
"Papa bisa mulai cerita sekarang," jawabku, ekspresi wajahnya tampak terkejut mungkin karena aku langsung menyetujui permintaannya tanpa dia harus menjelaskan lagi alasan yang lain.
"Mama kamu selingkuh," katanya blak-blakan, " hal itu terjadi waktu kamu berusia enam tahun dan saat itu Papa lagi sibuk mengerjakan proyek penelitian yang menghabiskan waktu berbulan-bulan. Alasannya dibalik perselingkuhan yang Mama kamu buat itu karena dia merasa kesepian. Dia merasa kalau waktu Papa cuma Papa curahkan buat penelitian itu dan anak-anak, terutama kamu." Papa menghela nafas perlahan sebelum menjawab, "kalau aja Mama kamu bilang dia cemburu karena merasa tidak diperhatikan, Papa pasti bakal langsung memperbaiki kesalahan Papa, tapi Mama kamu malah semakin menjadi dan semua berakhir ketika Papa nemuin Mama kamu tidur bareng selingkuhannya," ada nada pahit yang tercipta di setiap kata yang keluar dari bibir Papa.
Jeda keheningan sangat terasa mencekam. Tampaknya Papa tengah menunggu respon dariku, tapi sayangnya aku masih terlalu terkejut dengan info yang baru saja Papa berikan. Aku tidak tahu jika alasan dibalik perpisahan mereka adalah karena hal ini, apa Gio juga tidak tahu makannya dia bersikap kasar juga padaku.
Papa kembali melanjutkan kalimatnya karena aku tidak jua membuka mulut, "Mama kamu itu orangnya tempramen dan keras kepala. Dia tidak mau disalahkan karena telah berani selingkuh dan dia yang suruh Papa pergi. Mama kamu ngancam bakal bawa kalian berdua pergi dan nggak ngizinin papa ketemu kalian kalau Papa nggak pergi. Papa diusir dari rumah itu. Meski pada kenyataannya di sini dia adalah pihak yang bersalah, tapi Mama kamu itu orang yang pintar memutar balikkan fakta yang membuat posisi dia menjadi sangat diuntungkan dan itu dengan cara mengancam Papa menggunakan kalian. Kamu dan Gio.
"Karena dia buat kesepakatan yang mana dia bakal tetap kasih izin Papa buat jenguk kalian, makannya Papa terima. Papa nggak kamu kehilangan kalian, tapi dengan satu syarat. Dia sendiri yang menentukan waktu dan tempatnya. Saat itu Papa merasa tidak ada salahnya karena dia juga bersikap baik pada kalian. Papa percaya meskipun Papa pergi dia bakal tetap jadi Mama yang baik. Dalam hati Papa, Papa sudah bertekad untuk menyelamatkan kalian dan satu-satunya cara adalah pergi, kemudian menyelesaikan penelitian yang tersisa lalu menjemput kalian. Tapi Papa telat selangkah karena saat itu kalian sudah dibawa pergi entah kemana oleh Mama kalian."
__ADS_1
Jujur, meski dia sudah menjelaskan apa yang terjadi saat itu tetap saja aku masih merasa kesal. Aku tidak percaya dia akan menyerah secepat itu bahkan disaat dia belum berjuang sedikitpun untuk kami. Memang sesulit apa melawan Mama karena toh pada akhirnya kebenaran pasti akan terungkap.
"Kenapa Papa nggak berjuang buat ngelawan Mama? Dengan cara Papa yang menyerah bahkan disaat Papa belum berjuang itu sudah menunjukkan kalau Papa itu juga sama kayak Mama dalam versi berbeda. Kalian berdua sama-sama buruk sebagai orang tua." Aku mencecarnya. Selama ini aku sudah menahan semuanya sendiri dan mengetahui fakta ini entah kenapa malah kedengarannya lebih menyakitkan dibandingkan apa yang aku kira selama ini.
"Papa juga berusaha Aretta. Papa masih cari kamu dan saat Papa udah tahu dimana kalian tinggal, akses Papa buat ketemu kalian juga masih sulit. Papa bahkan kirim surat ke rumah. Kamu sama Gio itu anak-anak Papa dan kalian itu berarti buat Papa. Sampai saat ini pun Papa masih kirim uang rutin buat kalian, karena kata Mama kalian, yang kalian butuhkan itu uang bukan kehadiran Papa. Papa juga nggak mau kehilangan kalian nak, kalian berdua itu permata yang selalu buat Papa semangat bekerja setiap harinya hingga kini walaupun yang Papa dapat hanya foto kalian. Tapi Papa sudah bersyukur dan senang karena jika Papa nekat menemui kalian, Mama bakal bawa kalian pergi lagi dan Papa nggak mau hal itu terjadi. Papa menyerah untuk membawa kalian keluar dan yang Papa bisa Papa lakukan hanya terus bekerja agar kalian tidak hidup dalam kekurangan." Papa mengatakan itu sambil meremas tangannya. Raut penyesalan tergambar jelas di wajahnya dan aku tidak bisa benar-benar menyalahkannya.
"Pa..."
"Nak. Aretta, anak Papa. Papa minta maaf. Maafin Papa Nak. Papa bakal lakuin apa aja supaya Papa nggak kehilangan kamu lagi. Papa bakal berjuang buat kamu dan Papa bakal pertaruhkan nyawa Papa supaya kamu bisa kembali ke Papa Nak," melihat bagaimana frustasinya Papa ketika mengatakan itu membuatku terenyuh. Dia Papaku tapi kenapa untuk bertemu denganku saja sesuli ini? Padahal aku sangat menantikan kehadirannya sejak dulu.
__ADS_1
"Aretta udah maafin Papa," bisikku pelan dan itu berhasil memunculkan senyuman di bibirnya. Papa langsung berdiri dari tempatnya dan menghambur padaku, dia memelukku erat seolah tidak ada hari esok lagi. Awalnya aku terkejut dan merasa sesak karena tidak nyaman. Namun begitu aku berhasil mencium aroma Papa, aku langsung menangis kencang. Aku sendiri masih tidak percaya jika Papa ada di depanku dan tengah memelukku.
"Terima kasih, Nak," gumam Papa dan itu malah semakin membuatku terisak.
Lumayan lama aku menangis dan Papa benar-benar membiarkanku mengeluarkan semua keluh kesahku lewat air mata. Dia tidak bertanya karena tahu aku membutuhkan moment ini untuk meringankan bebanku. Setelah aku tenang Papa baru berani bertanya.
"Mungkin apa yang Papa tanyain udah terlambat tapi Papa mau kamu jawab jujur pertanyaan Papa," katanya dengan suara lembut.
"Emang Papa mau tanya apa?" tanyaku. Aku tidak merasa ada hal yang harus diceritakan lagi karena Papa sudah tahu apa yang aku alami selama aku tinggal bersama Mama.
__ADS_1
"Sebenarnya Papa takut mengetahui fakta yang kamu alami, tapi kamu tetap harus cerita apa yang dia lakuin ke kamu." Papa berbicara lembut namun tegas. Dia menuntutku untuk menjawab yang langsung membuatku terkejut. Aku emundurkan diri enggan untuk bercerita.
Aku kira Papa tidak akan bertanya setelah tahu secara garis besar hal apa yang menimpaku di sana. Kau tidak berpikir dia akan bertanya dan itu malah membuatku takut sendiri.