
Aku berkeliling menggunakan mobil saat aku memasuki belokan yang salah. Saat itu tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas begitu saja di kepalaku. Apakah aku gila? Maksudku, ditengah ketidakpastian dan tanpa adanya bukti nyata, aku malah mencoba menemukan Aretta hanya karena ada orang yang terluka di lehernya. Bukan berarti mereka penculiknya, kan?
Aku melihat ke bawah, ke alamat yang tertulis di catatan kertas dan mengingat kembali betapa gilanya aku saat aku menulisnya. Tapi saat itu semua terasa masuk akal. Bahkan aku banyak berdebat dalam pikiranku jika hal ini memang patut dicoba. Setidaknya aku memang harus mencari karena mungkin saja aku bisa menemukan Aretta ketika aku berkeliling.
Aku kembali salah belok dan kini aku tidak tahu persis di mana posisiku berada. Aku menoleh dan malah menemukan diriku berada di salah satu rumah siswa yang aku curigai. Aku mencari nomor rumahnya dan ketika menemukannya aku menepi dan mematukan mesin mobilku. Akh mengintip keluar jendela untuk melihat ke arah rumahnya, memperhatikan bahwa tidak ada garasi yang menempel di rumanya. Hanya sebuah car port kecil yang bisa menampung satu mobil. Plat nomornya adalah 'B7651TU' yang aku ketahui itu miliknya yang sering diceritakannya di sekolah.
Aku menghela napas lagi dan berpikiran bahwa tidak mungkin pria itu yang menculik Aretta. Aku merunduk ketika tiba-tiba sebuah mobil muncul dari belakangku dan berhenti di jalan masuk, lalu keluarlah orang tuanya. Aku pernah bertemu mereka sebelumnya dalam sebuah pertemuan yang membicarakan tentang perilaku Dean di sekolah dan mereka tampak seperti orang baik. Lagipula pelat mobil mereka B2402UI. Aku memukul setir mobilku dengan frustasi saat mengetahui bahwa aku belum berhasil menemukan tanda-tanda keberadaan Aretta.
Mungkin akan ada lebih banyak peluang. Hanya soal waktu dan seberapa lama aku mencari, gadis itu pasti akan ditemukan. Aku menyalakan mobilku kembali ketika melihat kedua orang tua Dean berjalan sambil bergandengan tangan. Jika sedang tidak dalam kondisi seperti ini aku pasti akan tersenyum melihat keharmonisan keduanya.
Aku kembali melajukan mobilku. Aku menemukan jalan pintas untuk menuju rumah Rizal, salah satu siswa yang aku curigai, sambil memikirkan soal Aretta. Aku sedang membayangkan dia dan Aku berjalan bersama sambil bergandengan tangan dengan mata saling menatap, seolah-olah tidak ada yang penting di dunia ini kecuali kami berdua. Aku dan dia akan membuka pintu rumah kami dan melepaskan sepatu kami kemudian menyiapkan makan malam bersama. Aku menyiapkan makanan favoritnya dan kami akan duduk bersama di ruang tv setelah menyelesaikan makan untuk menghabiskan waktu bersama.
Setelah itu aku yang akan bertugas untuk mencuci piring karena aku tidak akan membiarkan dia kelelahan. Dan malamnya aku akan menggendong dia ke tempat tidur kami. Aku sangat berharap kami bisa melakukan hal itu berulang kali selama sisa hidup kami.
__ADS_1
Aku menghela napas lagi dan mencengkeram setir dengan keras saat gelombang rasa sakit menyerbuku. Berada jauh dari Aretta terasa sangat buruk, dan jika aku tahu apa yang terjadi padanya sekarang, aku berharap berada di tempat yang sama dengannya hanya untuk menjaganya agar dia tetap aman.
Aku berbelok tajam ke jalanan yang emnuju rumah Rizal, dan seperti sebelumnya aku kembali mencari nomor rumahnya yang berada di sisi kanan jalan. Itu 13 dan menurut sebagian orang itu merupakan nomor sial. Seperti yang aku lakukan di rumah Dean, aku mulai menjelajahi rumahnya untuk mencari mobilnya. Sebuah mobil biru tua terparkir nyaman di depan rumah, gaya klasik dari mobil tersebut sudah oasti habya disukai oleh orang-orang berumur.
Aku berbalik di kursiku untuk melihat ke belakang. Aku kembali mencari apakah ada garasi lain tempat mobil lainnya di simpan dan aku menemukan ada jalan masuk yang menuju ke arah belakang rumahnya.
Aku menggeram frustrasi tetapi tetap melepaskan sabuk pengamanku untuk keluar dari mobil. Sebelum aku melangkah menuju tempat itu, akh memutuskan untuk mengambil hoodie yang aku simpan di bagian belakang mobil. Aku menggunakannya untuk menutupi wajahku agar tidak tertangkap CCTV.
Aku berjalan menyusuri jalan kecil itu dan tidak ada cara lagi untuk mengetahui apakah Rizal dan keluarganya ada di rumah. Aku memutuskan untuk berlari seolah tengah berolahraga dan aku berhasil menemukan sebuah carport lain di sana yang bisa menampung sebuah mobil lagi.
Aku kembali tidak beruntung.
Sekarang aku merasa ingin meninju sesuatu, tetapi untuk mencegah agar aku tidak tertangkap, aku memutuskan untuk berlari kembali ke mobil dan masuk melalui kursi penumpang.
__ADS_1
Aku melihat sekeliling dengan gugup, dan untungnya tidak ada seorangpun yang terlihat di sini. Aku memilih pergi dari rumahnya.
Dua kegagalan yang aku terima membuatku kesal pada diriku sendiri. Hanya ada satu rumah tersisa di dalam daftar, dan aku tidak yakin tempat itu juga akan memberikan hasil yang aku inginkan. Namun jika benar Aretta ada di sana itu sebuah berkah untukku, walau aku tahu itu rumah rekan kerjaku.
Aku mulai mengikuti petunjuk yang aku tahu dari ingatanku dan kini aku mendapati diriku sendiri sedang duduk di dalam mobil sambil memperhatikan rumah Dewa. Rumah itu merupakan rumah yang cukup normal dengan pagar kayu berwarna putih dan halaman rumput yang terawat sempurna. Aku memeriksa tumbuhan mawarnya dari tempat dudukku dan mulai bertanya-tanya bagaimana dia punya cukup waktu untuk menjaganya tetap terlihat sempurna.
Dewa memiliki garasi yang menyatu di depan rumahnya, dan tidak diragukan lagi mobilnya pasti ada di sana. Aku melangkah keluar dari mobil dan bersandar sambil menatap rumah itu. Aku tidak bisa melihat gerakan apapun dari jendela kaca mobil dan aku bertanya-tanya bagaimana caranya aku bisa melihat pelat nomor mobilnya. Mungkin aku akan berakhir dengan duduk di sini sepanjang malam sampai menunggu dia keluar. Aku merenung dan melihat ke dalam mobil lagi apakah sanggup untuk tinggal atau tidak.
Batin dan kepalaku saling menyerang untuk menanyakan kewarasanku. Tapi rasa curiga lebih mendominasi dan semakin membuatku memilih bertahan.
Aku mendengar suara yang langsung membuatku menoleh. Aku menajamkan kembali pendengaranku sambil melihat ke arah suara. Dan ternyata suara itu tidak lagi terdengar.
Aku hampir menyerah dan akan kembali ke mobil saat suara itu terdengar lagi. Itu adalah suara teriakan pendek dan bernada tinggi yang menyerupai jeritan. Aku mengikuti arahnya dan mendengarnya datang dari rumah di depanku. Apakah itu suara pacar barunya si Dewa? Tapi kenapa suara itu mirip dengan suara Aretta?
__ADS_1
Saat itu juga aku langsung berlari.