Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
UGD


__ADS_3

Aidan mengangkat tangannya tanda menyerah, "Iya aku percaya!" dan langsung berjalan keluar tanpa mengatakan apa-apa lagi.


Aku tersenyum senang. Jika semudah ini kenapa aku tidak berkenalan dengan Rafa lebih awal. Setidaknya dengan begitu aku dapat bekerja sama dengannya dan aku tidak akan mendapat pertanyaan tentang menu makananku lagi.


Aku kembali duduk di konter dan mulai melayani pengunjung yang ada. Masih seperti sebelumnya beberapa tengah memilih buku dan beberapa tengah membaca list buku yang boleh disewakan. Aku masih takjub dengan toko buku ini.


Kecil-kecil cabe rawit.


Di tempat tinggal lamaku toko buku merupakan tempat yang tidak terjamah. Saking sepinya pengunjung tempat itu bahkan dipenuhi banyak debu di bagian rak bukunya. Mungkin itu juga yang menyebabkan pola berpikir orang-orang yang ada di kota lamaku berbeda dengan pola berpikir orang-orang yang ada di sini. Orang yang hidup di kotaku tampak lebih tidak peduli dengan sekitar meskipun kejadian itu juga ditemukan di tempat ini.


Aku kembali fokus menatap para pengunjung yang ada di dalam toko. Di antara mereka ada seseorang yang aku kenal. Dia mengenakan rok span dengan atasan model sabrina. Orang itu Jess.


Awalnya aku tidak berpikir jika dia akan datang ke tempat seperti ini, tapi saat aku memeriksa CCTV dan menemukan jika ada seseorang yang tengah membaca buku terbalik rasa penasaranku pun muncul. Bagaimana aku bisa tahu kalau itu Jessica? Aku tahu karena kebodohannya sendiri yang tidak teliti dengan buku yang dia pegang.


Jessica tampak kesal saat menatapku yang malah aku balas dengan kernyitan karena aku tidak paham apa yang membuatnya tampak begitu kesal padaku. Aku memastikan tidak ada orang di sekitarku baru melangkah mendekat. Memangnya apa yang ingin dia sampaikan?


"Jangan merengut. Ntar lo punya kerutan di wajah," kataku padanya. Dia segera mengatur ekspresi wajahnya saat itu juga.


"Gue udah peringatin lo sebelumnya buat ngejauh dari Pak Dewa kan? Kemarin gue lihat kalian berdua di sini dan lo akrab banget sama dia. Kalau lo masih mau hidup tenang mending lo turutin apa yang gue perintahin."


Setelah mengatakan itu dia langsung pergi. Jessica tidak bersusah payah untuk mendengar jawabanku. Dia melangkah keluar dari toko tapi dia masih ada di luar gedung dan masih terus memperhatikanku dari sana.

__ADS_1


Pada saat yang sama aku melihat Aidan yang berjalan ke toko dengan tangan menepuk-nepuk perutnya. Dia masuk dan mendekatiku.


"Kenapa?" tanyanya. Dia selalu saja datang di saat ancaman sudah dilayangkan padaku. Terlambat.


"Nggak ada apa-apa. Gimana makan siangnya?" ucapku mencoba mengalihkan topik. Dia tidak harus peduli soal ini karena bagaimanapun juga aku tidak mau menyeret orang lain masuk ke dalam permasalahan yang sudah aku buat.


"Makan siangnya enak dan aku juga udah kenyang," katanya.


Aku mengangguk paham dan segera bangkit dari kursi.


"Mau ke mana?" tanya pria itu cepat. Dia menatapku dengan salah satu alis yang terangkat.


"Buat apa?"


"Buat lap debu."


Dia mengangguk dan membuka loker di bawahnya. Aidan mengeluarkan alat yang aku sebutkan tadi, tepatnya ini alat baru karena kain lapnya masih terlihat sangat bersih. Setelahnya aku mulai mengelap bagi anak yang kotor. Seharusnya aku tidak usah banyak bergerak karena sedikit gerakan yang tercipta menyalurkan rasa sakit yang luar biasa.


Pelanggan yang berkurang membuatku semakin leluasa untuk membersihkan tempat ini. Aku ingin menebus kesalahanku dengan bekerja lebih keras supaya Aidan tidak melaporkan keterlambatanku pada Omanya. Aku mengabaikan rasa sakit yang sebentar muncul dan sebentar menghilang itu dan tetap berusaha membersihkan rak.


Bagian rak yang paling bawah sangat kotor dan aku memutuskan untuk membersihkannya juga. Ketika aku menunduk aku merasakan sakit yang amat sangat dahsyat, sepertinya itu adalah keputusan yang buruk karena setelah aku membungkuk rasa sakit itu semakin meningkat ke tahap yang sudah sangat sulit aku definisikan. Bahkan kini rasanya sudah tidak seperti tertusuk. Kali ini seratus kali lebih parah.

__ADS_1


Aku tersungkur ke lantai Karena rasa sakit yang tidak tertahankan itu. Aku meringkuk mencoba menenangkan diri supaya rasa sakit itu ikut menghilang. Aku juga mencoba menghela nafas pelan untuk menghindari rasa sakit yang tak kunjung hilang meski aku sudah berupaya sekuat mungkin.


"Aretta! Ayo pulang!" samar-samar aku dapat mendengar suara Aidan dari atas rak. Aku mencoba bangkit dari lantai, takutnya dia sudah mengira aku pergi dan malah meninggalkanku di sini. Rencanaku gagal untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan semua orang. Aidan sudah mengitari ruangan terlebih dahulu untuk mencari keberadaanku dan dia menemukanku saat aku masih meringkuk di lantai.


"Aretta! Hei Aretta! Nggak usah bercanda, bersihin debunya nggak harus kayak gitu," katanya. Dia ikut duduk dan memegang bahuku, kemudian mencoba melihat wajahku yang tertutupi rambut. Ini aku emang sengaja mengurai rambutku untuk menutupi mata sembab karena menangis tadi malam.


"Muka kamu kenapa? Kenapa ada memar di sana? Terus ini ngapain lagi pakai tiduran di lantai?" tanyanya beruntun. Aku hanya diam karena tidak memiliki kekuatan untuk menjawab.


Dia sepertinya melihat ku yang tampak tidak nyaman. Tubuhku pun berkeringat karena menahan rasa sakit itu.


"Aku bakal ambil mobil dulu habis itu kita langsung ke rumah sakit," katanya. Dan kali ini dia benar-benar pergi meninggalkanku. Tidak sampai 3 menit dia sudah kembali dan membantuku untuk bangun. Dengan kokohnya menahan berat tubuhku agar aku dapat berdiri stabil saat dia membawaku ke mobilnya.


Di saat seperti ini pikiranku malah teralihkan dengan kedekatan kami. Untuk sesaat aku dapat mengabaikan rasa sakitku dan menikmati kehangatan yang menguar dari tubuh Aidan. Namun saat tubuhku sudah diletakkan di kursi penumpang dan dipasangkan sabuk pengaman, rasa sakit itu kembali datang.


Perjalanan menuju Rumah Sakit menjadi sangat lama ketika kondisiku seperti ini. Dan itu semakin membuat tidak nyaman karena kesunyian dan kecanduan yang merayapi kami berdua. Aku tahu Sebenarnya dia ingin bertanya tapi dia menahannya dengan baik. Kami tidak sedang berada di sekolah dan dia tidak memiliki kewajiban sebagai seorang guru sekarang ditambah kami juga bukan teman. Dia hanya cucu dari bos tempat di mana aku bekerja.


Aku beberapa kali mengerang saat mobil yang dia kendarai berbelok tajam dan melewati jalanan bergeronjol. Pria itu masih fokus menyetir meski beberapa kali meliriku untuk memeriksa kondisiku. Tatapan khawatir turun dia layangkan juga padaku.


Aidan bersikeras untuk membawaku ke UGD. Dia memintaku untuk segera diperiksa. Setelah mengisi beberapa dokumen aku langsung diambil alih oleh dokter jaga yang bernama Damar.


Dokter Damar menatap wajahku dan mengernyit.

__ADS_1


__ADS_2