
Aku bergegas menuju kamar mandi meninggalkan Aidan yang terpaku di tempatnya. Aku membersihkan diriku dan segera keluar begitu selesai.
Aku langsung berjalan kembali menuju kamar yang aku gunakan semalam. Baju bekas yang kupakai kemarin sudah bersih dan kini sudah tersusun rapi di atas tempat tidur. Aku tersenyum karena kebaikan Aidan. Dia tidak harus mencucikan bajuku padahal tapi dia malah sukarela melakukan itu. Aku sendiri sudah terbiasa mencuci karena semua pekerjaan rumah aku yang melakukannya.
"Ngapain kamu senyum-senyum nggak jelas begitu?" suara Aidan terdengar jelas di belakangku. Dia berdiri di ambang pintu dengan tangan yang bersedekah, menunjukkan otot bisepnya yang terlihat menonjol di balik kemeja kerjanya.
"Pertanyaan kamu aneh, emang kenapa kalau aku senyum? Tidak ada undang-undang yang melarang untuk melayangkan senyum," jawabku menantang. Dia terkekeh pelan tapi tampak gusar. Aku masih memperhatikan Aidan yang kini tampak melihat jam tangannya.
"Baju kamu kayaknya ikutan menyusut deh, soalnya aku kelamaan taruh di mesin pengering," ucapnya, ternyata dia gusar karena masalah itu. Aidan malah tampak seperti anak kecil yang minta dimarahi karena sudah melakukan kesalahan, tapi bagaimana mungkin aku tega melakukan hal itu disaat dia sudah sangat baik dengan membiarkanku menginap di sini, ditambah dia juga membayar biaya rumah sakit dan juga menyediakan makan untukku.
"Nggak apa-apa, lagian aku juga nggak suka sama atasan itu," kataku meyakinkan, "tapi aku punya masalah lain aku nggak bawa seragam sekolah sama aku nggak ada dalaman buat ganti," ucapku. Aidan langsung membuang wajahnya ke samping saat aku mengatakan tentang pakaian dalam wanita. wajahnya pun tampak memerah. Memangnya ada yang salah dengan kalimatku? Aku sendiri hanya mengatakan apa yang aku butuhkan.
Ternyata Aidan tetaplah pria dewasa yang mudah tersipu dengan obrolan yang sedikit lebih dewasa. Dia berbalik menuju kamarnya dan kembali dengan sebuah totebag kertas. Aidan menyodorkan barang itu kepadaku.
"Ini seragam sekolah kamu. Di dalamnya ada pakaian dalam dan sweater karena cuaca lagi dingin-dinginnya. Aku harap kamu mau pakai sweaternya, sayang." Aku tertawa keras mendengar kalimat Aidan dan langsung mencengkram sisi tubuhku yang terasa sakit karena patah tulang.
"Kamu kenapa? Masih sakit?" tanyanya cepat, "aku nggak bermaksud buat kamu ngerasa sakit." Dia tampak terlihat khawatir ketika menatapku.
__ADS_1
"Nggak apa-apa aku cuma kurang hati-hati aja. Terima kasih ya Aidan."
"Kita berangkat 20 menit lagi," katanya sambil menutup pintu dan melangkah pergi.
Dua puluh menit kemudian dia kembali dan mengetuk pintu kamar.
"Aretta?" panggilnya dengan suara rendah, "ayo berangkat. Kamu ada ulangan Geografi di jam pertama," ingatnya. Aku menghela nafas pelan dan segera bangkit dari tempat tidur. Meraih tasku dan membuka pintu.
Aidan sudah siap dengan seragam gurunya dan kami berjalan beriringan menuju mobilnya. Aku segera melompat masuk ke kursi penumpang. Saking sudah terbiasanya aku duduk di sana.
"Kamu mau nggak antar aku pulang dulu?" tanyaku penuh harapan saat dia sudah mulai mengemudikan mobilnya.
Aku sedikit menundukkan kepalaku sambil meremas tanganku, "aku... mau ambil buku pelajaran, sama aku belum pakai make up," jawabku pelan.
"Aku kasih kamu waktu 10 menit nggak lebih. Aku bakalan ikut masuk kalau lebih dari itu dan mastiin nggak terjadi sesuatu sama kamu," ucapnya sambil mencengkram setir.
"Kamu ngomong apa sih..." kataku mencoba menyembunyikan keterkejutanku.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa sesantai itu Aretta?" Aidan menggeram kesal, "aku udah tahu apa yang terjadi sama kamu walaupun kamu nggak kasih tahu aku. Aku yang bawa kamu ke rumah sakit, jadi jangan pikir aku nggak peka sama apa yang udah terjadi sama kamu."
Aku diam tidak berani membantah. Aidan benar meski begitu aku tidak bisa mengatakan secara gamblang soal itu.
Sisa perjalan menuju rumah berakhir dengan keheningan. Aku menatap Aidan dari spion dan wajahnya teramat datar. Tangannya masih terkepal di setir mobil dan dia masih terlihat menahan emosi. Akhirnya kami tiba di rumahku. Aku segera berlari ke luar namun suara Aidan menginterupsi, "Aku bakal masuk 10 menit lagi."
Aku hanya memutar mataku sebagai respon. Dia terlalu protektif pada orang yang baru dia kenal.
Aku memasuki rumah dan langsung disambut oleh keheningan yang terasa mencekam. Tidak ada suara air shower yang mengalir atau suara ketel yang mendidih, mengartikan jika tidak ada orang di rumah. Aku merasa tenang karena aku akan aman untuk sekarang ditambah Aidan juga tengah menunggu di luar.
Aku langsung melangkah menuju kamarku dan menghindari keramik yang berderit mengeluarkan bunyi ketika diinjak. Mama memiliki pendengaran yang tajam, suara sekecil itu bisa membuatnya mengamuk dan mengakibatkan aku mendapat serangan darinya.
Tidak setiap hari seperti itu karena terkadang saat Mama mabuk berat dia tidak akan sadar jika suara lantai itu berderit. Tapi karena aku sudah terbiasa untuk selalu berhati-hati, jadi hal itu tidak menggangguku.
Aku berjalan menyusuri lorong yang akan membawaku ke kamar. Tidak ada foto yang terpajang kecuali foto milik Gio yang pinggirnya sudah di sobek. Foto itu diambil saat dia berusia 12 tahun dan memenangkan perlombaan sepak bola. Aku sama sekali tidak mengenal Gio. Kami mungkin memang saudara dan tinggal di tempat yang sama, tapi hubungan kami tidak bisa disebut seperti itu. Aku dan dia benar-benar memiliki jarang yang sulit disatukan. Aku bahkan tidak tahu apa hobinya, apa dia punya pacar, atau bagaimana kehidupannya. Kami hidup layaknya orang asing.
Aku dan Gio dulu sangat akrab. itu ketika Papa masih bersama kami.Jangan tanyakan apa yang terjadi setelahnya karena kalian pun sudah bisa menebak. Aku sangat ingin bisa kembali akrab dengan Gio, tapi pasti mustahil terjadi. Apalagi aku saja harus selalu mengendap-endap di rumah karena takut tertangkap. Aku yang seperti ini bagaimana bisa kembali berhubungan baik dengan Gio.
__ADS_1
Aku sampai di depan kamarku dan langsung membuka pintu. Semuanya masih sama seperti saat sebelum aku meninggalkan rumah. Rasa lega langsung memenuhi benakku. Aku masih ingat kamarku pernah berakhir berantakan dan beberapa juta uang simpananku juga ikut lenyap. Aku tidak tahu siapa yang berbuat seperti itu tapi hal itu jelas meninggalkan ketakutan tersendiri untukku. Tapi satu hal yang pasti, meski begitu aku tidak akan pernah melaporkan hal ini pada siapapun.
Aku langsung melipir dan menatap jadwal sebelum menyiapkan semua buku pelajaran. Aidan hanya memberiku waktu 10 menit dan aku harus segera bergegas agar dia tidak turun dan ikut masuk ke dalam rumah.