Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Awal Hari


__ADS_3

Tadi malam aku sama sekali tidak dapat menutukan mataku. Siluet Pak Dewa yang berdiri di bawah pepohonan semalam sangat mengganggu. Aku bahkan sampai harus menahan diriku untuk tidak mengintip apakah dia masih di sana atau sudah pergi. Padahal Aidan sudah memintaku untuk memberitahu padanya jika ada sesuatu yang menggangguku, tapi dengan keadaan yang seperti ini bagaimana caranya aku memberitahu dia? Aneh rasanya jika aku tiba-tiba langsung membincarakan soak Pak Dewa yang mengamatiku karena dengan aku mengatakannya berarti aku harus siap menceritakan semua rahasia yang sengaja aku sembunyikan.


Dan lagi, Aidan pasti akan menganggap aku seorang wanita yang sangat percaya diri hanya karena melihat Pak Dewa ada di sana. Karena belumĀ  tentu Pak Dewa memperhatikanku. Itu pasti yang akan dipikirkan oleh Aidan. Rasanya akan sangat memalukan jika itu terjadi. Memangnya juga dia mau percaya padaku dibandingkan rekan kerjanya? Jika dia waras pasti Aidan akan lebih memilih Pak Dewa dibandingkan aku si manusia aneh yang sering mendapatkan perlakuan tidak baik dari Mamaku sendiri.


Aku masih berbaring di tempat tidurku dan memikirkan banyak hal yang bisa aku lakukan untuk menjauh dari radar Pak Dewa. Jika memang harus berakhir tidak baik, setidaknya hanya aku yang harus bertanggung jawab. Bukan orang-orang yang ada di sekitarku.


Aku menoleh ke arah jendela. Cahaya matahari sudah merembes masuk ke dalam kamar melalui cela-cela tirai. Suasana hari ini memang luar biasa indah, hanya saja aku merasa tidak sanggup untuk bangun apalagi harus bertingkah seolah kejadian tadi malam itu hanya khayalanku saja.


Tapi setelah aku mengingat kembali soal bagaimana kerja keras yang dilakukan kedua manusia di rumahku semalam, semangatku langsung muncul kembali. Dengan cepat aku berguling sari tempat tidurku dan berjalan melintasi kamar untuk menuju pintu. Aku membukanya dan langsung disambut bau gosong yang berasal dari area dapur. Aku berjalan menuju pantry dan menemukan dua roti matang yang salah satunya sudah berwarna hitam. Aku kira awalnya itu adalah sepotong batu yang dipungut, tapi jika dinalar kembali, untuk apa mereka membawa batu hitam ke dalam rumah? Aku melihat roti di sisi satunya, kali ini hanya sebagian saja yang gosong.


"Ya ampun," gumamku pelan. Melihatnya saja membuatku bergidik, apalagi kalau harus memakannya. Sudah pasti tidak akan tertelan. Aku berjalan melewati kedua benda yang gagal itu lalu mengambil roti tawar dari dalam lemari. Aku juga mengambil selai dan mengoleskannya ke atas roti. Ini sarapan untuk diriku sendiri dan aku langsung makan tanpa berpikir panjang sambil mengalihkan pikiranku dari kemunculan Pak Dewa yang mendadak semalan.


"Aretta!" seru Gio. Dia muncul dari kamar tidurnya, "happy brithday." Dia berteriak lagi dan berlari ke arahku. Pria itu memelukku erat yang membuatku menjadi kesulitan untuk bernafas. Aku menjatuhkan pisau selaiku ke atas meja dan membuatnya membunyikan suara.


"Kenapa nggak lo makan rotinya," katanya, sambil mengambil roti milikku yang sengaja aku buat lebih untuk kumakan nanti. Aku protes tapi kalah cepat dengannya karena kini roti milikku sudah tinggal separuh, "today's your brithday. Gue bakal buatin sarapan yang mengenyangkan buat lo!"


"Babe," intrupsi Ana dan kami berdua sama-sama langsung menoleh padanya, "kamu nggak boleh masak lagi. Apa harus aku ingatin lagi bencana apa yang udah kamu buat semalam?" Ana menunjuk ke arah dua benda yang mengenaskan di atas pantry. Aku mengangguk paham. Ternyata ini ulah kakakku dan itu membuatnya menunduk malu.


"Sorry. Gue lupa kalau gue nggak bisa masak," tapi dia kembali terkekekeh mencurigakan, "jangan khawatir karena kita bisa coba buat lagi."


Tanpa ba bi bu, Gio kembali menyiapkan bahan-bahan. Kali ini dia berencanan untuk membuatkanku pancake. Aku hanya melihat saja karena kedua manusia itu benar-benar melarangku untuk membantu.


Baik Gio dan maupun Ana sangat sibuk dengan adonan mereka. Dan mereka melakukan semua sesuai step dari tutorial video, namun sangat sulit untuk memahami bagaimana akhirnya pancake buatan mereka menjadi seperti itu.


"Kenapa jadinya gini?" tanyaku sambil menunjuk bencana yang mereka buat sambil masih duduk di tempatku.


Gio dan Ana saling memandang, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.


"Kayaknya emang kita bukan ahlinya," keluh mereka. Tidak heran karena kedua manusia itu memang sudah menyiapkan roti dan selai untuk sarapan, sedangkan untuk makan malam dan makan siang, mereka sudah terbiasa pesan online.


Kami bertiga bercerita banyak kisah konyol pada akhirnya dan itu membuat kami hampir saja menangis karena cerita yang mengalir. Aku kini menyadari jika merayakan ulang tahun merupakan sebuah hadiah tersendiri untukku.

__ADS_1


Pada akhirnya kami memutuskan untuk membuat nasi goreng. Kali ini aku yang memasak dan kedua ornag itu menjadi asistenku. Setelah menikmati sarapan yang lezat, aku kini merasa lebih baik. Aku juga sempat memeriksa lukaku dan luka itu sudah berubah menjadi berwarna cokelat kekuning-kuningan yang semakin mudah untuk ditutupi menggunakan foundation.


Karena hari ini adalah hari ulang tahunku, aku memutusakn untuk mengenakan pakaian yang aku inginkan. Setelah mengenakan seragam, aku menutupinya dengan hoodie yang meski oversize tapi kini lebih berwarna. Aku memilih warna pastel karena selama ini yang aku gunakan hanya berputar pada hitam dan hitam.


Aku merasa sangat jauh lebih baik dan bertekad untuk tidak membiarkan kehadiran Pak Dewa mengganggu hidupku.


Aku mengemasi semua buku yang sudah aku siapkan di atas meja, lalu menyampirkan tasku di bahu sambil berjalan menuju dapur. Di sana aku melihat Gio dan Ana yang masih berupaya untuk membuat roti untuk terakhir kalinha. Mereka bahkan tidak menyadari kehadiranku yang tengah menatap keduanya di pitnu daput.


"NO!" tetiak Ana keras saat Gio kembali berupaya menambahkan tepung ke dalam adonan, "itu udah nggak butuh tepung lagi!" sungutnya.


Gio terkekeh. Pria itu malah mengancam akan memasukan lebih banyak lagi tepung ke dalam adonan. Ana memprotes, tapi dia gagal menahan tangan Gio yang menyendokan adonan dalam jumlah besar melalui jarinya. Secepat kilat Gio mengusap adonan tersebut ke pipi Ana. Wanita itu tidak berteriak atau menolak, dia hanya berdiri dan menatap Gio dengan ekspresi tidak percaya ketika merasakan adonan itu mengalir di pipinya.


Ana menyeka adonan menggunakan tangannya. Wanita itu cemberut.


Aku tahu seharusnya aku langsung masuk dan menghentikan mereka berperang menggunakan adonan, tapi aku tidak melakukan itu dan lebih memilih untuk menunggu dan melihat bagaimana pembalasan yabg akan diberikan Ana pada Gio. Aku memutuskan untuk menyenderkan tubuhku ke pintu.


Aku menoleh lagi dan menemukan Gio yang tengah mengusap dahinya yang kini malah meninggalkan adonan berwarna cokelat di sana. Mereka berdua masih berdri berdampingan dengan ekspresi Ana yang masih muram dan dia menahan diri untuk tidak tertawa melihat tampang Gio. Kedua orang itu tampak seperti peserta kontes yang saling menahan diri untuk tidak tertawa lebih dulu.


"Guys?" seruku. Kini Ana dan Gio sontak menatap padaku, "gue nggak masalah kalian mau romantis-romantisan, tapi please lakuin itu pas gue udah pergi," ujarku. Aku kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu tapi kalah cepat karena Gio juga sudah meninggalkan adonan kue di pipiku.


Aku menatap kesal juga padanya. Tatapan yang sama yang diberikan Ana pada pria itu tapi milikku lebih parah. Aku akan menyeka, namun tertahan karena sebuah ide muncul di kepalaku. Aku berpura-pura mual seolah-olah adonan itu memiliki bau yang menjinikan.


"Ini apaan sih?" seruku, memulai sandiwara, "lo masukin apa ke dalam sini?" Gio tampak shock ketika menyeka dan mencium adonan itu, "coba lo cium," kataku sambil menyodorkan adonan itu ke arahnya. Gio menurut. Dia memajukan wajahnya untuk mencium adonan tersebut. Saat wajahnya sudah cukup dekat, aku menggunakan kesempatan itu untuk menempelkan adonan itu ke wajahnya. Dimulai dari dahi hingga ke dagu.


Wajah Gio kini juga dipenuhi adonan, tapi aku tidak bertahan untuk tertawa. Kesempatan itu aku gunakan untuk berlari keluar sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Itu balasan dari gue!" seruku lagi.


" Saat pintu terbanting menutup di belakangku, aku bisa mendengar suara tawa Ana yang terbahak dengan napasnya yang terengah-engah. Dan saat aku berhasil menyampai lantai satu, aku dapat mendengar suara tawa dua orang itu yang bergemuruh.


Senyum menghiasi bibirku ketika aku meninggalkan rumah, apalagi aku tidak menemukan lagi Pak Dewa yang semalam berdiri di luar rumah. Aku mulai berjalan pelan menuju Daia kafe yang kini letaknya lebih dekat.

__ADS_1


Jalanan tampak lenggang, udara pagi inipun terasa lebih hangat sama seperti tadi malam dengan aroma bunga yang menguar di sepanjang jalan utama.


Hembusan angin sesekali membawa kelopak bunga berguguran dan memenuhi jalan, tampak seperti musim gugur yang biasanya terjadi di negara-negara luar. Harus aku akui bahwa ulang tahunku yang ke-17 kali ini adalah ulang tahun terbaik yang pernah aku alami selama hidup. Aku seperti terlahir menjadi orang lain dan diberi ucapan selamat ulang tahun. Aku juga mendapatkan hadiah untuk ulang tahunku kali ini.


Aku memasuki Daia kafe dengan senyuman lebar di wajahku sambil berjalan mendekat menuju Rafa.


"Hai!"sapaku, "siap untuk berangkat ke sekolah?" Dia mendongak dari layar komputer kasir dan menatapku dengan mata yang dipenuhi binar.


"Areyya!" Dia berseru, "kenapa lo nggak kasih tahu gue kalau hari ini adalah hari ulang tahun lo? Gue nggak percaya kalau gue harus tahu dari kakak lo. Btw, happy brithday!"


Aku terkekeh mendengarnya dan mengucapkan terima kasih. Gadis itu banyak berbicara yang membuatku harus terjebak di sana sampai 10 menit kedepan. Obrolannya batru terhenti ketika seseorang menyentuh pundaknya.


"Sana berangkat. Ntar lo telat." Orang itu memberitahu yang sontak membuat Rafa kelabakan.


"Ayo berangkat," katanya, sambil mengambil tas ranselnya dari ruangan belakang yang khusus disediakan untuk para staff. Tak lupa juga dia mengambil kunci motornya karena sudah menjadi rutinitas dia akan ke sekolah menggunakan motor.


Sepanjang jalan, Rafa mengintrogasiku tanpa henti yang membuatku harus memutar otak untuk memberikan jawaban yang tidak mengecewakan. Banyak hal yang ditanyakannya yang untungnya masih dalam kondisi aman. Rafa juga bertanya soal apa yang dilakukan kedua kakakku untuk merayakan hari jadiku. Aku menceritakan saja apa yang terjadi tadi pagi dan dia tertawa. Tawa Rafa sangat mirip dengan tawa yang dimiliki Ana.


Kami berkendara dengan penuh gurau dan ketika sampai di tempat parkir sekolah, sebuah bayangan muncul. Aku mencoba mengabaikannya. Ini hari ulang tahunku dan aku tidak boleh terdistrak oleh sesuatu yang mengganggu. Tekadku pada diriku sendiri.


Namun, saat mengetahui jika sosok tersebut adalah Pak Dewa semua tekadku runtuh seketika. Untungnya Rafa tidak menyadari perubahan sikapku dan dia juga memberutahu soal dia yang tidak bisa mengikuti kelas biologi bersama denganku.


Aku langsung gugup. Jika Rafa tidak ada di sana, lalu akan bersama dengan siapa? Membayangkan saja membuatku takut. Aku mencoba menenangkan diriku dan menguatkan tekad jika Pak Dewa tidak akan berani mavcam-macam padaku saat kelas, karena itu sangat beresiko untuk diringa. Aku menjadi enggan untuk mengikuti kelas biologi.


"Gue duluan," serunya sambil berjalan mendahuluiku untuk menuju kelasnya. Sial sekali, aku ingin kabur tapi jarakku dengan kelas biologi hanya 5 meter dan lagi Pak Dewa sudah melihatku di parkiran.


Ketika pria itu masuk, aku langsung berlari. Hari itu aku tidak masuk pelajaran biolohi dan memilih untuk masuk kelas lainnya. Aku kira Rafa akan mengabariku kapan dia akan masuk, tapi sayang sampai detik terakhir menjelang pulang sekolah pun dia tidak memberi kabar. Aku sudah tidak bisa bolos lagi dan memutuskan masuk kelas meski enggan. Aku kira doa akan mengusirku jika aku terlambat, tapi dugaanku salah.


"Kenapa telat banget?" Aku mendengar seseorang berbisik di telingaku dan aku langsung menoleh. Aku memelototinya tanpa berkata-kata. Bagaimana bisa dia bersikap seperti itu di depan murid yang lainnya?


Aku lanhsung melipir masuk dan duduk di tempatku.

__ADS_1


__ADS_2