
Aku menggumamkan kata maaf.l dan Rendi oangsung merangkulku dan mengusap pelan rambutku, "Gue bercanda. Kenapa lo anggap serius sih."
Aku sebenarnya masih tidak nyaman dengan skinship yang sering lakukanpria itu, tapi sepertinya keluar dari zona nyaman bukan sesuatu yang salah selama itu tidak merugikanku. Toh Rendi bersikap seperti itu karena dia memang menganggapku teman, kan?
Kami berjalan beriringan menuju kelas biologi, sedikit memakan waktu karena kelas biologi berada di gedung sebrang.
"Ini," kata Rendi sambil menyerahkan sweater dongker padaku
"Buat apa? Itu bukan punya gue?" ujarku cepat sambil mengembalikan benda itu padanya. Apa yang dia pikirkan sebenarnya saat memberikanku barang yang jelas-jelas tidak pernah aku gunakan sebelumnya.
"Ini punya gue. Lo tadi menggigil dan kelas biologi acnya juga lumayan dingin. Lo bisa pakai sweater gue karena gue masih ada satu lagi di loker. Cepat dipakai," jelasnya.
Aku tersenyum samar dan menggangguk, "Terima kasih," kataku sebelum memakainya sambil masih terus berjalan menuju kelas biologi.
Kami akhirnya sampai di kelas biologi tapt waktu. Aku masuk ke kelas melewati semua siswa yang sudah duduk di kursinya masing-masing. Aku mengambil tempat tepat di samping Rendi. Setelah kejadian dimana Pak Dewa mengancam ku, aku jadi sama sekali tidak menunggu kelas ini dan tidak menantikannya. Aku malah berharap, aku dikeluarkan selamanya dari kelas ini. Aku sudah terlalu sering bertemu dengan Pak Dewa hingga rasanya aku mulai muak jika hanya melihatnya untuk sebentar, tapi jika aku menghindar akan timbul kecurigaan yang tidak diperlukan. Aku tidak mau orang-orang tahu dan nantinya malah akan merugikanku sendiri.
Melihat seringaian dari bibir Pak Dewa sontak membuatku tidak tenang. Sepertinya pria itu memiliki rencananya sendiri karena dari tatapannya dia seakan dia tidak ingin melepaskanku begitu saja.
"Hari ini saya akan mengadakan ulangan," serunya yang sontak membuat beberapa siswa memprotes. Suara di kelas sudah berubah bagai dengungan lebah yang tengah pergi keluar bersama.
"Soalnya gampang dan kalian udah pernah belajar sebelumnya. Nilai ulangan bakal Bapak akumulasikan ke hasil akhir," katanya lagi sambil menyerahkan lembaran kertas pada kami. Saat dia meletakkan kertas soal di hadapanku entah kenapa perasaan tidak nyaman itu semakin terasa kental. Gerakannya sangat lembut tapi syarat akan ancaman.
__ADS_1
Aku mulai meraih kertas di depanku dan membacanya. Keningku mengernyit karena soal yang diberikan belum pernah aku pelajari. Melihat teman lainnya yang langsung mengerjakan soal, sepertinya hanya milikku yang tidak sesuai. Aku akhirnya memutuskan untuk mengerjakan soal yang tidak pernah aku tahu jika materi seperti ini akan dibuat untukku. Aku mulai membaca semuanya dari awal hingga akhir, memahami dan mulai menjawab sesuai dengan apa yang aku mengerti.
Pertanyaan terakhir sudah aku jawab dibarengi dengan perintah Pak Dewa yang meminta kami untuk mengumpulkan kertas ujiannya. Dia muncul di sampingku saat aku tengah mengenakan tasku dan dia menyeringai. Seringai yang mengatakan untuk tidak macam-macam dengannya.
Aku tidak memberikan respon karena aku tidak peduli. Untung saja Rendi memanggilku dan membuatku segera melangkah keluar dari ruangannya. Melupakan hal ini dan mengisi perut merupakan pilihan yang bijak.
Aku sebenarnya lebih suka makan sendiri, tapi ajakan Rendi tidak bisa aku tolak karena dia temanku. Kamu bertemu di taman belakang. Aku kira area itu akan banyak sarang nyamuk dan tidak terawat karena letaknya yang dibelakang gedung, tapi ternyata dugaanku salah. Tempat ini malah terlihat nyaman apalagi memiliki atap transparan yang bisa melindungi dari panas dan hujan.
Aku dan Rendi duduk di salah satu bangku. Dia mengeluarkan tas kecil dari ranselnya. Didalamnya ada kotak nasi yang isinya pasta dan beberapa kroket. Dengan cepat dia langsung melahapnya sebelum berbicara denganku.
"Jadi gimana tadi ulangannya?" tanyanya dengan mulut penuh yang membuat pengucapannya terdengar aneh.
"Susah. Apa soalnya emang diambil dari luar materi?"
"Maksud lo apa? Kita udah sering belajar materi itu dan lo juga pernah cerita kalau lo sampai hafal di luar kepala," katanya, "itu soal tentang pertumbuhan dan perkembangan."
Kenapa begitu? Soal yang aku terima bahkan bukan mengenai itu. Aku mendapatkan soal tentang materi genetik. Ternyata dugaanku benar jika hanya soal milikku saja yang berbeda.
Aku sedikit mendengus ketika tahu apa yang tadi Pak Dewa lakukan. Ternyata dia sengaja merubah soalku ke materi yang belum pernah kami pelajari agar aku sulit untuk menjawab soal. Aku tahu dia brengsek, tapi aku tidak menyangka jika dia sampai melakukan hal ini untuk merusak nilaiku.
"Ah gitu. Kayaknya gue yang nggak konsen deh," ralatku cepat. Dia menerima jawabku dan kembali melanjutkan makannya.
__ADS_1
"Lo nggak makan?" tanyanya lagi.
"Nggak."
"Kayaknya dia nggak bakal suka kalau tahu lo nggak makan, Ret."
Aku menatap Rendi dengan kening mengerut. Dia siapa? Aku belum sempat bertanya saat Rendi sudah membuka mulutnya.
"Tadi gue dengar obrolan kalian dan kayaknya dia datang buat langsung mastiin lo."
Ah, ternyata dia. Aku ingat soal tadi pagi dan aku sangat tidak berharap apa yang Rendi katakan terjadi. Aku mengikuti arah pandang Rendi dan menemukan Pak Aidan yang datang dengan membawa sesuatu di tangannya.
"Halo pak," sapa Rendi. Pria itu mempersilahkan Pak Aidan untuk bergabung sambil menunjuk kursi kosong di sampingku . Pak Aidan menjawab sapaan Rendi dan bergerak cepat untuk duduk. Dia juga membuka tas yang dia bawa yang baru aku ketahui jika itu tas bekal. Dia menyodorkanku kotak karton yang masih hangat.
"Kita tadi bahas soal konsekuensi, dan ini konsekuensi yang kamu dapat. Saya akan lihat kamu makan dan habisin makanan yang sudah saya siapkan." Dia mengatakan itu sambil melirik pada makanan itu agar aku segera bergegas untuk makan.
Aku membukanya dan menemukan rice bowl dengan menu ayam krispi asam manis dengan tambahan sambel dan selada di dalamnya. Aku melirik sedikit ke arah Pak Aidan. Aku sebenarnya suka ayam tapi karena aku harus menurunkan berat badanku, aku hanya akan makan dada ayam yang direbus.
"Saya tahu kamu bakal tolak, tapi sekarang kamu nggak bisa lakuin itu. Kamu harus makan tanpa sisain satu ayamnya pun." Pak Aidan mengatakan itu seolah dia tahu apa yang sedang aku pikirkan. Padahal aku sama sekali tidak menyebutkan apa yang menjadi pantanganku untuk kumakan.
"Bapak nggak usah repot-repot aturan," ucapku, dan itu berhasil membuat Rendi tertawa dan mendengus. Aku melihatnya dan dia hanya menatapku dengan mata terangkat tanda dia dia menantangku untuk ribut di depan Pak Aidan.
__ADS_1
"Lo nggak bisa bohongi kita. Udah jelas lo pingsan kemarin itu gara-gara lo nggak makan. Makannya tadi Pak Aidan suruh lo istirahat aja."
"Kenapa nggak bilang dulu ke saya," ucapku tajam, "saya baik-baik aja dan saya juga masih sanggup buat lari. Kalau kalian mutusin semuanya sendiri tanpa kasih tahu saya, itu artinya kalian menganggap saya lemah," kataku sambil berdiri dan sudah akan melangkah pergi.