Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Makan Siang Bersama


__ADS_3

Aku membuka mataku setelah beberapa saat yang  lalu hanya ada keheningan diantara aku dan Aidan. Pria itu menatapku dengan tatapan penuh pertanyaan, tapi aku mengabaikannya. Aku mengambil obat penghilang rasa sakit dan meminumnya bersamaan dengan air putih.


"Harusnya kamu minum obatnya setelah makan Aretta." Aidan berkomentar tidak setuju dengan apa yang barusan aku lakukan. Aku hanya memutar mataku sebagai respon. Dia terlalu khawatir padahal minum obat tanpa makan tidak akan membuatku mati.


Tampaknya dia memperhatikan jika ekspresi wajahku tetap saja datar meski dia berkomentar dan yang terjadi selanjutnya adalah, dia menyodorkan biskuit gandung ke arahku. Karena tidak langsung aku terima, Aidan memutuskan untuk meletakkan biskuit itu di atas pangkuanku.


"Makan ini," katanya. Dia memerintahku dengan tatapan mata yang tidak ingin dibantah.


Aku tidak mau membuat keributan dan karena aku juga sedikit lapar, akhirnya aku membuka bungkusan biskuit tersebut dan memakannya setelah mengucapkan terima kasih.


"Enak," seruku. Aku memang sering mengkonsumsi biskuit gandum selama masa diet, tapi biskuit ini satu-satunya biskuit terenak yang pernah aku makan. Walau tanpa tambahan selai dia tidak membuatku eneg ketika memakannya


"Aku yang buat sendiri," jawabnya jumawa.

__ADS_1


"Kamu? Kamu suka masak ya? Selain buat roti kamu masak apalagi?" semalam aku menginao di rumahnya dan aku tidak mendengar dia bergelotakan di dapur. Aku merasa tersanjung ketika seseorang memberikanku makanan buatan mereka apalagi yang membuat biskuit ini adalah Aidan yang notabenenya guruku. Pria ini ternyata multitalenta tidak seperti perawakannya


Dia terkekeh, mungkin karena responku yang terlalu berlebih.


"Aku masak apa aja yang aku mau. Nggak pilih-pilih," jelasnya. Dia banyak bercerita soal bagaimana dia bisa memulai memasak dan spa yang mendasarinya untuk memasak. Lebih spesifiknya, Aidan itu seperti anak rantauan pada umumnya dan untuk menahan pengeluaran berlebih dia memang memutuskan untuk masak sendiri. Berkatnya dia jadi bisa memasak dan juga bisa mencoba banyak masakan yang sebelumnya tidaj pernah dia pikir dia akan memasak makanan itu.


Ternyata menu kali ini semua home made. Aku tidak tahu mulai jam beraoa dia bangun. Aku kira tadi pagi itu adalah sarapan terepot yang dia buat karena dia harus memasak untuk orang lain, tapi melihat bekal yang dia bawa sekarang sontak membuatku mebelalakan mata. Aidan sudah mengemas sandwich, buah-buahan, cookies, dan beberapa roti panggang dengan berbagai macam selai. Aidan memang tidak membawa makanan berat seperti nasi, namun melihat semua yang dia bawa sekarang pasti butuh banyak persiapan juga.


"Kamu bawanya banyak banget."


Aku mengiyakan dan kali ini aku bisa makan sedikit lebih banyak karena menunya tidak terlalu berat. Aku kembali asyik mengobrol dengan Aidan. Aku tidak mengkhawatirkan soal Rafa dan Rendi, kedua orang itu tampaknya mulai nyaman pada satu sama lain dan aku tidak ingin mengganggu. Karena setidaknya aku tidak sendiri di sini. Karena jika aku bergabung debgan mereka otomatis Aidan akan tersingkir. Pria ini tampaknya tidaj ada niatan untuk bergabung dengan mereka.


Istirahat makan siang sudah selsai bertepatan dengan hujan yang mengguyur bumi. Untungnya aku dan Aidan sudah selesai mengemas bekas makan siang kami. Setelah menyelesaikan semuanya aku langsung pamit pergi karena aku masih harus masuk ke kelas Kimia. Sedangkan Rafa dan Rendi memiliki kelas yang sama dan Aidan, jangan ditanya karena dia guru dan aku tidak tahu jadwal dia.

__ADS_1


Kelas berakhir dan hujan turun semakin deras. Langit sudah mulai menghitam ditambah dengan bunyi guntur dan petir yang saling bersahutan membuat suasana sekolah semakin suram. Tapi hal itu tidak berlaku padaku. Entah kenapa aku sangat menikmati hujan ditambah aliran air yang menggenang dan mengalir memenuhi halaman kemudian jatuh ke parit-parit kecil dan kembali berpetualang untuk mencari tempat singgah yang tepat. Menurutku siklus seperti itu sangat manarik.


Kelas selanjutnya adalah kelas Olahraga, karena kami tidak memungkinkan menggunakan lapangan, pada akhirnya guru pengajar mengirim kami ke perpustakaan untuk kelas pengganti. Aidan tidak menjadi guru pengganti seperti sebelum-sebelumnya dan kali ini kami diampuni oleh Pak guru yang terkenal pemarah bernama Pak Hilal.


Selama berada di perpustakaan kami memang dilarang banyak mengeluarkan suara, hanya saja Pak Hilal benar-benar membuat kami tidak berkutik. Guru itu akan langsung memberi poin pinalty jika kami tidak mengikuti peraturannya.


Selama jam pelajaran berlangsung benar-benar d tidak ada yang bersuara dan aku menggunakan kesempatan itu untuk mengerjakan tugas rumah milikku dan juga belajar beberapa mata pelajaran untuk persiapan ujian yang akan datang beberapa minggu lagi. Aku bukan tipikal anak yang pintar, hanya saja aku pintar membagi waktu dan itu mempermudahkan aku untuk dapat belajar.


Bel pulang berbunyi dan semua murid berbondong-bondong untuk keluar dari sekolah, mereka bahkan mengabaikan hujan yang turun hanya demi dapat keluar dari gedung sekolah. Aku menyukai hujan, hanya saja aku tidak terlalu suka terkena guyuran hujan. Untuk sekarang.


Alasannya simpel, karena aku tidak mau sakit. Aku harus tetap sehat agar dapat bersekolah dan bekerja. Juga aku tidak mau berdiam diri di rumah apalagi jika ada Mama di sana. Itu hal yang tidak akan pernah masuk dalam list kehidupanku.


Aku berjalan cepat melewati genangan air dan ketika aku berhasil menemui Daia kafe, senyumku langsung tersungging lebar. Tempat itu layaknya surga dunia untukku. Aku memutuskan untuk masuk dan duduk, aku sudah memesan kopi, sambil menunggu aku memutuskan untuk mengeringkan rambut.

__ADS_1


Aku menatap sekeliling begitu kopi milikku sudah tersaji. Aku sedang mencari Aidan dan pria itu tidak kutemukan di sini. Sepertinya dia masih tertahan di sekolah.


Aku menyelesaikan minimum dengan cepat karena tanda-tanda kemunculan Aidan pun tidak tercium. Aku ingin memiliki teman bicara tapi jika dia tidak ada, untuk apa aku berlama-lama di tempat ini. Setelah menyelesaikan minumku, aku segera keluar dan menerobos hujan untuk menuju toko buku. Oma Dewi ada di dalam. Wanita tua itu tengah asyik membaca bukunya dari balik konter seperti biasa.


__ADS_2