Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Haruskah tetap pasrah


__ADS_3

Itu hari Senin. Setelah Dewa menyuruhku pergi ke kamar mandi di lantai atas, aku ditinggalkan sendirian lagi di ruangan basemant. Dia tidak datang lagi menemuiku selama dua hari penuh, dan rasa lapar yang menyerangku seolah merobek bagian dalam tubuhku karena tidak ada sesuatu yang bisa dicerna. Mataku mulai bisa menyesuaikan diri dalam kegelapan dan sekarang aku juga bisa melihat bentuk-bentuk kecil yang ada di ruang ini. Sepanjang hari Minggu kemarin, yang aku lakukan hanya mondar-mandir dibasemant seraya mengantisipasi kedatangannya.


Luka yang dia hasilkan padaku terinfeksi. Hanya Tuhan yang tahu untuk apa pisau itu digunakan sebelum dia torehkan ke kulitku. Dan lagi aku lebih suka tidak mengetahui untuk apa itu digunakan.


Pikiranku yang terlalu imajinatif menjadi liar dengan apa yang mulai tampak dalam kegelapan. Cairan darahku terlihat berwarna hijau dan itu mengalir hingga ke tangan mengenai jari sampai membuat bentuk seperti cincin. Aku menggunakan salivaku untuk membersihkannya dan menggosoknya keras. Aku berdesis saat luka itu terasa menyakitkan. Meski sangat menyebalkan tapi itu mengingatkanku bahwa aku masih hidup. Aku tidak mau mati mengenaskan di ruangan ini.


Aku memang sangat lemas bahkan ketiadaan cahaya sampai membuatku pusing hingga rasanya ingin melampiaskan amarah. Aku merasa seperti seorang tahanan yang sengaja ditinggalkan untuk menderita di ruangan sempit ini. Seolah itu sebagai hukuman sampai aku mati dengan sendirinya tanpa meninggalkan jejak.


Aku tahu jika punya itu akan pergi karena ada saluran air yang mengalir dari lantai atas.


Pria itu berada di kamar mandi sekitar 15 menit dan aliran airnya yang dihasilkan dari water heater itu berhasil menghematkan tubuhku ketika tangan itu menyentuh pipa saluran. Meski sebentar tapi kehangatannya berhasil menenangkanku. Dewa masih bisa beraktivitas seperti biasanya bahkan terkesan mengabaikan keberadaanku yang terkunci di busnya rumahnya hanya untuk kesenangannya sendiri. Aku bergidik membayangkan apa yang baru saja terjadi tadi malam. Bagaimana luasnya dia menorehkan banyak luka di sekitar leher tuh hingga dada dan bagaimana dia menikmati aktivitasnya itu tanpa ada sedikitpun perasaan ini. Bahkan sekarang terus yang aku gunakan terasa kaku karena darah yang meresap hingga ke serat baju mulai mengering.


Terkadang aku merasa bersyukur karena tidak ada cahaya. Tidak bisa melihat membuatku tenang karena aku tidak perlu menyaksikan seberapa parah luka yang aku terima, seberapa berantakannya aku, dan seberapa menjijikannya penampilanku sekarang. Aku bahkan tidak berani membayangkannya juga.


Saat aku tidak memiliki rencana untuk kabur, pikiranku malah dipenuhi oleh Aidan. Aku bertanya-tanya apakah dia memikirkanku juga, apakah dia akan datang untuk menjemputku, dan apakah dia masih mencintaiku seperti yang dia katakan sebelumnya.

__ADS_1


Jika aku berhasil keluar dari ruang ini, aku akan mengejar Aidan dan tidak akan pernah melepaskannya. Aku bertekad dalam hati. Jika dia menyelamatkanku, aku akan mendedikasikan hidupku padanya. Aku akan mengejarnya lebih dulu. Sesederhana itu. Tapi itu hanya jika aku berhasil.


Aku masih membahayakan bagaimana orang-orang sekitarku menikmati Senin paginya. Teman-temanku pasti bukan duduk di kelas biologi di jam pertama. Pasti saat ini mereka tengah bertanya-tanya kenapa aku tidak menghadiri kelas.


Aku juga memikirkan tentang Aidan. Apakah pria itu tetap mengejar di saat aku tidak berada di sekolah? Aku mau pergi pikiran bodohku. Dia hanya guru biasa dan dia tidak memiliki wewenang untuk mengambil cuti semau dia. Meski dia tidak ingin, dia tetap harus berangkat bekerja karena dia memiliki anak murid yang harus diajarnya.


Aku mulai memejamkan mataku untuk mengistirahatkan tubuh. Pria itu pasti akan berada di sekolah dan kesempatan bagus itu akan aku gunakan dengan sebaik-baiknya.


Waktu berjalan terlalu lambat. Tidak ada yang bisa dilakukan di tempat itu kecuali hanya berjalan mondar-mandir, berpikir, istirahat, mondar-mandir, dan berpikir lagi. Itu aku lakukan berkali-kali sampai rasanya aku sudah berada di titik di mana aku ingin berteriak karena kepalaku terasa begitu penuh dengan berbagai macam pikiran yang membuatku tidak bisa memilah dan memahaminya.


Aku menjerit karena merasa kacau yabg tidak juga membuatku merasa lebih baik. Yang aku lakukan itu malah hanya membuat tenggorokanku terasa sakit.


Aku berjalan ke jendela lagi dan lagi, membiarkan diriku menyerap sebagian dari cahaya matahari yang bersinar. Aku bisa merasakan kehangatan di seluruh wajahku, namun untuk berharap bisa merasakan angin sepoi-sepoi melewati rambutku itu adalah hal yang mustahil. Setelah beberapa kali mencoba, aku tahu tidak ada gunanya mencoba menarik perhatian orang yang lewat. Mereka sangat jauh dan juga sedikit sekali. Bahkan banyak di antara mereka yang menggunakan earphone atau headphone.


Aku sudah duduk, mondar-mandir, beristirahat dan berpikir ribuan kali sebelum akhirnya aku mendengar suara pintu mobil yang dibanting pelan dari luar. Aku segera meringkuk di tempat yang jauh dari jendela dan memastikan diri untuk tidak menyebabkan masalah yang tidak akan bisa kuhindari.

__ADS_1


Ada banyak hal yang aku takuti di dunia ini. Ikan hiu, penjahat, dan kupu- kupu. Tapi Dewa adalah sosok yang paling mendominasi semua ketakutannku. Dia memiliki badan yang besar, tato yang menghiasi hampir seluruh lengan dan pundaknya, serta aroma nikotin yang parah.


Padahal baru beberapa menit yang lalu akan mendengar suara mobil di luaran sana. Namun sekarang aku sudah mendengar lagi suara langkah kaki yang mulai memasuki basement. Aku mendengar ketika mendengar suara pintu yang terbuka lalu membentuk dinding. Sudah dapat di tempat yang akan terjadi.


"Hallo, sayang." Dia memanggilku. Suaranya membuatku bergidik hebat.


Aku tetap diam di tempatku, masih seperti patungyang menempel erat di dinding batu yang dingin. Aku ingat untuk memasang kembali kertas yang menutupi jendela sehingga dia tidak tahu tentang aku yang sudah berhasil melihat suasana di luaran sana.


"Kamu!" Suaranya terdengar sangat ruang. Dia juga tiba-tiba melangkah mendekatiku sambil meraih daguku, "hari ini kamu kelihatan lebih phcat," katanya sambil mengeluarkan sebungkus snack bar dari sakunya.


Aku tidak berusaha untuk menjangkau dan mengambilnya, jadi dia dengan inisiatif yang tidak bermoral melemparkannya dengan sembarangan ke seberang ruangan. Dia tampak tidak peduli dimana benda itu akan jatuh mendarat.


"Ayo," katanya dan meraih pergelangan tanganku yang sakit dan menariknya. Aku mendesis kesakitan dan mencoba menariknya kembali ke arahku dengan protektif. Dia tidak peduli dengan keadaanku karena yang dia inginkan hanya memanfaatkanku. Dia menatapku tajam karena aku menarik diri dan kali ini dia menarik pergelangan tanganku lebih kencang.


Aku ingin menolak, tapi melihatnya yang membawaku keluar membuatku tersenyum tipis. Aku mulai mengikutinya dengan semangat. Tidak meronta atau menarik diri.

__ADS_1


__ADS_2