
Aku segera keluar dari gerbang sekolah dengan cepat karena aku harus bertemu dengan pemilik toko diwaktu yang sudah disepakati sebelumnya. Aku harus berada di tempat kerjaku sebelum pukul 05.00 karena akan ada banyak hal yang harus dijelaskan kepadaku sebelum aku benar-benar memulai pekerjaan baruku.
Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai di toko buku. Aku memutuskan untuk ke minimarket terlebih dahulu, membeli lemon water, membayarnya, dan segera bergegas menuju toko buku. Aku sampai dan masih berdiri di luar sambil mengintip ke dalam bangunan yang bagian dindingnya menggunakan kaca. Di dalamnya tampak gelap, mungkin karena hanya diisi oleh buku-buku dan teman-temannya. Mungkin juga karena pemilik toko belum sempat memindahkan kardus-kardus yang masih menggunung di depan kaca dan membuat cahaya yang seharusnya bisa menyinari sampai dalam menjadi tertutup. Area konter pun kosong tidak ada orang yang berjaga.
Aku membuka pintu dan suara lonceng yang terpasang di atas pintu mulai bergema memenuhi ruangan. Wanita tua pemilik toko pun tidak segera muncul dan aku memutuskan untuk memanggil lagi dengan suara yang lebih keras. Berhasil, wanita itu muncul dengan langkah pelan dari balik pintu.
"Halo sayang. Maaf kalau Oma nggak dengar. Oma nggak pakai alat bantu dengar soalnya." Dia menjelaskan seraya memasang senyum ramah dan langsung kubalas dengan senyuman, "jadi kamu masih tertarik sama kerjaan itu?" tanyanya.
"Iya," jawabku sedikit lebih kencang agar aku tidak perlu mengulang lagi kalimatku. Wanita tua itu kembali tersenyum lebih lebar hingga menunjukkan gigi palsunya sambil tersenyum senang.
"Bagus. Berarti Oma nggak butuhin cuci Oma lagi buat bantu jaga di sini. Nama Oma, Dewi. Kamu bisa panggil Oma Dewi. Ngomong-ngomong nama kamu siapa? Kayaknya Oma lupa tanya kemarin, apa sebenarnya Oma udah tanya tapi lupa?"
"Oma belum tanya kok. Nama saya Aretta, Oma."
"Iya Aretta. Kalau gitu Oma ajak keliling dulu ya sambil jelasin apa-apa aja yang harus kamu lakuin di sini."
Oma Dewi memintaku untuk mengikutinya. Dia membawaku melewati beberapa rak buku yang sudah dilabeli dengan tulisan berbagai macam genre. Ada juga buku pelajaran dan buku pengantar belajar. Di bagian sudut lain terdapat buku-buku translate. Beberapa karya terkenal milik J.K
__ADS_1
Rowling dan Dan Brown juga terdapat di sana. Ada juga bagian untuk buku-buku tulis, pena, pensil, dan stationary yang berhubungan dengan buku-buku.
Oma Dewi menjelaskan padaku tentang bagaimana aku harus menyortir buku dan menelepon penerbit untuk pemesanan buku. Setelahnya dia membawaku masuk ke dalam pintu yang dia gunakan sebelumnya. Ada tulisan 'staff only' yang menandakan jika tempat ini tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang.
"Ini ruang khusus staff yang biasanya cuma dipakai sama Oma dan cucu Oma. Tapi sekarang bertambah karena ada kamu. Jadi, kalau kamu lihat ada orang lain selain kita bertiga, kamu bisa langsung lapor ke security yang jaga di depan sana."
Aku menggangguk. Penjelasan Oma Dewi terputus ketika suara bel berbunyi yang menandakan adanya pengunjung yang datang. Aku memberitahu Oma Dewi soal ini, kami pun keluar bersama dan menemukan seorang ibu yang membawa dua anaknya. Oma Dewi mengisyaratkanku untuk mengikutinya masuk ke dalam konter.
"Oma mau lihat langsung bagaimana cara kamu menghadapi pelanggan," ucapnya, seraya mendorong ku masuk ke dalam konter dan berdiri tepat di depan meja kasir.
"Iya mbak. Mau minta tolong tempat buku cerita anak. Anak saya udah tambah besar jadi butuh buku cerita yang sedikit lebih tebal dan kalau bisa ada banyak pesan-pesan tersembunyi juga di dalamnya. Jadi bisa tunjukin ke saya di mana tempatnya?"
"Baik ibu. Mari ikut saya," jawabku sambil melangkah keluar dari konter dan meminta ibu itu untuk mengikutiku. Aku membawanya ke bagian perbukuan khusus anak-anak yang memiliki space lebih berwarna.
"Untuk buku anak semuanya ada di sini Ibu. Jika ingin rekomendasi Ibu bisa pilih dari buku cerita yang ada di sini sampai ke rak nomor dua." Aku membiarkan Ibu dan anak itu memilih sendiri karena sejujurnya aku tidak cukup tahu tentang cerita anak-anak. Setelah Ibu itu memilih beberapa buku, aku membantu membawanya kembali ke konter. Oma Dewi masih menungguku di sana dan menunjukkanku cara menggunakan mesin kasir. Itu tugas mudah yang gampang aku ingat.
Ibu itu keluar dari toko setelah membayar semua biaya pembelian dan Oma Dewi memintaku untuk menghubungi beberapa penerbit untuk pemesanan buku. Setahuku bisa pesan melalui website, namun karena Oma sudah menjadi pelanggan lama, pihak penerbit memberi kemudahan untuknya agar langsung menghubungi kantor pusat.
__ADS_1
"Oma suka cara kerja kamu," ucapnya ketika aku selesai memesan dan menutup panggilan, "sekarang Oma bakal jelasin jam kerja kamu. Untuk weekdays kamu bisa mulai kerja dari kamu pulang sekolah sampai jam 07.00 malam. Terus untuk weekend kamu mulai kerjanya dari jam 09.00 pagi sampai jam 07.00 malam. Kamu tahu kan kalau weekend itu selalu ramai dan nantinya cucu Oma juga bakalan datang buat bantu," jelasnya.
Aku mengangguk paham. Aku senang dapat bekerja pada jam-jam itu karena selama pindah ke sini aku tidak pernah melakukan apapun selama weekend dan bekerja merupakan pilihan yang tepat.
"Baik Oma," ucapku.
Oma Dewi mengangguk kemudian meninggalkanku sendiri untuk kembali memulai pekerjaan pertamaku di tempat ini. Aku sudah mengganti bajuku dengan kaos biasa. Dan sebelum pergi meninggalkanku Oma Dewi mengatakan jika aku boleh membaca buku apapun itu di sini.
Aku melirik ke rak yang ada di belakangku. Berdecak kagum sambil memindai semua buku yang ada. Bagian di sini adalah sampel atau buku refund yang kualitasnya tidak bagus. Oma Dewi mengatakan dia memang sengaja menyediakan tempat untuk buku ini karena jika ada yang ingin membaca tapi tidak memiliki uang untuk membeli mereka dapat menyewa dengan harga 5000 per bukunya. Resiko dari peminjaman buku adalah rawan untuk tidak dikembalikan, tapi Oma Dewi tidak mempermasalahkan soal itu karena menurutnya asalkan semua orang bisa membaca itu membuatnya senang.
Aku mengambil salah satu novel dan mulai membacanya. Baru 2 halaman dan sudah ada lagi pembeli yang datang. Aku tidak menyangka ternyata toko buku ini akan semakin ramai ketika sore. Saat ini sudah banyak yang datang untuk sekedar menyewa atau membeli beberapa stationery dan buku. Soreku di hari pertama kerja cukup sibuk dan aku menyukai kegiatan ini. Aku menghela nafas lega saat matahari mulai kembali ke peraduannya. Langit mulai menggelap dan Oma Dewi juga sudah kembali ke toko dengan senyum manis miliknya.
"Kerja bagus Aretta. Kamu sudah boleh pulang sekarang," katanya.
Aku mengangguk cepat dan segera membereskan barang-barangku, "Aretta bakal datang tepat waktu besok Oma. Selamat tinggal."
"Iya hati-hati di jalan. Selamat tinggal juga," jawabnya saat aku mulai menghilang di balik pintu.
__ADS_1