Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Pak Aidan


__ADS_3

Aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas baruku. Bangun pagi, membersihkan tempat tidurku, mandi, dan bersiap untuk berangkat ke sekolah setelahnya. Setiap paginya aku selalu berangkat lebih awal. Menyelinap dan sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar tidak mengganggu penghuni rumah. Aku kini selalu berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Aku memilih berangkat lebih awal karena pada waktu itu asap kendaraan dan knalpot belum memenuhi jalanan.


Setelah mengetahui jika jarak rumah dan sekolah tidak terlalu jauh, jalan kaki menjadi pilihan. Lagi pula dengan berjalan kaki aku bisa sedikit menjernihkan kepalaku dan biasanya aku juga mengulang pelajaran sebelum ujian sambil berjalan. Tapi sayangnya sekarang pikiranku sedikit terganggu dengan berbagai macam kejadian yang aku alami di sekolah.


Aku tahu kehidupan sekolah tidak selalu menyenangkan dan aku juga tidak berharap memiliki banyak teman. Tapi kenapa mereka semua memperlakukanku seakan aku adalah makhluk asing. Selain Rendi tidak ada yang mau mengajakku berbicara terlebih dahulu. Jika kalian bertanya kenapa bukan aku yang memulai, itu karena akupun bingung. Selama ini aku terbiasa sendiri dan tidak pernah memiliki teman. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memulai percakapan dengan orang lain agar kami dapat menjadi teman dekat.


Sejak pelajaran Pak Dewa terakhir kali, aku benar-benar belum bertemu lagi dengan Rendi. Tapi sepertinya nanti kami akan bertemu karena hari ini ada pelajaran olahraga.


Aku memang menyukai olahraga, tapi aku berharap aku tidak mendapat cidera, karena meski aku bisa menahan semua rasa sakit yang pernah aku terima, sejujurnya ada kalanya aku ingin hidup tenang tanpa dibayang-bayangi rasa sakit dan nyeri.


Luka yang aku terima kini sudah berubah menjadi warna hijau kekuningan yang tampak mengerikan. Jika disentuh rasanya lebih sakit dibandingkan saat awal aku menerima memar ini. Dan berita baiknya adalah hal ini pertanda jika memarku akan segera membaik.


Setelah bertahun-tahun mengalami kejadian seperti ini, mungkin regenerasi kulitku berproses lebih baik dan pastinya mereka juga sudah ahli memperbaiki jaringan-jaringan yang luka.


Aku menikmati hawa pagi yang dingin ini. Orang-orang juga sudah tampak berkeliaran dengan jaket yang membungkus tubuh mereka. Setiap mereka berbincang akan ada asap yang keluar dari mulutnya. Aku kembali memikirkan soal pekerjaan yang kemarin aku terima. Gaji dari sana pasti tidak seberapa, apalagi toko Itu tampak sepi. Namun setidaknya dengan uang yang aku terima itu aku menjadi lebih leluasa untuk membeli sesuatu. Misalkan baju atau mobil? Sepertinya akan membutuhkan waktu berpuluh-puluh tahun jika aku mau membeli kendaraan pribadi. Atau haruskah aku membeli ponsel baru? Karena ponsel yang aku gunakan merupakan barang lungsuran dari Gio.


Tapi tujuanku yang paling utama adalah mengontrak rumah yang bisa aku gunakan untuk membuka usaha. Tidak perlu lebar, kontrakan 3 petak pun sudah cukup untukku. Namun sepertinya aku harus menunggu 3 bulan lagi sampai aku genap berusia 17 tahun, dan selama sisa hari itu aku harus tetap bertahan tinggal bersama Mama dan Gio.

__ADS_1


Berbicara soal Gio, aku masih belum melihat pria itu sejak hari pertama aku masuk sekolah, dan menurutku itu sangat aneh. Dia biasanya akan selalu mengejekku, dan karena hari-hariku terlalu tenang itu membuatku hampir saja terbuai. Atau jangan-jangan dia sedang menginap di rumah temannya? Gio memang sering melakukan hal itu. Pria yang sangat bijaksana.


Aku melirik ke jam tangan murah yang sudah kumiliki selama beberapa tahun ini. Bagian talinya sudah tampak usang dan sepertinya tidak akan bisa bertahan jika aku pakai sampai 2 bulan ke depan. Waktu yang tertera menunjukkan pukul 07.20, mungkin membeli jam tangan baru adalah pilihan terbaik. Lagi pula aku benar-benar membutuhkan benda itu. Aku masih memiliki 40 menit tersisa sebelum bel masuk dan aku memutuskan untuk mampir ke kafe kemarin.


Aku merasa seperti tengah masuk ke dimensi lain. Kehangatan mulai merayapi tubuhku. Hawa di dalam sini sangat berbeda dengan hawa di luaran sana. Setelah memesan kopi hitam aku memutuskan untuk kembali duduk di tempat kemarin.


Tidak lama kemudian kopi pesananku sudah dihidangkan. Aku sudah terlarut kembali ke dalam novel yang tengah menceritakan tentang kisah seorang bocah laki-laki yang tidak memiliki teman dan keluarga yang bisa diandalkan. Karena kisah hidupnya mirip denganku, aku jadi sulit jika tidak membaca kelanjutannya. Aku sangat penasaran dengan endingnya. Aku membaca buku sambil mendengarkan instrumen gitar akustik. Aku sendiri cukup bisa bermain gitar, hanya saja tidak pernah kukatakan pada orang-orang. Tahu sendiri jika aku tidak memiliki teman.


Aku bisa karena belajar secara otodidak. Awalnya hanya iseng semata dengan membaca-baca buku di perpustakaan. Kemudian belajar juga soal nada lagu. Aku bermain gitar bukan sebagai pelarian, hanya tertarik dan berujung jadi sebuah hobi yang sangat aku nikmati. Aku memainkan lagu yang ku sukai kemudian iseng membuat sendiri dan seperti itulah caraku belajar. Tapi karena tanganku melepuh sepertinya aku akan absen bermain gitar selama satu atau dua minggu.


Lagu usai dan aku baru merasa jika sofanya sedikit bergoyang. Aku terlonjak kaget karena kehadiran orang lain. Aku masih menatapnya tanpa suara. Dia juga melihatku dan sepertinya dia juga melihat jari-jariku yang bergerak di buku. Ekspresi penasaran dari wajahnya tidak dia sembunyikan dengan baik.


"Gitar," ucapku. Aku sedikit terkejut karena kini aku sendiri yang memulai pembicaraan dengan orang lain. Matanya sedikit berbinar kemudian binarnya menghilang sekejap kemudian.


Aku tidak tahu apa yang membuat pria ini kembali mendekatiku. Bagiku dia itu adalah orang yang tidak boleh didekati dengan bebas dan dia juga sosok yang harus aku hormati setiap waktu.


Pak Aidan orang itu dan dia mengangguk saat menerima jawaban dariku. Dia sepertinya duah kehilangan minatnya untuk memperhatikanku dan yang dia lakukan selanjutnya adalah menyesap kembali kopi pesanannya tanpa melirik ke arahku. Aku mengedipkan bahuku tidak peduli dan memilih untuk menoleh ke tempat lain. Wallpaper di dinding menjadi pilihanku. Sebuah lukisan abstrak yang meskipun aku perhatikan dengan seksama tetap tidak membuatku mengerti apa pesona dari lukisan itu.

__ADS_1


Pak Aidan sepertinya dapat membaca pikiranku. Dia menyeletuk tiba-tiba dan langsung membuatku menetap sekeliling kami.


"Jelek, kan."


Aku meringis tidak enak hati. Kenapa dia mengatakan hal itu dengan lugas, padahal aku sudah menahan diri untuk tidak berkomentar.


"Kenapa harus diomongin sih Pak, kan nggak enak kalau didengar sama yang punya," bisikku pelan.


"Aku cuma bilang kenyataannya aja."


"Tapi nggak terang-terangan juga dong."


Dia terkekeh dan menatapku lagi, "Penilaian kita kan sama jadi nggak masalah dong. Lagipula lukisannya mau dilihat dari sisi mana aja emang kelihatan nggak menarik."


"Ada satu cara biar kelihatan menarik Pak," ucapku serius dan itu kembali menarik minat Pak Aidan. Pria itu menatapku dengan raut keingintahuan yang kental, "coba bapak lihat pakai mata tertutup," kataku. Senyuman kecil aku tahan saat mendengarnya menembus.


"Kalau itu mending gak usah dilihat."

__ADS_1


__ADS_2