Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Hanya Murid


__ADS_3

Setelah bekerja dengan ditemani kecanggungan, akhirnya aku pulang ke rumah. Aku hanya minum, mengganti pakaianku dan bersiap untuk lari. Aku menyapa Gio sebelum meninggalkan rumah. Kali ini aku hanya berlari di daerah dekat rumah, pikiranku sedang kacau dan aku juga tidak bisa fokus pada ruteku. Hanya saja, aku sudah berjanji untuk menjalani hidup lebih sehat dan mau tidak mau aku harus tetap berolahraga meski aku enggan.


Baru sepuluh menit sejak aku meninggalkan rumah, aku memutuskan untuk berhenti di taman. Aku merebahkan diri di rerumputan hijau yang masih menyimpan air bekas gerimis tadi. Rasa dingin langsung menyerang punggungku yang membuatku sedikit bergidik.


Keheningan itu hanya diisi oleh suara musik yang berputar dari MP3 milikku, entah kenapa  aku malah mengharapkan Aidan untuk datang.


Aku menikmati kesendirianku dan mencoba menenangkan pikiranku dengan menghanyutkan diri ke dalam musik. Aku menutup mataku sejenak dan mulai menikmati hembusan angin yang menerpa kulitku. Padahal langit sedang mengeluarkan semua pasukan bintangnya untuk mempercantik angkasa, tapi saat ini kecantikan itu malah tidak membuatku tertarik.


Aku masih berada di posisi berbaring ketika aku merasakan ada sesuatu yang mendekat. Dengan cepat aku membuka mataku dan terlonjak saat menemukan Oak Dewa berdiri tepat di atasku.


Dia menyeringai padaku dan tersenyum cabul ketika melihat posisiku. Pria itu juga tengah berlari sepertinya karena dia mengenakan celana pendek dengan kaos dan sepatu. Ah, jangan lupakan kaos bagian atasnya yang sudah basah di bagian dada. Tampaknya dia sudah lama berlari. Tapi aku tidak peduli karena itu bukan urusanku.


Pak Dewa berbicara, aku hanya mengamati saja karena apa yang dia bicarakan tidak bisa menembus musik yang sengaja kusetel dengan volume maksimal. Pak Dewa tampak kesal karena aku mengabaikannya, dia menendang kakiku dan mengisyaratkan agar aku melepaskan earphoneku.


"Apa?" bentakku kesal karena dia mengganggu waktu menyendiriku.


Pria itu menyeringai dan tampak terhibur dengan sikap lancangku, "Kamu ngapain di sini sendirian princess?" Dia bertanya dengan tangan yang bersedekap di dada. Dia kira dengan dia yang mencoba bertingkah keren itu akan membuatku tertarik. Tentu saja tidak. Dia malah semakin membuatku muak.

__ADS_1


"Bapak nggak lihat saya lagi apa?" balasku dan langsung mengabaikannya. Aku memasang kembali earphoneku.


Pak Dewa tampaknya tidak menyukai reaksiku, dia seperti tengah mengambil sesuatu dari kantong celananya. Apa itu? Jangan bilang dia mau membunuhku di temoat umum? Aku melihat sekelilingku dan menjadi lemas seketika saat tahu hanya ada aku dan dia di sini, ditambah suasana malam ini sangat sepi tanpa ada satu orangpun yang berseliweran. Apa ini akhir dari hidupku?


Angin yang berhembus kencang membuatku semakin takut. Aku tidak mau mati sia-sia apalagi sekarang aku tidak membawa ponselku. Aku memutar otak agar dapat terbebas dari pria ini, bagaimanapun juga aku masih ingin menikmati hidup bebas dari jauh dari Mama.


"Jadi ternyata kamu mau main-main sama saya?" Dia mengancamku. Aku harus segera pergi dari sini. Aku tidak sempat berdiri karena pasti akan langsung tertangkap , jadi aku memutuskan untuk berguling tapi kalah cepat dengan dia.


Pak Dewa sudah terlebih dahulu menahan lenganku ke atas kepala dan dia duduk di perutku. Pria itu sangat berat dan dia membuatku kesulitan bernafas. Aku meronta agar dilepaskan tapi dia tidak bergeming. Pak Dewa malah semakin mendekatkan wajahnya padaku, aku panik dan berteriak tapi di bekapnya. Memang apa yang bisa kulakukan ketika kekuatannya lebih besar dari kekuatanku. Dia mengendus leherku dan aku mulai menangis. Perasaan jijik mulai menggerogotiku, jika aku tetap seperti ini hal buruk pasti akan menimpaku dan aku tidak mau itu terjadi. Aku kembali mencoba memberontak dan terus memberontak, berharap agar pegangan dia pada kedua lenganku longgar. Ketika dia masih fokus pada leherku, aku menggigit telinganya keras. Dia tersungkur dan terus mengumpat, kesempatan itu kugunakan untuk kabur.


Aku lari dan terus berlari, tapi Pak Dewa tetap mengejarku. Aku tidak mau tertangkap, aku tidak sudi harus menerima pelecehan seperti itu darinya. Aku semakin menambah kecepatan berlariku dan sesekali melihat kebelakang. Orang itu tertinggal,. Dia tidak bisa menggapaiku.


Aku masih terus berjalan dan berjalan, mencari tempat ramai agar jika dia berhasil menyusul dia tidaj bisa melakukan hal-hal aneh padaku.


Seseorang menepuk pundaku, aku bergetar dan akan berteriak namun urung saat dia memanggil namaku.


"Aretta!" Aku menoleh. Itu Aidan. Kenapa harus dia? Padahal pria ini adalah orang yang tidak ingin aku temui sekarang.

__ADS_1


"Are you okay?" tanyanya. Tampaknya raut wajahku sangat buruk karena dia bertanya seperti itu. Aku tidak langsung menjawab dan lebih memilih untuk menatap sekeliling, mengantisipasi apakah Pak Dewa menyusulku atau tidak. Aku menghela nafas lega ketika tidak menemukan dia dimanapun.


"Aretta?" panggilnya lagi dan kini aku benar-benar fokus untuk menatapnya. Matanya terlihat bersinar di bawah pendar lampu taman.


"Hah?" responku masih setengah sadar karena jantungku juga masih berdegup kencang. Aku baru saja bebas dan ancaman Pak Dewa.


"Kamu kenapa sih Aretta?" desaknya lagi. Dia sampai mengunci tatapanku agar aku segera menjawab pertanyaannya.


Aku kembali menghela nafas pelan dan memberitahunya jika tidak ada yang terjadi, tapi Aidan tidak percaya dan dia masih terus mencecarku.


"Jangan bohong. Kamu ketakutan sambil masang ekspresi marah," tuduhnya lagi.


"Kenapa kamu pingin tahu banget apa yang barusan terjadi?"


"Kamu masih tanya kenapa? Aku baru aja lihat murid aku lari kayak dikejar setan dan menurut kamu gimana perasaan aku? Aku khawatir!" kalimat itu memukulku telak. Jadi sekarang aku adalah muridnya. Ternyata mendengarnya langsung terasa sangat menyakitkan dari yang kukira. Aku langsung berjalan pergi meninggalkan Aidan yang masih menunggu jawabanku. Aku tidak mempedulikan dia dan kembali memasang earphoneku untuk lanjut berlari. Aku sengaja mengabaikan panggilannya. Sekarang bukan di area sekolah dan aku juga tidak punya hak untuk menjawab panggilannya.


Aku kembali berlari, bukan untuk menghindari Pak Dewa saja, tapi aku juga ingin menghindari Aidan.

__ADS_1


Aku sampai di rumah dengan selamat dan untungnya Pak Dewa benar-benar tidak mengikutiku lagi. Aku segera mandi dan berjalan memasuki kamar, tapi Gio sudah menungguku. Dia berada di kamarnya dan memanggilku. Aku mendekat dan mengernyit jijik melihat penampakan kamarnya. Bukan seperti kapal pecah bahkan ini lebih parah. Ini seperti tong sampah raksasa karena baju kotor dan bersih bercampur, belum lagi bungkus-bungkus makanan ringan yang berserakan. Bau tidak menyenangkan juga ikut menghiasi tempat ini.


"Kenapa?" jawabku, aku tidak sudi jika harus melangkah masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2