Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Psikopat Gila


__ADS_3

Author Pov


Sepanjang minggu ini pria itu sudah terlalu sibuk mengawasi Aretta. Bukan hanya kali ini, bahkan hal ini sudah sering dia lakukan dari jau-jauh hari hanya untuk memikat gadis yang sama sekali tidak menaruh perhatian padanya. Awalnya dia tidak mau berharap dan memilih untuk melepaskan karena gadis ini tampak seperti kutu buku yang sulit berinterkasi, tapi ada hal darinya yang membuat pria itu enggan menjauh.


Dia sudah mencoba memikat Aretta dengan ketampananya, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Dan itu membuat pria itu harus memutar otak untuk mencari alternatif lain agar bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia teramat marah ketika gadis itu kembali mengabaikannya dan memberinya tatapan yang penuh dengan rasa jijik. Dia merasa seperti sampah.


Dia bukan manusia yang bisa diperlakukan dengan sefrontal itu. Dan lagi dia cukup dikenal di kelompoknya, juga memiliki kekuasaan yang cukup tinghi, hanya saja Aretta tidak tahu tapi dia berencana untuk menceritakan hal itu ketika dia berhasil membuat Aretta bertekuk lutut di bawahnya.


Aretta tampak tidak tersenyum selama seminggu ini dan gadis itu tampak seperti tengah patah hati. Meski teman-temannya selalu bersamanya, tapi hal itu tidak mungkin bisa membuat Aretta tersenyum dengan mudah. Dewa merasa terganggu. Dia tidak mau melihat gadisnya cemberut sepanjang hari, jadi dia memutuskan untuk mencaritahu bajingan macam apa yang berani membuat gadisnya itu patah hati. Dan jika ada seseorang yang berani mengganggu Aretta, sudah dapat dipastikan orang itu akan langsung mati di tangan Dewa.


Padahal baru tadi malam dia menyiapkan ruang bawah tanah yang sudah di make over sedemikian rupa dan ditambah tempat tidur super comfy ntuk Aretta. Dia membuat ruangan itu senyaman mungkin agar gadisnya itu betah berada di sana. Dia juga berpikir jika Aretta akan menyukai kamar tersebut karena ruangan itu benar-benar dapat menjaganya bukan hanya dari sinar matahari, tapi juga dari para bajingan yang berusaha mengambil kesempatan untuk memanfaatkannya.


"Sempurna," gumamnya pelan sambil mengunci kamar kembali kamar di lantai bawah setelah dia periksa untuk terakhir kalinya. Dewa berangkat ke tempat kerja lebih pagi dibandingkan hari biasanya. Dia ingin melihat gadisnya lebih cepat karena di jam pelajaran pertama merupakan kelas Aretta yang akan masuk.


Jam yang dia tunggu akhirnya tiba. Dewa masuk ke dalam kelas dan mulai berdiri di dekat jendela untuk menyaksikan gadisnya masuk melalui gerbang sekolah. Ketika dia mengenali pemilik rambut coklat tergerai itu, detak jantungnya mulai meningkat dua kali lebih cepat. Dia ingin segera membawa Aretta ke ruang bawah tanah miliknya dan mendekapnya sepanjang malam.


"Belum untuk hari ini," ingatnya pada dirinya sendiri. Dia harus bersabar untuk kembali menunggu. Dia harus mencari moment paling tepat untuk membuat Aretta menjadi miliknya seutuhnya. Dan tampaknya usahanya dalam menahan diri membuahkan hasil karena ketika jam makan siang, dia mendengar ketiga sahabat itu saling berbincang.


"Jadi grand openingnya besok malam? Gimana, Lo nervous nggak?" Dewa memperhatikan pria yang menjadi satu-satunya teman Aretta itu. Awalnya dia sedikit terganggu dengan kehadiran pria itu, tapi ketika dia tahu bahwa pria itu memiliki kekasih, rasa terganggunya perlahan memudar.


Aretta hanya mengangguk sebagai jawaban, "Brezee udah lumayan lama tutupnya dan grand opening bazar gratis cuma dibuka dua hari."


Dewa baru tahu jika toko buku itu akan kembali beroperasi, tapi mengetahui jika Aretta ikut terlibat dalam bisnis itu merupakan kabar baru untuknya. Dia pernah mengikuti Aretta dan hal itu membuat dia tahu dimana gadis itu tinggal. Awalnya dia terkejut dan mengira gadis itu akan pindah begitu pemilik aslinya datang, tapi mengetahui jika kini menjadi salah satu owner merupakan berita menarik.

__ADS_1


Dewa kini sudah memilih waktu dan juga memiliki tempat. Dia juga telah memastikan gadisnya akan berada di acara tersebut besok malam. Hatinya membuncah. Dia berharap Aretta mengenakan dress cantik yang bisa menambah sinar di dirinya.


Pria itu menggelengkan kepalanya karena pemikiran itu. Aretta pasti terlihat sangat menggairahkan. Setelah merasa sudah mendapatkan informasi yang teramat penting, Dewa segera melangkah menjauh dari ketiga orang itu, menyusuri koridor kosong tanpa berniat untuk menatap balik ke belakang. Perasaanya teramat gembira dan dia bahkan hampir tidak bisa menahan diri.


Dewa benar-benar menepati janji yang dia buat dengan dirinya sendiri. Pria itu datang bahkan tanpa diundang oleh siapapun.


"Kamu bakal jadi milikku,"gumamnya pelan penuh dengan keyakinan. Jika bukan karena Aretta menemukannya tengah bermain api dengan salah satu gadis yang dia tidak ingat namanya, dia pasti tidak akan pernah tahu ada gadis secantik itu di sekolah ini. Penampilan biasa dan kecantikan yabg tertutupi itu membuatnya penasaran.


Dia terlaku terobsesi dengan gadis itu.


Iya, seorang Dewa. Salah satu petinggi dari geng mafia itu sudah jatuh cinta dengan Aretta.


***


Aku hari ini sudah bertekad dan akan meminta Aidan untuk berbicara padaku. Aku sangat ingin membahas bagaimana kelanjutan hubungan yang dipenuhi dengan jarak. Apakah dia masih menyukaiku atau tidak? Meski sesungguhnya aku masih berharap dengan perasaanya.


Kali ini aku bangun lebih pagi karena grand opening yang akan diadakan nanti. Aku membersihkan tempat, mengatur tempal sampel makanan, sampai menyiapkan souvenir untuk kenalan kami.


Aku kira hanya aku saja yang antusias dengan pembukaan ini, tapi ternyata banyak juga yang ingin tahu. Beberapa orang tampak sudah mondar-mandir di depan kafe, beberapa memotret plang schedule dan beberapa tetangga juga mengintip melalui jendela.


Hari ini juga adalah kedatangan perabotan sisa. Aku sebagai petugas yang harus menerima dan juga meminta tolong pada tukang untuk meletakannya di tempat yang semestinya. Semua barang dikirim tepat satu jam tanpa penambahan waktu.


Awalnya aku berniat untuk membolos dan membantu Gio dan Ana untuk mempersiapkan grand opening. Tapi Gio tidak setuju. Dia bersikeras memintaku untuk berangkat ke sekolah. Dia bahkan sampai meminta Aidan datang pagi ini untuk membawaku tanpa boleh aku protes sedikitpun.

__ADS_1


Karena Aidan datang terlalu pagi dan jam sekolah hari ini dimulai pada pukul 9, hal itu membuatnya berinisiatif untuk membantu para pekerja memindahkan barang. Aku sedikit terganggu melihat bagaimana otot bisepnya tercetak indah, bahkan aku sampai meruntuki diriku karena terlalu terpesona.


"Aretta." Gio memanggilku, "lo harus ke sekolah dan gye bakal kerjain semua sisanya sesuai dengan requestan dari lo." Aku mengerang dan Gio membalas dengan menggoyang-goyangkan sketsa bakal calon peletakan furniture kafe ke arahku, "gue punya ini dan lagi itu lo yang buat. Selama lo siap-siap, gue bakal ikutin instruksi di sini nanti lo tinggal periksa aja." Aku ingin menolak dan masih ingin melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ruangan ini dirombak.


Aku memang sudah membuat sketsa abal-abal karena aku berpikir ketika barang datang kami tidak mungkin bisa berinteraksi. Jadi, dengan adanya benda itu, gerakan kami lebih dimudahkan. Aku menggambar di mana meja panjang itu harus di letakkan. Kemudian juga menggambar berapa letak kursi di setiap meja, juga tentang bagaimana nanti bentuk rak buku akan di susun. Ini benar-benar konsep baru karena pembeli buku akan bisa memesan minuman. Atau para penyewa buku bisa membacanya di tempat yang nyaman.


Aku menghela napas pelan. Larangan Gio untuk membantu memang hal yang baik dan lagi setelah aku pikir-pikir, ini akan menjadi surprise luar biasa untukku sendiri.


Aku memang harus keluar dan sekolah. Pekerjaan ini biar menjadi tanggung jawab Gio saja. Aku bergegas membersihkan tubuhku kembali karena keringat yang ikut menempel. Ketika turun kembali untuk berangkat sekolah, aku mendengar suara Gio yang berteriak. Aku menoleh dan melihat Aidan yang sudah membuka pintu mobil untuk segera masuk.


"Gue titip Aretta, bisa?" Aku ingin mengumpati pria itu saat ini jika tidak ada banyak orang. Dialah penyebab kecanggungan yang melanda kami berdua dan kini dia malah mau membuatku terjebak kecanggungan yang levelnya lebih tinggi bersama pria itu. Apa dia gila?


"Oke." Aku menggeram kesal dan lebih terkejut ketika dia tidak menolak. Gio menuntunku ke mobil Aidan dan sudah seperti dugaan, kami hanya diam selama perjalanan menuju sekolah.


Tidak apa-apa jika kesunyian pagi ini tidak hanya diisi dengan kecanggungan atau ketegangan, tetapi karena kami berdua berada di bawah banyak tekanan akhir-akhir ini, situsi pun menjadi terasa mengerikan. Aidan berhenti di parkiran guru, karena merasa sangat terbantu, aku mengucapkan terima kasih kemudian melompat keluar dari mobilnya lalu berlari menuju kelas. Aku tidak pernah berpikir akan berlari menuju kelas, apalagi kelas Pak Dewa.


Aku tiba tepat waktu dan kelegaan langsung menghampiriku karena Pak Dewa tidak mengangguk.


"Morning," siapanya sopan sambil memberikan anggukan padaku. Aku sedikit bingung dengan situasi ini. Dia terlihat aneh jika bersikap seperti itu. Aku masih berpikir, tapi tidak mau ambil pusing. Dengan segera aku melangkah menuju kursiku di sebelah Rafa dan menoleh padanya untuk menanyakan apa dia juga merasakan keanehan ini.


"Lo ngerasa Pak Dewa aneh gak, sih?" tanyaku padanya sambil berbisik. Mengantisipasi agar tidak ada orang yang mendengar percakapan kecuali kami berdua.


Rafa menggelengkan kepalanya, "Gue tahunya dia sering merhatiin lo. Tapi sebelum lo masuk kelas, dia kelihatan gugup dan mondar-mandir di depan kelas."

__ADS_1


__ADS_2