Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Menggambar


__ADS_3

Begitu kelas usai kami langsung bergegas untuk beranjak keluar dari kelas. Aku mengenakan ranselku cepat dan hal itu tidak sengaja membuat rusukku tertusuk siku. Seketika rasa sakit itu datang dan membuatku berhenti sejenak. Keteledoranku malah membuatku menjadi semakin lama di kelas.


Aku menghela nafas pelan dan melanjutkan lagi kegiatanku yang tertunda. Terlalu lama berada di sinialah membuatku semakin tercekik karena Pak Dewa tidak henti-hentinya memperhatikanku yang malah membuatku semakin tidak nyaman.


Begitu kami berjalan keluar aku langsung merasakan euforia kelegaan yang tidak bisa diutarakan. Aku merasa terbebas dari beban berat. Begitu keluar kami berdua langsung mencari tempat untuk beristirahat. Bercerita, bergurau, dan bercanda hanya untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama.


Waktu istirahat usai aku dan Rafa pun akhirnya harus berpisah. Dia memiliki kelas Bahasa setelah ini sedangkan aku harus masuk kelas Seni.


"Baiklah anak-anak tugas yang Miss berikan Minggu lalu mohon diletakkan di atas meja dan dikumpulkan ketika pelajaran usai. Dan tugas hari ini, kalian harus melukis orang yang kalian sayang. Boleh orang tua, saudara, paman, bibi atau siapapun itu asalkan kalian dapat menggambar mereka di atas kertas." Miss Nisa mengangkat kertasnya ke atas sebagai isyarat.


Dan aku hanya bisa diam di tempat. Aku tidak memiliki orang yang aku cintai maupun orang yang mencintaiku. Aku bahkan juga tidak mengenal siapa paman dan bibiku. Takdir seolah mentertawakan kemalanganku. Aku tidak tahu jika sebuah tugas bisa membuatku merasa terpojok hanya karena tidak ada yang terlintas di kepalaku untuk menjadi objek gambar.


Sangat menyedihkan memang tapi setidaknya aku tidak merasakan sakit hati ketika orang yang aku sayang harus pergi. Setidaknya cukup hanya Papa saja.

__ADS_1


"Aretta. Kenapa belum mulai menggambar? Apa ada yang salah? Kamu cuma harus menggambar orang yang kamu sayang. Kamu juga boleh gambar mantan pacar kamu kok mungkin dengan menggambar rasa sakit hati kamu bisa memudar secara perlahan." Miss Nisa sudah berdiri di sampingku dan memberi saran. Aku mengangguk pelan dan tersenyum kepadanya.


Akhir-akhir ini aku terlalu banyaj tersenyum dan mengangguk seolah aku adalah robot yang memang diprogram untuk menyetujui semua saran yang diberikan orang lain. Dan menurutku itu merupakan sebuah kemajuan. Aku tidak tahu apa yang berhasil membuatku hingga berubah seperti ini, padahal dulu aku adalah sosok yang hanya akan diam tanpa berani menjawab kalinat dari orang lain.


Sepertinya aku harus menggambar sosok itu. Sosok Papa yang perlahan memudar. Kelas berlangsung selama stau jam dan tidak mungkin aku berada di sini tanpa menggambar apa-apa, meskipun sulit tapi aku akan tetap mencoba untuk menggambar sosok Papa


Hal yang paling aku ingat sebelum dia oergi adalah senyumannya yang lebar. Papaku memiliki janggut yang dipenuhi jambang khas orang barat serta berperawakan tinggi besar. Dengan penampilannya yang seperti itu tidak jarang para tetangga masih bingung bagaimana harus berkominaksi dengan Papa yang notabennya sudah lumayan lama tinggal di situ.


Apa yang akan terjadi padaku jika seandainya aku kembali bertemu dengan Papa. Apa aku akan menangis? Atau aku akan marah dan meranung? Apa jangan-jangan aku akan bersikap defensif karena dia yang sudah pergi dan tidak pernah mencariku? Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan nanti. Menurutku apa yang Mama lakukan sama saja dengan yang dilakukan Papa, meskipun pria itu tidak memukulku tapi dia tidak juga mencariku. Rasa diabaikan itu jelas aku terima seolah aku memang manusia yang tidak diinginkan oleh mereka berdua


Aku memundurkan tubuhku untuk menilai hasil gambaranku. Cukup bagus tapi ada sesuatu yang kurang. Aku kembali menggali kenanganku tentang pria itu, tapi tidak ada yang bisa kutemukan seolah wujudnya sudah benar-benar terhapus dari pikiranku. Aku mendekatkan kepalaku untuk melihat dan sedikit mendesah kesal selanjutnya. Aku melupakan sebuah kalung yang selalu dia kenangan juga bekas luka di dahi yang dia dapat setelah dia menyelamatkan Gio dari lemparan batu yang dilayangkan teman sekolahnya. Aku merasa emosional karena sampai sekauh itu aku melupakan detail kecil yang bahkan dulu selalu aku ingat jika aku mendeskripsikan sosok Papa


Tanpa terasa air mataku mengalir perlahan. Aku mengusap kasar pipiku karena tidak mau orang-orang menemukan aku yang sedang menangis. Aku tidak ingin semua orang melihat aku yang tengah berada di titik terendah karena merindukan sosok Papa. Saat itu bertepatan dengan bel berbunyi. Aku langsung bergegas meninggalkan tugasku dan berlari menuju toilet sambil menenteng ranselku. Aku masuk ke salah satu bilik dan mulai membiarkan air mataku mengalir.

__ADS_1


Rasanya teramat sesak karena aku hanya bisa mennagis dalam diam. Rasa sakit itu juga ikut menyebar hingga rasanya aku mendapat dua luka yang sulit disembuhkan. Aku ingin mengekug tapi tidak bisa, yang bisa kuoerbuat hanya terus menangis.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menangis. Aku hanya membiarkan diriku sampai merasa lega dan kemudian segera keluar untuk membasi wajah. Saat aku menatap wajahku di cermin, aku merasa konyol. Kenapa masalah sepele seperti itu membuatku melakukan hal bodoh seperti menangis? Ada apa denganku?


Karena tidak memungkinkan untuk mengikuti kelas, akhirnya aku hanya bisa menunggu di sini sekaligus membiarkan mataku kuga ahlgar tidak tampak terlalu bengkak. Fakta jika aku menangis merupakan halĀ  yang amat memalukan jika sampai diketahui orang lain.


Suara langkah kaki yang mendekat membuatku awas. Aku segera masuk ke dalam bilik dan bersikap seolah aku tidak ada di sana. Kukunci bibirku rapat-rapat agar tidak ada yang menyadari jika ada sosok lain juga di sini.


"Kamu tadi lihat si Aretta gak? Si anak baru. Dia kayaknya pakai hoodie cowok," itu suara Jess dan pastinya dia tidak sendiri. Tapi yang membuatku sedikit bingunh adalah ketika dia membahas tentangku. Memangnya salahhya dimana jika aku mengenakan hoodie cowok? Aku segera menundukkan kepala untuk melihat hoodie yang aku kenakan dan sedikit mengernyit ketika bekas maskaraku menempel di kerahnya.


"Gue nggak suka sama dia. Dia itu suka banget ngerusuhin gue pas gue lagi sibuk belajar sama Pak Dewa," suaranya terdengar menggebu-gebu yang membuat fokusku kembali kepada pembicaraan mereka.


Dia berkata seolah dia benar-benar belajar. Yang dia lakukan itu bukan belajar, mereka melakukan hal tabu dan mesum di sekolah.

__ADS_1


__ADS_2