Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Menginap lagi


__ADS_3

Aku mengeluarkan ponselku dan melihat nama Gio yang memanggilku. Aku bergegas keluar dari ruang kerja untuk menerima telepon darinya, aku bahkan belum sempat menyapanya ketika dia sudah bertanya tentang keadaanku terlebih tampaknya Gio memang sangat mengkhawatirkanku sampai aku harus menenangkannya. aku juga memberitahunya jika aku sekarang sedang ada di rumah temanku dan memintanya untuk tidak terlalu khawatir.


"Tapi sekarang udah jam 11.30 malam, besok lo masih harus sekolah. sebutin di mana alamat rumah temen lo gue bakalan jemput sekarang." Aku dapat mendengar suara kunci bip dari kunci mobil dan sadar jika dia sedang tidak bercanda.


"Gue bakalan pulang sekarang dan lo nggak usah khawatir. Soalnya gue juga nggak tahu alamat pastinya di mana." Aku langsung menutup telepon sebelum dia sempat membalas kalimatku. Aku kembali ke ruang kerja di mana Aidan tengah menungguku dengan tatapan khawatir.


"Gio yang nelpon," kata aku menjelaskan, "dia bilang ini udah malam dan aku disuruh pulang, tapi karena sekarang aku ada di rumah kamu jadi aku nggak bisa kasih tahu di mana alamatnya. Soalnya dia gagah pingin jemput aku."


Aidan tampak terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Kenapa kamu nggak nginep aja?"


Aku menatapnya lekat. Ini bukan pertama kalinya aku menginap hanya saja mengingat jika dia pernah menciumku membuatku tidak terlalu yakin untuk tetap stay di sini. Aku hanya tidak mau dia sadari jika aku masih mengharapkannya.


"Kamu yakin?" tanyaku ragu-ragu. Kami berdua sangat tahu kenapa aku bertanya. Aku tidak berpikir itu pilihan yang baik karena aku tidak mau terjebak kecanggungan atau perdebatan seperti sebelumnya. Tapi tampaknya Aidan tidak terganggu sama sekali dengan ide yang dia utarakan.


"Tapi kamu di sini nginepnya nggak gratis. Besok pagi kamu harus buatin aku sarapan." Dia menyeringai kemudian mengalihkan pandangannya ke komputer yang sontak membuatku mendengar kesal.


Aku kembali menelpon Gio dan memberitahu dia bahwa dia bisa menginap di rumah Ana karena aku juga akan menginap di rumah temanku. Aku tidak repot-repot memberitahu Mama soal di mana keberadaanku karena dia pun tidak peduli di mana aku berada.

__ADS_1


"Udah," kataku lalu mendekat kembali untuk duduk di sebelah Aidan.


Kami kembali menghabiskan malam untuk mencari barang-barang sampai sekitar pukul setengah dua malam. Itupun karena dia menyadari jika aku sudah menguap beberapa kali. Aidan memintaku untuk segera beristirahat, meski aku menolak dia tetap memaksaku untuk segera tidur.


Aidan membawaku keluar dari ruang kerjanya dan memberiku handuk dan pakaian ganti agar aku dapat membersihkan diri. Ketik aku keluar dari kamar mandi Aidan sudah menyiapkan makan malam yang sangat telat untuk kami.


Di sampingnya tertinggal sebuah catatan yang membuatku tersenyum. Aku langsung mengambil sandwich buatannya dan menggigitnya. Betapa nyamannya berada di rumah Aidan. Aku benar-benar merasakan kesenjangan yang sangat luar biasa antara di sini dan di rumah. Walaupun aku menggunakan tempat tidur ekstra tapi tempat ini lebih nyaman dibandingkan tempatku di rumah sana. Setelah selesai menghabiskan makananku aku segera memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan tubuhku.


Malam ini aku tidak bisa tidur dengan cepat seperti malam sebelumnya. Aku masih memikirkan soal bagaimana caranya supaya perasaanku tidak semakin membesar. Mungkin aku bisa tetap berada di samping Aidan sebagai teman tapi aku tidak bisa memikirkan bagaimana kedepannya. Aku hanya takut jika perasaan itu masih tersimpan untuk waktu yang lama.


Terlalu banyak pikiran yang mengganggu membuatku bangun lebih awal. Aku memutuskan keluar dari kamar tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Aku ingin merapikan diriku terlebih dahulu sebelum bertemu dengan aida nanti.


Setelah mandi aku pergi jalan ke dapur tanpa suara dengan maksud untuk membuat sarapan walaupun di luar masih sangat gelap. Aku mengingat ngat kata-kata Idan yang mengatakan jika sekarang adalah giliranku untuk menyiapkan sarapan. Mungkin dia hanya bercanda tapi karena aku sudah diperbolehkan menginap jadi aku bisa menyiapkan sarapan sebagai balasannya.


Aku memeriksa bahan makanan yang tersisa di dalam kulkas. Sepertinya hari ini aku tidak akan membuat makanan yang terlalu berat karena di dalam kulkas Aidan hanya tersisa beberapa selai dan susu putih. Aku memutuskan untuk membuat roti bakar.


Aku kira aku sudah cukup tenang ketika menggunakan dapur milik Aidan, tapi ketika Aku menoleh aku melihat pria itu sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan khas orang yang baru bangun tidur. Dia menatapku kemudian terkekeh.

__ADS_1


"Aku masih belum terbiasa ngedenger orang nyiapin sarapan buat aku." Aku hanya mengangguk sebagai balasan dan Aidan mendekatkan diri untuk membantuku.


Dia membantu dengan menyiapkan peralatan makan dan mengatur meja serta menuangkan susu ke dalam gelas. Pria itu kembali duduk di kursi meja makannya dan menunggu seperti anak kecil. Aku meletakkan roti bakar buatanku dan menyodorkan beberapa pilihan rasa selain untuknya.


"Enak. kamu bisa sering-sering datang ke sini untuk buatin aku roti bakar yang seenak ini." Aku menggeleng pelan sebagai respon dan kembali memasukkan roti ke panggangan untuk diberikan lagi kepada Aidan. harusnya bagian itu untukku tapi karena Aidan tampaklah Aku menyiapkan lebih banyak daripada biasanya.


"Kamu mau buat aku jadi tambah gemuk?" Dia bertanya sambil mengangkat baju untuk menunjukkan perutnya. Aku menjadi tersipu karena melihat bentuk perutnya yang sixpack, sangat luar biasa.


"Aku mau usul," katanya tiba-tiba, Gimana kalau misalkan kita tutup toko lebih awal buat renovasi. Soalnya kita masih harus milih cat buat toko sama tempat tinggal kalian."


"Boleh. Aku setuju sama usulan dari kamu. Nanti aku bakal kasih tahu Gio, pasti Nanti dia bakalan muncul sambil bawa uang tambahan dari Papa."


Kami menyelesaikan obrolan dan sarapan kami dengan cepat, setelah itu segera bersiap untuk berangkat ke sekolah. Aku masih menggunakan pakaianku tadi malam dan untungnya tempat tinggal Aidan dekat dengan rumah. Pria itu membawaku pulang untuk berganti baju dan berangkat bersama menuju sekolah.


Bel masuk berbunyi ketika kami sampai di tempat parkir. Nasib baiknya semua siswa sudah berada di dalam kelas pada jam tersebut, jadi kedatanganku dan Aidan yang bersamaan tidak mengundang tanya dari mereka.


Aku mengucapkan selamat tinggal dan terima kasih karena dia sudah mengizinkanku tinggal dan sudah mengantarku ke sini. Setelah mendapat balasan dari dia aku segera berlari menuju kelas. Jam pelajaran pertama hari ini adalah seni. Miss Nisa sangat tidak menyukai siswa yang terlambat masuk ke kelas.

__ADS_1


Aku sampai dan langsung mengikuti pelajaran seperti biasa.


"Aretta!"


__ADS_2