
"Lo bahkan nggak pulang semalam Aretta! Lo kemana?" Dia berteriak dan berhasil membuatku diam, "gue janji gue bakal bantu lo. Gue bakal ngelindungin lo layaknya seorang kakak."
"Gue nggak perlu bantuan lo Gi." Aku langsung menolak uluran tangannya. Aku takut dia hanya bercanda dan aku takut dia akan membuangku di tengah jalan dan menusukku dari belakang.
"Gue masih belum bisa percaya sama lo," kataku jujur.
"Lo benar. Omongan gue emang nggak bisa buat lo langsung percaya gitu aja dan gue bakal buktiin ke lo kalau gue serius sama omongan gue tadi. Gue bakal luangin waktu buat anter lo ke sekolah dan gue bakal sering-sering ada di rumah. Apa yang udah gue lakuin ke lo emang nggak bisa semudah itu buat dimaafkan. Gue nyesel Ret. Lo yang notabenenya adalah saudara gue malah gue biarin menderita sendiri. Padahal kita hidup seatap."
"Lo harus percaya sama gue!" teriaknya kalap dan kali ini benar-benar menggema di seluruh rumah.
"Aretta. Kamu bisa diam nggak, apa perlu Mama sendiri yang datang ke kamar kamu dan nyumpal mulut kamu." Mama berteriak dan membuatku terlonjak. Gio belum pernah mendengar Mama berbicara kasar padaku, selama ini dia hanya tahu jika Mama membenciku tapi tidak tahu jika Mama selalu berkata kasar.
"Maaf Ma, ini Gio," jawabnya. Dia seolah membuktikan jika dia serius dengan kata-katanya barusan.
"Kamu to Gi. Mama kira kamu nggak ada di rumah." Suara yang dikeluarkan Mama entah kenapa malah terdengar sangat menakutkan. Jika disuruh memilih untuk mendengarkan, aku akan bersedia mendengar Mama berteriak seperti biasa.
Kali ini Gio benar-benar memutuskan untuk keluar, tapi dia kembali berbalik untuk terakhir kalinya.
"Gue bakal bantu lo keluar dari sini. Gue nggak bisa ngelihat lo hidup sengsara terus-terusan." Dia benar-benar pergi meninggalkanku dengan kalimat yang membuatku tertegun.
__ADS_1
Aku tidak pernah kepikiran Gio akan bersedia membantuku apalagi mengulurkan tangannya dengan cuma-cuma. Tapi aku sudah memutuskan untuk tidak ambil serius kata-kata Gio karena bagaimanapun juga, dia pasti hanya bersemangat di hari pertama membantuku, setelahnya dia juga akan kembali menjadi Gio yang aku kenal dulu.
Sampai tadi malam pun aku masih ragu dengan apa yang dikatakan Gio, tapi pagi ini ketika aku membuka mata, aku sudah menemukan dia yang tengah duduk di meja belajarku. Aku terkejut dan refleks mundur karena dia memiliki kebiasaan untuk selalu menggangguku.
Tapi balasan yang aku dapatkan dari sikapku adalah kekehan darinya. Dia tidak sedikitpun menampakkan ekspresi marah.
"Cepat bangun, gue bakal belajar buat antar lo ke sekolah mulai sekarang," ucapnya, lalu melangkah keluar dan tidak lupa menutup pintu kamarku.
Aku segera bangkit dari tempat tidurku dan memaksa diriku untuk berdiri. Setelah merapikan tempat tidur aku langsung melipir ke jendela dan membukanya. Menikmati udara pagi yang dingin seperti biasanya. Aku memang sudah membuka mataku dengan sempurna, namun rasanya tetap tidak segar jika aku tidak mandi.
Selesai mandi aku berinisiatif untuk mencari keberadaan Gio dan pria itu tidak ada dimanapun. Aku menghela nafas pelan, untung saja aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan pria itu. Dulupun dia selalu berjanji dan pada akhirnya tidak pernah ditepati. Orang yang seperti itu tidak mungkin berubah dengan cepat, kan?
"Turun juga akhirnya," desahnya, "lo kayak Ana. Apa semua cewek emang butuh waktu selama itu sih buat siap-siap," protesnya, tapi dia tidak marah dan hanya melipat korannya. Dia juga beranjak dari kursinya dan bergerak menuju kulkas dan lemari penyimpanan untuk mencari sesuatu.
"Kenapa di sini nggak pernah ada makanan," keluhnya, "udah ayo kita sarapan di luar aja. Thanks Ma," ucapnya sinis entah pada siapa.
Tapi mendengar dia yang berbicara sinis seolah berhadapan dengan Mama itu membuatku senang. Walau hanya berucap di belakangnya tetap saja itu membuatku tersenyum.
Gio melirik ke arahku. Dia tersenyum juga mengira jika aku tersenyum padanya. Aku tidak mengomentari dan hanya mengikutinya ke mobil dan masuk ke kursi penumpang. Kami berada dalam keheningan untuk beberapa saat dan aku merasa terganggu oleh sesuatu. Dengan tekad yang sudah bulat akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya.
__ADS_1
"Ana itu siapa?" Aku berucap sekarang karena takut tidak memiliki keberanian lagi untuk bertanya nantinya
"Ah... Cewek gue," jawabnya dan masih tetap fokus ke jalanan.
"Kenapa jawabnya kayak males gitu. Emangnya lo nggak suka sama dia?" tanyaku dan itu berhasil membuat dia menatapku, "lo harus perhatiin jalannya," ingatku padanya.
"Gue suka sama. Sayang banget malah. Dia itu segalanya buat gue dan gue nggak tahu bakal jadi apa gue kalau gue nggak ketemu sama dia." Dia berkata seperti itu seolah dia tidak pernah berpacaran sebelumnya. Gio menceritakan tentang wanita yang dia cintai dengan binar penuh kebahagiaan. Bisa dilihat jika dia sangat mencintai wanita itu.
Aku juga ingin berada di posisi itu. Posisi dimana aku bisa mencintai dan dicintai, tapi aku takut. Aku takut ketika orang yang aku cintai pergi, aku akan hancur seperti Mama
"Gue cuma nggak mau dia cari tahu tentang keluarga kita," akunya. Aku bisa mengerti apa yang dia bicarakan dan aku tidak merasa tersinggung. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika aku berada di posisi Gio. Keluarga kami tidak bisa disebut keluarga normal.
"Gue juga nggak mau dia tahu gimana gue yang dulu," lanjutnya.
"Lo yang dulu?" tanyaku heran. Aku memang tidak terlalu tertarik memperhatikan Gio karena dia sangat jarang berada di rumah. Apa jangan-jangan dia sudah banyak berubah karena itu, makannya dia muak berada di rumah dan jarang ada di rumah.
Dia menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Aretta, gue udah bilang kan kalau gue mau berubah. Itu bukan omong kosong belaka. Gue nggak mau terlalu keingat masa lalu yang malah buat gue semakin nggak maju."
Aku mengangguk, apa yang dia ucapkan ada benarnya. Terpaku pada masa lalu hanya akan menyulitkan diri sendiri dan itu tidak berarti orang lain bisa mengerti. Ujung-ujungnya yang semakin terpuruk malah diri sendiri. Seperti terus mengingat soal Papaku yang pergi meninggalkan kami. Papa tirinya yang dia harapkan bisa membuat kami menjadi keluarga utuh.
__ADS_1