Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Dapat Rumah


__ADS_3

Mengingat jika hanya aku satu-satunya orang yang harus keluar dari masalah ini semakin membuatku kesal. "Aretta!" panggilan itu membuatku mendongak. Di depan sana ada guru BK yang memanggilku.


Ada apa ini? Apa jangan-jangan mereka tahu jika aku sempat berciuman dengan Pak Dewa? Atau Aidan?


"Iya, Bu. Saya," seruku. Wanita itu menatapku sesaat sebelum akhirnya mengangguk.


"Beresin barang-barang kamu dan ikut saya ke kantor," bisik-bisik tetangga mulai terdengar dan banyak pasang mata juga yang menatapku.


Aku benar-benar terjebak dalam masalah.


Itu yang kupikirkan ketika aku berjalan keluar dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang dilayangkan teman sekelasku, tapi semua kekalutan itu langsung sirna ketika aku melihat Gio yang sedang duduk di taman sambil memegang ponselnya.


Aku ingat jika aku dan dia memiliki janji untuk bertemu dengan agen real estate tapi aku tidak menyangka dia akan menjemputku di jam pelajaran kedua. Raut wajahku langsung berubah drastis dan aku menampilkan senyum lebarku padanya. Setidaknya aku tidak perlu bertemu dengan Pak Dewa har ini.


"Ayo berangkat," ucapku riang padanya dan itu membuat Gio menatapku sedikit takut.


"Kenapa lo?"


"Nggak apa-apa kok. Ayo berangkat," seruku sambil menariknya keluar dari kawasan sekolah.


Gio melajukan mobilnya pelan membelah jalanan. Tempat yang akan kami datangi tidak jauh dari sekolah, hanya saja pria itu lebih nyaman membawa mobilnya daripada harus panas-panasan karena dia sudah kenyang dengan sinar matahari.


"Gue semangat banget buat cari rumah," katanya. Dia benar-benar tidak menyembunyikan antuasiasme miliknya yang tinggi.


"Gue juga."

__ADS_1


"Tapi lo harus ingat, kalau nggak berhasil dapat yang ini kita masih bisa cari yang lain." Aku tahu dia hanya bermaksud baik untuk menenangkanku jika saja kami tidak berhasil mendapatkan deal.


"Tenang aja. Gue udah yakin 1000 persen kalau tempat itu bakal jadi punya kita. Gue punya feeling kuat soal itu," kataku terkikik. Kami sangat bersemangat pada awalnya, tapi ketika sudah dekat di kantor real estate kami menjadi tegang.


Kami masuk ke dalam dan disambut dengan wanita dengan rok span pendek dan sepatu heels berwarna merah.


"Giofano?" tanya seorang pria yang duduk di belakang meja. Gio mengangguk dan pria itu mempersilahkan kami untuk duduk


"Kita udah bicara di telfon sebelumnya. Saya Bayu," ucapnya sambil menyodorkan tangan untuk memperkenalkan dirinya.


"Saya sangat senang karena anda memilih kantor kami dan tempat yang anda pilih benar-benar tempat yang memiliki prospek kemajuan yang bagus. Pemilik bangunan ingin menjual bangunannya secepat mungkin dan mereka menerima penawaran serendah apapun selama uang itu cash," jelasnya khas marketing penjualan bangunan.


"Kalau boleh tahu, berapa harga yang mereka pasang sebelumnya?"


Pria bernama Bayu itu tampak mengobrak-abrik file yang ada di tangannya dan dia berhenti cukup lama di sebuah file sambil menunjuk sesuatu.


"Baik. Jadi kalau kami menawarkan ya menjadi 900 apakah diterima?"


Bayu mengangguk dan meminta waktu sebentar untuk menghubungi sang pemilik bangunan. Kesempatan itu aku gunakan untuk bertanya pada Gio.


"Dari mana kita dapat uang sebanyak itu?"


Dia bergumam sambil mengangkat bahunya, "Papa."


Apa tidak masalah jika kami meminta sebanyak itu. Tapi kami butuh dan dia sendiri yang menawarkan.

__ADS_1


"Terus pinjamannya? Lo jadi mau ambil bank?" tanyaku lagi.


Gio menghela nafas pelan sebelum menjawab, "Papa bilang dia bakal kasih kita 2M buat mulai semuanya. Maksud gue, dia tinggal di rumah besar dan dia juga guru besar di universitas ternama. Jadi sudah dipastikan dia punya uang banyak. Satu lagi yang harus Lo tahu, dia kerja emang buat kita dan semua uang yang dia dapat memang disisihkan untuk kita. Ngerti kan maksud gue? Kita butuh renovasi, kita juga butuh pegangan disaat kita memulai usaha. Daripada kita minta terus mending langsung minta banyak diawal. Itung-itung Papa sebagai investor," jelasnya. Aku hanya mengangguk dan dia juga mengeluarkan sebuah cek dari dompetnya dan menunjukkan padaku.


Aku mengenali tulisan itu dan ketika melihat nominal yang tertera tiba-tiba jantungku berdetak kencang. Aku belum pernah melihat secara langsung uang sebanyak itu, hanya membayangkan saja aku merasa berdebar.


Pak Bayu kembali datang setelah menelepon dia berkata jika dia sudah menghubungi pemilik dan mereka membutuhkan waktu untuk bermusyawarah. Aku dan Gio mengangguk, kami juga tidak memiliki rencana lain dan pada akhirnya setuju untuk menunggu sedikit lebih lama. Pria itu kembali pamit pergi, kali ini dia akan membawakan minum setelah sebelumnya bertanya.


"Lo harus tahu, gue benar-benar udah punya komitmen buat memperbaiki masa depan kita berdua. Mungkin nggak langsung berjalan mulus dan gue harap lo mau menghadapi semuanya bareng gue. Lo emang nggak punya kenangan masa kecil yang baik, tapi gue janji gue bakal bayar dengan cara memberikan lo kehidupan yang layak nggak seperti dulu dan kalau usaha kita berhasil, lo harus kuliah ya? Gue nggak mengharapkan apa-apa dari lo, gue cuma mau adik gue mendapatkan apa yang seharusnya dia dapatkan." Aku mengangguk. Sekarang hanya dia keluarga yang memikirkan aku dan aku percaya pada dia. Meski kini aku tahu Papa ada dimana, tapi dia tidak bisa dimasukkan dalam kategori keluarga yang memikirkanku, sejak kami berpisah rasa keberadaan dia sudah mulai meluntur.


Pak Bayu kembali datang dengan membawa dua minuman dan bertepatan juga dengan ponselnya yang berdering. Pria itu segera mengangkatnya dan raut wajahnya berubah menjadi sangat ceria.


"Selamat, kalian berhasil."


***


Aidan POV


Aretta, Aretta, Aretta, dan Aretta.


Nama itu terus terngiang di benakku dan ku tidak menyangka jika pengaruhnya akan menjadi luar biasa ini. Aku tahu ini salah apalagi posisiku saat ini adalah seorang guru dan dia seorang murid. Rasanya sulit diterima jika aku membiarkan perasaanku semakin berkembang. Hanya saja pada kenyataannya aku tidak bisa menahan diri. Aretta itu memiliki energi yang positif yang selalu berhasil membuatku terus bersemangat. Hal itu membuatku merasa hidup dan sepertinya aku sudah sangat ketergantungan karena aku tidak bisa jika aku tidak melihatnya.


Aku bahkan sangat berharap aku dapat selalu berada di sisinya. Mungkin konyol kedengarannya, tapi memang itu yang tengah kurasakan saat ini. Dia adalah orang yang berhasil membuatku uring-uringan tapi dia tidak mengetahui hal itu.


Dan sekarang aku menyesal karena sudah menghancurkan pertemanan yang sudah terjalin. Awalnya niatku memang ingin mengetahui apa yang terjadi dengannya, tidak pernah terbesit untuk mendekatinya, tapi takdir berkata lain.

__ADS_1


Dan aku menjadi serakah akan kehadirannya.


Karena sudah memutuskan untuk tidak lagi terlibat lebih jauh, aku menjauhinya dan itu melukai kami berdua.


__ADS_2