Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Kisah Aidan


__ADS_3

Butuh beberapa menit sampai akhirnya Aidan bisa menenangkan dirinya. Dan sesuai dengan yang dikatakannya dia mulai menceritakan kisah hidupnya.


"Aku lahir dan dibesarkan di kota ini. Aku juga alumni di SMA yang sekarang berubah namanya menjadi SMA Maru. Masa kecil aku normal sama seperti anak pada umumnya cuma saat itu aku terlahir sebagai anak tunggal. Selayaknya anak tunggal pada umumnya aku juga merasakan kesepian. Sampai suatu hari aku memberanikan diri untuk meminta seorang adik pada orang tuaku. Mereka berdua adalah pasangan yang sangat luar biasa karena keduanya Tidak segan untuk mengungkapkan perasaan cinta mereka pada satu sama lain.


"Pada tahun selanjutnya, mamaku benar-benar hamil dan kami sekeluarga sangat senang karena kabar gembira ini. Awalnya semua berjalan baik tapi ketika hari kelahiran datang, ada sesuatu yang tidak beres." Wajah Aidan langsung berubah mendung dan terlihat jika dia sudah menahan perasaan ini cukup lama, tampaknya kejadian itu benar-benar menjadi pukulan telak untuknya.


"Dari yang aku lihat kedua orang tuaku itu saling bergantung pada satu sama lain. Bahkan keduanya tidak pernah pisah dan Papa sampai bekerja secara freelance agar dapat berada di rumah bersama Mama. Dan ini saat akhirnya Mama akan melahirkan calon saudara aku. Ketika sampai di rumah sakit Aku memang diminta untuk menunggu di luar terlebih dahulu. Aku juga tidak langsung masuk karena saat itu aku menunggu momen yang tepat. Namun Entah kenapa semakin lama suasana di dalam ruangan itu terasa semakin sepi hingga suster keluar dari ruangan."


Aku bisa membayangkan situasi di mana Aidan kecil tengah menunggu di lorong Rumah Sakit dengan raut wajah penuh ketidak sabaran. Dia menunggu saudara kecilnya terlahir di dunia.


"Suster itu kasih tahu aku kalau mama mengalami komplikasi dan pada akhirnya beliau tidak bisa diselamatkan. Aku terkejut dan saat itu tidak ada informasi juga mengenai calon adikku. Bagaimana aku menjalani hidup tanpa Mama. Aku baru berusia 7 tahun. Perasaanku semakin kacau ketika aku melihat Papa keluar dari ruangan itu. Penampilannya sudah berantakan wajahnya juga sudah pucat pasi dengan mata yang sangat sembab. Papa bilang kalau adik aku juga meninggal. Itu adalah hari paling menyakitkan buat aku karena aku harus kehilangan dua sosok keluarga sekaligus dalam satu hari."


Aku memandang Aidan sangat lekat dari tempat dudukku. Bahkan kisah menyakitkan pun dapat lancar diceritakan meski sudah 15 tahun berlalu seolah kejadian itu baru saja terjadi kemarin. Aku melihatnya berdiri dari kursi dan bergerak menuju dispenser. Setelah minum dia kembali duduk, kali ini dia memilih untuk duduk di sampingku.

__ADS_1


"Setelah kejadian itu, banyak kiriman makanan yang datang ke rumah. Mungkin para tetangga tahu Papaku sedang terguncang dan tidak memungkinkan bagi dia untuk mengkhawatirkanku. Tapi semua support yang diberikan oleh mereka tidak membuat Papa kembali bangkit. Papa hidup layaknya orang yang kehilangan arah tujuan, karena keadaan yang tidak kunjung membaik sikap apa yang seperti itu membuatku menjadi lebih cepat dewasa dari anak seusiaku. Aku juga dituntut untuk mengurus Papa. Untungnya, Oma datang tepat waktu ketika persediaan makanan kami hampir habis." Aidan mengusap wajahnya, tampaknya kejadian itu menjadi titik balik tumbuhnya Aidan yang sekarang.


"Kamu nggak harus cerita kalau itu masih sulit buat kamu ungkapin," ucapkan meyakinkannya. Tapi dia tidak setuju dan kekeh ingin melanjutkan ceritanya. Aku pun hanya bisa menyiakan karena dia sangat ingin berbagi cerita.


"Sampai suatu hari aku diharuskan kembali untuk sekolah. Oma juga harus pergi jadi cuma papa yang tersisa di rumah. Pagi ketika berangkat sekolah Oma sudah berpesan agar aku segera pulang begitu telah selesai untuk memeriksa kondisi Papa yang saat itu masih terguncang. Papa juga sering melewatkan makan siangnya," Jeddah hening itu digunakan Aidan untuk menghela nafas pelan, "dan kamu tahu apa yang aku temuin waktu aku pulang?" Suaranya bergetar, "aku temuin Papa udah terkapar dengan darah yang mengelilingi tubuhnya. Papa bunuh diri dengan memotong pergelangan tangannya."


Aku bisa merasakan sakit yang dialami Aidan kecil. Pasti kejadian itu sangat mengguncang dirinya karena dia kehilangan semua anggota keluarganya dengan cara yang amat sangat singkat. Terlebih kepergian Papanya tampak sangat tidak manusiawi untuk seorang anak kecil seperti Aidan.


Aku mengulurkan tanganku untuk menggenggam tangannya. Aku tidak mengatakan apapun tapi aku sedang berusaha menyalurkan kekuatan untuknya.


"Aku lagi mikirin kamu," bisiknya dan itu membuat sensasi menggelitik di perutku. Tiba-tiba jantungku ikut berdetak kencang dan aku juga sempat merasakan wajahku ikut memanas. I don't tersenyum sedih dan membalikkan tubuhnya menghadapku.


"Aretta," bisiknya ketika tangannya terangkat dan menyentuh wajahku. Dia menyelipkan anak rambutku ke belakang telinga, sama seperti yang dilakukan Pak Dewa padaku tadi. Tapi gesture yang dikeluarkan Aidan tampak lembut dan tidak menyeramkan.

__ADS_1


Dia menangkap bagian belakang leherku dan mendekatkan wajahku ke wajahnya, tapi kenangan yang ditinggalkan Pak Dewa membuatku sedikit trauma. Aku membeku di tempatku Tapi tampaknya Aidan tidak menyadarinya.


Dulu aku memang sempat berpikiran untuk mencium Aidan tapi itu hanya sebersis keinginan diaku dan aku tidak pernah menginginkan hal itu benar-benar terjadi. Karena aku menghormati Aidan. Dia bukan hanya seorang guru tapi dia juga teman baik yang selalu berada di sisiku ketika aku membutuhkan dorongan.


Namun sekarang dia tampak memiliki pemikiran yang sama denganku tapi bedanya dia lebih berani untuk merealisasikannya.


Aku memejamkan mataku dan menikmati sentuhan lembut bibirnya dengan tangannya yang berada di belakang leherku. Rasanya berbeda dan ini terasa lebih lembut. Dia menghentikan aksinya dan menempelkan keningnya ke dahiku setelah beberapa menit. Mata Aidan terpejam tampak frustasi. Tangannya terlepas dari leherku dan detik selanjutnya dia menjauh.


Aku benci perasaan ini. Perasaan dimana aku merasa tertolak. Aku pun segera beranjak dari tempatku dan keluar.


Harusnya aku tidak membiarkan nafsu menguasai pikiranku. Aku tidak mau memiliki hubungang yang canggung dengan pria itu, tapi sayangnya emosi dan akal pikiranku sudah tidak dapat bertugas dengan baik


Kesempatan itu aku gunakan untuk menjernihkan pikiranku. Aku berbalik untuk menatap ke dalam. Aku melihat dia yang mematikan lampu ruang depan dan menghidupkan lampu belakang. Tampaknya dia tidak merasa terusik sama sekali.

__ADS_1


Aku segera mengeluarkan ponselku dan mengirimkan sms pada Gio. Memintanya untuk menjemputku. Dia langsung membalas pesanku dan dia mengatakan akan tiba di sana kurang lebih dua puluh menit. Kesempatan itu aku gunakan untuk berpikir. Aku masih tidak habis pikir kenapa Aidan menciumku dan tidak mengatakan apapun setelahnya. Hal itu benar-benar menggangguku dan membuatku frustasi.


__ADS_2