Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Usaha untuk kabur


__ADS_3

Gagang dari pisau kecil itu berwarna silver dan amat mudah untuk dipegang meski berbahan tipis. Saat aku berhasil menemukannya rasa senang kembali membuncah.


Namun ternyata masalah kembali muncul ketika pisau itu tidak bisa di buka. Aku mencoba membukannya dan rasanya sulit. Padahal tempat pisau mini itu terbuat dari bahan plastik dan sepertinya alat pendorong untuk keluarnya mata pisau sudah macet.


Aku kembali mencoba, kuinjak, kulempar jyga tapi tidak ada perubahan. Pisau itu masih kokoh dan tampak tengah mengejekku. Aku menghela napas dan meletakkan kepalaku di tanganku karena tidak berhasil menghancurkan benda tersebut. Untuk pertama kalinya aku manangis karena takut. Aku menangis karena aku berpikir aku tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini. Aku menangis tersedu-sedu dan mulai merosot ke dinding.


Aku menangisi banyak hal, menangisi Aidan, Gio, Papa, dan juga soal kemungkinan aku yang tidak akan pernah bisa keluar dari sini. Jika memang ada seseorang yang berinisiatif mencariku, pada akhirnya mereka akan menyerah dan kembali menjalani kehidupan mereka seperti sebelumnya. Lalu perlahan mereka akan mulai melupakan keberadaanku.


Tangisku memang dimulai karena persoalan pisau kecil yang tidak bisa keluar. Tapi ketika mataku menatap sekeliling ruangan dan aku menemukan sebuah rak usang di dinding, tiba-tiba ide muncul begitu saja.


Aku mendekat dan meraih kayu yang masih menempel. Awalnya habya menyentuh dan ternyata kayu itu sudah tidak menempel sempurna di dinding. Aku meraih salah satu balok yang terlepas dan membantingnya ke atas pisau mini.


Benda itu meluncur di sekitar lantai basemant, terjepit karena benturan dan memantul di sekitar ruangan. Aku mendekat ke tempat benda itu terpental dan aku menemukannya tergeletak di dekat tangga. Kali ini semua penutupnya benar-benar hancur.


Aku tidak repot-repot lagi mencari pegangan karena hal itu sudah tidak penting. Aku berkonsentrasi pada sembilah pisau cutter itu dan mulai membersihkan sisa pelindung untuk aku buang ke dalam kolong tempat tidur.


Tempat yang paling aman dan tidak mungkin diperiksa oleh Dewa. Kini seringai bahagia muncul di bibirku dan harapan kembali membuncah.


Benda itu tidak besar, hanya seukuran setengah jari tengahku dan aku masih belum tahu apa yang harus aku lakukan dengan benda itu. Tapi sebuah rencana pasti akan datang kepada nanti dan ketika hal itu terjadi aku tidak perlu menunggu lebih lama. Aku mengocok benda itu  di tanganku, lalu memindahkannya dengan hati-hati dari satu tangan ke tangan lainnya. Mereka tajam dan aku juga sudah mendapatkan luka kecil di buku jari sayaku. Ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan goresan yang dibuat Dewa untukku.


Aku berjalan ke jendela sambil membuka kertas yang menutupinya untuk melihat ke luar. Hanya melihat jika  di luar sana masih terang. Waktu berjalan sangat lambat di basemant ini tanpa ada yang bisa aku lakukan.

__ADS_1


Aku mondar-mandir di ruang bawah tanah dengan lampu yang masih menyala. Aku mencoba memikirkan rencana  apa yang akan berhasil untuk menikam dan menyerang Dewa ketika dia turun nantinya. Aku juga mulai bertanya-tanya pada dirikh sendiri apakah aku bisa menjatuhkannya atau tidak.


Saat aku masih berpikir keras, tiba-tiba terdengar suara dari lantai atas. Awalnya aku tidak tahu apakah pendengaranku bendar atau tidak, lalu aku menajamkan telingaku. Aku mendengar suara kaki yang berlarian di tangga dengan langkah cepat.


Aku panik dan menggenggam bilah di tanganku begitu keras hingga hampir memotong kulit telapak tanganku. Aku segera melompat dan menarik kabel lampu dan kembali membuat basemant menjadi gelap lagi. Aku mendekati jendela dan melapisinya lagi. Ketika aku mendengar langkah kaki semakin mendekat, perasaan yang mengatakan sosok itu akan turun sangat terasa pasti. Dia pasti akan mengunjungiku.


Aku memikirkan kembali rencana yang paling layak untuk dilakukan sejauh ini dan aku akan mewujudkannya, berharap rencana itu akan berhasil. Aku mendengar suara handle kunci di pintu terbuka dan...


"Sweety?" panggilnya, "aku tadi dengar suara, kamu ngapain?" tanyanya terus terang. Langkah kakinya perlahan menuruni tangga tua dan berhenti sebelum dia mencapai dasar.


"Kamu di mana..?" Dia terdiam karena tidak menemukanku di mana pun di basemant yang gelap ini.


Aku memperhatikan ketika dia memicingkan mata ke arah lampu di atas dan masih berusaha terus untuk mencari-cariku. Aku merasa jantungku berdegup tak terkendali, dan aku tahu jika aku tidak bertindak sekarang aku akan tetap terkunci di ruangan ini. Aku menunggu sampai dia berada di posisi yang aku inginkan, dan saat itulah aku akan mulai menikamnya.


Tangannya mencoba mengular untuk melepaskan tanganku, tetapi saat dia melakukan itu, aku menggunakan cutter yang ada di tanganku untuk mengiris tangannya sedikit. Dia berteriak sambil menggenggam tangannya, tapi aku belum selesai sampai di sana. Aku menggunakan lagi cutter tersebut untuk membuat goresan lain di dagunya dan membuat dia melemparku.


Aku merasa seperti aku sedang menaklukkan naga atau binatang buas. Hewan ini telah membuatku bersembunyi di basemant kecil, membuatku tidak bisa mendapatkan udara segar dan cahaya sementara dia menggunakanku untuk kesenangannya sendiri yang membuatku sangat muak. Aku merasa bahagia ketika akubberhasil menggantung di lehernya. Tapi kemudian aku bertanya-tanya tentang kewarasanku.


Aku mulai tersadar, saat dia meronta-ronta dengan keras dan menggenggam tanganku untuk mencari udara.


Tangannya berlumuran darah bersamaan dengan aliran yang menggenang dan menetes ke tanah. Aku kembali mengiris sekali lagi di tangannya, kali ini lebih keras dari sebelumnya. Dia berteriak lagi dan aku melepaskannya, membuat pria ity jatuh ke lantai.

__ADS_1


Dewa terengah-engah sambil memegangi lukanya untuk menghentikan pendarahan. Aku hampir menertawakan betapa menyedihkannya dia, gabungan semua luka yang kutorehkan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luka besar yang dia berikan padaku.


Saat dia terengah-engah, aku menggunakan kesempatan itu untuk berlari menaiki tangga. Tidak bergerak selama beberapa hari bukan berarti kakiku menjadi lemah dan aku berjuang untuk menaiki tangga dengan kecepatan luar biasa agar aku bisa melarikan diri darinya. Aku sudah sampai di puncak tangga dan tidak membuang  waktu sedetik pun untuk menikmati udara yang segar. Aku mengingat rute keluar rumah dan mulai mengikutinya saat aku merasa yakin pria itu masih di basemant.


Aku sampai di pintu depan yang dicat hitam pekat, lalu mulai memutar handle pintu. Aku menarik pintunya hanya untuk menyadari jika pintu itu terkunci. Aku meraba-raba dan menemukan kunci yang menempel di sana. Dengan cepat aku memutar kunci sambil memutar gagang pintu dan pintu pun terbuka. Embusan udara segar menerpaku, dan baunya manis. Rasa manis itu seperti kebebasan. Jantungku berdegup sangat keras sehingga darah yang mengalir deras di telingaku menghalangi suara apa pun.


Aku melangkah keluar dengan gemetar, tapi langkahku tertahan ketika aku merasakan sebuah tangan bertato ular itu melingkari leherku dan menarikku masuk kembali ke dalam rumah. Pintu dibanting bersamaan dengan aku juga dibanting ke tanah dan itu menjatuhkan cutter yang masih kugenggam di tanganku. Udara segar terputus, tetapi hawa dingin menyelimuti udara saat Dewa yang berlumuran darah dengan marah berdiri di depan tubuhku yang lemah. Matanya mengatakan jika aku dalam masalah.


Aku sudah sangat dekat dengan kebebasan, jadi tidak bernah memikirkan soal bagaimana jika itu tidak terjadi. Aku pikir aku akan berhasil bebas dan begitu aku keluar aku akn lari dengan sekuat tenaga. Tapi aku malah masih berada di sini. Tidak kemana-mana dengan Dewa yang tengah menatapku dengan tatapan tajam yang kembali membuatku menciut.


"Kamu berani ngelakuin hal itu!" Dia mendesis padaku dan melompat. Seperti beberapa malam yang lalu aku ditindihnya, tapi kali ini dia melakukan itu tanpa belas kasih. Dia tidak memberiku ampun sama sekali karena kini dia menjeputku dan mencengkram tanganku yang sakit dnegan keras. Dia menarik tanganku keras karena tahu jika aku mendapatkan luka fatal di situ dan di situ jugalah kelemahan terbesarku.


Aku menjerit ketika rasa sakit itu terasa menyengat di sekitaran tulangku ketika dia menarikku paksa untuk berdiri. Aku tidak punya pilihan selain mengikutinya ketika dia menuntunku menaiki tangga. Dia hampir seperti sedang menyeretku.


"Dasar bodoh." Dia mencibir dan membuatku merinding, "kamu harus dikasih pelajaran."


Dia menolehkan kepalanya untuk menatapku, dan tatapannya kinj dipenuhi dengan nafsu amarah.


Nafsu.


Dia menyeretku ke kamar tidur, tetapi aku tidak punya waktu untuk menyadari apa yang terjadi atau memperhatikannya lagi sebelum dia melemparkanku ke atas kasur. Dalam sepersekian detik, dia sudah menjempitku lagi.

__ADS_1


Kali ini tampaknya aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya dan aku menggunakan kesempatan terakhir yang aku miliki untuk meminta bantuan. Aku berteriak sekencang mungkin, berharap ada seseorang yang mendengar suaraku. Entah itu tetangga atau orang luar yang lewat. Aku menggunakan kekuatan terakhir yang aku miliki untuk berteriak, bahkan aku sampai merasakan tenggorokanku berkontraksi saat aku menjerit keras. Dewa sendiri pun tampak ngeri saat suaraku berhasil membuatnya menutup telinga. Tapi aku tidak berhenti sampai situ.


Aku berteriak lagi sampai sebelum tangannya turun dan menampar wajahku dengan keras. Memotong jeritan parauku.


__ADS_2