
Hari Selasa pagi, aku sudah ditodong oleh Dean untuk membawanya ke TK. Dea sudah masuk PAUD, hanya saja waktu sekolahnya hanya dari hari Senin sampai Rabu. Maklum, namanya juga masih anak-anak jadi sekolah tidak full selama seminggu dan juga jam pelajarannya hanya selama dua jam. Dimulai dari jam sembilan sampai jam sepuluh. Syukurnya di jam-jam yang memang semua pekerjaan rumah sudah selesai.
TK tempat Dean bersekolah hari ini mengadakan imunisasi. Sejak disekolahkan, rutinan imunisasi Dea kini sudah tidak lagi dipenuhi drama. Biasanya bocah itu akan menangis jika disuntik tapi ketika sudah bersama dengan teman-temannya, Dea menjelma bak seorang anak besar. Dia tidak menangis malah membantu menenangkan kawannya yang merasa ketakutan.
Setelah tiba di tempat, Dea langsung berlari dengan semangat mendekati teman-temannya. Entah bagaimana ceritanya, anakku ini sekarang menjelma jadi ketua geng. Padahal mamanya dulu saja hanya selalu menjadi orang yang dilupakan. Aku tidak menyesali masa kecilku yang tidak bahagia karenanya dari situ aku bisa belajar. Aku harus menjadi sosok mama yang berbeda dari mama kandungku agar anakku tidak merasakan kenangan pahit seperti yang pernah aku rasakan dulu.
"Selamat pagi," sapaku kepada para ibu dan ibu guru yang sudah ada di tempat. Mereka semua membalas sapaanku dengan senyuman lebar.
Dari tempatku aku dapat melihat Dea yang langsung meletakkan tasnya di loker dan segera beringsut maju untuk salim dengan ibu guru. Anak itu juga tidak lupa menyapa semua anak gengnya yang benar-benar membuatku geleng-geleng kepala sendiri.
Kemarin dia minta dibelikan permen satu pack. Anak itu hanya meminta pada papanya dan tidak mengkonfirmasinya denganku. Papanya juga langsung menuruti keinginan anaknya yang ternyata tujuan dia meminta permen itu untuk dibagikan dengan teman-temannya.
Aku tidak keberatan sama sekali dan aku malah bangga dengan tingkah Dea. Tapi jika memang dia ingin memberi, dia bisa mengatakan itu padaku dan aku pasti akan menambah juga porsi barangnya. Bukan hanya permen mungkin ditambah ciki atau roti.
Sepuluh menit kemudian, semua anak sudah pada masuk dan duduk tertib di tempatnya. Materi hari ini adalah menggambar lingkaran. Ibu guru yang mengajari Dea sudah memberi contoh di buku tulis miliknya. Dengan anak yang lainnya pun sama. Semua murid yang ada di kelas ini serentak langsung memulai untuk menggambar, tapi tidak dengan anakku.
Dea beringsut menarikku untuk duduk di sampingnya. Dia biasanya tidak seperti itu. Untungnya masih PAUD dan ibu gurunya juga mengizinkan yang sontak saja membuatku langsung mencari posisi nyaman.
Dea awalnya menatap bukunya, lalu beralih untuk menatapku sampai pada akhirnya dia menghela napasnya kasar sambil berdecih.
"Adek nggak mau gambal!" Dea berkata sambil menggeser bukunya menjauh.
"Kenapa? Bu guru tadi kan bilangnya disuruh gambar?" bisikku pelan. Keadaan di kelas memang ramai tapi itu semua karena suara anak-anak dan aku tidak mungkin ikut menimbrung untuk memyumbangkan suaraku.
"Adek maunya gambal hello kitty!"
Aku menatapnya. Sedikit heran karena anak ini juga tidak bisa menggambar. Apalagi sekarang malah sok-sokan mau menggambar hello kitty yang bentuknya pun aku belum bisa membuatnya hingga sekarang.
__ADS_1
"Tapi tugas dari bu guru kan disuruh gambar lingkaran," bujukku sabar.
Dea tetap merajuk. Dia kini malah membuang semua alat tulis miliknya.
"Dea kenapa?"Bu Reni, guru kelasnya datang menghampiri. Wanita paruh baya itu ikut mendekat dan mencoba mengakrabkan diri dengan Dea yang moodnya sedang buruk.
"Nggak mau gambar lingkaran maunya gambar hello kitty, Bunda," jawabku. Anak ini jika sedang marah sangat anti untuk diajak berbicara. Sama seperti sekarang.
Bu Reni masih dengan senyum menenangkan miliknya. Wanita itu segera mengambil buku milik Dea dan meletakkannya di depan putriku.
"Ya udah nggak apa-apa kalau mau gambar hello kitty. Nanti jangan lupa dikumpul ya, Nak."
Aku mengangguk paham dan membiarkan bu Reni untuk berkeliling. Dea yang sudah mendapat lampu hijau segera membuat coretan tidak beraturan di bukunya. Hello kitty tidak berbentuk ini namanya karena gambarannya pun tidak menunjukkan jika dia tengah menggambar hello kitty.
Dea cukup antusias. Dia bahkan sampai menggunakan pensil warnanya untuk mewarnai gambar miliknya. Aku tidak mau mengintrupsi karena anak ini terlihat sangat bahagia dengan kegiatannya yang sekarang.
Anak itu sudah menyelesaikan gambarnya dan segera dikumpulkan ke depan kelas. Bu Reni menerima gambaran anakku dengan senyuman. Setelah itu dia melipir keluar sendiri padahal masih jam pembelajaran. Hari ini memang ada posyandu, tapi itu masih nanti setelah jam sekolah berakhir. Namun dasarnya saja Dea yang tidak bisa diam, dia sudah melangkah menuju ruangan periksa begitu aku mengikutinya dari belakang.
"Adek mau kemana?" tanyaku sambil memelototkan mata berharap bocah ini akan takut.
"Lihat itu."
"Ini masih jam sekolah, Adek. Nggak boleh kemana-mana."
"Tapi Bunda ndak suluh diam kok."
"Kalau dibilangin Mama pasti ngejawab. Bu Reni lagi ngurusin teman yang lain. Adek ayo balik ke kelas."
__ADS_1
"Adek nggak mau. Mau cini aja!"
Tampaknya suara Dea sedikit mengganggu karena setelahnya dokter yang biasanya bertugas untuk posyandu langsung keluar dari ruangannya.
"Eh, ini Dea, kan? Kenapa, Nak?" Dokter muda itu mendekat dan ikut berjongkok di depan Dea.
"Mau main," cicitnya sambil meremasi bajunya sendiri.
"Main sama Ibu?" tanya dokter tersebut.
"Ndak! Mau cini aja!" katanya sambil mengalihkan pandangannya.
"Apa mau langsung imunisasi bu?" tanyanya padaku. Aku menatap bocahku yang tengah menatapku dengan tatapan penuh tanya. Inginnya aku lakukan saja sekarang, tapi kendalanya adalah tidak ada teman sebayanya yang artinya bocah ini akan berakhir dengan tangisan yang menggelegar nanti.
"Adek suntik sekarang, ya?" tanyaku pelan sambil menundukkan tubuhku agar sejajar dengan tinggi badannya.
"Kok cuntik, cih? Adek mau main aja!"
"Hari ini kan imunisasi, Nak. Kemarin bu guru udah bilang. Masak adek lupa."
"Adek ndak mau cuntik. Cakit Mama," tolaknya cepat.
Aku dan dokter yang berjaga hanya saling pandang. Mungkin dokternya sudah tahu bagaimana manipulatifnya anakku ini jadi hanya bisa memaklumi. Aku sendiri yang melahirkan dan merawatnya saja masih takjub jika melihat tingkahnya.
"Kalau gitu ya balik ke kelas. Teman-teman adek masih di kelas, kan?"
"Mama napa cih malah-malah. Adek mau main, tok."
__ADS_1
"Heleh. Bocah kok ngeyel," gerutuku dan langsung disambut tawa oleh sang dokter.
Malas berdebat membuatku berakhir meninggalkannya keluar. Tahu jika mamanya sudah malas meladeni, bocah itu mulai mengikutiku dengan kepala tertunduk.