
"Boleh," jawabku cepat, "tapi jangan sampai Gio tahu kalau aku lagi mata-mata ini dia," peringatku. Aku memang sangat membutuhkan informasi tentang Gio sekarang dan kesempatan ini tidak akan aku sia-siakan.
"Tenang aja. Teman aku udah profesional, lagian aku nggak bergaul sama orang yang main-main." Dia berusaha meyakinkanku, meskipun tidak profesional jika dia berhasil mengorek tentang Gio, tentu saja aku akan mengucapkan terima kasih. Lagian orang biasa macam kami tidak pernah memiliki pemikiran akan dimata-matai oleh orang lain.
Aku memang sudah bertekad, tapi kenapa rasanya aku menjadi gugup. Apa karena aku sangat berharap jika Gio benar-benar sudah berubah? Aku ingin kembali memiliki sosok kakak yang bisa menjadi teman berceritaku.
Begitu sampai di tempat perkumpulan mahasiswa tadi, Aidan langsung maju dan bertanya. Aku sendiri menunggu mereka selesai bercakap-capak sambil menyaksikan lorong yang kami datangi ini. Ada beberapa papan nama penunjuk arah yang diletakan di sini dan ternyata di lantai atas lorong ini adalah sebuah Mushola. Tempat dimana para mahasiswa/i beribadah. Di sisi lainnya adalah ruangan lab komputer yang sengaja di tutup dan diperuntukkan untuk mahasiswa yang mengikuti kelas tersebut.
Pandanganku kembali beralih bertepatan dengan Aidan yang datang menghampiri.
"Mereka ada di fakultas sains, ayo ke sana. mereka juga udah kasih tahu arahnya dan tempatnya nggak terlalu jauh dari sini. Aku juga dikasih peta," ucapnya sambil menggoyangkan kertas yang di dalamnya sudah berisi peta manual yang baru saja dibuat.
Aku mengangguk dan langsung mengikuti Aidan sambil sesekali membantunya membaca peta. Dan akhirnya kami menemukan kembali rombongan yang sempat terpisah. Beberapa anak tampak berdiri dengan raut wajah yang tampak bosan karena Kak Putra masih menjelaskan banyak hal. Aku melihat Rafa yang berdiri di pinggir dan langsung kuputuskan untuk mendekatinya. Aku menusuk punggungnya dan itu membuatnya langsung menoleh, tapi hal itu malah membuatku kesal karena dia menyeringai jail padaku.
"Nanti setelah ini kita akan kembali berkeliling ke fakultas lainnya dan dimohon untuk kembali mengikuti saya," seru Kak Putra dan semua murid hanya mengiyakan. Wajahnya sudah lelah dan terlihat enggan, tapi mereka harus tetap mengikuti karena ini kegiatan dari sekolah.
Aku juga sudah mulai melangkah untuk mengikuti mereka karena tidak mau tertinggal lagi, tapi suara pintu yang ditutup kencang membuatku berbalik.
__ADS_1
"Pak Damian," nama itu. Aku menegang di tempatku, itu nama yang sangat kukenal dan nama yang sudah lama tidak kudengar. Aku langsung membalikkan langkahku dari berbalik untuk melihat sosok bernama Damian. Aku juga melewati Aidan yang juga membuat pria itu sontak mengikutinya.
"Kenapa?" tanyanya, begitu berhasil menyusul.
Langkahku terasa sangat berat ketika jarak antara aku dan sosok itu semakin dekat. Tubuhku sedikit bergetar. Tidak mungkin. Ini pasti salah, batinku. Tidak mungkin orang itu ada di sini, di tempat yang tidak pernah aku pikirkan.
Tampaknya semesta memang tengah mempermainkanku. Tubuhku menjadi kaku, mataku membola karena terkejut, dan mulutku terbuka. Kata pertama yang berhasil keluar dari mulutku adalah kata paling menyakitkan. Kata yang tidak pernah aku pikirkan bisa aku gunakan kembali.
"Papa?!"
"Aretta," ucapnya. Tatapan mata penuh ketidakpercayaan terpancar di sana. Raut wajah lega sekaligus sedih terpancar dari mata tuanya, "apa... apa ini.." bahkan dia sampai kehilangan suara dan kata-kata. Dia menatapku dari atas ke bawah, tampak tidak percaya dengan pengelihatannya sendiri. Sosok itu pun mulai melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tinggal dua langkah kaki.
"Papa nggak percaya... bisa lihat kamu lagi," ucapnya pilu.
Papa langsung menarikku masuk ke dalam dekapannya. Dia memelukku erat seolah tidak ada hari esok, bahkan dia menghujaniku dengan ciuman sayang di kepalaku. Papa kemudian melepaskan pelukannya dan mengusap pelan wajahku. Dia masih tampak tidak percaya jika aku berdiri di depannya.
"Jadi selama ini Papa ada di sini?" tanyaku, "Papa ada di sekitar aku tapi Papa nggak pernah hubungin aku sama sekali? Papa ninggalin aku tanpa pamit dan Papa juga biarkan aku ada di rumah itu tanpa ada seorangpun yang peduli sama aku," emosiku memuncak. Aku mengeluarkan semua kekesalan dan kemarahan yang bersarang dalam hatiku.
__ADS_1
"Papa tahu nggak apa yang aku alami? Apa yang dapat selama ini? Papa tahu nggak?" teriakku kalap sambil mencengkram erat jas labnya. Aku menangis, tangisan yang sudah payah aku tahan, tangisan yang tidak pernah aku biarkan keluar, semua runtuh dalam sekejap ketika Papa memelukku.
"Papa-"
Aku langsung memotong kalimatnya sebelum dia mulai berbicara lagi.
"Kenapa Papa nggak pernah telepon Aretta? Kasih kabar atau jengukin Aretta? Aku di sana ngerasain hidup kayak di neraka semenjak Papa tinggal pergi. Mama terus-terusan nyalahin aku. Dia terus mojokin aku karena menurut Mama aku yang buat Papa pergi. Papa nggak tahu kan gimana rasanya jadi Aretta? Waktu itu aku masih kecil. Nggak tahu apa-apa dan terus disalahkan soal sesuatu yang aku sendiri nggak tahu kenapa itu bisa terjadi. Aretta disiksa, dimarahin, dipukulin, dan Aretta nggak boleh ngeluh saat itu Papa," kataku lagi. Aku mengucapkan hal itu sambil mengulum lengan sweater yang aku gunakan untuk menunjukkan bekas-bekas luka yang aku dapatkan karena siksaan dari Mama.
Tatapan Papa yang awalnya berbinar karena bertemu denganku langsung meredup seketika. Ketakutan tampak terlukis jelas di matanya. Papa terlambat, harusnya dia menunjukkan raut seperti itu sejak dulu. Sejak dia meninggalkanku untuk hidup bersama Mama yang memperlakukanku bagai binatang.
Yang seharusnya takut itu aku, bukan dia. Setiap hari aku selalu dihantui rasa takut. Takut untuk dibuang, ditinggalkan, dilempar dari tangga, atau didorong ke jendela. Rasa takut itu menggerogotiku sejak kecil hingga membuatku tumbuh menjadi sosok pengecut.
Aku lirih seketika. Air mataku masih terus-terusan mengalir. Emosi ini menguras energiku, bahkan aku saja sampai menangis sesenggukan. Memang apa yang bisa aku lakukan dikondisi seperti ini. Aku hanya ingin Papa tahu bagaimana hidup yang aku alami selama ini. Aku ingin membuat dia tahu jika aku tidak bahagia. Aku takut dan aku butuh sosok pelindung yang tidak pernah aku dapatkan dari Mama.
Memangnya harus seperti apalagi aku menjalani hidup. Ditinggalkan, dibenci, dan diacuhkan, semua sudah aku rasakan dan aku sudah muak dengan semua itu.
Aku juga ingin hidup normal. Hidup normal seperti remaja pada umumnya yang tidak perlu mengkhawatirkan keselamatan diri.
__ADS_1