
"Aretta?"
Masih sama seperti kemarin, aku dibangunkan kembali oleh Aidan. Pria itu mengguncang pelan tubuhku agar aku segera membuka mataku.
Aku menggeram dan membuka mataku sedikit untuk melihatnya.
"Ayo bangun!" Kenapa dia sangat tidak sabaran. Aku menggulingkan tubuhku dan memaksakan diri untuk turun dari ranjang. Ketika kakiku menyentuh lantai aku langsung menunduk. Ada karpet bulu yang tidak aku sadari ada di sini. Aku tersenyum. Saat di rumah aku harus puas dengan hanya mendapatkan tepat tidur dan selimut.
Rumah....
Aku harus pulang hari ini. Aku berharap tidak akan ada yang menyadari jika aku tidak pulang semalam dan yang paling penting, aku berharap aku bisa menghindari Mama hari ini.
Aku melangkah keluar kamar dengan menginjakkan kaki di atas karpet berbulu ini. Aku tidak tahu jika lantai bisa berubah menjadi sehangat ini jika di tutupi karpet.
Saat aku sudah sampai di dapur, aku menemukan Aidan tengah membuat susu dan juga sudah tersedia nasi goreng di meja makan. Dia mendongak dan tersenyum ketika melihatku.
"Pagi princess! Sarapan sudah siap dan susu hangat segera meluncur."
Aku meringis, "Kamu emang bangun jam berapa?"
"5.30. Tapi kamu kan tahu sendiri rejeki bakal dipatok ayam kalau kamu bangunnya telat," jawabnya kelewat ceria. Aku menggelengkan kepala tidak mengerti. Dia tinggal sendiri dan sudah dipastikan tidak akan ada yang mengganggunya meski dia bangun terlambat.
"Kenapa bangunnya pagi banget?" tuntutku. Dia tidak harus bangun sepagi itu karena jam kerjanya dimulai pukul 7.30.
__ADS_1
"Pertama, kamu ingat kalau kamu punya PR kan? Tugas yang aku kasih minggu lalu."
Aku menggigit bibirku dan merasa cemas tanpa sebab.
"Tugas dari lembaran kerja kemarin itu?" tanyaku memastikan. Dia mengangguk dan langsung berjalan keluar dari dapur untuk ke ruang depan. Hanya beberapa menit dan dia pun kembali sambil membawa tas milikku. Aku ingat jika aku membawa tugas itu kemarin, tapi sepertinya aku tidak benar-benar mengerjakannya karena kemarin keadaanku sedang tidak baik-baik saja.
Aku mendesah kasar dan segera merebut tas itu darinya. Dengan cepat aku mengerjakan PR yang dia berikan, meskipun Aidan ada di depanku tapi aku tidak berniat meminta bantuan darinya.
Aku menyelesaikan tugas dari Aidan kurang dari 10 menit, setelahnya aku kembali mengambil tugas yang lainnya. Aku mengeluarkan buku sketsaku dan mulai membuka lembar halamannya.
Aidan masih ada di sini. Pria itu duduk di hadapanku dan dia tengah memperhatikan semua tingkahku. Posisinya yang tengah menyeruput teh benar-benar luar biasa untuk dijadikan model. Aku kembali fokus pada buku sketsaku, tanganku berhenti di potret yang aku buat kemarin. Aku memperhatikan dengan seksama potret diriku yang ada di sana. Sketsa mata, rambut, dan mulutku. Aku tersenyum di potret itu.
"Cantik." Aku tersentak mendengar suara yang terdengar dari balik bahuku. Dia berdiri di belakangku dan melihat potret milikku dari balik situ.
"Terima kasih. Kata Miss Nisa juga cantik," ucapku senang.
Sudah berapa lama aku tidak mendengar seseorang menggumamkan kata cantik untukku. Tidak setelah Papa pergi. Beberapa orang asing juga ada yang mengatakan cantik hanya untuk menggodaku.
Dia kembali duduk di tempatnya dan itu membuatku leluasa untuk menatap wajahnya.
"Boleh nggak aku gambar wajah kamu?" Senyuman lebar tersungging di bibirnya dan aku menganggap itu sebuah persetujuan. Dia selalu tersenyum seperti itu dan akan berubah menjadi senyum penuh kepedihan ketika membicarakan soal orang tuanya. Aku tidak sengaja memperhatikan perubahan kecil itu ketika dia menceritakan soal Omanya kemarin. Aku tidak mencoba bertanya dan mencari tahu karena sepertinya hal yang berkaitan dengan orang tuanya adalah sesuatu yang tidak boleh dikorek sembarangan.
Aidan mengambil koran dan dia mulai membacanya dan aku sendiri mulai menggambar rahangnya, rambutnya yang sudah rapi, dan kilau mata yang sering dia keluarkan tanpa dia sadari.
__ADS_1
Aku terlalu fokus pada sketsaku dan Aidan pun ikut terbawa suasana. Kami sama-sama diam dan tidak ada yang berbicara hingga pria itu membuka mulutnya terlebih dahulu.
"Coba lihat ini Aretta," katanya, sambil menyodorkan koran ke hadapanku dan menunjuk ke sebuah iklan, "toko di sebelah toko buku dijual."
"Kira-kira toko apa ya yang bakal ngisi tempat itu?" Aku bertanya kepadanya.
"Kurang tahu sih, tapi kayaknya tokonya nggak bakal laku secepat itu. Lagian di sana hampir semua udah ada yang jual." Dia menjelaskan, "ngomong-ngomong aku pingin lihat hasilnya," ucapnya, sambil mencoba mengintip dari atas.
Aku membalikkan hasil karyaku untuk ditunjukkan padanya. Kemudian menunggu untuk melihat bagaimana reaksinya. Aku tidak berharap reaksi yang terlalu over hanya sebuah ucapan terima kasih saja sudah cukup.
Menunggu Aidan membuka mulut untuk berkomentar ternyata membutuhkan waktu lama. Dia menatap penuh keheranan dan sepertinya dia juga tengah menilai struktur garis yang kugoreskan. Aku meremas tanganku kasar. Kapan dia akan membuka mulutnya itu.
"Aku nggak tahu kalau aku bisa kelihatan ganteng di potret ini dan hasilnya 100% mirip sama aku," ucapnya jumawa sambil memajukan dadanya. Dia masih mengamati potret itu dan aku memutuskan untuk beranjak dan membereskan bekas sarapan kami.
"Apa kamu pernah kepikiran buat ambil jurusan seni buat kuliah besok?" tanyanya saat aku masih sibuk mencuci gelas dan piring menggunakan liquid soap. Dan sebelum menjawab aku berbalik untuk menatapnya. Apa dia bercanda?
"Nggak," jawabku cepat, "alasan pertama karena aku nggak terlalu menguasai seni dan alasan kedua karena aku nggak mampu buat bayar kuliah." Memang itu kenyataannya, walaupun aku bisa menggunakan uang simpananku, tapi aku tidak menjamin kehidupan di kuliah tidak seboros ketika aku bersekolah. Lagipula apa yang akan Mama lakukan padaku jika dia tahu aku memiliki uang untuk berkuliah? Yang ada dia akan menggeledah kamarku dan mencari semua uang simpananku untuk dia gunakan mabuk.
"Kamu kan bisa mengajukan beasiswa," katanya lagi.
"Aku nggak ada pikiran buat kuliah dan keputusanku masih bulat sampai sekarang."
Aidan menghela nafas pelan. Dia berhenti bertanya karena tahu dia tidak mungkin bisa mengalahkan sikap keras kepalaku.
__ADS_1
"Seenggaknya kamu harus janji ikut tes terbuka masuk universitas negeri. Nanti aku bakal anterin kamu."
"Aku nggak bisa janji, Aidan. Sebelum semua terlambat aku bakal kasih tahu kamu sekarang," kataku pelan dan itu benar-benar membuat fokus Aidan hanya tertuju padaku, "bantuan yang kamu kasih nggak bakal bisa buat aku kasih balasan seperti apa yang kamu mau dan pada akhirnya kamu juga bakal menyerah sendiri."