Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Kedatangan Pak Dewa


__ADS_3

Kata-kata Pak Aidan entah kenapa seperti tertuju padaku. Dia seperti menasehatiku menggunakan cerita Omanya. Belum sempat aku bertanya lebih lanjut, Pak Aidan sudah berdiri dan membereskan bekas bungkus camilan kami. Dia mengajakku masuk dan ketika aku melihat jam aku terkejut karena kami telat 20 menit.


Setelahnya kegiatan seperti sebelumnya berlanjut. Pak Aidan yang menerima pelanggan, kemudian mengantarkan buku padaku untuk proses pembayaran. Sampailah pada akhirnya dia mendapatkan telepon. Pak Aidan segera mengangkatnya dan meninggalkanku di toko sendirian. Aku kembali melanjutkan kegiatanku. Kali ini aku yang turun tangan sendiri untuk membantu para pengunjung menemukan buku yang mereka cari.


Pengunjung terakhir meninggalkan toko, aku bergegas mencari minum karena haus. Suara bel kembali berbunyi yang membuatku langsung menyapa terlebih dahulu sebelum melihat siapa yang datang.


"Selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" sapaku ceria.


"Oh banyak Aretta. Banyak yang harus kamu bantu," suara yang familiar itu meredupkan senyumanku. Aku mengangkat kepalaku dan tidak menyangka akan menemukan orang itu di tempat kerjaku.


Tulisan 'Rayes' terbaca saat dia bersandar ke konter. Aku ingat jika aku harus mencari tahu tentang arti dari tatonya, tapi sayangnya aku lupa. Fokus utamaku bukan pada tatonya melainkan pada sang pemilik tato yang berdiri tepat di depanku. Kehadirannya membuatku menciut dan tanpa sadar melangkahkan kaki mundur.


Yang membuatku terkejut adalah, Kenapa dia bisa ada di sini dari sekian banyak toko buku yang ada di kota ini. Dilihat dari kepribadiannya Pak Dewa tidak terlihat seperti guru yang gemar membaca. Dia lebih tampak bengis dan kejam yang menurutku hal yang paling cocok untuknya adalah senjata api atau dunia gelap.


Entah kenapa kehadiran Pak Dewa membuatku merasa toko ini sudah ternoda. Dia membawa hawa gelap yang tidak menyenangkan dan semuanya menjadi menyebar hampir ke seluruh ruangan.


Aku tidak menjawab dan melirikan kesekeliling untuk mencari keberadaan Pak Aidan. Hanya ingin memastikan aku akan aman, karena jika sampai dia benar-benar merencanakan hal buruk akan kupastikan dia mendapat balasan yang setimpal.


Pak Dewa berdiri tepat di depan meja konter. Lengannya bertumpu dan saling bertautan. Sejujurnya Dia memiliki bentuk tangan yang bagus. Tapi mengingat Jika tangan itu sudah menjamah banyak siswi semua nilai positifnya melayang. Yang aku ingat hanya 3 orang karena mereka dari kelas yang sama denganku. Hal itu terjadi di setiap pelajaran Matematika berlangsung. Mereka seperti telah memiliki jadwal yang tetap di setiap pertemuannya. Dengan sikapnya yang angkuh itu pasti masih ada yang lainnya yang tidak aku tahu.

__ADS_1


Pria itu mulai mengetukkan jarinya di konter. Terlihat tidak sabar. Dia seolah menungguku mengatakan sesuatu. Tapi sayangnya aku terlalu takut untuk membuka mulutku.


Aku masih mengingat jelas pertemuan face to face dengannya terakhir kali. Kala itu aku mendapatkan luka yang cukup serius hingga membuatku tidak bisa bergerak. Aku hanya bisa berdoa dalam hati agar Pak Aidan segera kembali masuk ke dalam toko.


"Harusnya lo langsung bergerak cepat buat layanin gue. Gue datang ke sini sebagai pelanggan." Dia mulai berbicara dengan tingkah yang menyebalkan.


"Maaf ..." Aku mulai berbicara dengan sangat hati-hati. Mengetahui jika dia berani berbuat nekat aku semakin mewaspadai tingkahnya, "apa yang anda butuhkan?" tanyaku pelan. Aku berusaha untuk bersikap biasa agar tidak terlihat jika aku sebenarnya takut.


"Bagus! Lo harusnya tanya kayak gitu dari tadi," entah kenapa mendengar dia bersikap tidak seperti guru membuatku kesal, "gue cari buku tentang pembunuhan kalau nggak tentang kekerasan." Dia menekankan kata kekerasan dan pembunuhan sambil memperhatikan reaksiku.


"Tunggu sebentar," ucapku, seraya keluar dari konter. Tidak ada lagi pembatas di antara kami dan jika dia meninju perutku saat ini pasti tidak akan ada yang tahu. Aku melirik ke belakang untuk mencari keberadaan Pak Aidan. Dimana dia? Kenapa menjawab panggilan saja sampai selama ini. Bukankah tidak perlu memakan waktu lama jika hanya menjawab panggilan dari rekan kerja.


"Ah ha!" Dia tiba-tiba berteriak tepat di telingaku dan membuatku hampir menjerit. Pak Dewa mencondongkan tubuhnya ke depan hingga dia menyentuh bahuku dan membuat tubuhku menempel pada rak. Dia meraih sebuah buku dari rak bagian tengah.


Dengan cepat dia membalikkan bagian depan buku padaku supaya aku dapat membaca judulnya. Aku menatap tidak nyaman pada judul buku yang tertulis dengan font berwarna merah ditambah dengan aksen semacam darah yang melumuri font tersebut.


Buku dengan judul 'Pembunuhan Seorang Murid' membuat dia tersenyum lebih lebar, "Ini cocok sama gue!" serunya.


Aku menelan ludahku susah payah. Apa dia sedang memperingatiku lagi. Aku kira dengan aku diam dan tidak melakukan hal-hal yang merugikan itu bisa menjauhkanku dari Pak Dewa. Tapi apa ini?

__ADS_1


Dia menyudutkanku di rak yang buat ujung-ujung buku yang tajam menancap di pundakku.


"Lo tau apa yang gue dengar dari anak-anak waktu gue keliling?" Pak Dewa berbicara dengan nada lembut, tapi aku tahu maksud dan tujuannya tidak selembut ada bicaranya.


"Lo nggak tahu?" ulangnya, "it's okay nggak masalah. Gue dengan senang hati bakal kasih tau lo secara langsung. Gue denger kalau gue ada main belakang sama murid gue, dan lo tahu, yang tahu soal ini cuman lo Aretta. Jadi mau nggak mau kalau udah menjadi dalang utama dalam penyebaran gosip murahan ini," ucapnya dengan tatapan tajam miliknya. Andai saja matanya bisa mengeluarkan pisau sudah pasti aku menjadi tidak berdaya sekarang.


"Tapi... Saya nggak pernah cerita ke siapa-siapa Pak, saya berani sumpah!"


Pak Dewa terlihat tidak peduli dengan pembelaanku. Dia sudah dibutakan oleh kebencian dan kemarahan yang bersarang di matanya.


"Lo lihat darah yang ada di buku ini?" ucapanya sambil menunjuk lagi pada buku itu, "lo nggak mau kan apa yang terjadi di novel ini bakal terjadi juga sama lo. Jadi selama lo masih sayang sama nyawa lo lebih baik lo pastiin diri lo buat tutup mulut. Ngerti?"


Aku pernah mendapat ancaman soal pembunuhan juga dan itu dari Mama, tapi ancaman dari Pak Dewa terasa berbeda. Aku merasa dia tidak main-main.


Aku tidak bisa bersuara sama sekali. Tubuhku seperti mati rasa. Aku gemetar karena ketakutan. Dan yang bisa kulakukan hanya mengangguk sambil menatap lurus ke matanya. Mata yang memiliki binar berbeda, berbeda dengan milik Pak Aidan.


"Lo tau apa yang paling buat gue kesel? Kalau aja lu nggak ngebantah gue waktu itu dan nggak bertingkah seolah lo bakal hancurin karir gue, gue bakal dengan senang hati terima lo buat jadi partner senang-senang gue kayak anak lainnya."


Aku menundukkan kepalaku sambil mengepalkan jari-jariku. Hal itu tidak akan pernah terjadi sampai kapanpun.

__ADS_1


__ADS_2