
Pria itu terkekeh melihat aksiku dan dia juga menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kudengar jelas. Aku sampai harus memejamkan mata ketika dia menyerap keluar dari pasangan membawaku masuk ke dalam rumahnya yang sudah dipenuhi cahaya. Dia pernah membawa ke sini sebelumnya, tapi karena aku dalam kondisi yang tidak baik dan terlalu kesakitan karena luka yang dia torehkan, hal itu membuatku tidak bisa melihat bagaimana kondisi ruangan ini.
Di keadaan yang sama dan kondisi berbeda. Ini aku kembali di sini dan sekarang mataku dengan sangat liar menjelajahi ruangan yang ada di rumah Dewa.
Aku bisa melihat tirai bunga yang tampak feminim menggantung di jendela. Aku juga menatap sekeliling ruangan yang semuanya terlihat rapi. Tidak ada bantal yang berserakan atau buku-buku yang dibiarkan terbuka. Tempat yang sangat luar biasa ini tidak kusangka dimiliki oleh seorang b******* macam Dewa.
Pria itu masih saja menyeretku naik ke atas tangga. Aku masih tidak kepikiran ke mana dia akan membawaku pergi. Melangkah hati dia lebar dan langkah kakiku yang lambat membuat perjalananku terseok-seok.
Dia berhenti dan membuatku berdiri di depan kamar mandi.
"Masuk," perintahnya sambil menunjuk ke arah toilet. Aku sebenarnya ingin marah karena diperlakukan layaknya hewan peliharaan, tapi hal itu tidak aku lakukan. Untuk sekarang Aku akan berusaha menjadi anak yang baik agar dia melonggarkan pengawasannya padaku.
Aku melangkahkan kakiku masuk kamar mandi lalu mengembalikan tubuhku untuk menatap wajah pria itu. Awalnya dewanya menaikkan salah satu alisnya. Saat aku memberi isyarat menatap toilet dan dia bergantian pria itu baru sadar.
"Oke," desahnya pelan, "aku bakal tunggu di luar." Dia langsung melangkah keluar dari kamar mandi tanpa protes dan berdiri di luar pintu dengan punggung yang membelakangiku, namun sayangnya dia tidak menutup pintu.
__ADS_1
"Cepatan!" Dia berteriak dan aku masih memperhatikan saat dia menyilangkan tangannya dan mengetukkan kakinya ke lantai dengan tidak sabar. Aku mengikuti saran darinya dan duduk di toilet. Ketika aku sudah mengikuti perintahnya, aku mulai menatap sekeliling kamar mandi. Pertama aku melihat ke cermin dan betapa mengejutkannya aku saat menemukan pantulan diriku di sana. Orang di dalam cermin itu sangat rapuh, kotor, dan lemah. Bekas luka goresan pisau juga tampak jelas membentang dari pangkal telinga hingga ke bawah leher bagian depan dan berhenti tepat di tengah dadaku.
Bekasnya darah masih tersisa dengan bagian pinggirnya tampak bengkak dan memerah. Bagian itu memang sedikit gatal. Menurut pendapatku itu karena infeksi.
Aku tidak serta merta membersihkan bekas lukanya karena di sini tidak ada antiseptik. Yang aku lakukan hanya membasuh tanganku sembarangan sambil menoleh menatap sesuatu yang tampak berkilauan di wastafel. Itu adalah pisau kecil. Bilahnya tampak berkilau ke arahku, seolah mengundangku untuk mengambilnya.
Aku tidak berpikir panjang dan memutuskan untuk mengambilnya. Aku menyambarnya dengan cepat dan menyimpannya ke bagian dress depanku. Pisau itu menempel si braku.
"Udah selesai," serunya dari ambang pintu dan berbalik. Dia mengambil langkah mendekat ke arahku dan segera menarik pergelangan tanganku, mencengkeramnya dengan keras untuk mencegahku kabur.pria itu mulai membawaku kembali ke basemant.
Dan pria itu menyeretku kembali untuk melangkah menuruni tangga menuju basemant. Dia membiarkanku kembali ke ruangan yang kelembapan dan dingin. Dia mendorongku ke masuk hingga aku terjembab dari tangga sampai akhirnya aku mendarat jatuh berlutut di lantai yang dingin.
"Selamat malam, sayang. Ah, iya... Jangan sampai kamu ikutan kotor juga karena udah lama tinggal di sana." Dia terkekeh lagi sambil berjalan cepat meninggalkanku di basemant yang gelap.
Kali ini aku punya sesuatu untuk dilakukan. Aku merogoh dressku untuk mencari pisau kecil tadi yang berhasil aku sembunyikan. Tapi benda itu tidak ada.
__ADS_1
Kemana perginya? Saat Dewa mendorongku tadi, aku memang sempat tersandung. Benda itu pasti jatuh ke tanah dan menghilang ke suatu tempat. Aku tidak menyadarinya tadi dan sekarang aku mulai menggunakan kedua tanganku untuk mencari. Mengabaikan pergelangan tanganku yang sebelumnya patah karena benda itu sangat dibutuhkan olehku.
Aku menepuk-nepuk lantai dan terus mencari dengan putus asa. Aku hampir lelah dan menyerah karena benda itu tak kunjung ditemykan. Lantai di ruangan cukup lebar dan mungkin aku membutuhkan satu hari untuk menemukan benda itu. Aku sampai harus bersikeras pada diriku sendiri agar aku dapat keluar dari tempat ini.
Aku tidak merasa jika waktu sudah berlalu cukup lama. Tanganku sudah hampir mati rasa karena suhu dingin mulai meningkat. Aku menghela napas, kemudian berdiri untuk meregangkan tubuh. Aku mengangkat tanganku setinggi mungkin di atas dan tiba-tiba sebuah ide menghampiriku.
Aku tidak tahu mengapa aku tidak memikirkan soal ini sebelumnya dan aku membodohi diriku sendiri karena hal itu. Aku menaikkan tanganku setinggi mungkin agar aku bisa mencari kabel yang digunakan untuk menyalakan lampu ketika ditarim. Aku berjalan ke tempat yang menurut ingatanku adalah tempat dimana benda itu berada. Aku mencoba dan terus mencoba meski tidak ada hasilnya. Apa mungkin karena aku terlalu pendek, pikirku dalam hati.
Aku menjadi putus asa karena satu-satunya cara yang kupikir mudah dilakukan terasa sulit jika dicoba. Andai aku bisa tumbuh lebih tinggi lagi, batinku.
Aku maju beberapa langkah dan berhasil menabrak kasur. Untuk sesaat aku masih merasa ragu-ragu dan sekarang mulai berdiri di atasnya. Aku mencoba mengabaikan pikiran tentang adanya darah orang asing yang bercampur dengan darahku yang juga kini telah mengering di tengahnya. Aku mengulurkan tanganku lagi dan mengayunkan tanganku beberapa kali untuk mencari tali tersebut. Aku sangat berharap bahkan sampai berdoa agar tali itu segera ditemukan oleh tanganku.
Aku senang karena kini doaku terkabul. Ujung kabel itu mengenai bagian dalam telapak tanganku. Hampir saja aku berteriak untuk meluapkan kegembiraan tapi langsung kutahan. Aku mencoba jinjit dan mulai menariknya dengan keras.
Aku hampir saja buta karena cahaya yang dihasilkan oleh bohlam di atas. Aku langsung bergerak dengan cepat dan menemukan benda itu tergeletak di bawah jendela dengan ujungnya yang menunjuk ke luar. Dia seolah sedang memberitahuku jika itu adalah jalan untuk bebas.
__ADS_1
Aku langsung meraihnya dan memeriksa benda itu di bawah lampu. Bilahnya yang berkilauan itu mengundangku untuk segera digunakan.
Dan itu apa yang aku pikirkan tentang menggunakan benda ini.