
Aku menahan langkahku saat sebuah sentuhan hangat menahan pergelangan tanganku.
"Duduk," perintah Pak Aidan, "kamu harusnya nggak marah sama Rendi cuma karena dia dan saya memutuskan hal ini. Kita khawatir dan kamu pasti bakalan terus tutup mulut. Kalau kamu memang menganggap dia teman kamu, harusnya kamu beryukur karena dia perhatian ke kamu. Cepat habiskan makanan kamu, kalau nggak saya bakal usut tuntas masalah kamu," ancam pria itu.
Aku tidak percaya jika Pak Aidan bahkan sampai mengancamku seperti ini. Bukankah kemarin dia sudah bersikap lunak? Tapi hari ini dia malah lebih terlihat seperti tengah menusukku dari belakang.
Aku segera menurut dan kembali duduk kemudian makan. Rasanya enak, tapi tidak aku ucapkan secara gamblang. Aku hanya fokus pada makananku karena kedua pria itu masih menatapku, mengikuti setiap gerakanku yang mengambil suapan dan mengunyah.
"Jangan lihat!" Aku membentak keduanya. Sikap mereka benar-benar membuatku gugup. Aku baru mengambil suapan selanjutnya saat kedua pria itu mulai mengobrol.
"Pak itu-" kalimat Rendi terintrupsi oleh suara Pak Aidan.
"Kalian berdua bisa panggil saya Aidan. Rasanya aneh aja dipanggil Pak waktu kita makan siang bareng," katanya.
Aku menghela nafas pelan. Ternyata panggilan itu tidak hanya berlaku padaku. Sepertinya hanya aku yang berpikiran lebih. Aku hanya diam dan tidak mencoba ikut masuk dalam percakapan mereka
"Berarti ngomong santai boleh Pak?" Rendi bertanya.
"Boleh. Selama cuma ada kita," jawab Pak Aidan lugas.
__ADS_1
"Jadi, gue cuma mau bilang lo bisa ceritain soal diri lo ke kita."
Aku membelalak sambil menatap Rendi. Bocah ini, dia kelewat santai bahkan itu bisa disebut tidak sopan. Mana ada murid yang kurang ajar menggunakan gue lo ke gurunya. Aku melirik Pak Aidan yang hanya mengangguk tampak tidak masalah.
"Cerita tentang apa?"
"Biasanya guru-guru itu paling suka cerita tentang kehidupan mereka yang menyenangkan. Lo tahu kan maksud gue. Biasanya itu cara buat narik minat para murid dan ngebuat murid interest sama mereka. Tapi sepengamatan gue selama gue diajar sama lo, lo nggak pernah cerita apapun tentang kehidupan lo. Lo kayak nggak tersentuh gitu. Terus karena kedepannya kita bakal sering makan siang bareng, gue cuma mau kita akrab."
Aku tidak setuju dengan penggunaan kalimat yang Rendi pakai, tapi aku setuju dengan isi kalimatnya. Aku melirik Pak Aidan yang tampak berpikir. Apa dia benar-benar tidak merasa terganggu dengan keadaan canggung ini? Apa jangan-jangan hanya aku yang merasa canggung?
"Gue lahir di sini," katanya. Aku menoleh cepat padanya. Aneh saat mendengar dia menggunakan gue lo, "tapi pindah ke luar kota waktu umur tiga belas tahun. Setelah lulus kuliah dan mendapat sertifikasi guru, gue balik lagi ke kota ini dan ngajar jadi guru geografi di sekolah yang baru dibangun. Fyi, gue di sini dari sekolah dibangun," jelasnya.
"Terus lo sendiri gimana Rasanya?" kali ini pertanyaan itu ditunjukkan padaku, "gimana minggu pertama lo waktu lo pindah ke sini? Lo nemu sesuatu nggak? Selama gue sekolah suasananya terlalu sepi dan nggak ada satu pun yang menarik. Jadi gue pingin tahu dari sudut pandang lo," cecarnya.
"Nggak ada yang special sih, sama kayak sekolah pada umumnya," ucapku. Jelas itu adalah sebuah kebohongan. Aku sudah diancam untuk tidak berbicara soal tindakan tabu yang dilakukan Pak Dewa dan aku harus tetap tutup mulut jika ingin selamat.
"Tapi gue udah nemu kerjaan di sini. Nanti sore gue udah mulai kerja," kataku sambil melirik Pak Aidan dengan ujung mataku. Aku dapat melihat dia yang tersenyum kecil, "gue suka buku dan gue harap gue bisa kerja lama sampai lulus sekolah," lanjutku. Dan mulai mengambil sesuap nasi untuk memberitahu mereka jika aku sudah selesai bercerita.
"Kamu pasti bakalan enjoy di tempat kerjamu yang sekarang." Pak Aidan berkata seperti itu. Cukup percaya diri dan diiyakan langsung oleh Rendi yang tidak tahu jika aku bekerja di tempat Omanya Pak Aidan.
__ADS_1
Pak Aidan dan Rendi sudah terlibat kembali dalam percakapan tentang geografi yang membahas soal iklim dan penghasilan penduduk di negara Eropa sana. Aku tidak ikut menimbrung. Hanya menyimak sambil berusaha menghabiskan makananku.
Setengah porsi dari rice box yang dibelikan Pak Aidan sudah pindah ke dalam perutku. Aku sudah kenyang. Dengan hati-hati aku meletakkan sisanya ke atas meja dan berharap apa yang aku lakukan tidak terdeteksi oleh kedua pria itu. Tapi sepertinya kedua pria ini memiliki kewaspadaan yang tinggi, karena saat aku berusaha memasukkan box itu ke dalam plastik, pandangan keduanya langsung beralih ke arahku.
"Arettw," desis suara itu membuat gerakanku terhenti, "kamu nggak bakalan aku biarin pergi dari sini sampai kamu habisin nasinya," peringatnya.
Aku segera meraih kembali rice boxnya dan dengan cepat menyantapnya kembali. Aku tidak mau menghabiskan makanan ini, tapi aku lebih tidak mau jika harus terjebak berdua di sini dengan Pak Aidan. Aku merengut dan mendesis. Aku dan Pak Aidan sepertinya tidak cocok untuk berteman.
Dengan cepat aku segera menghabiskan sisa makanan itu. Melupakan kedua makhluk yang sudah kembali asyik dengan obrolan mereka. Dan sepertinya, nanti aku harus berlari lebih lama karena hari ini sudah menghabiskan ayam ini. Aku tidak mau merusak pola diet yang sudah aku bangun susah payah.
Jam istirahat telah usai. Aku dan mereka tidak benar-benar memperhatikan bunyi bel. Kami hanya melihat ke anak-anak yang lain, yang kini sudah mulai beranjak menuju kelas masing-masing. Aku dan Rendi pun akhirnya pamit pergi terlebih dahulu pada Pak Aidan untuk mengikuti pelajaran di kelas selanjutnya. Namun lenganku langsung ditahan dan sontak membuatku menoleh padanya.
"Kenapa lagi Pak? Saya takut telat," keluhku.
"Bareng. Yang ngajar kelas kamu nanti itu aku."
Aku nyengir dan membiarkannya ikut melangkah keluar bersama. Ketika sudah sampai kelas, aku melambai pada Rendi. Pria itu tidak sekelas denganku untuk pelajaran sekarang. Sedangkan Pak Aidan masih menungguku menyelesaikan acara berpamitanku.
Ketika aku masuk, dia juga masuk. Untungnya anak-anak kelas terlalu sibuk sendiri jadi tidak memperhatikan jika aku dan Pak Aidan masuk kelas bersamaan.
__ADS_1
Pak Aidan memulai kelas dan itu berhasil menghilangkan suara lebah yang sebelumnya terdengar memenuhi ruangan. Aku akui semua siswa di sini memang tidak terlalu memperhatikan guru. Hanya sebagian saja dan itupun yang berhasil menarik perhatian mereka. Soal bullying yang pernah aku bahas dengan kepala sekolah sebelumnya juga tampak tidak terlalu efektif. Individualisme yang mereka bangun membuat mereka tidak mau peduli dengan sekitar. Jadi, meskipun ada kasus bullying hal itu tidak akan pernah sampai ke telinga guru kecuali para guru sendiri yang langsung turun tangan untuk memeriksa.