
Benar. Hanya tiga bulan lagi sampai akhirnya aku lulus dari sekolah ini dan meninggalkan tempat ini dengan nyaman. Aku segera melangkah menuju loker untuk mengambil buku dan segera menuju ke ruang gym, karena jadwal pertama pagi ini adalah olahraga angkat beban.
Kali ini aku akan absen mengikuti pelajaran olahraga karena Gio dan Aidan menekankan agar aku beristirahat dari pergerakan yang membutuhkan banyak energi. Intinya aku diperintahkan untuk libur berolahraga terlebih dahulu. Aku tidak masalah karena aku juga merasa tidak sanggup untuk mengikuti sesi angkat berat kali ini, jadi aku memutuskan untuk meminta izin terlebih dahulu ke guru olahraga dan melanjutkan mengisi waktu untuk memikirkan masa depanku. Kali ini aku harus memiliki masa depan yang cerah meski kedengarannya sulit.
Aku harus juga harus tetap belajar karena banyak dari materi yang diajarkan Pak Dewa tidak menyangkut di otakku. Masa belajar efektif hanya tersisa sedikit sebelum akhirnya kami harus menghadapi ujian akhir. Bukan hanya itu saja, aku juga harus mulai memikirkan akan kuliah atau tidak karena masa depanku harus tetap dipersiapkan.
Aku mengetuk pintu ruangan guru penjaga untuk memberitahu jika aku akan izin, tapi yang aku dapatkan adalah kemunculan Pak Dewa yang entah kenapa bisa ada di dalam sana. Pria itu menatapku dengan cabul seperti biasa dan smirk senyuman menyebalkan itu kembali muncul darinya. Aku ingin berlari tapi sayang kesempatan untuk kabur itu sudah tidak ada karena dia mencengkram erat tanganku.
"Kita ketemu lagi. Gimana keadaan kamu? Kayaknya sangat luar biasa karena kamu kelihatan lebih bersinar." Aku merengut tidak suka ketika dia memperlakukanku layaknya kami kenalan yang sangat akrab.
Karena kondisiku yang baru saja membaik dan aku juga tidak mau menambah luka lagi di tubuh berhargaku, aku menjawab kalimat Pak Dewa dengan gumaman ya. Untuk sekarang hal yang harus aku lakukan adalah, tidak memancing kemarahannya.
"Ah sayang sekali, padahal saya bisa lho temani kamu tapi hari ini saya harus menggantikan guru olahraga untuk mengawasi latihan indoor. Kamu tenang aja karena setelah ini saya pasti akan menemui kamu lagi." Dia mengedipkam matanya. Padahal aku tidak butuh ditemui dia lagi.
Sejujurnya aku enggan jika harus meminta izin pada Pak Dewa, hanya saja pengganti hari ini adalah dia dan mau tidak mau aku harus melaporkan keadaanku padanya. Terpaksa aku harus banyak berbohong agar dia percaya.
"Maaf, Pak. Hari ini saya tidak bisa mengikuti olahraga sesi angkat alat berat karena kaki saya sakit," ucapku sambil menunjuk kakiku. Untungnya akibat kejadian kemarin masih meninggalkan bekas pincang untukku.
"Kamu mau bohongi saya!" Dia berkata hampir berteriak, bahkan kotak P3K yang tadi dia bawa sampai dibantingnya ke meja. Pak Dewa memajukan wajahnya hingga hanya berjarak beberapa centi di depan wajahku sambil mendesis, "kamu tetap harus ikut kelas. Ganti baju," ucapnya masih sambil menatapku tajam penuh ancaman, kemudian dia membanting pintu dengan keras sebelum keluar.
Aku berteriak untuk memanggilnya, tapi Pak Dewa mengabaikanku. Tanpa bisa menolak, aku pun segera mengganti seragamku sambil merajuk. Aku tahu bel sekolah telah berbunyi dan aku juga sudah telat untuk mengikuti kelas. Tapi siapa yang akan peduli? Toh, dia tidak mungkin meninggalkan kelas hanya untuk berkeliling mencariku.
__ADS_1
Itu yang aku pikirkan. Namun sayang dugaanku salah.
***
Aku segera menarik keluar kaos bau itu dari atas kepalaku dan berusaha untuk tidak menghirup bau keringat yang menguat. Kaos yang aku gunakan untuk berolahraga itu, kini sudah basah. Bahkan hidungku juga sedikit gatal ketika mencium aroma itu yang membuatku bersin cukup kencang. Aku mungkin memang siswi yang pendiam tapi tetap saja aku manusia yang bisa bersin dan mengeluarkan suara yang amat kencang. Bahkan bisa membuat beberapa orang terkejut.
Karena suara bersin membuatku tidak mendengar suara pintu yang terbuka dan tertutup kemudian. Aku masih asyik dengan kegiatanku dan memasukan kaos itu ke dalam tas setelah mandi dan berganti pakaian. Aku juga tidak lupa mengembalikan kembali peralatan mandiku ke dalam loker dan menutupnya dengan sentakan kuat. Aku masih kesal dan mendengus kasar karena di sini hanya ada aku. Aku menatap sekeliling ruang ganti itu dan sedikit terpaku ketika menemukan Pak Dewa yang terpantul di cermin.
Pria itu bersandarq di ujung deretan loker dan menatapku juga melalui cermin yang terpasang di atas wastafel. Mata hitamnya menatap mataku tajam dengan kemarahan dan nafsu yang menyelimutinya. Hal itu membuatku menggigil ketakutan. Aku membalikkan tubuhku dengan cepat untuk menghadapnya sebelum dia mencoba menyerangku dari belakang.
Naluriku memerintahkan supaya aku berlari. Aku yang sedang berada di ruang ganti dan hanya mempunyai satu pintu keluar membuat keadaanku terjepit. Aku menelan ludah gugup dan mencoba mendekati pintu dengan cara menyelinap, tapi tampaknya Pak Dewa terlalu memahami gerak-gerik ku karena dia langsung menerjangku dan mendorongku ke dinding. Dia menyeringai seperti kucing liar sambil menjilati bibirnya. Pemandangan menjijikan yang tidak pantas disaksikan oleh mata.
Aku sendiri masih berusaha mencari jalan keluar tapi kesempatan itu belum juga datang.
"Aretta sayang. Akhirnya cuma ada kita berdua di sini sekarang," busuknya sekali lagi. Dia mengangkat tangannya lagi ketika aku mencoba menolak sentuhannya. Tangannya yang panas dan lembap menangkup sisi wajahku dan berhenti di pangkal tenggorokanku. Aku tahu dia bisa merasakan detak tidak stabil dari nadiku tapi dia mengabaikan itu.
"Kenapa kamu diam aja, hum? Apa kamu mau langsung masuk ke inti acara?" baiknya semakin rendah. Dia mencoba merayuku di sekolah. Di ruang ganti perempuan.
Aku menolak dan mencoba membebaskan diri dari cengkeramannya. Aku bersiap untuk menendang selakangannya, tapi tampaknya Pak Dewa sudah bisa menebak gerakanku. Dia menahan kakiku erat sehingga aku tidak bisa melayangkan tendangan itu.
"Aku udah pernah ketipu babe. Aku nggak bakal ketipu lagi kali ini."
__ADS_1
Dia menolak melepaskan kakiku. Tangannya malah semakin merambat naik ke atas pahaku sampai menyerempet ke bagian bawah pantatku. Aku meminta dia melepaskanku sambil bergerak gusar. Kilatan mata yang dipenuhi napsu sudah membuatnya lupa segalanya. Pak Dewa meraih tanganku dan menahannya di atas kepalaku.
"Lepasin!" Aku menangis dan memohon. Aku tidak mau diperlakukan seperti ini tapi aku tidak bisa melawannya karena kekuatanku tidak sebanding dengan miliknya.
Pak Dewa terkekeh, suaranya sangat mengerikan untuk didengar. Aku menutup mataku tapi pria itu memaksa untukku membuka mata.
Pak Dewa menempelkan bibirnya ke bibirku dan aku berusaha melepaskan diri. Aku terus bergerak ke kanan dan kiri untuk menolak ciumannya, bahkan ketika dia sampai menggigit bibirku agar aku membuka mulut, aku menolak. Aku tidak mau dia mendapatkan lebih banyak lagi dariku. Tapi yang aku dapatkan adalah, dia semakin membenturkan kepalaku ke belakang loker dengan kencang hingga membuat suara bergema di sini. Air mata sudah mengalir dan merembes hingga ke ujung daguku.
Dia menghentikan aksinya dan menjauh sambil memelototiku.
"Kalau aku jadi kamu, aku bakal dengan suka rela menyerahkan tubuh aku. Kamu tahu kan kalau aku itu mafia. Aku punya banyak koneksi yang mustahil kamu punya." Tangannya mencengkram leherku hingga napasku putus-putus. Aku mulai panik dan pikiran buruk mulai menyerangku juuga. Banyak hal yang berseliweran di kepalaku saat itu.
Tangannya yang bebas dia gunakan untuk meraba dan meremas dadaku dengan keras. Hal itu membuatku berteriak kencang. Aku benar-benar telah dicabuli.
Aku menatapnya jijik. Pria yang hanya bersembunyi dibalik organisasi dan menggunakannya untuk melakukan perbuatan bejat merupakan seorang bajingan sejati. Mereka manusia tidak memiliki pikiran yang waras hingga menjadi tidak terkendali. Tingkah mereka yang seperti itu malah merugikan semua orang. Kenapa bisa orang-orang seperti itu malah kebanyakan adalah orang dengan pendidikan tinggi yang banyak mempelajari ilmu yang mahal.
Sebuah rencana muncul di kepalaku dan aku hampir saja menunjukkannya lewat seringai jika saja aku tidak ingat kondisiku terkini. Aku memutuskan untuk menerima saran darinya karena dengan begitu dia akan memberi kelonggaran agar aku bisa bergerak bebas. Jadi ketika dia menurunkan wajahnya untuk kembali mencumbui, aku membiarkan hal itu. Meski jijik, aku mencoba sabar dan mengubah Pak Dewa menjadi Aidan dalam khayalanku. Sejujurnya aku ingin muntah ketika melakukan itu, apalagi ketika lidahnya menginvasi mulutku.
Usahaku berhasil karena Pak Dewa kembali melonggarkan cengkeramannya. Kesempatan itu aku gunakan untuk menendang selakangannya lebih kencang.
Aku berhasil dan langsung melarikan diri ketika dia menjerit dengan suara kencang. Aku masih dapat melihat Pak Dewa yang berguling di lantai.
__ADS_1
"Tunggu pembalasan dari saya, Aretta."
Pria itu sellau merubah panggilan seolah kami benar-benar akrab.