Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Aidan yang Perlahan Berubah


__ADS_3

Berkat kesabaran hati untuk menahan semua macam keributan yang mengisi lantai bawah, kini akhirnya toko yang kami dambakan sudah jadi. Lantai dibuat dengan aksen kayu dan bagian dinding di cat warna biru langit dengan sebagiannya dibiarkan ekspos bagian batu batanya. Semuanya tampak luar biasa dan menenangkan.


Oma Dewi tidak ikut serta dalam pemeriksaan tahap awal. Kondisi tubuhnya yang perlahan memburuk membuat dia hanya menyaksikan perubahan melalui foto yang aku atau Aidan kirimkan, tapi aku masih sangat berharap Oma bisa datang ketika pembukaan kafe resminya nanti.


Davin juga ikut turun tangan karena dia memiliki bisnis yang sama. Dia mengajarkan kami cara menyortir keuangan dan bagaimana cara memanajemankan penjualan. Meski rasa kecewa itu masih terasa tapi berkat kesibukan ini aku sedikit terbantu. Setidaknya aku harus bisa bertahan sampai berhasil lulus, jika kedepannya kami memang tidak bisa bersatu, aku juga harus mempersiapkan diri.


Kalo ini aku terpaksa mandi lebih awal karena Aidan akan datang. Sejujurnya jika boleh menolak aku lebih memilih untuk tidak harus bertemu dengannya daripada kami berakhir dengan diam. Tapi hari ini ada yang harus aku katakan padanya dan sudah bisa dipastikan jika dia akan menyukai berita ini.


Aku telah menyelesaikan mandiku dan melangkah menuju kamar. Ana dan Gio sedang asyik berduaan di home teather karena ini weekend. Aku memutuskan mengenakan dress nyaman dipadu dengan cardigan.


Kali ini aku tidak berdandan berlebihan. Hanya menggunakan cushion dan lipstik untuk mencerahkan penampilanku. Aku tidak bermaksud membuatnya terkesan, hanya kali ini aku ingin lebih menghargai diriku sendiri dan dengan begini aku semakin percaya diri.


"Dek! Aidan udah mau sampai. Nggak usah ngurung diri dan bersikap seolah-olah kamu nggak ada di rumah," teriak Gio dari lyar. Aku hanya menggumam dan kembali memperhatikan penampilanku di cermin.


Suara pintu yang dibuka terdengar sampai kamarku. Aku juga mendengar suara dua orang pria yang saling berbincang. Aku langsung keluar dari kamarku dan duduk di salah satu sofa. Tidak lama kemudian Aidan ikut bergabung. Tidak ada ucapan halo, tapi aku bisa melihat dia sekilas menatapku.


"Jadi..." ucap Gio memulai, "bisa kita mulai bahas sekarang keputusan final yang udah kita tunda?"


Dia benar, yang akan kita bahas hari ini adalah keputusan yang bisa merubah alur seluruh bisnis sebelumnya. Kami sama-sama duduk di sana dalam diam.

__ADS_1


Awalnya aku hanya mendengarkan karena pastinya nanti kami akan mendapat giliran berbicara. Ketika aku mulai mengemukakan pendapat, kedua orang itu tampak terkejut. Apalagi ketika aku menyebutkan nama toko yang lama. Mungkin mereka tidak menyangka jika aku akan ikut menyumbangkan ide.


"Menurut gue lebih baik kita pertahankan nama itu karena bagaimanapun bisnis ini idenya Oma Dewi. Dan lagi kalau kita pakai nama Brezee semua pelanggan Oma pasti akan tahu dan itu bisa jadi target market kita karena sebelumnya tempat ini juga udah dikenal. Cuma konsepnya berbeda dan ditambah."


Baik Gio maupun Aidan tampak berpikir dan mempertimbangkan gagasan itu.


"Thank you Aretta. Lo udah ingatin gue kalau bisnis ini dibangun karena Oma," kata Aidan. Dia menatapku lekat tapi yang membuatku sedikit kaget adalah cara dia menggunakan kata ganti penyebutan nama.


"Gue setuju." Gio berucap dan membuatku menoleh padanya, "cuma itu aja kan?" tanyanya lagi. Aku berpikir dan mengangguk.


"Tapi gue mau kalian berdua ada di sini besok jam 9 karena barang-barang bakalan sampai di jam itu. Gue sengaja ngumpulin kalian biar kita bisa kerja sama dan supaya nggak ada misscom kalau ada barang yang nggak ditaruh di tempat yang nggak disetujui." Aku memiliki banyak waktu dan tidak mau aku gunakan hanya untuk memikirkan Aidan. Cara terbaik untuk menyibukkan diri adalah membereskan toko.


"Kita mau pakai tanda yang lama apa buat yang baru? Kalau buat baru langsung diskusikan sekarang aja biar bisa gue pesan ."


Aku hanya diam menunggu respon dari Aidan. Tapi tampamnya pria itu juga tampak bimbang. Mungkin dia segan karena dari awal semua konsep dan printilannya mengikuti style Oma, meskipun tidak ada yang salah dengan pilihan stylenya.


"Pakai yang lama aja soalnya kita cuma ngerombak toko. Kayak yang udah kita setujui di awal, semuanya mengikuti konsep toko lama tapi tetap ada tambahan sedikit."


"Pasti Oma bakalan senang banget karena lo mikirnya sampai sebegitunya."

__ADS_1


Aku meringis. Sejak awal memang ini impian Oma. Aku dan Gio hanya menyumbangkan modal supaya kami bisa tetap melanjutkan hidup tanpa bantuan Mama dan Papa.


"Jadi semua udah fix, ya," ucap Gio, "berarti besok gue tinggal bongkar barang buat cari tandanya. Gue juga bakal minta tolong Davin untuk bantu pasang."


Tampaknya semua urusan dan printilan tentang toko sudah terselesaikan dan kami kini hanya tinggal duduk di ruangan ini tanpa melakukan apa-apa. Aidan dan aku sudah tidak lagi berbicara banyak sejak kejadian itu dan Gio tentu saja tengah fokus menyesap bir milinya. Sejak pindah pria itu memang membeli kulkas khusus minuman yang dia isi dengan bermacam-macam jenis minuman. Tapi tentu saja bagian bir yang paling dia isi penuh walau aku masih sangat dilarang untuk menyentuh minuman tersebut.


"Kalau gitu gue balik. Masih ada kerjaan yang harus gue urus," kata Aidan tiba-tiba. Gio meringis merasa bersalah, tapi dia tetap menyesap nikmat bir di tangannya.


"Lo yang antarin dia turun, dek." Dia memerintahku dan itu membuatku mendengus. Aku memimpin Aidan untuk keluar tanpa mengeluarkan suara. Kami menuruni tangga dan melewati bagian dalam toko yang hampir jadi itu bersama-sama. Benar-benar sunyi dan dia juga tidak ada inisiatif yang membuatku semakin kesal.


Begitu aku membuka pintu dan dia keluar, aku rasanya ingin segera berbalik dan pergi. Tapi Aidan menahan lenganku yang sontak membuatku menoleh padanya.


"Thank Aretta." Dia mengucapkan kalimat itu dengan bersungguh-sungguh. Aku tidak tahu dia mengucapkannya untuk apa. Entah karena aku sudah membantunya mempertahankan segala aspek tentang toko atau karena aku sudah mengantarnya keluar.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman tapi tidak mengucapkan apa-apa juga. Aidan langsubg berbalik dan melangkah menuju mobilnya. Aku hanya bisa menghela napas, merasa lega karena kecanggungan itu sudah berakhir.


Kini aku kembali berjalan menaiki tangga untuk kembali ke rumah dan menemukan Gio masih berada di tempatnya. Pria itu masih menikmati bir yang entah sudah keberapa untuk hari ini.


"Gue tahu lo ngerasa nggak adil, tapi gue yakin lo mampu buat lewatin semua ini. Sorry, gue terpaksa ngelakuin hal ini karena gue nggak mau lo ngerasain patah hati. Belum saatnya. Gue mau lo bahagia untuk sekarang, kalau sekiranya waktunya udah tepat gue bakal lepasin lo dan lo boleh jalin hubungan sama siapa aja. Please, tahan sebentar." Aku mengangguk pelan. Gio benar, lagipula waktu untuk saling mencintai masih panjang.

__ADS_1


__ADS_2