Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Teman Baru


__ADS_3

Aidan membantuku menghidupkan mesin kasir kedua. Mungkin karena alasan ini tokoh jadi memiliki dua komputer. Pelanggan yang datang lebih banyak dibanding yang aku pikirkan dan itu menunjukkan jika tokoh ini memang memiliki kualitas. Aku mulai melayani pelanggan.


Selama 2 jam aku dan Aidan berkutat dengan komputer dan pelanggan. Untungnya antrian mulai berkurang, yang tersisa hanya tinggal pengunjung yang tengah memilih buku. Beberapa saling berbisik dan beberapa saling menanyakan review tentang buku yang ingin mereka beli.


Aku mencoba berdiri tegap, tapi rasanya malah semakin sakit. Jadi yang aku lakukan adalah berdiri dengan tubuh yang sedikit condong ke arah komputer. Terlihat aneh memang. Ditambah penampilanku hari ini pun tidak terlalu kupedulikan. Aku menggerai rambutku dan menggunakan flat shoes agar aku tidak perlu membungkuk untuk mengikat tali sepatuku. Pilihan terbaik yang bisa aku putuskan hari ini.


Aku kembali berkutat dengan pelanggan hingga 1 jam kemudian sebelum Aidan memanggilku dan memintaku untuk istirahat terlebih dahulu karena toko yang mulai sepi. Kami tidak mungkin istirahat bersama karena masih ada beberapa pengunjung yang tengah memilih buku. Dengan cepat aku keluar dari toko dan mulai menatap sekeliling untuk mencari makan siang yang tidak memerlukan waktu lama untuk memesan. Aku melihat Daia cafe yang lumayan sepi dari luar. Aku memutuskan untuk melangkah ke sana dengan berjalan terseok-seok melintasi trotoar pertokoan.


Entah kenapa aku malah seperti wanita tua yang sulit untuk berjalan. Apa seharusnya aku berinvestasi memiliki tongkat untuk menopangku di saat aku mengalami kejadian mengerikan seperti ini?


Aku masuk dan menemukan kursi di depan konter yang kosong. Aku memilih untuk duduk di sana daripada aku harus duduk di sofa pendek yang mana akan semakin menekan rusukku. Sejujurnya aku tidak yakin apakah aku bisa menelan makanan dengan kondisiku saat ini. Jadi ketika pegawai yang aku tahu bahwa dia salah satu siswi di sekolahku sekolahku datang. Aku dengan cepat memutuskan untuk memesan minuman bersereal.


Dia menyajikan pesananku dengan tambahan sedotan yang tidak aku minta. Aku menyesapnya perlahan dan saat tinggal setengah pelayan itu kembali datang mendekat.


"Halo. Gue sering lihat lo di sekolah. Lo anak baru ya di sini?" tanyanya. Awalnya dia tampak ragu untuk mendekatiku tapi sepertinya dia sudah punya keberanian untuk memulai membuka obrolan terlebih dahulu.tahu jangan-jangan rasa ingin tahu punya yang lebih besar makanya dia memberanikan dirinya sendiri. Intinya dia hebat tidak seperti ku.

__ADS_1


"Iya. Gue Aretta," jawabku sambil tersenyum lebar.


"Gue udah tahu nama lo dari rumor yang tersebar di sekolah. Nama gue Rafania. Lo bisa panggil gue Rafa."


Aku mengangguk pelan dan tersenyum palsu. Membicarakan soal rumor, aku tidak tertarik untuk mendengarkan tapi sayangnya rasa penasaran lebih mendominasiku.


"Emang rumor apa aja yang kesebar soal gue?" tanyaku sedikit heran. Aku belum genap 1 bulan bersekolah dan kini aku malah sudah mendengar soal rumor tentangku. Walau memang tidak semua rumor itu buruk hanya saja rumor baik itu sangat sedikit. Kan hampir tidak pernah ada. Kira-kira rumor tentang apa sekarang? Apakah tentang aku yang tidak memiliki Papa? Atau karena aku yang terkesan sombong?


Rafa yang tengah mengelap meja kompor mulai menghentikan gerakannya. Dia menatapku yang masih tampak asyik meminum serealku.


Aku terkekeh geli, tidak menyangka jika rumor yang tersebar akan seperti ini. Cerita ini sangat berbeda 180 derajat dengan cerita versiku. Aku cukup tahu kenapa rumor ini bisa tersebar. Mungkin itu karena aku pindah tepat di pertengahan tahun. Sangat jarang ditemukan kasus seperti aku yang pindah di masa krusial dan tampaknya bukan hanya itu rumor yang tersebar karena Rafa masih terus menjelaskan apa-apa saja yang pernah dia dengar.


"Terus ada juga rumor yang bilang kalau lo sebenarnya atlet lari. Lo juga ngelakuin oplas karena bentuk wajah lo yang tidak seperti remaja pada umumnya. Terlalu luar biasa buat ukuran remaja. Ada juga soal lo yang kena bulimiah dan paling parah adalah soal lo yang pernah nyoba buat bunuh diri."


Aku benar-benar tertawa keras mendengar macam-macam rumor aneh yang disebutkan oleh Rafa. Dari mana mereka mendapat cerita konyol semacam itu. Bunuh diri? Apa itu mungkin terjadi di saat keluargaku selalu memintaku untuk tetap hidup agar mereka dapat melampiaskan amarah mereka padaku.

__ADS_1


"Kenapa ceritanya pada aneh-aneh sih. Dapat ide dari mana mereka sampai ngarang cerita menarik kayak gitu," ucapku.


Rafa ikut terkekeh.


"Gue juga nggak percaya karena lo nggak kelihatan sekurang kerjaan itu buat lakuin semua hal yang mereka sebutin. Kalau emang lo operasi plastik lo nggak bakalan kerja di toko buku. Karena operasi membutuhkan biaya yang nggak sedikit," ucapnya sambil terus mengelap meja saat melihat bosnya lewat.


Aku menyetujui kalimatnya. Aku bukan orang yang memiliki uang berlebih apalagi sampai rela merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk melakukan operasi plastik, lagipula dibandingkan untuk operasi aku lebih memilih untuk menyimpan uang itu untuk bekal masa depanku.


Setelah itu kami langsung banyak bercerita. Rafa menemaniku menghabiskan waktu istirahatku dan entah bagaimana ceritanya kami berakhir menjadi teman. Saat itu juga aku mengetahui bahwa kami memiliki kelas geografi dan biologi, di jam yang sama. Aku senang atas informasi ini karena setidaknya temanku bertambah satu. Aku juga berharap Rafa bukan salah satu orang yang terpesona juga dengan Pak Dewa.


Jam istirahatku berakhir dan aku harus segera bergegas kembali ke toko. Aku dan Rafa sudah membuat janji agar kami makan siang bersama Senin besok. Aku segera turun dari kursi dan berpamitan pada Rafa. Sebelum benar-benar meninggalkan kafe aku melemparkan senyum terakhir kali padanya. Kali ini senyumanku tulus bukan senyuman palsu seperti yang aku berikan padanya tadi.


"Akhirnya kamu pulang! Aku udah kelaparan!" itu sambutan yang aku terima dari Aidan saat aku membuka pintu dan masuk ke dalam, "kamu makan apa tadi?"


Aku tidak tahu jika aku juga harus melapor menu makan siang yang aku santap hari ini padanya, " Omelet sama sereal. Kalau kamu nggak percaya kamu bisa tanya ke Rafa di Daia kafe."

__ADS_1


Aku tahu seharusnya aku tidak boleh seperti itu tapi melihat dia yang menginterogasiku membuatku sedikit terganggu. Aku mengatakan itu agar dia merasa bersalah dan aku tidak berharap dia benar-benar bertanya pada Rafa. Karena jika itu terjadi habislah aku.


__ADS_2