Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Grand Opening


__ADS_3

"Yang benar coba kalau ngomong. Dia nggak mungkin merhatiin gue. Mungkin emang lagi banyak pikiran aja makannya tingkahnya rada aneh." Aku meyakinkan Rafa dan dia menyetujui hal itu sambil membenarkan letak duduknya. Mungkin saat ini Pak Dewa terlihat diam dan tidak banyak tingkah, tapi raut mata hitamnya itu masih menunjukan nafsu dan rencana jahat yang membuat tubuhku bergidik.


Aku menggelengkan kepalaku dan mencoba fokus ke materi kali ini, tapi ketika aku menatap ke depan, mata itu pasti selalu aku temukan tengah menatapku. Tubuhku langsung bergetar hebat saat tatapan kami bertemu dan itu membuat rasa mual naik hingga tenggorokan seolah aku bisa saja muntuh jika tatapan kami masih bertemu lagi.


Aku seperti itu karena tatapan yang dja berikan itu sangat mengerikan dan lagi aku juga maaih tidak habis pikir dengan dia yang masih saja menggangguku. Untungnya pelajaran usai dan kali ini aku dapat meninggalkan kelas dengan cepat tanpa harus terlibat drama murahan yang membuatku harus terjebak berdua bersama dengan Pak Dewa. Aku beruntung, tapi dia masih saja melayangkan tatapan penuh nafsu padaku.


Begitu keluar dari kelas, Rafa segera mengaitkan lengannya ke lenganku karena kami harus menuju kelas selanjutnya. Kehadiran Rafa benar-benar membantu dan membuatku tidak terlalu larut dalam pemikiran tentang Pak Dewa.


"Pak Dewa itu brengsek banget kayaknya. Gue nggak suka cara dia natap lo." Rafa mendesis sambil menggeram pelan. Aku hanya bisa tertawa gugup karena Rafa masih belum tahu kisah antara aku dan Pak Dewa.


Aku dan Rafa masih terlibat obrolan saat seseorang tiba-tiba menabrakku dari belakang. Aku tidak tersungkur karena Rafa menahanku. Ketika menoleh, aku menemukan Aidan yang ternyata tampak sangat tergesa. Pria itu hanya menggumamkan kata maaf dan langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi kebelakang. Rasanya masih tidak rela diperlakukan sangat dingin oleh pria itu.


Berita yang disampaikan di mading sekolah hari ini adalah, kami akan menghadapi ujian kelulusan satu setengah minggu dari sekarang. Setelah ujian aku memutuskan untuk bekerja di Brezee sambil memikirkan langkah masa depan apa yang akan aku jalani. Awalnya aku akan langsung pergi dalam setahun karena aku sudah menyiapkan list. Aku juga berencana mencoret setiap langkah yang sudah berhasil aku lewati. Namun itu masih dalam rencana.


Selesai kelas, aku pulang bersama Rafa. Kini Brezee yang kosong sudah berubah menjadi toko yang sudah siap dijalankan. Meja dan kursi sudah terpasang. Beberapa mug dan peralatan makan serta berbagai macam jenis minuman pun sudah tersimpan rapi di dapur. Di dekat jendela terdapat sofa berlengan yang terpasang anggun, lalu di sebelah kanan ruangan terdapat rak-rak buku yang terpasang rapi


"Kita masih punya banyak kerjaan yang harus dilakukan." Sebuab suara terdengar dari balik pundakku. Aku berputar dan menemukan Rafa di sana, "lo nggak berpikir kalau gue ke sini cuma buat antar lo doang, kan?" Dia berkata lagi sebelum aku bisa bertanya padanya apa yang sedang dja lakukan di sini, "gue juga pingin lihat gimana perkembangan toko lo. Dan hasilnya keren." Dia menatap ruangan sambil berputar, mengamati seisi toko.


Aku segera meraih sketsa abal-abalku yang di letakan di dinding wall khusu kritik saran. Ini style baru yang aku ajukan dan untungnya diterima oleh semuanya. Aku menatap ruangan itu lagi. Meski toko sudah digabungkab, masih ada dua etalase yang tidak sesuai dengan konsep, dan aku ingin menyimpan etalase itu lalu menggantinya menjadi rak buku saja.


Aku segera memberitahu rencanaku pada Rafa dan kami langsung memulai untuk memindahkan rak buku. Beberapa kali kami juga memanggil Gio untuk membanytu, karena jujur saja meski sudah berdua kekuatan kami masih sangat kurang. Selesai dengan rak, kami segera mengisi dengan buku sesuai genre. Kami mengerjakannya juga di rak-rak lain.


Tidak terasa hari sudah menjelang sore begitu kami menyelesaikan setengahnya, dan Rafa juga sudah harus pergi. Dia harus belajar. Setelah berpemitan, aku ikut mengantar wanita itu hanya lewat pandangan mata karena aku masih harus mengerjakan bagianku sendiri.

__ADS_1


Acara grand opening terpaksa ditunda karena persiapan yang ternyata memakan waktu, untung saja Gio belum menyebarkan undangan jadi tidak terjadi misscom yabg tidak dibutuhkan.


Malam tiba terlalu cepat. Untungnya semua buku sudah berada di tempat tinggalnya. Aku menghela napas keras dan terduduk di atas kardus bekas buku. Kini aku tengah mengagumi hasil karyaku.


"Udah selesai?" Suara Gio mengintrupsi dari belakangku, "terima kasih buat kerja keras lo, tapi lo harus cepat tidur sekarang karena besok masih banyak tugas yang menunggu. Gue bakalan stay di sini buat ngechek sekali lagi." Aku langsubg beranjak pergi, karena jujur sangat melelahkan untuk menata semua buku ke tempatnya.


Aku segera mandi dan langsung berbaring begitu sampai di kamar. Malam itu, aku tidak repot-repot untuk belajar atau mengerjakan sisa pekerjaan rumah. Aku terlalu lelah untuk melajukan hal lain, bahkan aku saja sampai tidak mendengar suara Gio yang ikutan naik setelah memastikan semuanya di lantai satu. Pada akhirnya, pekerjaan menata buku itu aampai ikut masuk ke dalam mimpi.


***


Matahari bersinar hangat begitu aku membuka mata. Finally, itu adalah hari grand opening yang sesungguhnya setelah banyaknya pekerjaan di hari sebelumnya. Awalnya saat melewati proses renovasi, aku tidak sepenuhnya percaya jika kami akan berhasil, tapi saat mengetahui jika kami berhasil melewatinya, rasanya sungguh sangat luar biasa.


Aku melimpat dari tempat tidurku dan membuka tirai jendela, berharap sinar matahari bisa menembus jendela dan menghangatkan pagi indahku ini. Sayangnya, saat itu sehabis hujan. Suasana mendung dan langit dipenuhi awan abu-abu yang sedikit gelap. Aku berharap itu bukan pertanda hal buruk.


Rasa tidak sabaran itu tumbuh dengan sangat luar biasanya di sepanjang minggu ini. Aku sangat berharap, semua berjalan lancar. Setelah bersiap, aku turun dan segera memeriksa semua yang dapat aku periksa. Tumpukan roti bakar dan susu yang sudah dimasukkan ke dalam gelas sudah tersedia di meja konter. Tanpa meminta izin dari siapa-siapa, aku mengambil satu tangkup dan memakannya. Itu selai cokelat. Semua orang tampak sudah bersantai dan juga saling bergurau. Mataku yang tidak betah berdiam, tengah memandang ke sekeliling ruangan dan menemukan Aidan duduk di pojok sofa dengan tatapan yang beberapa kali melihat ke arahku. Dia juga tampak gelisah.


Aku merasa dia ingin berbicara denganku. Selesai dengan sarapan ala-ala, aku memutuskan untuk berjalan ke tempatnya dan dia masih tetap menatapku.


Aku tidak langsung berhenti di depan Aidan. Aku sengaja berdiri di meja yang hanya berjarak lima meter dengannya. Tatapan menampulkan ekpresi penyesalan, tapi itu hanya untuk sesaat sampai pada menit berikutnya dia kembali merubah wajahnya menjadi Aidan yang menjengkelkan. Itu ekspresi yang dia tunjukan padaku seminggu belakangan ini, yang berhasil membuatku uring-uringan. Aku hampir lupa tujuanku dan memutuskan untuk tidak jadi mendatangi pria itu. Dia pasti akan langsung datang kepadaku jika yang ingin dia bicarakan benar-benar penting.


Aku muak melihatnya yang seperti itu.


Jangan salah paham! Setiap kali dia melirik ke arahku atau aku melihat ke koridor dan melihatnya, jantungku masih berdegup kencang. Aku bahkan sampai mengutuk diriku sendiri. Aku masih sulit untuk menahan atau mengabaikan, tapi sekarang setelah melihat dia yang bisa bersikap seolah tidak ada masalah, aku berpikir aku juga bisa melakukannya.

__ADS_1


Aku memeriksa keluar, melihat bagaimana suasana di luaran sana. Aroma embon, sepoian angin, dan suara klakson sudah memenuhi sekitar. Aku menoleh ke kanan dan kiri, lalu menatap kembali hasil kerja keras kami. Toko itu tampak luar biasa. Aku mendongak. Kini toko kami sudah memiliki pelang nama Brezee dengan lampu yang bersinar. Jika menatap ke sekeliling, semuanya tampak seimbang antara toko buku dan kafe. Keduanya menciptakan kesan ruangan yang kecil namun sangat nyaman.


Aku masuk kembali, dan bel tua itu berbunyi. Bel yang sama yang digunakan di toko Brezee versi lama.


Suara, kehabgatan, aroma kopi, aroma manis dari cake, dan aroma buku, memberi perasaan hangat seperti tengah berada di runah. Dengan begini, aku jadi tidak perlu keluar untuk membeli minuman dan dengan adanya kafe ini, waktu untuk membaca buku dengan nyaman semakin cepat teratasi.


"Gimana menurut lo?" Aku mendengar suara dari belakangku, tapi aku tidak ada niatan untuj berbalik.


Aku hanya langsung menjawav, "It'a Amazing! Gue nggak percaya kalau akhirnya semua selesaj. Rasanya masih kayak mimpi," ucapku masih sambil menatap sekeliling toko.


Warna dinding, perabotan yang bersih dan sudah tertata rapi, konter dengan etalase kaca yang berisi bermacam-macam dessert, serta lampu kuning yang bersinar dan meyalurkan kehangatan.


"I love it," bisikku pelan. Tawa kecil dari belakangku membuatku berputar dan tatapan tajam milikku langsung kulayangkan padanya.


"Iya Aretta. Kita udah kerja keras selama tiga bulan ini. Gue juga nggak nyangka kalau kita bisa bisnis bareng." Gio melihat kebawah, seolah tengah memikirkan sesuatu, "combo kita itu luar biasa emang." Dia tersenyum dengan penuh kebanggaan. Aku sudah mengatakan padanya untuk tidak mengingat masa lalu. Aku memang tersiksa, tapi itu hanya kisah yang memang harus aku lewati, untuk sekarang, aku hanya ingin menikmati kebahagiaan bersama Gio.


Aku ikut tersenyum.


"Grand openingnya nanti jam 9. Oma Dewi juga bakal datang."


"Berarti kita tinggal siapin diri, ya." Aku berkomentar sambil memperhatikan Gio dari atas ke bawah. Dia masih mengenakan pakaian kotor yang biasa dia gunakan untuk mengecat toko dan memindahkan barang-barang, "untungbya gue udah siap," gumamku mengejek ke arahnya. Dia hanya memutar matanya dan mendorongku pelan.


"Itu karena kaum cewek kalau prepare makan waktu."

__ADS_1


Giliran aku yang memutar mataku dan itu membuatnya tertawa.


__ADS_2