Aretta & Rahasia

Aretta & Rahasia
Curiga


__ADS_3

"Ternyata lo lebih sibuk dari gue," gumamku, "lo apa nggak punya pacar?"


Semasa sekolah Davin merupakan playboy kelas kakap. Hampir semua wanita pernah berkencan dengannya meski mereka semua tidak bertahan lama.


"Jangan tanya. Lo kayak nggak kenal gue aja. Gue mana betah kalau nggak ada cewek, man."


Aku terkekeh mendengar hal itu. Memang apa sih yang bisa kuharapkan dari dia. Davin bukan tipikal manusia yang bisa berubah dalam semalam. Dia sudah berkecimpung di karir playboynya sangat lama, ditambah perawakannya yang tinggi dengan wajah yang menawan, siapa yang akan menyia-nyiakan pria seperti dia?


"Oke. Gue balik dulu. Aretta sendirian di toko," pamitku. Kami berjabat tangan sebagai tanda perpisahan sebelum benar-benar berpisah.


Aku kembali ke toko dan sedikit mengernyit menatap Aretta. Gadis itu tampak tengah mengatakan sesuatu, tapi tidak terdengar jelas di telingaku.


"Kenapa?" tanyaku.


"Nggak ada apa-apa. Gimana makan siangnya?"


"Makan siangnya enak dan aku juga udah kenyang," ucapku senang. Perut yang sedari tadi berdemo kini tengah berpesta ria karena aku memasukkan lumayan banyak makanan ke dalam.


Aku segera masuk ke konter dan mulai melanjutkan kegiatanku sebelumnya. Tadi ketika Aretta pergi, aku sengaja mendata buku-buku dan meminta pemesanan pada pihak penerbit. Saat ini aku mau memeriksa tentang pembayaran bersamaan dengan dia yang sudah beranjak pergi dengan membawa kain dan pembersih kaca. Aku membiarkan dia pergi untuk membersihkan bagian-bagian yang berdebu.


Kami cukup sibuk sendiri-sendiri, dia yang bertugas membantu pelanggan dan aku berjaga di konter.


Kegiatan itu berlangsung hingga jam pulang. Dia masih berada di antara rak buku dan itu membuatku sedikit tersenyum. Semangatnya dalam bekerja patut diapresiasikan. Aku salut dengannya.

__ADS_1


"Aretta! Ayo pulang!" panggilku. Aku cukup lama menunggu dia dan akhirnya memanggilnya, tapi Aretta tidak menjawab. Membuatku harus mencari dimana wanita itu berada. Aku berkeliling dan terperanjat ketika menemukannya sudah meringkuk di lantai dengan nafas yang sudah terengah-engah dan keringat dingin yang bercucuran di pelipisnya.


"Aretta! Hei Aretta! Nggak usah bercanda, bersihin debunya nggak usah kayak gitu," kataku, tau keadaanya tidak tampak jika dia sedang bercanda. Aku mendekat dan duduk di dekatnya sambil memegang pundaknya untuk melihat wajahnya.


Hari ini dia menggerai rambutnya dan membuat sebagian wajahnya tidak terlihat. Aku menyampaikannya dan terbelalak ketika menemukan memar di daerah matanya. Rasa bersalah menggerogotiku. Bagaimana bisa aku tidak memperhatikan keadaanya padahal kami bekerjasama sepanjang hari.


"Muka kamu kenapa? Kenapa ada memar di sana? Terus ini ngapain lagi pakai tiduran di lantai?" Dia tidak menjawab ketika aku bertanya secara runtut.


"Aku bakal ambil mobil dulu setelah itu kita langsung ke rumah sakit."


***


Aretta POV


Aku mencoba melangkah dan seperti dugaan, aku tidak berpindah kemanapun.


Apa ini mimpi?


Beberapa kali aku mendapat mimpi yang rasanya sangat nyata dan mungkin ini juga mimpiku yang terasa nyata.


Aku terdiam di tempatku dan merasakan angin berhembus mengenai rambutku. Aku menyerah untuk melangkah dan meringkuk di tempat. Tempat ini amat sangat aneh. Suasana yang terlalu hening dan mencekam membuat perasaanku tidak nyaman. Tidak ada suara aliran air, bahkan aku sendiri dapat mendengar suara hembusan nafasku karena terlalu sepi.


Aku memejamkan mataku dan berharap ketika aku bangun nanti, aku sudah membuka mataku di tempat lain. Aku menghitung dan terus menghitung, ketika merasa sudah cukup, aku pun membuka mataku. Tubuhku langsung bergetar ketakutan karena aku masih berada di tempat yang sama dan bertambah ketakutan ketika aku melihat Mama. Mama berdiri di depanku.

__ADS_1


Matanya merah dengan seringai yang menghiasi wajahnya. Ekspresi benci, marah yang meluap menghiasi wajahnya. Dia mengunci tatapanku seperti aku adalah tawanan yang harus dia habiskan. Tubuhku semakin bergetar hebat ketika dia melangkah semakin mendekat. Selangkah demi selangkah hingga akhirnya dia tepat berdiri di depanku.


Aku tidak bisa bergerak. Tubuhku kaku, suaraku pun tidak keluar. Aku masih menatapnya dan langsung terbelalak sempurna ketika melihat benda tajam yang berkilauan di tangannya. Itu pisau.


Mama masih diam. Dia tidak mengatakan apa-apa tapi hal itu malah membuatku semakin takut, apalagi aku tidak bisa bergerak sama sekali. Ingin rasanya aku berlari atau mendorongnya, tapi kekuatanku tidak ada. Pisau itu bahkan terlihat tengah mentertawakan kemalanganku.


Mama tampak mabuk. Dia selalu saja membuat masalah denganku ketika mabuk. Minuman beralkohol tidak lantas membuat Mama melemah, bahkan malah sebaliknya. Kekuatan Mama seperti bertambah berkali-kali lipat.


Aku berteriak saat Mama mengangkat pisaunya meskipun tidak ada suara yang keluar. Pisau itu menusuk pundaknya walau aku berhasil menghindar. Aku melirik dan ternyata benda itu sudah tertusuk sangat dalam hingga bagian tajamnya hampir tidak terlihat karena sudah tertusuk sempurna ke tubuhku. Benarkah ini hanya mimpi? Tapi kenapa rasanya amat nyata. Aku masih mencoba berteriak kencang ketika Mama menarik pisau itu dan menusukkan lagi ke tubuhku berkali-kali.


Aku meronta, menangis, tapi tetap tidak membuat Mama menghentikan aksinya. Setelah puas dia pergi meninggalkanku yang tergeletak tak berdaya. Ekspresi wajah Mama tampak bahagia tanpa rasa bersalah yang menghiasinya.


Tiba-tiba semua memudar, perlahan berubah menjadi gelap. Bahkan saat aku mengangkat tanganku di depan wajah pun, itu tidak terlihat sama sekali.


"Aretta? Aretta... Aretta," namaku dipanggil dan bahuku diguncang pelan. Aku membuka mataku cepat. Rasa lega dan aman langsung menyergapku. Aku bersyukur karena itu hanya mimpi walaupun teramat buruk.


"Aretta," panggil suara itu lagi. Aku menoleh dan menemukan Aidan yang berdiri sambil menatap penuh kekhawatiran padaku. Aku memiringkan kepala. Masih bingung. Masih juga mencerna dimana aku sekarang dan apa yang sudah terjadi padaku. Tapi yang paling mendominasi adalah perasaan lega karena ada Aidan yang masih ada di sisiku.


Aku merangsek maju dan masuk ke dalam pelukannya. Melingkarkan tanganku di sekitar lehernya dan membenamkan wajahku di pundaknya. Aku menangis tersedu-sedu.


Dia membalas pelukanku dan mengusap pelan pundakku. Kami duduk di sana untuk beberapa saat sambil menunggu tangisanku reda. Aku menangis karena Mama, karena Gio, dan karena orang-orang yang membuat hidupku sulit.


Aku bisa menahannya selama ini, tapi batasnya sudah sampai akhir. Aku lelah dan tidak sanggup untuk terus menahan penghinaan dari mereka.

__ADS_1


__ADS_2