
Berada di sekitar Aretta itu sangat sulit. Melihatnya berjalan melewati kelasku, melihatnya di toko, dan harus berhadapan langsung dengannya ketika dia menatapku dengan tatapan sedih, merupakan cobaan terbesar.
Begitu dia menyetujui syarat dari Gio untuk menjauhiku, aku merasa dikhianati dan terluka. Apa aku tidak cukup baik untuk diperjuangkan? Padahal selama ini aku sudah menunjukan dengan jelas bagaimana perasaanku padanya. Saat aku sudah mencurahkan segalanya, dia malah menginjak-injak seolah-olah hal itu tidak ada artinya.
Aku sudah menahan amarahku dan mengesampikan egoku karena kami terlibat bisnis berama. Aku langsung keluar dari tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang karena aku benar-benar kecewa. Aku masuk ke dalam mobil dan mengemudi dengan memutari kawasan terdekat, mencoba untuk menenangkan diri. Aku berhenti di tepi jalan tempat favoritku untuk menghilangkan gundah.
Butuh satu jam sampai akhirnya aku cukup tenang. Aku pun dapat berpikiran lebih jernih dari pada sebelumnya. Meski aku marah dengan keputusan yang dibuat wanita itu, tapi ternyata apa yang disarankan Gio memang benar adanya. Jika dia tidak setuju, bukan hanya pendidikannya saja yang akan berdampaj, pekerjaa ku juga dipertaruhkan. Gio hanya ingin menjaga kami berdua dalam jangkan waktu beberapa bulan ini sampai Aretta lulus.
Aku meruntuki diri karena bersikap semborono. Ditambah aku juga marah pada seseorang yang ingin membantu kami.
Tidak sepenuhnya harapan yang aku inginkan hilang. Aku cuma harus bertahan selama beberapa waktu yang tersisa dan manjuhkan diri dari Aretta. Aku juga harus bersikap tegas, hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya.
Memangnya siapa yang bisa bersikap baik-baik saja jika memiliki hubunhan dengan muridnya? Tapi aku juga tidak mau menjerumuskan gadis itu dalam hal yabg mengerikan. Tidak etis rasanya jika ada artikel yang memuat tentabg guru dan siswi yang tertangkap basah tengah menjalin hubungan. Itu bukan moral yang bisa dilakukan oleh guru dan aku tidak mau membuat namaku dan nama dia jelek.
Aku mencoba mengingatkan diriku sendiri. Bersikap tegas untuk sekarang merupakan pilihan terbiak. Bukan demi aku saja, tapi demi kami.
Tapi entah kenapa semakin menjauh darinya, ada saja hal-hal aneh yang aku lakukan. Seperti sekarang. Aku tengah menatap dia yang sedang berbincang ceria dengan teman-temannyaa. Hanya melihat senyumnya dari jauh saja perasaan senang itu membuat hatiku menghangat. Apa aku akan kalah dengan tekadku sendiri?
__ADS_1
Aku hanya melakukan hal itu di dua hari pertama, setelahnya aku memutuskan utnuk menjauh. Aku akan membiarkan dia fokus memikirkan pelajaran daripada harus memikirkan soal hubungan tanpa kejelasan dengan seorang guru yang mencintainya tanpa harapan.
Sepanjang minggu ini, aku sudah mencoba untuk menjauh dan memberi Aretta ruang. Aku juga tidak lagi berbincang dengannya, hal tersulit dalam masa-masa ini.
Aku melihat dia yang masuk ke kelasku dan keluar tanpa sepatah kata juga dariku. Aku sangat ingin menanyakan kabar atau hanya sekedar berbincang ringan, namun rasanya sangat sulit untuk memulai.
Dan hari berlalu begitu saja. Merayap lambat dan membuatku semakin tersiksa. Keadaan Oma semakin memburuk dan itu membuatku harus selalu siaga mengantarnya ke rumah sakit, hal itu juga membuatku sering absen di kelas Aretta.
Tidak ada yang aku butuhkan lagi kecuali senyum ceria miliknya. Aku menatap gadis itu sekali lagi, masih menimang haruskah aku berbicara atau tidak. Aku tidak ingin keadaan kami semakin kacau. Aku sudah cukup menahan kesedihan ini dan aku tidak sudi menambah lagi penderitaan yang ujung-ujungnya hanya aku yang merasakan itu. Kali ini aku berencana untuk melakukan hal yang biasa aku lakukan padanya. Mengabaikan Aretta, tapi rencanaku sudah tercium oleh Rafa. Gadis itu bebar-benar memprotes tindakanku.
Sudah berapa lama aku melewati moment itu? Andai saja aku bukan guru?
Aretta tampak merajuk karena tidak mendapatkan jawaban dari Rafa. Dia bahkan mengabaikan wanita itu. Aku sendiri masih mengamati keduanya dalam diam. Ketika kelas usai, semua beranjak untuk keluar. Aku sangat ingin mengejarnya dan mengatakan jika aku menyesal, mengatakan padanya juga jika aku tersiksa dengan jarak yang aku buat sendiri. Aku ingin menyerah.
Aku sudah hampir melakukannya, tapi aku kembali mundur.
Seminggu berlalu kembali tanpa ada perubahan dihubungan kami dan waktu pembukaan toko juga semakin dekat. Aku dan dia sama-sama menjadi sibuk. Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk memikirkan tentangnya di tengah kesibukan ini. Lagipula hal itu malah membantuku. Semua kesibuakan itu aku ambil alih sehingga aku tidak lagi memikirkan tentang dia yang tersenyum, tertawa dan dia yang tengah mengatupkan kedua tangannya karena gugup.
__ADS_1
Acara Grand opening tiba. Menu yang sudah disetujui sudah tersedia di etalase. Itu foto yang aku dapat dari Gio. Kali ini tugasku adalah menjemput Oma untuk datang ke acara. Jarak antara rumah dengan rumah Oma hanya dua puluh menit dan aku merasa sangat senang karena impian Oma berhasil terwujud.
"Kamu kenapa?" Oma bertanya setelah melihat wajahku. Apa aku tampak semengenaskan itu hingga Oma bertanya bagaimana keadaanku. Aku enggan untuk menjawab karena ini masalah pribadimu. Lagian tidak ada gunanya memberitahu, Oma cuma harus hidup penuh kebahagiaan, tidak boleh ditambah dengan masalah perasaanku.
"Ada masalah sama Aretta?" tanyanya lagi. Aku terkekeh dan menggeleng. Namun, tampaknya dia terlalu mengenalku, "coba cerita ke Oma. Kamu memang sudah dewasa, tapi kamu masih punya Oma buat cerita."
"Kayaknya Aidan suka sama Aretta." Aku langsung to the point. Perasaanku sedikit lega setelah berhasil mengatakan itu.
"Terus apa masalahnya? Kalau suka kan tinggal bilang?"
Aku inginnya begitu, tapi yang terjadi malah kebalikannya. Sepanjang sisa perjalanan aku gunakan untuk menjelaskan secara detail apa yang sedang terjadi. Semuanya tanpa terkecuali.
"Kamu sendiri yang memperunya keadaan, Aidan." Oma berucap sambil menatap keluar. Kami sudah sampai di parkiran toko, "dengan kamu yang cuma diam, itu nggak bakal merubah keadaan menjadi lebih baik. Dia itu masih labil pastiny, kamu sebagai orang dewasa harusnya bisa bertindak lebih masuk akal. Jangan malah ikut terbawa ego. Oma nggak sepenuhnya menyalahkan keputusan kakaknya, mau gimanapun juga, kakaknya Aretta cuma bertugas untuk melindungi Aretta."
Aku mengusap kasar rambutku, "Terus Aidan harus apa Oma?" Aku memohon dengan suara yang hampir putus asa.
Oma terkekeh dengan nada mengejek, "Harus apa gimana maksud kamu. Kamu tahu apa yang harus kamu lakuin, kan? Kamu harus buktiin ke Aretta dan Gio kalau kamu serius. Kalau emang nggak bisa menjalin hubungsn sebagai pasangan, kamu masih bisa jadi Aidan yang dulu buat dia."
__ADS_1