
"Hallo Oma Dewi," sapaku riang dengan suara yang sedikit kencang agar terdengar oleh Oma.
wanita itu mendengar dan dia mendongak dari bukunya untuk kemudian tersenyum padaku, "Selamat siang Aretta. Kayaknya hari ini kamu nggak bakal terlalu sibuk karena cuaca buruk di luar," tunjuknya ke luar karena hujan, "tapi kamu nggak masalah kan kalau tetap jaga di toko, Oma mau pulang duluan soalnya." Suaranya sangat lembut khas para Oma ketika berbicara pada cucunya. Apakah mungkin aku juga akan diajak bicara dengan nada selembut itu jika aku mengenal orang tuanya Mama dan Papa?
"Aidan harusnya udah datang sekarang. Kemarin weekend dia semangat banget buat datang cepat." Oma Dewi memang sudah berumur tapi tampaknya dia tipikal orang tua yang masih suka jail. Saat membicarakan soal Aidan, dia tersenyum penuh rasa ingin tahu kepadaku, "mungkin karena dia pingin ketemu seseorang di sini," cengirnya sambil menarik turunkan alisnya.
Dia memang senang sekali menggodaku, tapi pastinya yang diinginkan Aidan untuk bertemu itu bukan aku. Mungkin salah satu pelanggan di toko.
Setelah aku pikirkan entah kenapa rasa penasaran mulai bermunculan. Pria itu tampan, memiliki pekerjaan yang mapan, dia juga baik pastinya tidak mungkin jika pria itu tidak memiliki kekasih.
"Kalau gitu Oma duluan ya Aretta," suara Oma Dewi berhasil mengembalikanku ke dunia nyata. Ternyata selama aku melamun wanita itu sudah berhasil mengumpulkan semua barang-barangnya. Satu hal yang tidak pernah dilupakan Oma, dia selalu mengenakan syal ketika cuaca dingin menyerang.
"Sampai jumpa lagi Oma. Hati-hati di jalan," seruku ketika dia berhasil mencapai pintu keluar. Untuk ukuran wanita yang sudah tua, Oma Dewi itu termasuk masih dalam ukuran gesit.
Apa yang Oma Dewi katakan ternyata benar. Hari itu tidak banyak pelanggan yang datang karena semakin sore cuaca semakin tidak bagus. Tapi Oma Dewi salah tentang Aidan, hingga sore pun pria itu tidak datang. Jadi hanya aku seorang yang berjaga di toko. Untungnya aku sudah bisa menghandle semua pekerjaanku sendiri dan lebih beruntung lagi aku berhasil menemukan tempat penyimpanan kunci cadangan.
__ADS_1
Aku tidak marah padanya, aku hanya kesal pada diriku sendiri yang entah kenapa saat ini aku merasa aku sangat bergantung padanya. Bahkan aku masih berharap dia akan muncul dan mengajakku untuk kembali menginap di rumahnya. Pemikiran yang sangat kurang ajar. Bukan berarti ketika aku mendapat perlakuan baik dari orang lain, aku harus kembali berharap dia akan melakukan hal itu lagi, kan? Aidan juga memiliki kehidupannya sendiri.
Ketika mengetahui dia benar-benar tidak datang membuatku menghela nafas pelan. Akhirnya aku pulang ditemani oleh guyuran hujan. Air yang turun ke bawah semakin deras dan membuat tubuhku basah kuyup. Selama perjalan menuju rumah, tidak ada satupun mobil yang berhenti untuk sekedar memelankan laju mobilnya atau memeriksa apakah ada orang atau tidak di tengah hujan deras. Kejadian itu benar-benar membuka mataku jika di dunia ini aku hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.
Aku sampai di rumah dan menemukan Mama dan Gio ada di tempat. Tumben sekali, kali ini akan ada kejadian apalagi yang akan menimpaku.
Aku melepaskan sepatuku dan meninggalkannya di luar agar besok aku bisa langsung menjemurnya ketika akan berangkat sekolah. Untungnya aku mengenakan Hoodie jadi meskipun bajuku basah itu tidak sampai membuat ku seperti mengenakan spons yang menyerap air. Setelahnya aku memutuskan untuk mandi menggunakan air panas. Butuh waktu 10 menit dan aku berharap besok aku tidak terkena flu.
Di rumah ini, aku satu-satunya orang yang penggunaan kamar mandi dibatasi waktu. Maksimal 10 menit dan aku harus terima. Ditambah aku juga tidak bisa memasak atau menggunakan dapur jika Mama dan Gio belum makan. Belum lagi semua bahan makanan yang ada di sini juga milik mereka dan aku harus membeli milikku sendiri. Uang jatah yang aku terima hanya 500 ribu setiap bulannya dan itu sudah untuk makannya sendiri dan transportasi, makannya aku tidak pernah membeli sesuatu yang mahal karena jika ketahuan Mama pasti akan menggeledah kamarku.
Di rumah ini juga aku tidak boleh mengeluarkan suara diatas jam 10, entah itu suara musik, televisi, langkah kaki atau deritan pintu. Intinya jam 10 aku sudah diharuskan untuk beristirahat.
Aku kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi dan satu buah jeruk. Begitu sampai di kamar aku segera duduk di meja belajar dan memulai untuk mengulang materi yang akan digunakan untuk ulangan Minggu depan. Entah kenapa aku merasa aku bisa mendapatkan nilai bagus untuk ulangan kali ini.
Aku terlalu fokus ke dalam bacaanku hingga tidak menyadari Gio masuk ke kamar. Dia memegang kakiku dan membuatku terlonjak. Hampir saja aku menumpahkan kopiku jika saja aku langsung melepaskan pegangan tanganku pada cangkir.
__ADS_1
"Mau apa lo?" tanyaku kesal. Dia masuk tanpa suara dan itu benar-benar membuatku kaget.
Aku mengusap pelan dadaku, mencoba menenangkan degup jantungku yang berpacu cepat.
Tiba-tiba raut wajahnya menjadi sangat serius. Raut wajah yang belum pernah dia perlihatkan padaku. Biasanya dia hanya menyeringai dan cemberut tidak jelas. Untuk beberapa saat dia hanya diam dan tidak ada suara. Pria itu menatapku lekat sebelum berbicara.
"Akhir-akhir ini gue banyak mikir," ucapnya dengan hati-hati, "gue emang nggak sepintar lo, tapi gue juga nggak sebego itu juga buat tahu apa yang terjadi sama lo." Gio masih belum menatap mataku, dia malah mengalihkan pandangannya ke arah kasurku.
Aku menghela nafas kasar dan tidak sabar menunggu apa yang ingin dia bicarakan selanjutnya.
"Lo sakit kan?" todongnya dan itu berhasil membuatku membeku.
"Nggak," jawabku cepat. Aku tidak mau menambah banyak orang yang semakin tahu apa yang terjadi denganku. Tidak Aidan tidak juga Gio. Aku lebih menyukai Gio yang masa bodoh dan tidak peduli dibandingkan dengan Gio yang tiba-tiba berubah menjadi seperti ini.
"Oke," katanya sambil berdiri dan melangkah menuju keluar. Gio tidak langsung keluar, dia masih berdiri dengan tangan yang sudah berada di gagang pintu. Pria itu kembali menoleh ke arahku, "gue tahu gue emang brengsek. Di saat Lo butuh sandaran gue malah tutup mata dan menganggap apa yang lo alami itu karena kesalahan bokap lo yang udah ninggalin Mama. Tapi walaupun begitu, gue masih kakak lo. Akhir-akhir ini gue selalu merhatiin lo dan gue tahu ada yang salah sama lo. Lo nyembunyiin sesuatu yang gue nggak tahu itu apa." Gio menghela nafas kasar sambil mengurut pelan pelipisnya.
__ADS_1
"Gue nggak lagi minta pengampunan sama lo. Tapi gue mau jadi kakak buat lo meski terlambat. Gue nggak pernah lihat lo makan, lo selalu ngurung diri lo dan nggak pernah mau berinteraksi sama gue walaupun gue ganggu separah itu."
"Lo ngomong apa sih Gi. Mending keluar aja deh."