kembali terbenam. Setelah mengingat kembali apa yang terjadi hari itu. Aku mulai menulis hal yang penting yang bisa dijadikan petunjuk. Target yang kucari sangat jelas. Dia seorang pria dengan perawakan besar. Pria yang bisa melakukan apapun karena kemarin aku sempat melihat dia yang memukul Aretta tanpa rasa bersalah. Dan satu hal yang paling penting, aku harus mengajak pemilik plat nomor tersebut. Jika aku berhasil menemukan siapa pemiliknya, jalan untuk menemukan Arreta akan lebih mudah.


Aku mulai lelah dan memutuskan untuk mengistirahatkan badanku. Bukan hanya pikiran, tubuhku pun harus dalam kondisi prima ada lagi aku juga masih harus mengurus ujian para siswa. Untuk Rafa dan Rendi, mungkin hal ini memang kedengaran jahat, tapi aku tidak mau muridku itu ikut kepikiran. Mungkin aku akan mengatakan bahwa gadis itu baik-baik saja.


***


Dengan sembarangan aku melemparkan bajuku. Aku tidak mau repot-repot menyiapkan sarapan atau mengemas makan siang sendiri, yang harus aku lakukan untuk sekarang adalah melewati hari ini dengan tanpa beban yang terlihat. Aku akhirnya menjadi robot selama mengajar. Pikiranku hanya berputar-putar memikirkan Aretta. Kira-kira apa yang sedang dia lakukan sekarang.


Apa dia terluka?


Bagaimana tempat tinggalnya?


Banyak yang terpikirkan karena aku sangat mengkhawatirkannya.


Kabar tentang hilangnya Aretta sudah sampai di telinga guru-guru, tapi mereka menganggap gadis itu kabur. Aku marah. Mereka tidak tahu apa-apa tapi malah memojokkan gadis malang itu.


Aku memilih duduk di salah satu meja staf sambil menyesap kopiku dan berusaha memblokir percakapan yang terjadi di belakangku.


"Gue boleh duduk?" Aku mendongak dan melihat Dewa dengan seringai palsu di wajahnya. Aku mengangkat alisku sebagai isyarat dan dia langsung menarik kursi untuk duduk. Seperti hari Sabtu kemarin, sekarang pun dia masih berjalan dengan kaku. Punggungnya tetap tegak saat dia membongkar makan siangnya.


Dewa tampak menggulung lengan kemeja hitam yang dia gunakan dan aku bisa melihat tato khas kelompoknya menyembul keluar. Itu mengingatkanku pada satu waktu dimana aku melihatnya merokok di depan sekelompok anak muda di pusat kota. Aku juga mendengar percakapan mereka soal masuk dan keluar dari kelompok. Pada intinya dia mengancam para remaja itu untuk tidak berpaling. Dia menuntut dan semua remaja di sana menganggukkan kepala dengan penuh semangat. Mereka tampak ingin sekali masuk ke dalam kelompok itu.

__ADS_1


Sampai saat ini aku masih bertanya-tanya kenapa pihak sekolah menerima pria itu sebagai guru dan lagi kenapa pula pihak sekolah tidak memeriksa latar yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk dilacak.


Setiap kali aku bersama pria itu, aku selalu merasakan jika dia memiliki kepribadian ganda. Salah satunya dia bisa menjadi sosok yang sangat kejam melebihi apa yang aku pikirkan. Tapi saat ini sosok yang dia tunjukkan aadalah sosok pria berkepribadian ruang.


Aku meneis pikiranku yang terlintas tapi tetap menyimpan untuk mengingatkan diriku sendiri bahwa pria ini berbahaya.


Dewa mendongak dan mulai berbicara kepadaku, "Mikirin soal Aretta ya? Anak kelas lo yang pendiam tapi pintar, kan?" Dia bertanya sambil menyesap teh dari cangkirnya.


Aku melirik ke arahnya, menahan tatapan penuh ingin tahu, "Iya," jawabku.


"Dia gadis yang baik." Dewa berkomentar dan kembali melanjutkan makannya.


Aku memperhatikan pria itu dengan rasa ingin tahu saat dia tengah duduk dengan posisi aneh, "Punggung lo sakit?"  tanyaku. Matanya menoleh ke arahku dan aku bisa melihat kilatan kepanikan di dalamnya sebelum bayangan yang familier itu tampak melewati matanya, tapi bayangan itu menghilang terlalu cepat.


"Iya, leher gue rada bermasalah. Kemarin gue sempat berantem sama cewek baru gue terus dia mukul leher gue keras. Sebenarnya itu cuma bercandaan, tapi dia terlalu semangat."


Sebenarnya aku curiga soal dia yang mendapat luka di leher . Itu luka yang sama seperti yang ditimbulkan Arreta pada pria yang menculiknya. Tapi aku segera menepis karena tidak mungkin pria itu pelakunya.


"Emang gimana sifat cewek baru lo?"


Dewa tampaknya terkejut dengan pertanyaan yang aku ajukan, tapi pria itu tetap berusaha menjawab, "Dia lucu, sedikit emotional."


Penjelasan paling aman yang tidak akan memancing kecurigaan. Meski begitu aku tetap penasaran dan ini rasanya aku bertanya soal mobil yang dia kendarai. Mungkin pada awalnya pikiran soal dia yang menculik terdengar masuk akal, tapi aku tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa ada yang tidak beres di sini. Entah kenapa dia seperti punya andil atas hilangnya Arreta.


Pada akhirnya aku tidak menanyakan apapun. Ada beberapa siswa yang memiliki keadaan sama seperti Dewa. Aku banyak bertanya tapi tidak ada satupun dari mereka yang muncul di sekitaran toko dan lagi mereka juga tidak mengenal Arreta secara pribadi.

__ADS_1


Tapi rasa penasaran membuatku memutuskan hal paling gila. Aku mencatat alamat siswa yang memiliki keadaan yang sama dengan Dewa. Setelah menjelajah situs sekolah dan mencari alamat aku memutuskan untuk pergi ke rumah siswa pertama.


Dan lagi aku juga mencatat alamat milik Dewa. Hanya berjaga-jaga saja.


__ADS_2