Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Insting Aidan


__ADS_3

Aku membutuhkan orang yang selalu bisa berada di sisiku dan itu bukan Oma. Yang bisa mengerti aku dan memberiku cinta tidak hanya sekedarnya saja. Aki ingin memiliki seseorang yang bisa aku cintai seperti yang dilakukan Papa dan Mamaku. Seseorang sepe


Sayangnya itu tapi bukan pasangan yang segila itu.


Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kondisi Papa untuk terakhir kalinya dan aku tidak mau meninggalkan kenangan menyakitkan seperti itu untuk orang-orang di sekitarku.


Sejujurnya ketika aku bercerita tentang kondisi keluargaku pada Aretta, aku bisa merasakan jika dia benar-benar sosok yang aku butuhkan. Aku juga merasa dia adalah orang yang bisa kucurahkan semua cintaku hanya untuknya. Mungkin terdengar seperti omong kosong tapi itulah yang aku rasakan.


Tapi sayang semua tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku inginkan. Sekarang di sinilah aku, berdiri mengajar di depan kelas. Padahal aku berharap hari ini pun aku dapat menatap wajahnya meski dari jauh, tapi wanita itu tidak ada. Aretta tidak masuk kelasku.


Hal yang paling aku sesali adalah, aku mengabaikannya. Tadi pagi aku melihatnya di Daia kafe tapi aku sengaja tidak melirik ke arahnya. Aku berharap hal itu setidaknya bisa mengurangi rasa ingin memiliki padanya, tapi ternyata itu tidak berhasil dan berakhir dengan aku yang selalu memikirkannya.


Aku sempat melihatnya sekilas dan tatapan penuh kekecewaan tergambar jelas di matanya. Tapi bagaimana? Bukan hanya dia yang terluka, akupun sama. Aku jadi mengingat kejadian semalam ketika dia berlari kencang seolah tengah dikejar sesuatu dengan raut wajah yang tegang. Melihat dia sendiri, aku berinisiatif untuk mengikuti dan saat dia berhenti aku mendekat. Niat hati ingin menanyakan apa yang sedang terjadi tapi yang aku terima adalah sebuah penolakan. Ah, jadi begini rasanya tertolak oleh seseorang. Apa ini juga yang dia rasakan kemarin saat aku tiba-tiba berhenti menciumnya dan mengalihkan pandanganku


Tatapan dingin yang dia berikan sama sekali tidak pernah kuduga. Apa hanya itu yang bisa aku dapat untuk semua yang sudah kulakukan. Mungkin aku memang pengecut karena berhenti di tengah jalan tanpa memberi kepastian ketika aku tahu, dia juga menyimpan perasaan yang sama.

__ADS_1


Aku ingin berbicara hanya saja rasanya salah. Dan dari sekian argument di benakku tentang apa yang harus aku lakukan, akhirnya aku kalah dengan keinginan terpendamku. Aku memberanikan diri untuk meminta maaf padanya lewat pesan meski tidak ada balasan darinya sampai detik ini.


"Pak?" Seorang siswa bertanya dan itu membuatku kembali tersadar dari lamunanku tentang Aretta.


"Iya?" jawabku sekenyangnya. Aku menyukai Aretta tapi bukan berarti aku akan memberi perhatianku padanya di depan anak-anak lainnya. Tidak berlaku untukku karena aku sendiri jengah melihat perlakuan seperti itu. Aku sadar siapa aku dan bagaimana aku berperilaku ketika di sekolah.


"Maaf Pak, pertanyaan nomer tiga saya masih kurang paham." Hari ini aku memang sengaja mengadakan ulangan mendadak dan berharap bisa berbicara dengan Aretta ketika kelas selesai, tapi rencana itu gagal karena wanita itu tidak berada di sini. Aku segera mendekat dan menjelaskan sambil menatap anak-anak yang lainnya. Di bagian belakang aku melihat Rafa, gadis itu menatapku tajam seolah dia mengetahui sesuatu. Apa mungkin itu tentang aku yang mencium Aretta? Tapi tidak mungkin Aretta menceritakan hal itu karena dia cukup tertutup meski suka berbicara.


Aku segera mengalihkan pandanganku dan menepis kemungkinan-kemungkinan aneh yang tidak mungkin terjadi.


Aku sampai di toko dan sedikit heran menemukan tulisan terjual di toko sebelah. Aretta pernah bilang jika Oma memintanya untuk membeli toko di sebelah untuk merealisasikan mimpinya, tapi saat itu aku hanya mendengarkan saja karena bisa saja itu hanya keinginan semata Oma disaat kondisi toko tidak berjalan baik.


Aku duduk di sana sambil terus memikirkan perkataan Aretta, aku menyesal karena tidak bergerak cepat padahal kesempatan sudah ada di depan mata. Tapi apa mau dikata jika tempat itu sudah terjual, aku hanya bisa berharap semoga tetangga baru itu akan baik dan bisa bersosialisasi dengan kami.


Aretta tidak masuk sekolah tapi dia datang ke toko setengah jam setelah aku menjaga toko ini sendiri. Oma sudah pulang karena aku memintanya untuk banyak beristirahat.

__ADS_1


"Maaf saya terlambat, Pak," katanya kemudian langsung pamit oergi ke ruang belakang untuk meletakan barang bawaanya. Formalitas yang terasa menyesakkan itu membuatku terdiam di tempatku, apalagi tatapan dingin itu masih menghiasi mata indahnya. Niat awalku yang ingin memperbaiki hubungan kami terpaksa harus ditunda karena dia sepertinya tidak dalam kondisi yang bisa diajak bialcara. Kami bekerja dalam diam tapi tetap bersikap santai ketika pelanggan datang.


Aku kira hari ini akan berakhir seperti sebelum-sebelumnya tapi sayangnya aku sangat tidak tahan dengan keheningan ini. Rasanya teramat mencekik.


"Aretta, maafin aku." Dia melirikku, hanya sekilas dan melanjutkan kembali kegiatannya.


"Aku tahu aku udah lancang dan nggak menjelaskan apapun ke kamu, tapi aku benar-benar ngerasa bersalah. Aku mau kita balik temenan kayak dulu lagi," hanya itu penjelasan yang aku berikan, aku tidak mau berbicara panjang lebar yang mana nantinya malah aku menjadi pembohong dengan mengatakan hal-hal yang sebenarnya tidak aku inginkan. Dia menatapku lumayan lama hingga akhirnya mengangguk.


"Oke. Aku maafin."


Awalnya aku terkejut karena dia semudah itu memafkanku. Aku juga berpikir jika dia hanya main-main karena enggan mendengarkan aku terus berbicara tapi ketika aku menatapnya, Aretta tersenyum dan itu senyuman yang sering dia berikan padaku.


Aku dan dia kembali menjalin keakraban yang sempat putus. Kami bercerita, bercanda, dan menyanyi bersama. Aku kira hanya ada kami tapi sesuatu terasa mengganggu. Aku menatap sekeliling dan menemukan seseorang berdiri di luar toko. Itu Jessica. Murid di kelasku yang sering terlihat akrab dengan Dewa, tapi kenapa dia ada di sini?


Awaknya Jessi hanya mengawasi kami dari luar, setengah jam setelahnya dia memutuskan untuk masuk dan mengawasi kami dari dekat seolah dia sedang membaca buku. Akting klise yang sering terjadi.

__ADS_1


Aku tidak tahu apa yang dia cari atau apa yang dia lakukan di sini. Selama dia tidak mengganggu Aretta, aku tidak akan mempermasalahkan hal itu. Kenapa aku bisa berpikiran seperti itu, karena ketika Jessi masuk ke toko, Aretta tampak terperanjat. Tapi dia pintar menyembunyikannya dan kembali melanjutkan tugasnya. Aku awalnya pun hanya terus menatap Aretta dan Jessi secara bergantian, saat melihat tidak ada pergerakan dari Jessie aku memutuskan untuk mengajak Areta membahas soal cafe impian Oma. Mungkin cafe itu tidak akan pernah terealisasi tapi setidaknya dengan membahas itu binar kebahagiaan di mata Aretta kembali terpancar.


__ADS_2