
Aku mengabaikan catatan tersebut dan segera mengunci loker. Langkahku sudah bersiap untuk meninggalkan ruangan tapi aku ingat jika barang tersebut bisa dijadikan bukti. Dengan cepat aku menuju ke tempat sampah dan mengambil kertas yang tadi aku remat kemudian menyimpannya ke dalam buku catatan. Jika suatu hari keadilan berpihak padaku, aku akan menunjukan bukti ini pada yang bersangkutan, meskipun aku berharap semua ini dapat selesai dengan sendirinya tanpa ada campur tangan pihak berwajib.
Kelas Geografi adalah kelas tambahan terakhir sebelum aku pulang. Aku membangun semangatku karena tidak mau mengecewakan Aidan. Aku tidak mau juga dia sadar jika ada yang berbeda dariku. Ternyata berhasil, selama sisa pelajaran tersebut semangatku kembaki membara dan aku bisa meyakinkan diriku jika nanti aku juga bisa menikmati pesta ulang tahunku.
Aku tengah mengumpulkan barang-barangku saat suara Aidan terdengar. Hal itu sontak menghentikan semua kegiatanku.
"Gio minta tolong aku buat bawa kamu jalan-jalan. Kakakmu melarang keras kamu pulang tepat waktu." Aku terkekeh. Memang apalagi yang akan dia siapkan, kue tadi pagi saja gagal. Gio memang bukan tipikal orang yang mudah menyerah, setidaknya dia harus mencobanya hingga tiga kali sampai benar-benar merasa puas dan yakin. Jika dirasa dia tidak akan bisa, dia akn berhenti dengan sendirinya.
"Jadi gimana? Mau pergi sama aku?" Dia bertanya lagi. Kali ini Aidan memutuskan untuk duduk di kursi depanku.
"Emang mau kemana. Lagian ini kan cuma acara kecil-kecilan. Gio nggak mungkin siapin banyak barang buat hari ini, kan? Lagian aku udah lupa gimana rasanya dirayakan waktu ulang tahun."
"Aku bisa bawa kamu kemana aja. Jangan berpikiran terlalu buruk, hari ini belum berakhir. Aku juga belum kasih hadiaku buat kamu." Dia menyeringai, "it will gonna be amazing."
Hadiah selalu menjadi satu hal yang membuatku merasa canggung. Aku tidak pernah mendapatkan hadiah sebelumnya, jadi rasanya akan sangat tidak nyaman jika aku menerimanya dari orang lain.
"Kamu nggak harus kasih aku hadiah, Aidan," gumamku pelan sambil menggosok pelan bagian belakang leherku. Tanda jika aku merasa keberatan.
"Kamu nggak bakal ngomong kayak gitu kalau hadiahnya udah kamu pegang. Mudah-mudahan aja." Aku meringis. Semua orang berlomba untuk memberikanku hadiah. Rafa dan Rendi juga tadi mengatakan hal yang sama soal mereka yang akan memberiku hadiah. Padahal aku sudah menolak dan juga aku tidak mengharapkan hadiah juga dari mereka. Namun tampaknya keinginanku tidak akan terkabul karena bagi mereka, hari ulang tahun adalah hari dimana seseirang harus mendapatkan hadiah.
Semua kehebohan itu malah membuatku semakin tidak menyukai ulang tahun.
"Kamu suka ulang tahun?" tanyaku padanya ketika kami duduk bersebelah. Masih di dalam kelas.
Aidan tampak berpikir. Dia bahkan sampai mengusap dagunya berakting tengah berpikir keras, "Iya dan tidak," jawabnya yang malah membuatku bingung.
"Dulu aku permah tinggal sama tanteku. Pas aku ulang tahun, tante selalu buatin kue dan kasih hadiah. Rasanya sangat luar biasa ketika ada seseorang yang masih mengingat hari ulang tahunku, bahkan dia selalu memastikan aku juga mendapatkan banyak hal yang istimewa. Tapi pas aku kuliah dan harus pindah ke kota lain, aku belum permah merayakan ulang tahun aku lagi sejak saat itu. Cuma kadang aku menghabiskan malam ulang tahun sambil minum-minum sebagai reward aja. Selebihnya nggak ada yang special."
"Rasanya pasti menyenangkan memiliki seseorang yang memperlakukan kamu layaknya kamu adalah anaknya walaupun kenyataanya dia cuma tante kamu. Dulu aku pernah punya guru yang jagain aku di sekolah. Dia juga sering siapin aku makan siang karena saat itu aku nggak pernah bawa. Sayangnya dia pindah setelah menikah. Bu Dian namanya."
Bu Dian adalah sosok yang hangat dan menyenangkan. Jika dulu ada dia yang selalu menanyakan bagaimana keadaanku, semenjak dia pergi tidak ada lagi yang mendekatiku. Karena tidak bisa bersosialisasi aku jadi melampiaskan semuanya pada makanan dan munculah Aretta gembrot.
Aku merasa kembali bernostalgia. Aidan memberikanku kesempatan supaya aku bisa mengingat sosok-sosok yang pernah hadir di masa laluku, tapi aku tidak banyak bercerita karena diapun pasti tidak menceritakan semua masa lalunya.
__ADS_1
"Aku nggak bisa mengelak. Saat itu aku merasa bisa bertahan karena ada tante. Btw, kamu lapar nggak?" tanyanya. Aku mengedipkan mataku dan Aidan menganggap itu sebagai jawaban karena dia langsung mengambil papper bag yang ada di sampingnya.
Kiss kafe. Aku sedikit tersipu membaca nama kafe yang tertera. Manusia zaman sekarang kenapa selalu mengembangkan produk dengan nama yang membuat orang tersipu, sih?
Aidan menyerahkan papper bag tersebut padaku dan langsung memintaku untuk membukanya. Sebuah bungkusan alumunium foil terdapat di dalamnya. Dia memintaku untuk segera membuka dan aku menurut. Isinya nasi bakar dengan isian ayam suwir pedas. Jika dulu aku pasti menolak, tapi kali ini tidak. Aku juga harus membahagiakan diriku sendiri.
"Ngapain sih diam-diam?" Suara Aidan berhasil menyandarkanku. Aku terkekeh karena terlalu fokus pada makananku bahkan aku juga sampai tidak menawarkan makanan itu padanya, "mikirin apa? Atau lagi mikirin siapa?" Dia menyeringai.
Aku menggeleng pelan sebagai jawaban, "kapan pulangnya?"
Pria itu segera meraih ponselnya dan menyorokan laman chatnya dengan Gio yang berisi tentang kami yang bisa pulang sekarang.
"Pas banget si Gio chat waktu kamu lagi ngelamun."
"Ah," hanya itu respon yang bisa aku berikan.
Kami berjalan menuju mobil Aidan. Sepanjang perjalanan aku merocoki pria itu untuk memberitahu kejutan apa saja yang dipersiapkan oleh Gio dan Ana. Awalnya pria itu menolak, tapi tampaknya dia menyerah.
"Kamu penasaran banget?" pancingnya. Aku mengangguk pasti., "aku kasih bocoran kalau gitu."
"Jawabannya.... Rahasia."
"Apa-apaan itu. Kamu tipu aku ya." Pria itu terkekeh kencang sambil memarkirkan mobilnya di depan gedung. Kemudian pria itu mengambil sesuatu dari bangku belakang yang sontak membuatku mengernyit.
"Buat apa dasinya?" Dia mengambil dasi dongker lalu meletakannya di atas pangkuannya.
"Aku diperintahkan buat tutup mata kamu sampai kita masuk ke rumah." Aku mendesah dramatis. Kenapa sampai harus seperti ini.
Aku menurut dan Aidan langsung menutup mataku dengan dasi yang tadi dia bawa. Sinar cahaya menghilang, yang tersisa hanyalah kegelapan, tapi aku masih merasa amab karena aku tahu dia masih ada di sekelilingku. Dia juga menggenggam tanganku dan membantuku untuk melangkah.
Genggaman tangan Aidan menghantarkan perasaan yang menyenangkan ke semua indera perasaku. Ditambah dia juga sangat berhati-hati kala membantuku melangkah. aidan juga tidak segan memberikan lengannya untuk aku jadikan tumpuan agar aku bisa bergerak lebih leluasa meski mataku ditutup.
"Yah, terima kasih, Jane, ini adalah dasi favoritku, namun aku telah diperintahkan untuk menutup matamu dan membawamu ke apartemen."
__ADS_1
Aidan menghentikan langkah dan sontak membuat langkahku ikut terhenti. Pria itu terdiam cukup lama sampai aku dapat mendengar suara pintu terbuka. Untungnya dia masih memegangiku dan kembali membantuku melangkah.
Tiba-tiba aku dapat merasakan embusan napas Aidan di dekat telingaku. Dia berbisik pelan, "Udah sial?" tanyanya dengan suara pelan. Dia seolah memberi peringatan padaku dan aku langsung menghela napas panjang untuk mempersiapkan diri atas apa yang akan terjadi selanjutnya.
Dasi yang menutupi mataku perlahan dibuka.
"SURPRISE!" serbuan suara kencang itu hampir saja membuatku jatuh jika aku tidak bertumpu pada Aidan. Kepalaku mendongak dan aku menemukan lima wajah familiar yang aku kenal.
"Happy brithday." Rafa dan Rendi langsung merangsek maju dan memelukku. Aku balas memeluk mereka juga dan mengucapkan terima kasih.
Setelah mereka mundur, Davin yang juga ada di acara ini bergantian memelukku dan mengucapkan kalimat yang sama juga. Perasaan hangat yang membuncah itu membuatku bahagia. Aku senang karena kini aku sudah dikelilungi oleh orang-orang baik. Walaupun ada wajah-wajah yang asing, tapi aku tidak ambil pusing karena nantinya aku pasti akan kembali bertemu dengan mereka.
Kini giliran Gio dan Ana yang mendatangiku, "Jadi gimana menurut lo surprise dari kita?" tanyanya.
"Amazing. Gue nggak pernah dapat surprise sebelumnya. Thank you so much," kataku yang tengah diselimuti euforia kebahagiaan. Pasangan itu saling berpandangan dengan raut wajah puas sambil tertawa ringan.
"Lo nyadar nggak ada yang berubah dari ruangan ini?" Gio bertanya sambil menunjuk ke sekeliling ruangan. Aku mengikuti arah tangannya dan juga melihat sekeliling. Aku terkesiap kembali karema kini ruangan itu sudah dipenuhi pita-pita khas acara ulang tahun dengan balon yang bertebaran. Ah, jangan lupakan juga tembok yang sudah dihancurkan yang membuat tempat ini sudah menyatu dengan toko buku milik Oma.
Aku menatap penuh rasa takjub karena kini impian Oma sudah hampir terwujud. Kami bisa kembali berbisnis dengan konsep baru.
"Kapan kalian selesain ini?" Aku menutup mulutku tidak percaya, "padahal tadi pagi gue masih lihat temboknya," seruku heran. Gio menjelaskan itu dikerjakan ketika aku berada di sekolah, makannya Gio juga meminta pada Aidan untuk menahanku agar penyelesaian ini cepat berakhir.
Kini ruangan ini tampak lebih luas dan sepertinya setelah acara ini kami diharuskan memutar otak untuk mengisi barang-barang yang akan digunakan untuk berbisnis.
Aku memeluk kedua kakakku dan tampaknya keduanya juga terkejut dengan tindakanku. Mungkin karena selama ini kami hanya saling berbicara tanpa pernah menunjukkan kasih sayang lewat pelukan seperti sekarang.
"Terima kasih," bisikku. Kedua orangbitu menggangguk sambil membalas pelukanku. Acara pelukan kami harus terganggu ketika seseornag memanggil Gio dan meminta pria itu untuk membawakan minuman.
"Kamu nggak adil banget sih?" Aku berbalik dan menemukan Aidan yang sedang tersenyum padaku, "itu juga ada kerja kerasku di dalamnya."Dia membual sambil merentangkan tangannya mengisyaratkan agar aku memberinya pelukan. Karena ini hari ulang tahunku, aku akan berbaik hati memberikan pelukan seperti yang dia inginkan. Jadi aku melangkah maju dan melingkarkan tanganku ke tubuhnya. Meskipun hanya sebuah pelukan tapi rasanya sangat bermakna.
Aku selalu berusaha untuk menjadi sosok yang realistis. Tidak percaya soal nasih atau takdir karena selama ini aku tumbuh sebagai sosok yang mengerikan. Tapi akhir-akhir ini semua kepercayaanku mulai goyah karena munculnya orang-orang baru yang baik di sekitaranku.
"Tunggu hadiah speciak dari aku." Dia berbisik di telingaku seraya melepaskan diri masih sambil tersenyum hangat padaku.
__ADS_1
Ketika dia menjauh, aku malah kembali ingin menariknya mendekat. Tapi kemudian aku meruntuki sikap gatalku. Pada akhirnya aku hanya bisa mengangguk lalu melangkah pergi untuk berkumpul bersama teman-temanku.