
Ana mengatakan jika dia tidak memiliki apapun di rumah dan dia memutuskan untuk keluar terlebih dahulu agar kami bisa menonton dengan nyaman ditemani oleh makanan dan minuman ringan.
Aku yang sudah jengah berada di sini langsung mengajukan diri untuk pergi. Bagaimana lagi, Gio sudah memberiku isyarat agar aku yang keluar karena dia ingin menghabiskan waktu lebih bersama bersama dengan Ana.
Aku pun langsung berdiri bertepatan dengan Ana yang memberikanku uang. dia juga mengarahkanku agar aku pergi ke tempat yang dia perintahkan.
Aku mengangguk dan langsung keluar dari rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju mini market banyak yang bisa kulihat. Dan yang membuatku terkejut adalah, semua rumah di sini menggunakan gerbang tanaman sebagai gerbang di luar. Iya sih karena hampir seluruh rumah mereka di kelilingi dinding tinggi.
Aku sampai dan memutuskan untuk menjelajahi lorong-lorong kecil di dalam toko hingga aku menemukan space makanan ringan. Aku memilih beberapa dan juga tidak lupa untuk membelikan permen pesanan Gio. Karena Ana memperbolehkanku mendapatkan apa yang aku mau, akhirnya aku berhenti di depan chips. Aku ragu untuk memilih antara barbeque ata ayam bawang.
"Menurut gue mending lo beli yang barbeque karena itu enak," kata suara yang terdengar dari belakangku ketika aku masih menimbang. Mungkin karena aku lama makannya dia memberi masukan. Aku menoleh ke belakang dan melihat wajah yang kukenal berdiri di sana. Butuh satu menit untukku sadar sebelum akhirnya aku memanggilnya, "Davin, kan?"
Dia tertawa riang, "Aretta! Ternyata emang beneran lo ya?" serunya cerita, "gue tadi cuma iseng buat ngikutin cewek cantik yang mirip lo." Dia mengedip ke arahku dan membuatku terkekeh.
"Gimana kabar lo? Gue ngundang Aidan ke rumah gue tapi dia nggak bawa lo."
Aku ingat pria ini mengundangku ke rumahnya tapi karena aku berantem dengan Aidan, mungkin itu yang membuat dia tidak mengajakku kembali walaupun ada awalnya ajakannya sudah aku tolak.
__ADS_1
"Sorry. Gue sibuk. Jadi kayaknya gue harus tebus lo deh karena nggak ngabarin." Dia terkekeh dan mengangguk.
"Boleh. Kapan-kapan ya, gue duluan kalau gitu soalnya adek gue udah nunggu." Aku mengangguk dan melambaikan tangan padanya sambil terus melihat dia yang sudah keluar dari toko.
Aku segera membawa barangku ke kasir dan membayarnya, kemudian pergi. Aku merasa sedih karena harus kembali dan yang membuatku malas adalah, aku harus kembali melihat mereka berdua bermesraan.
Aku sampai dan segera mengetuk pintu sambil menunggu pintu dibuka dari dalam.
Mio menggonggong dengan bersemangat dar celah pintu dan dia langsung menerjang ku begitu pintu terbuka. Aku meletakkan barang bawaanku ke bawah dan menepuknya pelan seraya mengusap lembut bukunya. Dia benar-benar mendekatiku dan melarangku untuk masuk. Seolah dia memintaku agar aku mau bermain dengannya. Padahal ini pertama kalinya kami bertemu, tapi perasaan sayang itu sudah tumbuh untuk Mio.
"Aretta?" Aku melirik ke arah suara laki-laki yang kukenal. Aku kira itu Gio tapi ternyata Davin
"Jadi ternyata adiknya Gio itu lo." Dia terkekeh masih tidak percaya tapi tetap membukakan pintu lebih lebar untukku agar aku dan Mio bisa berjalan beriringan.
"Berarti Kak Ana itu adik lo?" Dia mengangguk dan mengajakku untuk masuk. obrolan kami harus terpotong karena Ana menyadari kehadiranku yang sedang mengobrol dengan kakaknya.
"Kalian udah saling kenal?"
__ADS_1
Kami berdua saling bertatap sebelum dia menjawab, "Iya. Dia temannya Aidan." Pria itu melebihkan kata teman dengan ekspresi menyebalkan. Aku mendelik ke arahnya. Gio tidak boleh tahu jika aku mengenalnya lewat Aidan karena dia bisa curiga.
"Dunia sempit banget ya ternyata," gumam Ana yang langsung aku setujui.
Aku dan Gio pergi dari rumah Ana ketika matahari muai redup. Kami juga sudah menonton beberapa film dan juga memakan pizza ukuran jumbo bersama. Selama di sana aku tidak bisa fokus pada film yang diputar karena pikiranku tengah mengembara kemana-mana.
Yang pertama, aku memikirkan soal Pak Dewa dan masih mencari tahu motif apa yang membuat dia selalu menggangguku. Aku tidak tahu apa yang dia cari dan yang dia inginkan karena aku tidak sudi berhubungan dengan sampah masyarakat.
Aku kira masalah dengannya akan cepat selesai jika aku diam tapi malah sebaliknya dan yang lebih menyebalkannya lagi adalah, dia seperti memiliki mata-mata. Iya, aku membicarakan tentang Jessi yang berani mengawasiku terang-terangan saat aku kerja. mungkin dia pikir dia sudah bersembunyi dengan baik, tapi ayolah orang mana yang menggunakan metode yang sama untuk mengincar seseorang jika bukan pemula.
Aku sudah memperingatinya untuk tidak menggangguku di tempat kerja. Awalnya dia terkejut karena aku mendatanginya tapi dia terlalu bodoh jika ditugaskan sebagai agen ganda.
Film yang tadi diputar tidak bisa juga mengenyahkan kenangan tentang Pak Dewa yang memaksakan ciumannya padaku dan aku memutuskan untuk merubah penampilanku agar dia tidak tertarik mendekatiku. Aku akan kembali menjadi Aretta yang tidak suka dandan dan hanya berpakaian apa adanya. Padahal dulu aku sangat membenci sosokku yang seperti itu, tapi siapa sangka jika sosok itu bisa berguna di masa kini.
Kami melambaikan tangan pada Davin dan Ana sebelum masuk ke dalam mobil. Aku masih tidak percaya soal Davin yang ternyata kakaknya Ana. Kami sudah akan pergi ketika suara gonggongan Mio kembali terdengar lagi, aku menoleh untuk memeriksa dan segera turun ketika melihat Mio yang menolakku untuk pergi. Aku menepuk kepalanya sayang dan masih memperhatikan dia saat dia diseret kembali masuk ke dalam rumah.
"Mio itu tipikal anjing yang nggak suka sama siapapun kecuali pemiliknya sendiri," kataGio dengan nada kental yang tampak cemburu, "tapi kenapa dia suka banget sama lo." Aku menyeringai dan melemparkan tatapan mengejek padanya. Posisinya di hati Mio masih belum jelas dan aku adalah pilihan Mio.
__ADS_1
Aku kembali masuk ke mobil dan membiarkan Gio membawaku keluar dari perumahan Ana. Dia sempat berhenti sejenak dan kembali mengemudi, tetapi kini mengambil jalan memutar yang tidak terduga agar kami dapat cepat sampai ke daerah ruko yang sudah kami beli. Saat itu sekitar jam 6 malam, ketika akhirnya Gio berhenti tepat di depan gedung milik kami. Dia mengeluarkan dua kunci dari sakunya dan menggantungnya di depan mataku. Mereka berkilauan di lampu jalan seolah mendorong kami untuk masuk ke dalam.
Aku menyeringai dan merebut kunci itu dari tangannya, Gio protes tapi dia tetap mengikutiku keluar dari mobil. Aku berjalan melompat sampai ke depan toko dan membuka kunci pintu, mendorongnya terbuka hingga bagian dalam terlihat. Aku mungkin tampak bodoh tapi itu adalah awal dimana aku menjadi sosok baru dan bisa terbebas dari Mama.