
Aku mendengar semua umpatan dan kata-kata kasar darinya, tapi aku tidak ambil pusing walaupun aku tahu apa yang dia katakan bukanlah sebuah kebohongan. Yang aku pikirkan saat ini hanya bagaimana aku bisa terlepas dari pria itu untuk sekarang.
Kakiku masih gemetar ketika aku berlari melewati pintu ganda yang membawaku menuju taman. Aku memang tidak memikirkan akan berlari kemana, tapi nampaknya alam bawah sadar membawaku ke tempat teraman versiku. Untungnya semua orang sedang berada di kelas, jadi tidak ada yang menyaksikan wajah sembabku yang sudah dipenuhi air mata.
Aku memutuskan untuk pergi menuju ruang guru. Untungnya kantor guru di sini sudah disediakan di ruang masing-masing. Aku terus berjalan mencari papan nama yang aku kenal. Aku berdiri sejenak di depan ruangan Aidan, walau tahu jika tingkahku tidak sopan tapi aku sangat membutuhkan kehadiran dia sekarang.
Aku mengangkat tanganku yang gemetar ke pintu dan mengetuknya pelan. Aku sangat berharap dia ada di kantor.
Pintu berderit dari dalam dan Aidan muncul. Begitu dia melihatku yang menangis di luar ruangannya, wajahnya berubah menjadi panik. Aku tidak menyalahkan dia karena dia tidak melakukan hal yang salah. Hanya keadaan saja yang membuatku seperti ini.
Aidan meraih lenganku dengan lembut dan membimbingku masuk ke sofa di kantornya. Sofa yang sama yang aku gunakan ketika aku pingsan di kelas olahraga beberapa waktu yang lalu. Aku perlahan duduk dan mulai merasa aman karena sudah bersama dengan Aidan. Mengetahui hal itu malah membuat air mataku semakin deras mengalir.
Pria itu tidak menanyakan apa yang terjadi pada awalnya, hanya menerima kedatanganku yang tampak kesal. Aidan beringsut mendekatiku dan melingkarkan lengannya di punggungku sambil menarikku mendekat padanya. Aku meletakkan kepalaku di dadanya ketika tangannya mengusap pelan kepalaku. Beberapa anak rambutku juga menutupi wajah karena aku banyak menangis dan dia menyelipkannya di belakang telinga dengan lembut. Ketika tangisku mereda dan napasku mulai lebih stabil, dia baru mulai bertanya.
"Kenapa?" suaranya lembut penuh dengan perhatian. Aku tahu dia bahkan tidak bersusah payah untuk menyembunyikan kekhawatirannya.
Aku menarik napas panjang dengan tubuh yang masih sedikit gemetar. Aku bimbang antara memberitahu atau tidak karena aku tidak mau menjerumuskan Aidan. Aku juga tidak mau membawa masalah baru untuknya. Pria itu sudah melakukan banyak hal dan aku tidak mau membalas kebaikannya dengan malah menambah masalah.
Aku menghela napas lagi dan memutuskan untuk tetap menutupinya.
"Maaf. Aku nggak bisa kasih tahu kamu tapi aku janji bakal bicara kalau aku berhasil selesaikan masalah ini. Aku cuma lagi butuh seseorang yang mau memelukku dan menyemangatiku lalu mengatakan padaku kalau semua ini akan baik-baik saja." Aku berbicara dengan sangat pelan sambil berusaha menahan gelombang air mata yang akan menyeruak keluar.
Aidan mendesakkan bibirnya ketika tidak mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya. Dia tiba-tiba berdiri dari sofa dan mulai mondar mandir di dalam kantor kecilnya. Ruangan itu sangat kecil karena sudah dipenuhi satu set meja kerja dan sofa tapi tetap masih bisa digunakan pria itu untuk mondar-mandir. Ekspresi wajah Aidan terlihat campur aduk. Marah, sedih, kecewa, dan bingung semua ada di sana. Dia kemudian beralih untuk menatapku.
"Kamu tahu kan aku bakal ada di sini waktu kamu membutuhkanku. Sama seperti sekarang," ucapnya sambil menekankan kalimatnya, "kamu harus janji untuk datang ke aku kalau kamu butuh bantuan. Jangan disimpan atau ditahan sendiri semua masalah kamu karena dampaknya akan lebih buruk dari hari ini." Aku mengangguk mendengar penjelasannya dan meyakinkan dia bahwa aku akan melakukan sesuai perintahnya.
Aidan kembali duduk di sampingku seraya memelukku lagi.
"Semuanya akan baik-baik aja dan aku percaya kamu pasti bisa lewati cobaan ini," ucapnya pelan sambil mengusap pundakku. Meskipun dia tidak tahu apa yang terjadi, kata-kata sendiri sudah menjadi penghibur dan berhasil membuatku tenang. Bahkan air mataku sampai berhenti mengalir dan napasku kembali normal.
Kami berada di ruangan itu dan hanya saling duduk diam hampir selama satu jam penuh dan itu bersamaan dengan selesainya kelas olahraga hari ini. Begitu bel berbunyi aku segera berdiri. Hal itupun dilakukan oleh Aidan. Dia terkekeh ringan sebelum berkata.
"Habis ini aku masuk kelas," ujarnya dan aku langsung bergumam mengucapkan maaf setelah membuatnya hanya diam tanpa menyiapkan materi untuk mengajar.
"Aretta!" panggilannya lagi, mencoba menarik perhatianku. Aku hanya menundukkan kepalaku tapi tetap mendengarkan dia, sayangnya Aidan tampak tidak senang dan dia mengangkat wajahku agar mata kami dapat saling berpandangan.
"Jangan pernah minta maaf, Aretta." Aku tersenyum kecil. Entah apa yang akan terjadi denganku jika saja aku tidak mengenal dia. Aku tidak mau membayangkan kesulitan yang akan menimpaku seandainya hal itu terjadi
__ADS_1
Jari Aidan yang berada di bawah daguku semakin mengangkat kepalaku tinggi dan membuatku bertanya-tanya tentang apa yang ingin dia lakukan, tetapi ketika melihat bagaimana dia menarik napasnya pelan membuatku terdiam. Tangannya yang masih berada di sana merambat menyentuh tulang pipiku hingga ke leher dan membuatku semakin mendongak. Dia mengusap pelan dan membuatku sedikit tersentak ketika jari itu menyentuh bagian lain. Tampaknya Pak Dewa tadi mencengkram leherku lebih kencang dari pada yang aku bayangkan.
"Aretta dengar. Aku tahu ini masalah ini pribadimu, tapi kamu harus tetap tepati janji." Matanya menatapku penuh permohonan yang tentu saja tidak bisa aku tolak. Aku juga sudah berjanji untuk lebih menghargai hidupku dan diriku. Kali ini aku bersungguh-sungguh.
Bel kembali berbunyi. Kali tanda jika pelajaran harus segera dimulai yang membuat Aidan mengumpat pelan.
"Kamu bisa terus di sini selama apapun itu. Aku pergi ngajar dulu." Aku tersenyum dan berterima kasih padanya.
Aidan mengangguk dan segera meraih buku-buku yang akan dia gunakan untuk mengajar. Pria itu bergerak cepat namun tetap berhati-hati ketika membuka dan menutup pintu. Dari ruangannya ini aku dapat mendengar suara langkah kaki miliknya yang semakin menjauh. Aku kembali merasa sendiri.
Ruangan Aidan diisi juga dengan lemari berpintu kaca. Walau bukan cermin tapi kaca itu masih dapat memantulkan siluet tubuh dan penampilan orang. Aku menatap diriku dan tiba-tiba saja merasa jijik. Aku menanggalkan pakaian olahragaku untuk menghilangkan aroma yang tertinggal milik Pak Dewa di sana. Aku menggantinya dengan seragam resmi lainnya.
Untung saja Aidan tidak kembali lagi setelah pergi jadi aku memiliki waktu untuk berganti. Aku mengabaikan memar yang tertinggal di perutku yang kudapat dari Mama saat akan kembali mengganti pakaian.
Meski sudah menghilangkan bekas Pak Dewa, aku masih merasa kotor ketika mengingat kembali bagaimana dia menyentuhku dan meremas dadaku. Aku mencoba melupakannya sambil mengeluarkan botol antiseptik untuk pembersih tangan yang aku gunakan untuk membersihkan sisa-sisa cumbuannya yang tadi memenuhi wajah, leher, dan semua bagian tubuhku yang dijamahnya.
Semua sudah bersih bahkan aku sampai mengulangnya. Sayangnya aku masih tidak bisa menghilangkan kenangan soal kejadian tadi. Sangat sulit untuk menerima, tapi aku tidak mau terbawa suasana dan memikirkan hal-hal lainnnya. Karena aku membolos, akhirnya aku memutuskan untuk belajar dan berharap kenangan buruk itu juga ikut menghilang. Aku memfokuskan diri karena takut jika aku lengah kenangan buruk itu akan kembali.
Kepergian Aidan membuat ruangan terasa sangat sepi. Aku kembali merasa sendiri.
Meski sudah menghilangkan bekas Pak Dewa, aku masih merasa kotor ketika mengingat kembali bagaimana dia menyentuhku dan meremas dadaku. Aku mencoba melupakannya sambil mengeluarkan botol antiseptik untuk pembersih tangan yang aku gunakan untuk membersihkan sisa-sisa cumbuannya yang tadi memenuhi wajah, leher, dan semua bagian tubuhku yang dijamahnya.
Semua sudah bersih bahkan aku sampai mengulangnya beberapa kali. Sayangnya aku masih tidak bisa menghilangkan kenangan soal kejadian tadi. Sangat sulit untuk menerima, tapi aku tidak mau terbawa suasana dan memikirkan hal-hal lainnya.
Karena aku membolos, akhirnya aku memutuskan untuk belajar dan berharap kenangan buruk itu juga ikut menghilang. Aku memfokuskan diri karena takut jika aku lengah kenangan buruk itu akan kembali. Aku masih tidak tenang meskipun sudah berada di ruangan ini. Aku masih takut jika Pak Dewa tiba-tiba datang menyerang
Setelah berpamitan pergi, hingga sekarang Aidan belum kembali. Aku sempat melihat kalendernya yang bertuliskan rapat dengan beberapa guru dan staff. Aku sudah akan mencoba belajar kembali tapi tanganku sudah mulai memerah yang membuatku berhenti belajar. Aku menunggu dalam diam dan ketika bel berbunyi tanda İstirahat, aku segera berkemas dan bergegas pergi dari ruangan Aidan.
Kerumunan para siswa dan siswi tampak meluap memenuhi koridor dan tangga, apalagi suasana kantin. Di sana juga sangat penuh dan sesak. Aku sangat berharap banyaknya siswa ini membuat diriku terlindungi dan tidak tertangkap radar Pak Dewa. Aku langsung menyelinap keluar dan pulang
Aku hampir sampai ke pintu keluar tapi pandangan waspadalah masih kuaktifkan. Setelah memastikan tidak ada yang sadar, aku segera keluar
Aku tersentak ketika berbalik dan menemukan mata hitam itu menatapku tajam Raut wajahnya dipenuhi amarah dan dia sampai mengepalkan tangannya. Mata hitam itu memandangku seolah aku memang harus dimusnahkan tapi aku aku memutuskan untuk beranjak pergi sebelum dia berhasil menangkapku.
Aku berlari dan terus berlari meninggalkan dia. Orang itu sangat menakutkan.
Entah sudah seberapa lama aku berlari sampai aku bernenti di halte. Halte kesekian karena tadi aku sengaja melewatkan halte halte sebelumnya karena takut tertangkap. Aku memutuskan untuk naik bus kota dan ketika aku masuk, sang sopir menatapku lekat. Mungkin dia berpikir jam sekarang bukan waktunya untuk siswa sekolah berkeliaran, tapi ketika menatap wajahku sopir itu menghela napas pelan dan membolehkanku untuk masuk.
__ADS_1
Perjalanan menggunakan bus terasa menyenangkan. Namun ketika sang sopir melewati jalan bergeronjal aku merasakan sakit dan itu menyandarkanku kenapa aku bisa naik kendaraan ini.
Kesadaranku membuatku menatap sekeliling. Di dalam
sini aku melihat dan memperhatikan orang-orang sebagai
dalih mengenyahkan kejadian tadi. Orang yang tidak kukenal dan aku ketahui. Rasanya aneh ketika kami yang tidak saling kenal tapi kami melakukan perjalanan bersama dan tidak mencoba sedikitpun berkomunikasi.
Aku menoleh lagi dan menemukan wanita sepuh dengan tongkatnya yang tengah berjuang menyimpan tas belanjanya di antara kakinya. Kemudian bocah laki-laki berpenampilan kumuh yang aku taksir dia juga sedang membolos sama seperti aku. Aku juga melihat ibu muda yang membawa bayinya, terbungkus selimut usang di pelukannya. Ibu itu masih bisa tersenyum hangat pada anaknya. Lalu aku beralih lagi dan menemukan seorang gadis yang meringis setiap kali melewati jalan berlubang. Kami semua berbagi perjalanan yang sama, tapi kami hanya menahan semuanya sendiri. Aku menghela napas ketika mendengar suara BIP yang menandakan jika bus akan berhenti di halte selanjutnya.
Bus perlahan berhenti di tepi halte dan aku beserta
seseorang lagi turun. Bocah tadi dan aku mengucapkan terima kasih dan berjalannya berlawanan arah. Aku terdiam sejenak dan berpikir tentang apakah aku mengenal anak itu atau tidak karena kami berhenti di halte yang sama.
Aku melangkah menuju rumah karena kini tempat tinggalku sangat dekat dengat halte. Aku bersyukur karena tempat ini mudah dijangkau oleh kendaraa umum meski sesungguhnya Gio masih memintaku untuk terus diantar olehnya, Aku masuk dan menaiki tangga menuju tempat tinggal kami. Lantai satu diputuskan untuk digunakan sebagai tempat bisnis.
Begitu masuk aku tidak menemukan seseorangpun dan hanya kesepian yang menyambut. Tampaknya Ana dan Gio sudah pergi ke kampus.
Aku memutuskan untuk segera masuk ke kamar mandi. Kulepaskan semua pakaian yang aku gunakan dan setelah itu aku menggosok tubuhku hingga kulitku terasa merah dan pedih dengan menggunakan sabun. Aku tidak mau merasakan bekas Pak Dewa di tubuhku jadi aku juga membiarkan air mengaliri tubuhku. Hampir dua jam aku membersihkan diri dan mematikan shower setelah puas menangisi kebodohanku. Aliran air hangat yang keluar membuat tubuhku mengeluarkan uap yang mengepul dan membuat kamar mandi dipenuhi uap. Aku bergerak menuju kamar begitu selesai dan mengenakai pakaian santai dan Hoodie longgar yang diberikan Gio sebagai hadiah sambutan perpindahan ke rumah baru.
Sekarang aku merasa lebih bersih setelah membersihkan diri. Aku juga langsung bergegas duduk di meja belajarku untuk melanjutkan pelajaran yang tadi sempat aku lewatkan Tadi aku benar-benar tidak masuk ke kelas dan hanya berdiam di ruangan Aidan. Dan itu hanya dua jam pelajaran dan setelahnya aku memutuskan untuk pulang. Aku sangat fokus mempelajari materi sehingga aku sampal tidak mendengar deringan dari ponselku. Ketika mulai lelah aku baru bisa mendengarnya lagi. Aku segera meraih ponsel bututku dan menemukan pesan-pesan yang dikirim oleh Rafa, Rendi, dan juga Aidan. Mungkin karena tadi kami tidak bertemu sama sekali jadi gadis itu bertanya dimana aku tadi. Aku menjawab jika aku pulang karena aku tiba-tiba merasa tidak enak badan
Pesan dari Rendi juga berisi pertanyaan yang sama jadi
aku tidak menjawabnya karena Rafa pasti akan memberitahunya. Aku membuka pesan terakhir yang aku dapat dari Aidan.
Katanya kamu udah pulang? Kalau perlu sesuatu jangan
lupa kabari aku.
Aku tersenyum senang tapi dengan cepat mengirim balasan untuknya.
Iya, tadi aku langsung pulang. Terima kasih buat tawarannya. Sampai ketemu nanti malam.Aku mengingatkannya kembali soal rencanan diskusi yang akan dibahas bersama dengan Gio dan Ana. Kami sudah bertekad untuk memulai usaha toko itu bersama dan akan direalisasikan secepat mungkin. Aku meletakkan kembali ponselku dan kembali berkutat dengan kegiatan belajarku. Aku belajar selama beberapa jam kedepan, meski sulit tapi aku tetap melakukannya karena aku tidak ingin tertinggal. Kegiatan itu membuatku terbual sampai aku mendengar suara Gio, Pria itu sudah pulang sambil menjulurkan kepalanya ke pintu kamarku dan menyapaku. Dia bertanya tentang kegiatan di sekolah yang kubalas dengan baik-baik saja. Pria itu tidak boleh tahu jika aku membolos dan hampir mendapat masalah. "Lagi belajar?" tanyanya ketika melihatku lagi, bagus. Lo
harus rajin supaya bisa kuliah Setelah mengatakan itu dia pergi dan meninggalkan aku untuk melanjutkan kegiatannya. Aku terkekeh dengan tingkahnya dan kembali menatap buku. Sedikit mendesis dan ketika menoleh tanganku sudah sedikit lecet karenaterlalu lama memegang pulpen. Aku meletakkan benda itu dan bergerak mencari obat pereda nyeri lalu meminumnya.
Berkutat dengan buku memang bukan hal buruk tapi aku sudah tidak sanggup lagi karena tangan ini sudah meminta menyerah. Ku rebahkan tubuhku di tempat tidur sambil menoleh melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aku memutuskan untuk tidur sejenak sebelum Aidan datang. Hari ini sangat berat dan untungnya aku berhasil melewatinya. Tapi sayangnya malam itu, tidak ada satupun yang membangunkan ku karena baik Gio, Ana, dan Aidan tidak ingin mengangguk. Mereka membiarkan aku beristirahat hingga pagi menyapa.
__ADS_1