
Sikapnya berubah dan kepribadian gelap langsungĀ menguasai dirinya. Kilatan di mata Dewa tampak mengerikan dan aku hampir tidak memiliki waktu untuk memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya sebelum dia melemparkanku ke kasur yang bekas lumuran darahnya mulai mengering lalu berbaring di atasku. Aku berjuang untuk menyingkirkannya dari atas tubuhku, Tapi sayangnya Dewa memiliki berat badan 30kg lebih banyak dari berat badanku. Dengan keunggulannya, dia menggunakan berat badannya untuk menjepit lenganku ke atas kepalaku dan dia duduk di dadaku. Aku sendiri hampir tidak bisa bernapas karena rongga udara di dadaku tertekan oleh berat badannya. Namun luar biasanya aku tidak merasakan sakit di pergelangan tangan yang tadinya di cengkram erat oleh Dewa.
Dia tersenyum ke arahku, "Kamu kelihatan luar biasa."
Air mataku mulai menggenang dan terancam untuk mengalir dari mataku. Aku berusaha mati-matian untuk tidak membiarkan mereka mengalir. Aku berjuang sendiri di tengah kondisi yang kekurangan oksigen. Keadaan kali ini pun tidak lebih baik dari yang pernah terjadi di parkiran waktu itu.
Tampaknya Dewa sudah belajar lebih banyak karena dia sudah mengantisipasi banyak hal dengan menahan kakiku agar aku tidak bisa menendangnya.
"Percuma kamu memberontakan kekuatan aku lebih besar dari kekuatan yang kamu punya."
Itu baru babak pertama dan aku sudah dikalahkan. Sebagai anggota kelompok mafia dia pasti sudah banyak mengetahui banyak trik untuk menjebak wanita karena tiba-tiba pria itu membukukan tubuhnya dan mendekatkan bibirnya ke bibirku. Aku menolak dan masih tetap berusaha menjauh.
B******* itu sampai menggigit bibirku dan membuat aku berteriak kesakitan. Dia menggunakan kesempatan itu untuk memasukkan lidahnya ke dalam mulutku dan mencoba membungkam jalan udara. Aku tidak berdaya karena aku tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Air mata yang ku tahan mati-matian keluar dan mengalir ke tulang pipiku sebelum mengalir ke leherku meninggalkan jejak basah. Aku merengek minta dilepaskan. Tapi dia mengira jika aku menginginkan lebih dan dia bersikeras untuk menciumku di dalam.
Aku ketakutan. Jika dia Sampai berani memperkosaku di tempat seperti ini, aku akan benar-benar bunuh diri saat itu juga. Aku tidak sedih tubuhku dijamah oleh penculik.
__ADS_1
Dan untungnya dia menarik diri sambil menyeringai padaku, "Menarik," katanya menggoda namun tidak langsung bangun dariku. Apa yang dilakukannya itu sangat menjengkelkan. Pria sialan itu berusaha menarik perhatianku yang malah membuatku semakin tidak sudi untuk melirik. Apapun yang dia lakukan sangat tidak menarik untuk disaksikan.
Air mataku tak kunjung reda, malah mengalur semakin deras. Aku juga tidak bisa menarik napas dalam-dalam untuk mengeluarkan suara tangis karena pria itu masih menduduku dadaku. Dia menyiksaku tanpa henti.
"Stip it!" Dia berteriak memperingatkan. Memintaku untuk tidak menangis. Sedang aku sendiri juga tidak bisa serta merta menghentikan tangisku begitu saja setelah apa yang dia lakukan padaku. Orang waras mana yang tidak menangis ketika dia dilecehkan. Bukannya berhenti, air mataku malah semakin deras mengalir sampai mengaliri leher belakangku.
"Kamu bisa berhenti nangis nggak?" Dia berteriak lagi. Kali ini lebih keras. Mungkin baginya dengan dia berteriak kencang, itu akan menakutiku dan membuatku menurut. Dia sendiri masih me jempit tanganku dan malah semakin menekannya semakin keras, menandakan jika dia sedang marah.
Rasa sakit mulai menjalar dan itu sangatbluar biasa sulit untuk ditahan. Aku sendiri sedang berjuang untuk menghentikan air mataku ketika rasa sakitnya semakin bertambah.
"Berhenti." Dia semakin menekan bilah tajamnya ke kulitku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan aliran air mata. Tapi seperti box pandora, air mataku seolah mengalir langsung dari pusatnya dan terasa sangat sulit untuk dihentikan walau aku sudah berusaha lebih keras. Aku mencoba menahan suaraku meski air mata masih mengalir. Aku berharap Dewa tidak menyadari.
Tapi pria itu bukan orang yang mudah ditipu. Dia sadar dan tahu jika aku masih menangis.
Bilah tajam dari pisau miliknya itu dia tekan lebih keras ke kulitku dan aku bisa merasakan bagian tajamnya menembus pangkal leherku. Darah hangat yang mengalir berhasil mengaliri permukaan kukitku yang dingin. Aku mulai menjerit dengan sedikit napas yang tersisa. Dia menatap mataku saat kembali menarik pisaunya dan menurunkan ke arah dadaku. Aku merasa kulitku terbelah dan darah mulai menggenang dan menetes ke bawag. Dewa menarik pisau dari kulitku hingga mengenai dress yang aku gunakan. Sinar yang terpantul ke pisau membuatku bergetar. Ada darah yang mengisi pisau dan itu darah milikku.
__ADS_1
Aku melihat darahku mengalir dari ujung pisau ke bawah dan mengalir ke tangannya. Aku terus berteriak sampai dia kembali mengancam sambil menodongkan pisau ke arahku. Jeritanku semakin memilukan ketika dia kembali menggores tubuhku dimulai dari leher hingva ke dadaku. Pria itu menyeringai tampak menikmati apa yang dia lakukan barusan. Matanya menatapku lekat penuh binar.
"Jadi, kamu udah mau nurut sama aku?"
Rengekanku yang tidak jua mereda membuat dia menyerah untuk memintaku berhenti. Dewa bangkit dari atas dadaku dan membiarkan aku menikmati udara memasuki paru-paruku. Aku menarik napas dalam-dalam. Dia masih terlihat menatapku sambil berpikir sejenak, sebelum meraih kantong plastik yang berisi makanan dan membawanya.
"Kamu nggak pantas diperlakukan baik memang," gumamnya sambil menaiki tangga dengan membawa semua makanan yang tadi dia tawarkan padaku.
Sekarang pun aku ditinggalkan di kasur tempat dimana dia menyiksa para korban-korbannya. Apa nasibku juga akan sama dengan korban sebelumnya. Mati kehabisan darah di kasur.
Air mataku kembali mengalir. Lebih deras dari sebelumnya. Aku tidak bersuara karena tidak mau mendapatkan penyiksaan yang lebih dari ini. Kali ini hanya aku sendiri yang bisa mendengar suara tangisku.
Aku berharap dia segera ditangkap sebelum dia berhasil melecehkanku lebih jauh. Pria itu benar-benar tidak waras.
Orang gila yang berkamuflase benar-benar sangat mengerikan. Aku mengingat kembali kejadian pertama ketika aku memergoku dia. Kenapa harus aku? Kenapa juga aku harus kembali ke kelas kala itu. Jika aku membiarkan saja ponselku, tentu kejadian ini tidaj akan menimpaku.
__ADS_1
Aku sudah hidup sial dan kenapa kesialan itu seolah enggan untuk menghilang. Padahal aku hanya ingin menikmati hidup normal layaknya orang-orang. Ingin merasakan kebahagiaan tanpa dihantui perasaan takut yang menggerogoti pikiran.