
"Aretta?" Aku mendengar Pak Aidan memanggilku.
"Iya," jawabku. Tapi suaraku terdengar sedikit bergetar. Aku segera berjalan kembali ke konter dengan Pak Dewa yang juga mengikutiku dari belakang. Pak Aidan terlihat lega saat berhasil menemukanku, dan wajahnya tiba-tiba berubah menjadi mengeras saat bertemu pandang dengan Pak Dewa.
"Dewa!" serunya.
"Aidan ternyata. Gue suka konsep toko lo, gue baru aja mampir buat cari buku bacaan," katanya sambil mengangkat sebuah buku. Tapi bukan buku yang dia pilih sebelumnya. Ini buku itu sudah berganti menjadi 'Pembelajaran Materi Biologi'.
Pak Dewa meletakkan buku itu di atas meja konter sambil mengeluarkan dompetnya. Karena Pak Aidan ada di meja kasir jadi pria itu yang membantu menyelesaikan proses pembayaran.
Aku sendiri hanya berdiri di dekat mereka. Tubuhku masih bergetar dan sedikit merasa lega karena terbantu dengan kehadiran Pak Aidan. Jika sekarang aku berada di depan meja kasir, Aku tidak yakin apakah aku bisa menyelesaikan proses pembayaran ini dengan baik, karena hanya sekedar untuk menatap mata Pak Dewa saja rasanya aku sudah tidak sanggup.
"Bye Aidan, Aretta." Pria itu berjalan keluar dari toko dengan riang, seperti tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya. Suara bel di atas pintu sebagai penanda jika makhluk itu sudah menghilang bersamaan dengan hawa gelap yang dia bawa sebelumnya.
Kelegaan menghampiriku. Kepergiannya benar-benar membantuku untuk kembali hidup. Aku beruntung hari ini, Jika saja Pak Aidan terlambat 1 menit, pasti suatu hal yang buruk sudah menimpaku. Pria itu tidak pernah main-main dengan ancamannya.
"Dasar orang aneh. Kenapa bisa sekolah menerima orang kayak gitu," ucap Pak Aidan. Aku menoleh padanya, sedikit terkejut dengan celetukannya. Baru kali ini aku menemui orang yang tidak tertipu dengan tampang Pak Dewa.
Selama ini aku hanya bertemu dengan orang-orang yang mengagungkan dia.
Tampang rupawan dan kepribadian yang berubah baik di waktu-waktu tertentu benar-benar menghipnotis hampir semua orang.
Pembicaraan soal Pak Dewa berhenti begitu saja. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 07.00 malam. Pak Aidan memutuskan untuk segera bersiap-siap menutup toko. Aku membantu dia untuk merapikan buku, merestok kembali buku yang kosong, dan mengembalikan buku yang tidak terdapat pada tempat yang seharusnya.
Pak Aidan terlihat sering menghela nafas kasar saat dia menemukan buku yang tidak berada pada tempatnya. Kami menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk merapikan buku. Setelahnya dia kembali mengunci toko dua kali sebelum memutuskan untuk pulang.
Matahari sudah berubah menjadi bulan. Angin yang hangat itu pun sudah berubah menjadi dingin dan membuatku sedikit menggigil karena hari ini aku hanya mengenakan kaos lengan pendek.
__ADS_1
"Kalau gitu aku pamit. Selamat malam," ucapku, kemudian membalikkan tubuhku dan mulai melangkah menuju rumah. Pak Aidan masih berada di depan toko, pria itu tampak tengah memikirkan sesuatu.
"Aretta. Ayo pulang bareng. Aku bakal antar kamu sampai rumah. Lagian udah malam dan banyak begal di sekitar sini," tawarnya.
Aku tidak paham dengan cara berpikirku saat ini, karena saat kewarasanku kembali aku sudah berada di mobil Pak Aidan dan tengah memberitahunya alamat rumahku.
Pak Aidan sendiri hanya mengangguk. Dia mulai mengemudikan mobilnya keluar dari gang di samping toko tempatnya parkir. B
eberapa kali aku tampak melihat dia yang menggosokkan kedua telapak tangannya. Kelihatannya dia juga dilanda hawa dingin. Aku melirik padanya dan baru menyadari Jika dia masih mengenakan kaos pendek dan celana pendek yang digunakannya tadi pagi. Hanya saja kali ini dia sudah mengganti sepatunya menjadi sandal.
"Kamu nggak jadi lari?" tanyaku, sambil menunjuk ke arah pakaian yang masih belum dia ganti.
Pak Aidan menunduk untuk menatap dirinya sendiri, kemudian dia tersenyum pelan dan kembali memperhatikan jalan.
"Rencananya bakal lari kalau udah sampai rumah."
Kami melewati pepohonan yang bergoyang karena tertiup angin. Hawa dingin membuat semua orang berlomba untuk diam di rumah yang membuat jalanan semakin sepi. Tapi sepertinya hal itu tidak menyurutkan semangat para anak remaja yang ingin keluar. Karena sepanjang jalan yang terlihat hanya kumpulan anak-anak muda tanpa ada makhluk paruh baya.
Aku mengarahkan Pak Aidan untuk menuju ke area tempat tinggalku. Kami sudah sampai dan dia langsung mematikan mesin mobilnya. Sesuatu yang tidak perlu dia lakukan jika kenyataannya dia datang hanya untuk mengantarku pulang.
"Terima kasih buat tumpangannya. Bye," kataku sebelum melompat keluar dari mobil. Baru saja aku akan menutup pintu mobil saat dia tiba-tiba memanggilku.
"Mau langsung pulang?" tanyanya.
"Nggak. Aku mau olahraga bentar. Paling lari keliling kompleks 2 putaran."
Pak Aidan tampak diam dan berpikir. Dia terlihat sedang menimbang sesuatu.
__ADS_1
"Kenapa mesti lari malam sih," gerutunya, "bentar! Kamu lari sama aku. Ini udah malam pasti rawan. Aku antar kamu pulang buat mastiin kamu sampai dengan selamat. Kalau gini ceritanya aku nggak bakalan tahu kamu selamat apa nggak nyampe rumah lagi." Dia langsung mengikutiku, membuka pintu mobil dan keluar. Setelah mengenakan sepatunya kembali Pak Aidan benar-benar mengunci pintu mobilnya.
Aku sendiri mulai bertanya-tanya dalam hati. Apakah ini ide bagus untuk berlari bersama? Sebenarnya akan lebih aman untukku, tapi apakah dia bisa mengikutiku?
"Kamu yakin bisa ikutin aku?" tanyaku memastikan.
Pak Aidan mengangguk dan terkekeh, "Mau taruhan?"
"Ehm ... Aku pikir-pikir dulu."
Setelah mengatakan itu aku segera berlari ke rumah. Aku meletakkan semua barangku di kamar dan mengganti pakaian. Rumah masih dalam kondisi sepi jadi aku akan aman untuk sekarang.
Pak Aidan masih menunggu di sana. Aku berjalan mendekat seraya meregangkan ototku. Memastikan semua bagian mendapat pelatihan ringan agar aku tidak kram keesokan harinya.
"Biasanya kamu kalau lari ke mana?" tanyanya begitu kami sudah mulai berlari.
Aku menuju ke depan. Itu adalah arah yang biasanya sering aku ambil ketika berlari.
Kami mulai berlari dengan kecepatan lambat. Aku dan dia sama-sama menggunakan earphone. Musik mengalun di telingaku yang menambah semangat, dan itu membuatku berlari lebih cepat. Ternyata Pak Aidan berhasil mengimbangi lariku. Dia bahkan sampai menambah kecepatan larinya seolah-olah dia tengah menantangku.
Aku membimbing rute kali ini. Keluar dari kompleks perumahan melewati perpustakaan kota, gedung-gedung pemerintahan, dan menuju jalanan yang semakin mengecil.
Aku sudah akan berbelok ketika sebuah tangan menarik lenganku kencang.
"Jangan lewat situ," ucapnya. Raut wajahnya tampak tidak baik. Dia seperti tengah menyembunyikan sesuatu di sana.
Aku tidak ingin berdebat dan memutuskan untuk mengikuti pilihannya. Aku memutarkan tubuhku dan kembali lari ke jalanan yang ramai. Kali ini kami hampir menuju jalan utama. Beberapa mobil yang melintas tidak sengaja menyoroti kami dan membuat bayangan berubah menjadi besar kemudian mengecil kembali.
__ADS_1
Kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat di taman. Aku sangat penasaran soal kenapa kita tidak mengambil jalan yang tadi.