Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Perasaan Aidan


__ADS_3

"Kalian kok bisa datang bareng? Kalian saling kenal?" tanya Oma.


Aku memberikan kecupan singkat di pipinya sebelum menjawab, "Aretta ini muridnya Aidan di sekolah Oma," jelasku singkat dan padat. Aku juga meyakinkan diriku sendiri jika hubungan kami hanya sebatas itu. Kami tidak bisa lebih dari itu meskipun aku ingin.


Oma mengangguk paham dan aku tahu sebenarnya apa yang ada di pikirannya. Tapi aku memutuskan untuk tidak membahas soal itu apalagi di depan Aretta.


"Karena kalian udah sampai Oma bakal langsung aja. Buku yang baru datang sudah ditaruh di gudang. Ada stok novel dan beberapa buku pengetahuan. Jangan lupa disusun di rak ya. Oma mau arisan dulu habis itu langsung istirahat di rumah," ucapnya sambil mencari tasnya. Aku mengangguk paham. Oma sudah bekerja sangat keras selama hidupnya dan aku tahu betapa berharganya toko ini untuknya. Membesarkan tokoh ini bukan hal yang mudah. Mendirikan toko buku selain sebagai hobi juga sebagai mata pencarian yang awalnya sangat ditentang oleh orang-orang sekitar. Bahkan untuk beberapa waktu toko ini tidak ada yang mendatangi karena pada saat itu membaca belum menjadi budaya yang banyak diminati.


Untungnya zaman berubah dan buku menjadi populer. Saat itu krisis yang melanda toko ini berhasil di selesaikan. Dulu orang tuaku juga ikut membantu Oma, tapi sejak mereka meninggal hanya aku yang bisa membantunya sekarang.


"Iya. Nggak usah khawatir Oma. Ada yang antar?" tanyaku. Aku memang mempekerjakan supir tapi terkadang Oma meminta Pak Danu untuk pulang dan mengurus kebun di rumahnya saat dia sibuk di toko. Bahkan beberapakali aku juga melihat Oma yang berangkat dengan berjalan kaki. Pak Danu sudah beralih profesi menjadi tukang kebun semenjak bekerja dengan Oma dan itu terkadang membuatku tidak mengerti dengan jalan pikiran Oma. Tapi ketika jam pulang atau saat Oma malas, dia baru meminta Pak Danu untuk menjemputnya.


"Ada."


Setelahnya Oma benar-benar pergi dan kini hanya tinggal ada kami berdua. Aku dan Aretta langsung bergerak membereskan buku sambil bercanda gurau. Dia tertawa, merengut, dan banyak melohtarkan lelucon. Aku menyukai situasi ini. Entah kenapa semakin mengenal Aretta aku semakin ingin memilikinya. Aku ingin menjadi satu-satunya orang yang bisa menjadi tempatnya bersandar.


Tapi apakah itu bisa?

__ADS_1


Apa sangat berlebihan jika aku menginginkan Aretta yang notabenenya muridku sendiri untuk menjadi kekasihku?


Aku tidak pernah memikirkan soal ini sebelumnya, bahkan hal seperti ini tidak pernah terlintas di benakku karena menurutku semua wanita yang ada disekelilingku hanyalah orang-orang yang membosankan dan tidak menarik untuk dimiliki.


Terlalu banyak membicarakan dia membuat pikiranku semakin tidak waras nantinya. Pelanggan pertama datang dan kami langsung membagi tugas dengan cepat. Kesibukan kali ini benar-benar luar biasa karena aku dan dia bahkan tidak bisa duduk bahkan untuk sebentar.


Begitu jam makan siang datang aku mengajaknya untuk makan bersama. Mungkin otakku sudah tidak bisa menahan diri lagi, dengan tidak tahu malunya aku meraih tangannya dan menautkan jemari kami tanpa izin darinya. Kami berjalan bersama untuk keluar dari toko.


Genggaman dari tangan Aretta benar-benar membuatku bahagia. Ini lebih berhasil dibandingkan hormon endorfin yang bisa didapat dari lari. Tangan mungilnya yang lembut seperti memang tercipta untuk ku genggam karena ukurannya sangat pas di bawah telapak tanganku yang lebar. Aku menyukai situasi dan sensasi ini. Situasi di mana Aku dapat menggenggam tangannya dan sensasi di mana aku dapat merasakan perasaan membuncah hanya karena kedekatan ini. Namun sayangnya untuk sekarang aku tidak bisa menggenggam jemarinya lebih lama. Aku tidak mau membuatnya tidak nyaman dan mendapat cap sebagai pria yang lancang.


Dengan berat hati aku segera melepas tahu tantangan kami begitu kami sudah berada di luar toko. Ditambah aku juga harus mengunci toko sebelum pergi.


Aku sedikit heran melihatnya yang hanya mengambil nasi seujung centong. Apa dia bercanda? Bahkan itu tidak sampai dua suapan. Aku menatapnya tajam dan menambahkan satu centong lagi ke atas piringnya.


"Tapi ini..." protesnya.


Dia sudah ambruk di sekolah. Apa dia senang menyiksa dirinya sendiri hingga seperti ini?

__ADS_1


"Ayo jalan." Aku mendorong lembut pundaknya hingga kami tiba di bagian perlaukan dan sayuran. Tampak bimbang dan aku memutuskan untuk ambilkan sepotong ayam bakar. Aku juga menambahkan sayur, sambal, dan lauk untuk pelengkapnya. Makanan itu memang harus seimbang agar semua kebutuhan terpenuhi.


"Kebanyakan..." Dia merengek yang malah membuatnya semakin tampak menggemaskan. Gadis ini apa tidak sadar jika kelakuannya malah membuatku salah tingkah.


"Udah kena nasi jadi nggak boleh dibalikin," kataku. Dia langsung mengerutkan bibirnya. Ingin rasanya aku usap lembut kepalanya. Tapi itu tidaklah mungkin, "mau Aku tambahin lagi apa mau langsung cari tempat duduk?"


Aretta langsung melangkah pergi begitu mendengar kalimatku. Dia sepertinya memang memiliki kisah buruk yang ada sangkut pautnya dengan makanan. Tapi apa?


Sisa waktu itu berakhir baik. Kami benar-benar telah menjadi partner yang sempurna. Aku sendiri sangat menikmati waktuku yang kuhabiskan bersama dengan Aretta. Dia dewasa, tidak banyak menuntut, dan mandiri. Dia juga pendengar yang baik. Apalagi saat aku menceritakan asal mula terwujudnya toko ini. Binar kekaguman dan decakan salut tidak dia sembunyikan.


Waktu istirahat usai, kamipun kembali melanjutkan pekerjaan kami. Kali ini pelanggan yang datang tidak sepenuh ketika pagi dan ketika dia sibuk dengan pelanggan aku melipir keluar karena Oma yang menelepon. Aneh jika aku menjawab telepon saat aku sedang berada di dalam karena suara yang dihasilkan dapat menggema ke seluruh ruangan. Oma menanyakan nonton toko, tentang makan siang, dan tentang keadaan kami.


Sekitar 10 menit aku bertelepon. Tapi saat aku kembali masuk aku tidak menemukan Aretta di manapun. Toko terlihat sepi karena pelanggan terakhir yang aku ketahui sudah keluar sebelum aku menutup telepon.


"Aretta?" panggilku dengan suara yang cukup keras.


"Iya." aku mendengar suaranya dan mengernyit kecil ketika tahu suara itu agak bergetar. Nadanya terdengar ketakutan.

__ADS_1


Aku melihat Aretta yang muncul dari balik rak buku. Kelegaan tidak lantas datang ketika aku juga melihat Dewa muncul di belakangnya. Pria itu adalah guru dan kolega bisnisku tapi dia juga salah satu anggota di dalam bisnis gelap. Entah itu prostitusi atau pengedaran narkoba. Aku tidak begitu paham dan aku juga tidak bisa asal menuduh karena aku tidak memiliki bukti apapun.


__ADS_2