
Aku menatap sekeliling area. Tidak ada kendaraan umum dan hanya ada driver ojek online yang tentu saja aku tidak bisa memesan karena aku tidak memiliki smartphone.
Aku tidak percaya jika Aidan setega itu meninggalkanku di sini. Dia bilang dia akan menunggu tapi pada kenyataannya dia malah pergi meninggalkanku.
Rasa takut tiba-tiba menggerogotiku. Aku baru saja bertemu dengan Papa tapi bagaimana jadinya jika semua orang pergi meninggalkanku seperti Aidan. Papa? Gio? Rafa? dan Rendi? Rasa takut itu membuatku menggigil. Apa memang aku terlahir untuk tidak bisa mendapatkan orang-orang yang bisa menyayangiku?
Dan pada akhirnya aku kembali hanya bisa menjadikan diriku sebagai sosok yang bisa bertahan sendiri. Karena aku takut kebahagiaan ini hanya sesaat dan semuanya akan hilang bagai uap begitu saja. Mungkin takdirku memang seperti itu dan aku harus selalu sendiri sampai kapanpun.
Aku mulai berjalan tanpa tahu harus kemana aku melangkah. Aku tidak mengenal daerah sini dan aku juga tidak tahu arah mana yang harus aku tuju agar aku bisa kembali. Kenapa hidupku mengenaskan ini? Kenapa aku harus kembali ditinggalkan?
Aidan sosok yang aku kenal itu dan dia juga yang tahu daerah sini tapi dia malah mengingkari janji. Jika dia ada di sini dan kami tersesat tentu dia bisa membawaku kembali. Mengingat itu malah membuat emosiku terpancing. Aku marah, kesal, dan frustasi.
Aku mencoba bertanya pada orang-orang sekitar bagaimana caranya untuk kembali ke SAMA Maru dan mereka semua pada menggeleng karena mereka juga tidak begitu mengenal sekolah itu. Pada akhirnya aku hanya mengikuti insting untuk terus berjalan dan berjalan. Sampai matahari terik itu tenggelam dan langit berubah menjadi gelap. Dan akhir dari perjalanan panjangnya akhirnya membuatku menemukan tanda yang mengarah untuk kembali ke rumah. Aku mengikuti tanda tersebut dan melupakan fakta jika tadi Papa memberikanku uang.
__ADS_1
Perjalananku berakhir di pertokoan dekat rumah. Aku berdiri di bawah lampu taman dengan nafas lelah. Ketika berangkat tadi aku hanya menghabiskan waktu 45 menit tapi saat pulang aku sampai harus menghabiskan waktu 5 jam. Aku tidak menyesal karena aku memilih untuk berjalan karena berkat itu aku menjadi bisa lebih banyak berpikir dan yang lebih mengejutkannya adalah, aku berjalan tanpa sedikitpun mengeluarkan keringat meski jarak tempuh yang aku lalui sangat jauh.
Aku masih berjalan melintasi daerah yang kini hampir sebagian orangnya telah kembali ke peraduan karena cuaca yang sangat tidak memungkinkan bagi mereka untuk tetap diluar. Tampaknya di daerah ini tadi hujan karena sisa air hujan masih menjadi genangan dan cuacanya pun sangat dingin.
Langkah kaki membawaku melewati Daia kafe. Tempat itu seolah memanggilku dan memintaku untuk singgah. Apa jangan-jangan kafe ini buka 24 jam, karena setiap kali aku melewati tempat ini di jam-jam yang tidak wajar, Daia kafe masih buka.
Aku membawa tubuhku untuk masuk ke dalam dan mencari tempat kosong agar aku dapat mengistirahatkan tubuhku. Aku sudah tidak memiliki kekuatan untuk berdiri di depan konter dan memesan, pada akhirnya aku lebih memilih untuk menuju sofa yang kosong dan menghamburkan diri di sana. Kali ini aku dapat bernafas lega karena pada akhirnya aku dapat mengistirahatkan kakiku yang sedari tadi memintaku untuk mencari tempat beristirahat.
Begitu aku duduk seorang pramusaji datang dan menyerahkan buku menu. Tentu saja ini bukan Rafa karena jika itu dia sudah pasti aku akan mencecarnya karena dia tidak berniat untuk mencariku meskipun dia tahu aku tidak berada di tempat. Aku memilih menu dengan enggan tapi rasa lapar lebih mendominasi yang membuatku harus memilih untuk memesan makanan berat.
Setelah pelayan pergi dan aku memutuskan untuk menutup mataku sejenak untuk menikmati keheningan yang mengisi Daia kafe.
Aku kemudian membuka mataku ketika kesunyian itu sudah sirna dan menatap ke seluruh ruangan. Di depanku terdapat pasangan yang tengah berbagi minuman dan disebelahnya terdapat seorang pria yang duduk sendiri dengan pandangan yang hanya terfokus pada ponselnya.
__ADS_1
Pasangan itu tampak agak bahagia, walaupun aku tidak bisa melihat wajah mereka tapi kebahagiaan itu terpancar di sekitarnya.
Lamunanku selesai ketika pramusaji itu meletakkan pesananku di atas meja. Aku sendiri dan juga sedang tidak menunggu siapapun jadi dengan segera aku menghabiskan makananku karena hari ini energi yang dikeluarkan teramat banyak. Meski ini sudah kali keduanya aku makan makanan berat tapi aku tidak merasa bersalah karena aku sangat membutuhkan asupan.
Aku masih memikirkan soal apa yang harus aku lakukan kedepannya. Masa bodoh dengan orang-orang yang akan meninggalkanku, untuk sekarang yang paling penting adalah aku harus keluar dari rumah dan mencari kebebasan untuk diriku sendiri. Aku tidak munafik, aku sangat menginginkan kebebasan ini dan saat Papa mengulurkan tangannya untuk membantu tentu saja aku iyakan. Setidaknya meski aku tidak memiliki tanda pengenal ada Papa yang bisa dijadikan penjamin.
Memikirkan aku akan menjadi Aretta versi baru membuat senyum di bibirku semakin mereka. Aku berjanji pada diriku, versi Aretta yang baru ini harus bisa menjalani hidup lebih baik dan lebih bahagia. Aku harus menjadi sosok yang terbuka, ceria, ramah, dan sehat. Tidak ada lagi diet ketat, tidak ada lagi olahraga yang menyiksa diri. Semua itu harus dihapuskan agar aku dapat menikmati kehidupan versi terbaikku.
Aku mungkin akan tetap mengkonsumsi makanan sehat dan juga berolahraga tapi tidak mati-matian seperti dulu. Untuk kesempatan yang datang kali ini, aku akan membuat semuanya berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan.
Aku tidak sabar mengumumkan soal kedatangannya Aretta versi baru. Aretta yang kali ini akan hidup sesuai dengan keinginannya sendiri tanpa peduli omongan buruk dari orang lain. Dan hal pertama yang harus aku lakukan adalah pulang dan membersihkan diri. Setelah itu aku akan memulai untuk membuat rencana yang akan mensukseskan impianku di masa depan.
Perutku sudah terisi dan mataku juga sudah mulai lelah, pada akhirnya aku memutuskan untuk kembali berjalan. Kali ini langkahku tampak lebih semangat karena aku akan segera bertemu dengan kasur dan tempat tidurku yang nyaman. Gelapnya malam tidak menyurutkan semangatku untuk menjadi sosok yang baru.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah aku langsung membersihkan diri dan kemudian masuk ke dalam kamar untuk segera membuat rencana. tapi masih ada satu hal yang harus aku selesaikan sebelum Aretta versi baru tercipta. Ini tentang Mama. Aku harus benar-benar bisa lepas dari wanita itu.